FAKE NERD

FAKE NERD
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Mereka sudah berada di rumah sakit, Albani sedang ditangani sedangkan Queen hanya diperiksa untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Queen sekarang berdiri di samping Alvano dan Lisa, mereka menunggu Albani selesai diobati.


"Keadaannya baik-baik saja, cuma tangan kanannya beberapa hari tidak bisa digunakan kerena benturan yang keras pada bahunya mengakibatkan cedera," jelas sang Dokter setelah selesai memeriksa Albani.


Tampak tarikan napas lega dari mereka, namun berbeda dengan Albani yang terus saja menggerutu tidak bisa mengunakan tangan kanannya, untung saja cuma bagian tangan yang lain cuma gores-gores akibat terkena ranting yang tajam mungkin.


"Nanti saya akan menuliskan beberapa resep obat yang harus kalian tebus di apotik," bilang Dokter itu lagi dan menerima anggukkan dari Alvano.


"Baik, terima kasih Dok!"


Setelah pemeriksa pada Albani sang Dokter pamit ngundurin diri dari hadapan mereka, berselang kepergian sang Dokter datang Valen yang setengah berlari.


Lalu menyempil antara Alvano, Lisa, dan Queen membuat mereka harus mengalah untuk orang yang lebih tua.


"Bani, Sayang?!" Valen terlihat panik, mendekati Albani dan memeriksa anaknya itu. Kemudian menutup mulut saat melihat tangan Albani yang diperban.


Albani tampak mengeluh saat tangannya yang sakit disentuh Valen. "Aduh, Ma, tangan Bani sakit! Jangan dipegang-pegang," keluhnya menahan sakit.


Wajah Albani yang sudah masam semakin masam saat Valen membolak-balik tubuhnya tanpa perasaan, apakah mamanya ini kalau anaknya yang paling ganteng mengalami kecelakaan walaupun tidak parah, Valen malah menambah rasa sakit pada tubuhnya.


Valen langsung sadar melepas tubuh Albani, namun rasa cemasnya belum kunjung menghilang. Valen langsung bersandar pada Alvano yang berada di sampingnya, Alvano yang melihat reaksi lebay mamanya hanya bisa menggerutu di dalam hati saja.


"Tapi, kamu benaran nggak apa-apa 'kan, Sayang?" tanya Valen masih belum tenang.


Albani menghembuskan napas cukup dalam dan kasar. "Tenang saja, Mama! Albani baik-baik saja, Mama nggak perlu cemas begitu," ucap Albani menahan emosi agar bisa menenangkan Valen.


"Bang, Queen keluar dulu ya, keruangan Dokter buat ambil resep," bilang Queen pada Alvano membuat cowok itu mengalihkan pandangannya pada Queen.


"Mau diantar?" balasnya, langsung ditolak oleh Queen.


"Nggak usah, Bang, cuma sebentar kok," tolaknya, lalu setelahnya meningalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di luar Queen melihat Vegas yang duduk senderan, dia mendekati cowok itu yang mampu membuat Vegas membuka matanya, ternyata cowok itu nggak tidur. Vegas menegakan tubuhnya menghadap Queen yang menduduki tubuhnya di samping.


"Kakak nggak masuk?" tanya Queen.


"Nggak," balasnya singkat. "Kamu sendiri kenapa keluar?" Vegas malah balik bertanya.


Queen tanpa menyengir. "Ini, hem, mau gambil resep obat," katanya langsung dan lancar sekali.


Sedang asik mengobrol tiba-tiba saja seseorang yang Queen datang setengah berlari, ketika tatapnya bertemu dengan orang tersebut membuat sosok itu menghampiri dengan wajah panik.


"Kamu nggak papa, Sayang?" tanya sosok itu begitu cemas padanya.


Queen jadi binggung dari mana Kak Edo tahu kalau dia di sini, apakah seseorang memberi tahu pemuda setengah tua ini? Anggap saja begitu, Queen mengangguk sebagai jawaban untuk Edo.


Edo, ya! Sang fotografer Queen, pemuda itu begitu panik setelah mendapat kabar dari orang suruhannya yang dia bayar untuk mengawasi Queen, dengan tanpa pikir panjang dia langsung melakukannya mobil yang dia pakai ke rumah sakit yang diberi tahu oleh anak buahnya.


