FAKE NERD

FAKE NERD
Bertemu Vegas


__ADS_3

Queen mengelilingi supermarket, ia akan membeli bahan-bahan makanan yang akan ia masak untuk ulang tahun Albani yang menginjak usia 19 tahun, dan untuk kadonya akan Queen buat sendiri. Biarkan sederhana asal memiliki makna tersendiri menurut Queen.


Tumpeng atau nasi tumpeng adalah makanan masyarakat Jawa yang penyajian nasinya dibentuk kerucut dan ditata bersama dengan lauk-pauknya. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, nasi putih biasa, atau nasi uduk.


Queen akan membuat makanan khas Jawa ini, berhubungan dahulu Albani sangat suka waktu dibuatkan oleh Nenek mereka semasa masih hidup.


Tadi Queen ingin mengajak Alvarez, tapi kekacauan yang dibuat laki-laki itu sewaktu di kelas membuat Alvarez dihukum membersihkan perpustakaan, sedikit kesal akan tetapi Queen tetap pergi dari pada menunggu Alvarez yang entah kapan akan selesai membersihkan perpustakaan.


Queen memilih semua bahan yang tertera di Mba google, tidak lupa juga Queen membeli beberapa sayuran sebagai hiasan untuk tumpeng yang akan Queen buat. Terlalu serius memilih bahan sampai-sampai Queen tidak sadar menginjak sesuatu.


"Sorry, gue nggak sengaja," kata Queen melihat kaki yang ia injak.


"Hem ...." Pemuda tersebut hanya berdehem, lalu lanjut mengambil sesuatu yang ingin dia ambil tadi.


Queen ternganga melihat siapa orang tersebut, Vegas mengulurkan tangannya tinggi untuk mengambil sesuatu di atas kepala Queen.


"Kak, Vegas!" ucap Queen dengan nada suara yang aduhai.


Mata kecil Queen menatap kagum Vegas dari bawah, yah, kerena tinggi Vegas melebihi tinggi Queen sehingga Queen dengan jelas melihat wajah Vegas yang tampan itu.


Vegas menaikan alis, tangannya sudah dia tarik. Namun, gadis ini masih menatapnya terpanah, apakah Vegas terlalu tampan?


"Am I too handsome that your eyes stare at me like that?" tanya Vegas menaikan satu alisnya dengan gaya cool.


Translate: [Apa aku terlalu tampan sehingga matamu menatapku seperti itu?]

__ADS_1


Queen terpelongo. "Is, Kak Vegas! Queen nggak gerti Kakak bicara apa," protes Queen tidak bisa berbahasa Inggris.


Tang!


"Kak Vegas! Sakit tahu," rengek Queen saat kepalanyan dijitak Vegas.


Vegas mengulurkan tangan ke kening yang dia jitak, mengusap lembut kening itu membuat Queen mendadak jadi patung, wajah tegas Vegas ia majukan untuk melihat lebih jelas lagi.


Jantung tolong bersahabat!


Napas Queen tersedak-sedak saat Vegas semakin mendekatkan wajahnya, dengan naluri Queen menutup matanya kuat. Namun, beberapa detik tidak ada yang terjadi Queen membuka kembali matanya, Vegas sudah menarik wajahnya dari Queen.


"Jangan mikir macam-macam! Lu bukan tipe gue," kata Vegas lalu beranjak dari sana, Queen sedikit berlari mengejar laki-laki itu.


"Is, Kak. Tungguin Queen napa," kesal Queen yang terus mensejajarkan langkanya dengan langkah besar Vegas.


Vegas menatap tangan yang Queen pegang, Queen yang sadar cepat-cepat melepas tangan laki-laki itu, lalu tersenyum manis menampilkan sederet giginya putingnya.


"Tunggu di sini, jangan pergi. Queen bayar ini sebentar," ucap Queen berlari ke kasir, kemudian memberikan barang belanjaannya pada Mas kasir.


Setelah tahu harganya Queen mengeluarkan uang dari saku bajunya, memberikan pada Mas kasir tiga lembar uang seratus ribuan. Dari belakang Vegas mengulurkan belanjaannya juga.


"Kok Kakak ada di sini?" binggung Queen, padahal ia meminta laki-laki itu menunggu di sana saja.


Vegas menatap datar Queen. "Buta mata lu?!" Ucapan Vegas membuat beberapa menatap ke arahnya, membuat Queen serasa ingin menghilang saja.

__ADS_1


Setelah membayar belanjaanya Vegas meninggal Queen yang tetap saja mengikuti dirinya sambil bertanya ini itu, dan akan Vegas jawab hanya dengan deheman semata. Queen yang memang cerewet tetap berbicara meski cuma dibalas deheman oleh Vegas.


Hujan yang entah datang dari kapan membuat dua anak manusia ini terjebak di supermarket, Queen menengadah melihat hujan yang jatuh ke bumi. Suara hujan membuat hati Queen terasa damai, apalagi sekarang dia bersama calon suaminya semakin menambah kedamaian hati Queen.


Rintikan hujan yang mengenai tanah membuat Queen kagum, bagaimana langit bisa menurunkan air? Apakah di atas sana ada sumber air, meskipun Queen pernah belajar dari mana asalnya hujan tetap saja Queen kagum akan keindahan langit.


"Awas nanti wajah lu basa," peringat Vegas yang beda di sebelah Queen.


"Kak Vegas suka hujan nggak? Queen suka bangat, rintik hujan menerpa tanah buat Queen nyaman," kata Queen masih dengan posisi menatap langit-langit.


"Yaudah lu berdiri aja di tengah-tengah hujan sana, kalau gak mati paling lu bakal demam doang," ucap Vegas dengan entengnya.


"Ini cuma hujan Kak Vegas, bukan bom atau semacam bahaya yang bisa bikin orang matong bila terkena airnya," kesal Queen, berbicara dengan Vegas sama dengan berbicara dengan Alvarez, tidak nyambung.


"Serah lu deh, gue mau pulang," ucap Vegas berjalan ke mobilnya.


"Kak Vegas bawah mobil?! Kenapa nggak bilang dari tadi," kata Queen tidak habis pikir, mereka agak lama berdiri di luar supermarket.


"Lu nggak nanya," balas Vegas cuek.


Queen cepat-cepat masuk ke dalam mobil Vegas, tidak peduli nanti diusir oleh calonnya ini, yang penting usaha terlebih dahulu. Vegas menatap Queen binggung.


"Luh kok ikutan masuk," bilang Vegas, perasaan tadi ia tidak menawarkan tumpangan buat gadis ini.


"Yah, pulang sama Kakak lah, masak Kakak tega ninggalin Queen sendiri gimana kalau ada yang jahatin Queen nanti?" ujar Queen panjang lebar.

__ADS_1


Vega hanya menarik napas panjang, kemudian menjalankan mobilnya. Tidak apa-apa lah, berhubungan jalan ke rumah mereka satu jalan, meski nanti sedikit memutar kerena tidak mungkin bagi Vegas melewati gang yang motor saja tidak bisa lewat di sana.


__ADS_2