
Untung saja Alvin cekatan membatu Queen, pemuda itu melepaskan tangannya pada tubuh Queen setelah gadis itu berdiri dengan benar. Setelah itu Alvin memundurkan tubuhnya sedangkan Queen hanya menatap pemuda itu canggung.
Entah mengapa yang tadi dia lihat itu Vegas atau memang matanya sudah rabun, astaga! Queen harus segera mengecek matanya ke dokter mata untuk memastikan matanya baik saja tentunya.
Queen menatap Alvin cangung, dengan sedikit menggaruk kepala dia kembali melangkah melupakan sejenak hiruk pikuk di belakangnya. Sampai lah mereka pada pos pertama, sungai yang terlihat licin bukan sungai yang kemarin Lisa, Queen datangin, sungai ini berbeda sekali bentuknya.
"Ada cacing ya, nggak ni?" tanya Aska terlihat jijik pada sungai tersebut. "Ular? Buaya? Naga? Ais, jangan sampai ada kecoa," tambahnya lagi dengan berbagai pertanyaan.
"Nggak ada cacing, buaya, dan semacamnya, yang ada cuma janda kembang," celutuk Albani asal lalu menoyor kening Alvin cukup keras membuat cowok itu kesakitan dan memegangi kening.
"Sekali lu ngeluh lagi gue buang lu ke sungai Amazon," ancamnya lalu mengabaikan Alvin yang tampak ingin protes.
Mereka mencari petunjuk yang disimpan di sana, beberapa mencari arah depan sungai beberapa lagi mencari arah belakang. Sampai-sampai antara mereka ada yang sudah nyebur ke dalam sungai untuk mencari.
Sungai yang tidak terlalu dalam sangat cocok untuk menyembunyikan sesuatu, seperti menyembuhkan hati yang sedang terluka, dan juga bisa menyembunyikan keburukan. Ataupun mensucikan diri.
"Hati-hati terpeleset," ingat Vegas pada Queen yang ada di seberangnya.
Queen tersenyum manis lalu menganguk kan kepalanya, tanpa mereka sadari Albani sedari tadi melihat dengan mata memicing. Meskipun dia benci pada Queen dia tidak ingin ada yang berniat jahat pada adiknya itu, dan tampaknya sih Vegas itu bukan orang baik menurut pengamatan Albani. Ingat cuma dia lah yang berhak menistakan Queen!
"Kakak juga hati-hati," bilang Queen juga mengingatkan Vegas. Hal tersebut malah membuat Albani semakin curiga.
Dengan ke-kepoan mendalam dia secara perlahan mendekat meskipun tangannya terlihat sibuk mengangkat baru-baru yang cukup besar itu. Namun matanya masih tertuju pada dua manusia yang berada agak jauh darinya bekerja.
__ADS_1
Semakin dekat, dan dekat. Akhirnya sampailah Albani di belakangnya mereka, dia berpura-pura mencari di sana padahal itu bukan wilayahnya, tapi masa bodoh untuk Albani. Semuanya dapat Albani lihat tanpa terlewatkan sedikitpun saat Queen tertawa dan saat dengan jahilnya Vegas menyentuh rambut gadis itu.
"Awas gue mau lewat!" Albani menerobos di tengah-tengah keduanya sampai membuat Vegas sedikit limbung dan untung saja tidak nyebur ke dalam sungai.
"Bang Bani kok di sini?! Bukanya wilayah Abang sebelah sana?" tunjuk Queen arah depan sebelah kanan sungai, Albani juga mengikuti arah tunjuk Queen.
"Serah gue lah, kaki-kaki gue! Ngapain lu yang sewot," ucapnya ketus Queen sampai harus menutup wajahnya kerena air liurnya Albani muncrat ke mana-mana.
"Kalian juga gapain berdua-duaan di sini? Mau mesum kan?!" tuduh Albani sembarangan pada Queen dan Vegas.
Queen langsung saja menggelengkan kepala dan medada kiri kanan tangannya pertanda perkataan Albani itu tidak benar. Wajahnya langsung panik ketika dituduh begitu, meskipun dulu sempat mau di inboking oleh Vegas tetapi itu murni khilaf.