"Queen baik-baik saja, Kak," katanya membuat Edo sedikit bernapas lega.


Edo akan mencari alasan yang bagus agar Queen tidak salah paham padanya, matanya melirik sana sini tanpa sebab. Ting! Seketika nama Sinta muncul begitu saja, ah ... tampaknya nama wanita ini bisa sebagai alasannya.


"Tentu saja dari sekretaris tersayang mu," bilangnya dengan begitu gampang.


Queen dengan kecepatan kilat memberi kode Edo agar tidak semakin memperpanjang kata-katanya, bisa-bisa ketahuan Queen seorang model.


"Hahah ... Kakak benar, tentu saja Kak Sinta," katanya ketawa kecil. "Ayok ikut Queen, ada hal penting yang harus Queen sampaikan," tambahnya sambil menarik paksa tangan Edo agar mengikutinya.


Sebelum pergi Queen berpamitan dengan Vegas, takut dibilang calon istri durhaka yang seenak jidatnya meningalkan sang calon imam sendirian.


"Kak, Queen tinggal sebentar, ya. Ada hal penting yang harus aku emongkan dengan Kak Edo," katanya berpamitan sambil melirik Edo ketika menyebut nama laki-laki itu.


"Mau gue temanin?" tawar Vegas takut-takut saja laki-laki yang berada di dekat Queen berniat jahat pada gadis tersebut.

__ADS_1


Queen langsung mengeleng-gelengkan tangannya pertanda tidak perlu, apa-apaan dia ingin menjauhkan Edo dari Vegas malah cowok itu menawarkan diri untuk menemani. Queen bisa sendiri mengandalkan dirinya.


"Nggak usah, Kak, cuma dekat di sana kok," tunjuk Queen pada arah yang akan mereka datangi, Vegas tampak paham dengan yang Queen ucapkan.


"Oky!"


Setelahnya Queen menarik Edo terpaksa membuat laki-laki itu mengikuti langkah Queen yang terbilang cepat. Walaupun dia tidak tahu apa yang ingin Queen sampaikan, dia tetap mengikuti dari belakang.


Setelah sampai pada tujuan mereka saling hadap menghadap, Queen jadi bingung harus mengatakan apa pada Kak Edo, masak dia harus berterus terang kan nggak mungkin, ini juga belum waktunya.


"Mau gomong apa sih sampai narik-narik gitu," ujarnya setengah menggoda Queen.


Queen jadi menyenggir tanpa alasan, nah kan Edo dan Alvarez itu sebelas dua belas sifatnya, mengingat Alvarez Queen jadi rindu dengan sahabat somlak ya itu, lagi apa yah Alvarez sekarang. Pastinya sedang membuat ulah yang bikin orang lelah.


"Qu–queen, Queen ... oh, iya! Queen mau bahas pemotretan yang nanti bakal Queen hadapi," bilangnya terdengar tidak nyambung.


Namun, Edo tetap memberi aspirasi terhadap alasan yang gadis itu berikan, ya, Edo tahu Queen hanya sedang ngeles saja agar bisa membawanya jauh dari laki-laki tahu. Oh, tunggu! Sepertinya dia kenal siap laki-laki itu, tapi di mana ya? Hem ... lupakan saja.


"Cek, elah! Bilang saja rindu sama Kakak yang ganteng ini, ya, 'kan?" godanya menarik turunkan alisnya centil.


Queen malah tertawa melihat kelakuan Kak Edo yang kegatelan, sudah tua tapi masih suka ragu-ragu bukanya cari yang pas ini malah tebar pesona nggak jelas. Tanpa mereka sadari seseorang sedang berjalan ke arah mereka.


Sosok ini penasaran dengan siapa Queen berbicara soalnya orang yang di hadapan Queen membelakanginya.


"Queen!"


Keduanya langsung menoleh pada sosok yang memangil nama Queen, dan seketika sosok tersebut dan Edo sama-sama menatap terkejut.


Deng!


'Dia?"

__ADS_1


'Dia!'


__ADS_2