
Semilir angin menerbangkan rambut-rambut panjang Queen, senyum mereka di sudut-sudut bibirnya. Vegas yang hanya berdiri tidak jauh dari Queen hanya menatap gadis itu, Queen menutup mata lalu menengadah ke depan, angin laut menerpa wajah mungil Queen.
"Jangan lama-lama nanti wajah lu dingin, terus sakit! Gue nggak bakal tanggung jawab kalau sampai lu sakit," peringat Vegas lembut, Queen memalingkan wajah ke arah calon suaminya itu.
Perhatian bangat sih, Adek 'kan meleleh!
Queen hanya tersenyum atas peringatan dari Vegas, ia malah kembali menengadah. Vegas yang melihat itu berdecak, memang keras kepala menurut Vegas.
"Kakak tahu?! Queen suka pantai, tapi Queen sedikit terouma sama pantai," kata Queen dengan mata tertutup.
Vegas mengerutkan satu alisnya, apa maksud dari gadis ini. Suka pantai tapi sedikit terouma sama pantai, bukan saja aneh ternyata Vegas menemukan fakta lain tentang gadis yang bersamanya ini yaitu aneh.
"Lu pernah hanyut di pantai?" tebak Vegas, Queen tidak menjawab dengan ucapan, namun kepalanya menggeleng mungkin sebagai jawaban.
Raut wajah Queen tiba-tiba sedih. "Pantai membuat Queen kehilangan Papa, pantai yang seharusnya jadi tempat liburan paling bahagia bagi Queen dan keluarga ...." Queen menjedah ucapannya, hatinya tiba-tiba sesak untuk meneruskan perkataan.
"Malah hari itu jadi petaka yang Queen sesali seumur hidup Queen," sambung Queen merasa semakin sakit pada hatinya.
Vegas bisa melihat betapa berat gadis itu untuk mengucapkan beberapa kata yang tidak terlalu panjang, Vegas juga pernah kehilangan bahkan yang dialami Vegas lebih dibanding gadis tersebut.
Namun, Vegas tidak pernah bercerita ke siapapun, cukup dirinya saja yang merasakan betapa sakit hari itu. Kehilangan dua orang sekaligus, Vegas hanya bisa tersenyum pahit dalam hati terdalam.
"Sebaiknya lu coba melupakan! Kematian, jodoh, itu berada di tangan sang pencipta. Lu hanya bisa menerima, sekuat apapun lu nolak hal itu akan tetap terjadi entah sekarang atau hari esok," ucap Vegas bijak.
Memang calon idaman!
Queen tersenyum dengan ucapan Vegas, calon suaminya ini memang bisa membuat hati Queen merasa senang. Queen membalikan wajahnya menghadap Vegas senyum jahil terbit begitu saja di bibir tipis Queen.
"Sini deh, Kak," ajak Queen berjongkok di tepi hamparan pantai, Vegas hanya melirik tapi tidak bergerak mengikuti kemauan Queen.
"Is, cepatan ke sini Kak," paksa Queen melambai-lambainya pada Vegas.
Hush ...
Vegas menarik napas kasar, lalu tetap berjalan ke arah Queen. Vegas hanya berdiri di samping gadis itu tidak mau berjongkok, Queen menarik-narik celana panjang Vegas agar ikut berjongkok seperti dirinya.
"Jongkok, Kak!" paksa Queen semakin menarik celana panjang Vegas.
"Nggak, kotor!" tolak Vegas mengayun-ayunkan kaki agar tangan Queen terlepas dari celana bahannya.
"Oh, takut kotor yah?"
Byar!
Byar!
Queen menciptakan air laut yang dia tampung ke celana Vegas, membuat Vegas melotot secara refleks Vegas menurunkan tubuh sedikit lalu mendorong sedikit tubuh Queen membuat gadis itu terduduk di pasir.
Byar!
"KAK VEGAS!" teriak Queen saat ombak laut menerpa dirinya, Vegas yang sudah berlari mundur hanya menatap Queen dengan senyum mengejek.
"Makanya jangan jahil," kata Vegas dengan wajah menyebalkan menurut Queen.
Quee mengambil pasir, dia akan membalas Vegas atas apa yang calon suaminya ini lakukan. Queen membangunkan tubuhnya dengan wajah jahil.
"Lu mau apa?! Jangan macam-macam, yah!" panik Vegas semakin memundurkan tubuhnya, Queen tidak peduli dengan peringatan dari Vegas.
Queen semakin mendekat, sebelum sampai dan hendak melempar pasir ke arah Vegas pemuda itu terlebih dahulu berlari.
"Kak Vegas jangan lari!"
***
Lisa memasuki salah satu kamar yang akan diadakan pesta, bersama Evan di samping. Ada sedikit rasa takut, tetapi Lisa menepis dan berusaha menyakinkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Di dalam sudah ada Elvin, Elang, Lisa dan Evan ikut duduk. Di hadapan mereka sudah menyala lilin, Lisa binggung kenapa cuma ada mereka saja, ke mana yang lain?
"Kok cuma kalian aja, yang lain mana?!" tanya Lisa mulai tidak enak hati, tiga E itu menatap Lisa sekilas.
"Lu tenang aja, ini khusus buat kita berempat," kata Evan yang di samping Lisa.
"Tapi—"
"Kayak sama siapa aja lu Lis, ini kita loh Lis teman masa kecil lu," sahut Elvin pria yang sedang berulang tahun.
