FAKE NERD

FAKE NERD
Perhatian kepura-puraan


__ADS_3

Setelah aksi tabrakan kemarin Queen terus-terusan menatap Albani, gadis ini selalu mencuri pandang pada abangnya itu. Sambil tangannya menyiapkan nasi ke dalam mulut, dan tangan satunya memegang gelas minum.


Albani sebenarnya tahu kalau sedari tadi Queen meliriknya, cowok itu pura-pura tidak tahu saja membiarkan Queen menikmati kegantengan wajahnya. Albani menjangkau timun yang posisinya agak jauh darinya, sedikit menegakan badannya.


Tanpa sengaja tangannya bertabrakan dengan tangan Alvano yang juga ingin menjangkau timun tersebut, akibat kurang fokus jadinya tabrakan.


Albani kira Abangnya ini akan mengalah untuknya, ternyata dugaan ia salah saat Alvano menarik paksa timun yang sedang mereka pegang dari tangan Albani. Membuat ia sedikit terkejut, lalu mengambil timun lain.


Albani tahu berurusan dengan Alvano jangan harap bakal baik-baik saja, dulu sewaktu kecil Albani pernah merusak mainan kesayangan abangnya itu. Alvano marah besar padanya dan berakhirlah tubuhnya jadi samsak Alvano. Mengigat itu Albani jadi kangen masa dahulu.


Di mana dahulu dia, Alvano, Queen, dan Edgar sering bermain di belakang rumah mereka. Kerena belakang rumah itu terdapat taman kecil yang dipagar, banyak macam bunga ditanam oleh Valen menambah keindahan taman itu dulu kalahnya.


Albani sering memetik mawar kesayangan Valen sampai-sampai wanita itu marah-marah dan berakhir menuduh semua anggota rumah. Albani, Alvano, dan Edgar sang Papa juga sering bermain bola di sana, di mana Queen dan Valen sibuk mengurus taman mereka sedangkan laki-laki di keluarga itu sibuk dengan bola mereka.


Sungguh indah waktu dahulu sebelum kecelakaan itu, sekarang berkunjung saja Albani sangat jarang. Albani takut terkenang masa-masa dahulu dan berakhir dendam semakin menjadi dalam hati pada adiknya Queen, makanya Albani menghindari taman.


"Bang Bani ambilin itu dong," tunjuk Lisa yang duduk dekat dengannya.


Lamunan Albani buyar kerena ucapan Lisa, tangannya terulur mengambil paha ayam yang ada di mangkok depannya, saat tangannya akan menyentuh ayam tersebut tangan seseorang terlebih dahulu mengambil paha ayam itu.


Alvano memberi paha ayam itu pada Queen. "Makan yang banyak biar cepat besar," suruh Alvano kemudian memasuki paha ayam ditanya tersebut ke dalam piring Queen.


Queen melirik reaksi Albani dan Lisa yang tampak memandang ke arahnya dengan aura permusuhan, kemudian Queen tersenyum di dalam hati. Ia mengambil paha ayam yang Alvano beri untuknya, lalu mengucap terima kasih pada abangnya itu.

__ADS_1


'Gadis caper, gadis busuk, lon'te!' maki Lisa dalam hatinya, tanpa ia sadari tangannya menusuk-nusukan garpu pada sosis di piring.


Tatapan Lisa berganti pada Alvano yang kembali memakan makanannya tanpa beban sedikitpun, andai saja Lisa memiliki keberanian sudah dipastikan garpu di tangannya ini bukan menusuk-nusuk sosis melainkan jantung Alvano.


Saat Alvano mengangkat kepalanya dan meliriknya membuat Lisa cepat-cepat menundukkan kepala berpura-pura sedang sibuk memotong sosis. Namun, Lisa berpikir jika dia menundukkan kepala berarti Alvano menganggap Lisa takut pada cowok itu. Lisa memberanikan diri mengangkat padangan.


Saat padanya sudah terangkat Lisa langsung dibuat kelas oleh reaksi Alvano yang memalingkan wajahnya dengan angkuh.


'Pemuda busuk!' maki Lisa kembali menusuk-nusuk sosis di piringnya dengan kencang sekali.


Hal itu membuat semua mata memandang ke arahnya dengan pandangan bertanya sekaligus heran.


"Lu kenapa? Gatal-gatal? Perlu gue garuk pakai ini?" tawar Queen kemudian mengangkat paha ayam yang sudah tersisa tulang saja.


Queen yang tahu Lisa sedang bete tidak menganggu gadis itu lagi, dia kembali sibuk dengan makanannya meski sesekali ia menertawakan wajah Lisa yang seperti cigak baruk, tidak ada manis-manisnya.


Setelah Lisa dan Albani selesai dengan makanan mereka, Lisa langsung membawa piringnya dan piring Albani ke dapur sedangkan Queen masih sibuk dengan tulang-tulang ayamnya, memang kesukaan Queen menghisap tulang tersebut sampai akarnya.


"Tadi di sekolah gimana, Sayang? Menyenangkan?" tanya Valen yang duduk di samping Queen.


Queen langsung tiba-tiba tidak mood dengan gerakan cepat Queen mengangkat piringnya dan menarik kursi yang dia duduki, hendak pergi dari meja makan.


"Perlu bangat tahu? Biasanya saya mau apa saja tidak pernah diperhatikan," jawab Queen datar dan dingin, lalu berjalan meninggalkan meja makan tersebut dengan sedikit hati yang tersakiti kerenan sudah berbicara begitu lancang pada sang Mama.

__ADS_1


Keluarga toking!


Van menatap punggung Queen ketir, hatinya sakit saat putrinya sendiri bersikap dingin padanya. Queen yang Valen kenal ceria dan selalu merepotkan Valen. Apa selama ini ia berlebihan memperlakukan putrinya itu? Menurut Valen ia berperilaku seperti biasa.


"Semuanya sama aja," gerutu Lisa sambil mencuci piring-piring.


Saat ia akan mengambil piring kotor lainnya untuk dicuci Queen datang sambil menyodorkan piringnya dengan polosnya.


"Yang rajin yah cantik kalau numpang di rumah orang."


Ucapan Queen begitu sangat berani, kemudian meletakan kasar piringnya pada tumpukan piring kotor, kerena Lisa tidak mengambil sodoran piringnya. Setelannya Queen melenggang pergi tidak ingin mendengar teriakan cempreng dari Lisa.


Lisa menggerutu sepanjang kerjanya, tetapi dia tetap mengerjakan semua. Saat semua piring akhirnya berhasil dia bersihkan dari belakang lagi dan lagi seseorang mengulurkan piringnya dengan santainya.


Lisa meletakkan piring yang sudah ia angkat dengan kasar, lalu mengepalkan tangannya siap adu bacot dengan Queen di belakangnya.


Lisa sudah memasang kuda-kuda untuk menerjang. "Queen sialan!" bentak Lisa lalu memutarkan tubuh.


Namun, Lisa langsung terdiam melihat Alvano yang ada di belakangnya. Dan, tersadar ketika Alvano menggeser tubuhnya dengan sekali tulakan, membuat Lisa tergeser agak jauh dari tempat pencucian piring.


Lisa mere'mas-rem'as tangannya saking kesal, lalu mengambil piring yang sudah dia cuci bersih dan meletakan pada tempatnya. Sebelum pergi Lisa sempat membalik badan untuk melihat Alvano yang sedang mencuci piringannya.


Lisa melayangkan kepalan tangannya ke arah kepala cowok itu, berharap bisa meninju kepala Alvano. Setelah puas Lisa pergi dari sana dengan hati yang masih dongkol.

__ADS_1


__ADS_2