
"Pasien berhasil kami selamatkan, Buk. Anda bisa melihatnya nanti di ruang rawat," kata sang Dokter yang tadi menangani Edgar dan Albani, Valen menghembuskan napas lega.
Tinnnn....
"Dok, Dok! Pasien kembali kritis, denyut nadinya di bawah 60, Dok!" ucap perawat anestesi kepada sang Dokter, beberapa langkah kembali sibuk memeriksa Edgar yang denyut nadinya menghilang.
Valen yang ikut masuk seketika sok, melihat sang suami dalam keadaan kritis, Edgar terbaring dengan alat-alat penunjang hidup di setiap tubuhnya.
"Denyut jantung pasien sekarang berada di bawah angka 25, Dok!" lapor sang perawat anestesi kepada sang Dokter yang sedang memeriksa Edgar.
Perawat anestesi adalah perawat yang bertanggung jawab dalam memberikan anestesi, memantau kondisi vital pasien, dan memperhatikan proses pemulihan pasien paskah selesai operasi.
"Denyut pasien menghilang, Dok," lapor sang perawat itu lagi.
"AED," ucap Dokter tersebut, perawat yang bertugas dalam hal tersebut memberikan yang Dokter itu inginkan.
AED adalah sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung jika dibutuhkan.
Alat ini berfungsi untuk menolong orang yang mengalami henti jantung. Alat ini disebut dengan kata lain (automated external defibrillator).
Dung....
"Naikan pada 35 tegangan!" perintah dokter itu pada sang perawat, yang langsung di laksanakan.
Dung...
Tetap tidak ada reaksi dari tubuh Edgar, Valen yang berada di samping sang suami memeluk tubuh Edgar membuat sang Dokter yang sedang bekerja terganggu.
__ADS_1
"Biarkan kami melakukan perkerjaan kami, Buk. Tolong tunggu di luar!" usir salah satu perawat pada Valen, perawat itu menarik Valen keluar.
"Tapi saya ingin menemani suami saya," tolak Valen berusaha untuk mendekati sang suami.
"Tolong jangan mempersulit kami, Buk," ucap sang perawat mengusir Valen, pintu ruang operasi kembali tertutup.
Valen hanya bisa menunggu dengan cemas di luar, sedangkan kedua anaknya yang lain hanya bisa menangis melihat Mamanya yang menangis histeris.
30 menit kemudian Dokter keluar dengan wajah yang kurang mengenakkan, Valen cepat-cepat menghampiri sang Dokter.
"Bagiamana suami saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?! Dia pria kuat loh Dok asal Dokter tahu," ujar Valen mengelantur. Dokter yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi itu ikut perihatin.
"Maaf, Buk. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun suami Ibuk tidak bisa terselamatkan," jelas Dokter tersebut pada Valen, Valen langsung terduduk lemas.
"Nggak mungkin, ini nggak mungkin. Suami saya itu kuat Dok."
"Gimana keadaan lo?" tanya Alvarez duduk di berangkas Queen, Queen tampak melihat sekeliling ruangan.
"Kita udah di surga, yah, Bang?" Queen malah balik bertanya pada Alvarez.
Alvarez tampak sedikit loding, namun detik berikutnya laki-laki ini tersenyum misterius menatap Queen. Alvarez menyuap makanan rumah sakit ke dalam mulutnya, seharunya makanan itu untuk Queen. Tapi, laki-laki ini dengan tidak berakhlak memakannya tanpa dosa sedikitpun.
"Iya, kita sekarang di surga ... sebenarnya tadi malaikat mau bawa lu ke neraka, berhubungan gue baik gue halangi jadinya lu di surga barang gue," cerocos Alvarez bohong, tampak Queen sedikit tidak percaya dengan ucapannya.
Namun, yang namanya Alvarez tidak akan berhenti untuk membuat Queen percaya atas kebohongannya. Alvarez malah semakin tersenyum di dalam hati, kapan lagi dia bisa mengerjai Queen kalau bukan sekarang.
"Lu nggak percaya sama gue?!" tanya Alvarez pura-pura sedih, Queen tampak sedikit percaya dengan ucapan Alvarez.
__ADS_1
Queen mengangkat tangannya, Alvarez yang melihat mengulurkan tangannya juga agar Queen memegangnya. Akan tetapi ....
Plak!
"Percaya sama lu tambah rukun iman gue, Bang," ucap Queen hendak turun dari bangsalnya. Alvarez menahan pergerakan Queen, gadis ini baru saja pingsan akan tetapi tidak seperti orang yang baru saja pingsan.
"Gue bosan di sini, gue mau pulang!" kata Queen bersikukuh turun dari bangsalnya.
"Jangan macam-macam deh, Queen. Lu tahu? Lu itu baru pingsang," peringat Alvarez berusaha keras melarang Queen untuk turun.
Ck, dia cuma pingsan bukanya luka-luka atau seperti orang hendak mati sekarang juga. Mengapa Alvarez begitu kuatir, yah, memang mobil Alvarez menabrak dengan kencang. Namun, tabrakan itu tidak membuat mereka mengalami luka-luka, atau semacamnya, kerena yang bertabrakan kencang itu mobil yang melawan mobil Alvarez.
Untung saja Alvarez cepat membelok kemudinya sehingga hanya terkena gesekan samping mobil yang akan menabrak mobil Alvarez, tetapi mobil itu malah menabrak hebat mobil yang berada di belakang mobil Alvarez. Alvarez tidak tahu apa yang terjadi pada manusia itu, entah sudah mati atau sedang sekarat.
"Gue cuma pingsan, jangan lebay amat," balas Queen tak kalah cerewet.
Queen turun dari bangsalnya yang diikuti oleh Alvarez, Alvarez sudah mengurus administrasi rumah sakit jadi mereka bisa langsung pulang. Saat dalam perjalanan sesekali mereka bercanda, lalu terjadilah aksi jitak menjitak antara keduanya.
"Eh, Bang ..! Lihat noh," tunjuk Queen pada Vegas yang berjalan masuk kerumah sakit, sekarang posisi Queen dan Alvarez berada di parkiran rumah sakit.
Queen tidak sengaja melihat Vegas berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit tersebut, Queen dan Alvarez menatap binggung pada punggung Vegas yang sudah agak menjauh.
"Kenapa tuh bocah? Perasaan keluarganya nggak ada yang sakit," cetus Alvarez yang berada di samping Queen. Queen mengangguk-angguk saja atas ucapan Alvarez walaupun dia tida paham maksud dari sahabatnya ini.
Queen dan Alvarez saling bertatapan, senyum misterius terbit dari bibir mereka berdua.
"Ikutin yuk!"
__ADS_1