
Kreyek!
Semuanya kompak melihat ke atas, bukanya lari atau menyelamatkan diri masing-masing mereka malah menyaksikan satu ranting pohong yang terbilang besar mulai terlepas pada batangnya.
Brung!
Entahlah, kejadian itu sangat cepat sekali sampai-sampai mereka yang langsung konek menghindari dengan gerakan seribu kaki, sayangnya Queen yang berada di posisi tengah tidak sempat menghindar sampai ranting itu jatuh dan menimpah dirinya.
Tubuh kecilnya langsung tidak terlihat lagi setelah ranting kayu yang terbilang besar itu menimpa, semuanya kompak berteriak kencang lalu berlari untuk menyelamatkan Queen dan Albani. Ya, cowok itu juga berada di posisi tengah tadinya.
"Albani! Queen ...." Semuanya mengobrak abrik pohon tersebut untuk menemukan keberadaan dua manusia tersebut.
Ada 15 menit mereka memisahkan beberapa ranting-ranting pohon itu sampailah mereka pada bagian paling bawah, mereka langsung sok menemukan Albani yang terlungkup dan posisi Albani sekarang tidak sadarkan diri dengan tangan yang tertusuk ranting-ranting kecil dan kepala yang tampak terhimpit kayu.
Saat mereka mengangkat kayu yang menimpa Albani bisa mereka lihat sosok lain yang berlindung di balik tubuh besar Albani, tampaknya itu Queen dan posisinya sekarang pingsan dalam pelukan Albani.
"Omo, My Queen! Ayok buka mata lu jangan di tutup ... please." Alvarez mengambil tindakan tubuh Queen dan menggendongnya mengikuti Albani yang sudah di bawah Alvano dan beberapa cowok-cowok lainnya.
"Ta–tangan kanan gue t ... tolong diangkat," kata Albani terbata-bata, meskipun ditimpa ranting pohon Albani masih tetap bisa membuka matanya.
Tubuhnya rasanya terkoyak-koyak, ini nih resiko kerena terus melanjutkan perjalanan mana hujan dan sedikit petir sangat berbahaya sekali. Semuanya sudah terjadi Albani cuma bisa meringis setiap kali orang-orang menggotongnya melangkah.
__ADS_1
Ini hari terakhir mereka berkemah dan tidak pernah terpikir akan terjadi seperti ini, setelah melewati beberapa jalan licin akhirnya mereka sampai kembali ke perkemahan.
"Astaga! Apa yang terjadi pada kalian?!" tanya sang pembina heboh pada mereka saat mereka sampai.
"Nggak usah banyak bacot deh, Pak! Cepatan bawa mobil ke sini, mereka butuh rumah sakit secepatnya," bilang Alvarez tanpa saringan sedikitpun.
Tampaknya Alvarez keberatan mengendong Queen sendiri, itulah jangan sok-sok jadi superhero kalau badan kayak belalang. Padahal Elang sudah menawarkan Alvarez bantuan untuk mengendong Queen akan tetapi cowok itu menolak dengan alibi tangan Elang ada virus Coronanya.
Tidak begitu lama sang pembina datang bersama mobilnya, sang pembina langsung saja membukakan pintu agar Albani dan Queen segera dimasukan. Alvano dan Alvin memasuki Albani ke dalam mobil, disusul oleh Alvarez yang tampak kesusahan memasuki Queen.
Hampir saja tubuh Queen terjatuh kalau saja Alvano tidak menangkap, Alvano membatu Alvarez memasuki Queen.
Alvarez tampak protes. "Tapi gue ingin nemanin, Queen!" protesnya tidak terima akan perkataan Alvano. Namun, detik berikutnya dia langsung pasrah setelah mendapat tatapan maut dari cowok itu.
"Lu tetap di sini jaga mereka, sebentar lagi bus sekolah bakal datang!" kata Alvano menakan setiap kata agar Alvarez mengerti.
"Okay, terarah lu!" ambek Alvarez lalu menutup pintu mobil dengan agak paksa.
"Kamu juga ikut masuk dampingi, Queen," suruh sang pembina pada Lisa yang hanya menjadi saksi perdebatan Alvarez dan Alvano. Lisa tampak kaget, akan tetapi dengan langkah yang cukup cepat dia ikut masuk sebelah Queen.
Setelah itu mobil perlahan meninggalkan Alvarez dan beberapa murid-murid, sedangkan di dalam sana ada Alvano, Lisa, Queen, Albani, dan Vegas. Entah sejak kapan Vegas ada di dalam kurang tepatnya pas perdebatan tadi sang pembina meminta Vegas ikut alasannya sebagai penganti ketika sang pembina capek menyetir.
__ADS_1
"Tangan gue sakit!" cicit Albani yang terus-menerus merasa sakit pada lengannya.
Alvano mencoba memeriksa, hanya ada goresan dan sedikit memberi di lengan Albani. Alvano menekan biru tersebut seketika membuat Albani meringis kesakitan. Alvano juga memeriksa kepala Albani dan terdapat luka yang tidak terlalu besar di belakang kepalanya.
"Lu tenang, semuanya akan baik-baik saja." Alvano berusaha menenangkan Albani yang terus kesakitan pada lengannya.
"Ini gara-gara dia, seadanya gue nggak lindungi dia sudah dipastikan gue bisa nyelamatin diri!" kata Albani menunjuk Queen yang pingsan dengan tangannya yang satu lagi, Alvano langsung saja menatap Queen.
Alvano tidak menjawab dia masih mengamati Queen, gadis itu masih saja pingsan entah kerenan apa sampai membuat Queen pingsan. Bisa Alvano lihat ada sedikit luka di pada pipinya, Alvano tidak tahu apa penyebabnya. Perasaan tadi Queen berada di dalam pelukan Albani.
"Dia itu pembawa sial, dulu Papa sekarang gue. Mungkin nanti lu Bang yang jadi korban selanjutnya," bilang Albani lagi yang terus-menerus menyalahkan Queen atas apa yang terjadi padanya.
"Udah, ini bukan salah Queen, ini murni kecelakaan!" Alvano tidak ingin mendengar lagi Albani yang terus-menerus menyalahkan Queen apalagi menyangkutkan pada yang dulu-dulunya.
"Ta ...."
"Sudah! Gue nggak mau dengan lagi lu nyalahin Queen, ingat bagaimana kesalahan yang dia buat tetap saja dia Adik lu!" Albani tidak lagi membuka suara saat Alvano berkata dengan begitu dingin padanya.
Albani memejamkan matanya sambil sesekali meringis berusaha untuk tidur barang sebentar dan melupakan rasa sakit pada lengannya yang teramat.
Vegas yang menyaksikan sedari tadi melirik Queen dari kaca, wajahnya terlihat datar. Namun, tidak tahu dengan hatinya entah apa yang dia pikirkan tentang Queen hanya Vegas sendiri yang akan mengerti.
__ADS_1