Vegas cuma dia saja di tempatnya, tidak ingin berdebat dengan cowok di hadapannya ini. Memang Albani sekarang berada di hadapan mereka, melihat Albani Vegas pikir cowok ini agak gimana gitu mending diam saja.
"Apa sih Bang, nggak mungkin Queen begitu," cetusnya menolak perkataan Albani tentang dirinya yang buruk.
"Jangan diladeni, mungkin nih orang stres," bilang Vegas santai mungkin dia tidak kenal dengan Albani, tapi masa nggak kenal! Ah, membingungkan.
Albani dengan spontan mengangkat kera baju Vegas dan menariknya pada dirinya. Namun, sebelum sempat beradu tinju keduanya malah merosot dan nyemplung ke dalam sungai tersebut.
Berbeda dengan kelompok Alvano, di kelompok Alvano ada Alvarez yang memimpin, ini adalah yang kedua kali mereka tersesat alasannya kerena masih sama yaitu Alvarez, hehe.
Mereka sudah duduk bersandar pada perpohonan, mengikuti Alvarez sama saja menuju kesesatan. Sudah bagus tadi Lisa yang memegang peta malah cowok itu rebut dengan paksa, saat beberapa anggota bilang jalan ini yang benar Alvarez malah memilih jalan yang satunya dengan alasan ada ciput. Dan, entah mengapa orang-orang itu dengan bodoh mengikuti Alvarez.
__ADS_1
"Ayok bangun jangan malas, sebentar lagi kita sampai pada tujuan!" ajak Alvarez bersemangat, padahal yang lain sudah letih lesu dan lelah cowok ibu masih tetap semangat 95.
Orang-orang itu menatap Alvarez sejenak kemudian kembali menyandarkan kepalanya, melihat reaksi dari teman-temannya begitu Alvarez menyeret tangan mereka satu persatu untuk berdiri. Jangankan berdiri sedikit beranjak dari tempat saja tidak akibat tarikan Alvarez.
"Gue bilangin nanti ya, kalian sama Bu Anita biar dihukum!" ancam Alvarez dan reaksi yang didapatkan olehnya masih sama saja.
"Gooo, go, goooo!" Alvarez menyemangati mereka dengan gerakan tangan, hal itu malah membuat teman-temannya jenuh.
"Lu pergi duluan aja nanti kami nyusul," kata Elvin mengibar-ngibarkan tangannya pada Alvarez lelah. Baru pertama kali ini dia bertemu maklum seperti Alvarez sungguh merepotkan dan membuat sial.
"Ya, mana bisa kalau gue tersesat gimana? Lu mau tanggung jawab?" bilangnya ikut duduk juga di sebelah Alvano.
"Lu ikat aja tali panjang-panjang di pinggang lu, semisal nanti lu tersesat kami tinggal narik tuh tali kan gampang," ujar Elvin dengan tanpa dosanya sedikitpun membuat Alvarez dengan cepat menatap Elvin.
"Lu pikir gue anjing?" ujarnya sewot.
"Kali aja!" Elvin menyengir setelahnya tidak ada lagi percakapan antara keduanya, mereka sibuk melepas penat masing-masing.
Sedang yang lain sudah menutup mata mereka membiarkan Alvarez dan Elvin tadi beradu mulut, ternyata melepas penat di bawah pohon itu menyegarkan. Angin terasa bertiup-tiup dari atas pohon terus turun menerpa mereka.
Sejuk terasa tanpa sadar membuat mereka menutup mata dan tertidur, bahkan sudah ada antara mereka yang saling membahu, Elang yang sudah menyadarkan kepalanya pada Evan, Evan yang begitu juga menyandarkan kepalanya pada Elvin sedangkan Elvin sebagai tumpuan.
Sedangkan Lisa gadis itu meletakan tasnya di batang pohon sebagai bantal, dan tampaknya mereka yang sudah berada di alam mimpi masing-masing terlihat damai sekali wajah lugu-lugu dari anak remaja ini tanpa dosa sedikitpun meski sebenarnya berbanding terbalik, apalagi cowok yang satu itu sudah dipastikan dosanya yang paling banyak, secara dia menyesatkan banyak orang.
__ADS_1
"Akhh ...!"