
Angin bertiup agak kencang sampai-sampai membuat tenda bergoyang-goyang, ada beberapa tenda yang mereka dirikan kerena satu tenda saja tidak cukup. Di dalam sana ada Alvarez dan Albani yang berada kerena kesempitan, Albani tidur paling ujung tenda sedang Alvarez berada di sampingnya.
"Jangan peluk-peluk gue!" Albani menonjor Alvarez dengan tangannya. Bahkan Alvarez tidak menghiraukan perkataan Albani cowok itu terus saja memeluk Albani.
Sebenarnya Alvarez takut berkemah, takut sesuatu yang buruk terjadi padanya semisalnya dia hilang di hutan kan ribet. Bunda dan Abi Alvarez pasti akan menangis setiap hari di rumah kerena tidak ada laki yang akan menghabiskan makanan. Mengingat itu Alvarez jadi kangen Bunda dan Abi-nya, tanpa sadar air matanya menetes sedikit di pelupuk mata.
"Ais! Ingus lu kena leher gue, Varez!" Albani menghapus air mata Alvarez yang terasa di lehernya dengan kasar.
"Lu nangis?" tanya Albani setelah membalik tubuhnya menghadap Alvarez.
Niat Albani ingin menerjang Alvarez dengan kakinya tadi makanya dia berbalik posisi, eh ini malah dia menemukan penampakan yang sang wow untuk dipandang. Albani tertegun melihat Alvarez yang cepat-cepat menghapus air matanya dengan tangan kanan.
Alvarez mengelap air matanya, dia bersedih hati biasanya sebelum tidur dia akan minum susu buatan bundanya.
"Gue nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk," kata Alvarez jujur lalu langsung memeluk kembali Albani.
Albani melepas paksa tangan Alvarez pada tubuhnya kemudian membalikkan tubuh cowok itu ke samping, setelahnya Albani meletakan tangan Alvarez pada Alvin yang berada di samping cowok itu, Alvin yang tidak sadar membalas pelukan dari Alvarez. Dan, akhirnya Alvarez bisa tidur juga begitu pula dengan Albani yang bisa tidur dengan tenang.
Sedangkan di tenda wanita ada Queen dan Lisa yang keluar dari tenda mereka, di mana Queen yang terpaksa menemani Lisa yang ingin buang air kecil alias kencing. Rasanya mata Queen sulit untuk terbuka kerena masih mengantuk, ini saja tadi Lisa yang membangun dirinya secara paksa.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, senarnya duo gadis itu takut untuk keluar akan tetapi yang di bawah sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, sekarang sampai lah mereka di semak-semak yang jauh dari tenda. Lisa tidak ingin orang melihatnya ketika membuang air.
"Kencing situ aja, Lisa!" suruh Queen melihat sudah terlalu jauh masuk hutan takut-takut kesasar seperti kemarin.
Membahas tentang kemarin Lisa gadis itu menuding-nuding Queen kerena sudah meninggalkan, dan setelah tahu kejadian menimpah Queen Lisa tertawa, menertawakan kesialan yang Queen dapat, niat ingin mengerjai malah dapat getanya sendiri. Kalau boleh dia ingin tertawa sampai guling-guling.
__ADS_1
Lisa berjongkok kemudian membuang kencing di situ. Queen yang melihat menutup hidungnya tidak ingin mencium harumnya pipis Lisa yang semerbak bunga bangkai.
Queen mengeleng-gelengkan kepala. "Cantik-cantik bau kencing kayak bau got," ujar Queen benar. Lisa langsung menengadah menatap Queen.
"Emang pipis lu bau apa?" tanya Lisa sok-sokan polos.
"Bau farfum Jepang," jawab Queen asal, Lisa manggut-manggut saja. "Cepatan napa, seram tahu berduaan di hutan gini," bilang Queen lagi dan melihat ke sekeliling.
"Lu takut?!" ejek Lisa dengan senyum tersungging satu di sudut bibirnya.
"Cih, takut? Lu aja kali yang minta temanin gue cuma untuk buang air kecil aja," bilang Queen sombong pada Lisa.
Lisa yang tidak terima dibilang penakut oleh gadis itu menjawab tidak kalah sombongnya dari Queen.
"Takut? Siapa bilang, gue cuma iseng aja minta ditemani sama lu," ucap Lisa dengan begitu sombongnya.
Keduanya berjalan kembali ke tenda. Namun, sesuatu yang jauh di belakang mereka membuat dou gadis itu saling pandang dan meneguk liur susah, wajah mereka tampak tegang sekali.
Brak!
"Apa itu, Queen?" tanya Lisa panik, Queen mengeleng-gelengkan kepala.
"Ayok jalan lagi, mungkin saja itu ranting yang jatuh!" ajak Queen yang langsung dituruti oleh Lisa tampa melirik sedikitpun ke belakang.
Baru juga beberapa langkah mereka melangkah suara itu kembali terdengar, Queen dan Lisa kembali berhenti dengan tubuh masing-masing kaku total.
__ADS_1
"Ayok lanjut jalan lagi, mungkin itu kucing yang sedang berkembang biak," ucap Queen sembarangan.
Dan, lagi-lagi mereka berusaha berpikir positif meskipun sebenarnya hati masing-masing jedag jedung dor! Di dalam hati, memang kalau mendengar suara-suara seperti ini di tengah-tengah hutan jangan menolah ke belakang terus saja jalan.
Bung!
"Itu ranting jatuh atau kucing berkembang biak lagi?" Lisa tidak bisa lagi berpikir positif, begitupun Queen.
"Kalau itu setannya ya, yang jatuh!" teriak Queen langsung berlari tunggang langgang, Lisa yang melihat Queen berlari begitu langsung menatap tidak percaya pada Queen.
Lisa secara perlahan melihat kebelakang, dan tidak menemukan apa-apa, hatinya sejenak terasa lega. Namun, detik selanjutnya Lisa berlari seperti Queen tanpa melirik kiri kanan fokus pada jalanan.
Setelah sampai di depan Queen yang tampak mengambil napas, Lisa juga menghirup oksigen rakus. Untung saja mereka sudah sampai di depan tenda.
"Lu kok ningalin gue!" kesal Lisa yang sudah mulai stabil.
Queen melirik gadis itu dari ekor matanya, salah sendiri kenapa diam saja seharusnya tadi sewaktu Queen Lisa ikut juga berlari bukanya malah bengong, memang bodoh! Untung saja tuh gadis nggak tersesat seperti dirinya kemarin.
"Lu aja yang lelet kayak perawan," cetus Queen dengan wajah yang teramat letih, lesu, lelah dan lemah.
"Ya, gue emang perawan." Lisa tidak habis pikir, bisa-bisa Queen berbicara begitu padanya. Memang Lisa gadis malam apa!
"Emang lu perawan? Gue lihat udah tembus lima kali," kata Queen meningalkan Lisa yang mencak-mencak di tempatnya.
"Sialan lu!"
__ADS_1
Lisa, gadis itu mengikuti Queen masuk ke dalam tenda.