__ADS_1
Lisa sedikit percaya kerena mendengar kata teman masa kecil, tentu saja teman-temannya ini yang menang sudah dari kecil sebelum kematian sang Mama sudah bersahabat dengan Lisa ... toh! Buat apa pula Lisa merasa cemas dan takut.
Peniupan lilin sudah selesai, sekarang waktunya bagi-bagi kue. Lisa dapat bagian pertama yang artinya orang terpenting dalam hidup Elvin, lalu berganti kepada Elang, dan yang terakhir Evan.
"Nih kado buat lu," Lisa mengeluarkan kotak kecil dalam tasnya yang akan diberikan kepada Elvin.
Elvin menerima kotak itu dengan hati senang, begitu juga dengan Evan dan Elang juga memberikan kadonya pada Elvin. Selanjutnya mereka menikmati hidangan yang disediakan oleh Elvin, begitu banyak makanan yang pria itu hidangkan untuk mereka. Apakah Elvin tidak rugi? Ah, Lisa lupa bahwa Elvin ini termasuk anak orang kaya.
Makanan begini mungkin bagi Elvin bukan seberapa, pria ini bahkan bisa membeli restorannya sekaligus. Lisa menatap jam di tangannya, hari sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat, Lisa harus cepat-cepat pulang atau dia akan mendapatkan masalah dari Valen dan Albani.
"Elvin gue pulang duluan, yah, takut Mama Valen nyariin gue," ucap Lisa berpamitan pada Elvin, Elvin dan kedua temannya itu tampak saling pandang.
"Tunggu bentar lah Lis, kita kan belum sampai hidangan terakhir," larang Elvin menahan Lisa yang hendak berdiri.
Hidangan terakhir? Maksudnya apa?! Bukanya tadi mereka sudah makan buah dan beberapa hidangan penutup, apa masih ada hidangan penutupnya? Tidak ada habis-habisnya.
"Bukanya kita udah makan hidangan penutup, emangnya masih ada?" kata Lisa binggung.
"Ada, lu pasti suka sama hidangan terakhir dari Elvin," sahut Elang menimpali.
"Emang hidang terakhirnya apa?" tanya Lisa semakin penasaran.
Evan dan Elang yang berada di samping Lisa memegang satu persatu tangan Lisa. Lisa tampak binggung kenapa dua temanya ini memegang tangannya, memang aneh mereka ini. Lisa bangkit tetapi masih dipegang oleh Evan dan Elang.
"Hidangan terakhirnya itu lu," kata Elvin mulai mendekati Lisa.
"Gue nggak suka, yah! Ini nggak lucu Elvin," ucap Lisa mulai tidak suka dengan keadaan.
Namun, Elvin tetap berjalan ke arah Lisa. sesampai di depan Lisa tangan Elvin membelai wajah kecil Lisa membuat gadis itu hendak menghindar.
"El! Ini benar-benar nggak lucu!" pekik Lisa saat wajah Elvin mulai mendekati wajahnya, secara perlahan bibir Elvin hendak mendarat pada bibir tipis Lisa.
Sangat disayangkan Lisa memalingkan wajahnya hingga ciuman Elvin mengenai samping bibirnya saja, Lisa seketika merasa jijik meski bibir Elvin tidak jadi mengenai bibirnya tetap saja dia jijik.
Plak!
Elvin yang tidak suka atas penolakan Lisa menampar kuat pipi Lisa sampai-sampai membuat gadis itu kembali berpaling ke kanan segitu kuat tamparan Elvin.
"Akhh ..! Lepasin gue, kalian mau apa dari gue?!" teriak Lisa berusaha untuk melepaskan dirinya, tiga E itu tersenyum pada Lisa.
"Tubuh lu!"
"Jangan sentuh gue, sialan! Tolong—" Mulut Lisa dibekap Evan, Elvin yang sudah bangkit menatap Lisa marah.
Bung! Bung!
Elvin menendang perut rata Lisa membuat gadis itu terlepas dadi pegangan Evan dan Elang, Lisa terpelanting cukup jauh ke belakang.
"Akkhh ...!"
Ringisan cukup besar keluar dari bibir tipis Lisa, Lisa mencoba untuk bangun. "TOLONG! SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR, TOLONG!" teriak Lisa histeris, dirinya bangkit lalu berlari ke arah pintu.
Bung! Bung!
Tiga E itu tertawa menatap kebodohan Lisa, percuma gadis itu berteriak bahkan berteriak sampai suaranya habis orang-orang tidak akan mendengarnya keren kamar ini kedap suara, bahkan pukulan atau hantaman yang keras orang-orang tetap tidak akan mendengar. Jadi percuma saja berteriak.
"Kamar ini kedap suara, dan juga lu nggak akan bisa keluar kerena pintu itu udah gue kunci sedari tadi lu masuk," kata Evan tertawa licik pada Lisa.
"Berhubung yang ulang tahun hari ini lu Vin, lu boleh mencicipi dia terlebih dahulu," tambah Evan, mendengar itu Elvin sangatlah senang.
Elvin berjalan ke arah Lisa, Lisa yang masih mengendor-ngendor pintu dari dalam sadar akan kedatangan Elvin padanya. Lisa mencari apa saja yang bisa dia jadikan senjata, Lisa melemparkan tas yang dia pakai dan dengan entang Elvin menghindar.
"Jangan mendekat, atau gue tusuk tangan gue!" ancam Lisa mengambil bando yang dia pakai, lalu mematahkan dan mengarahkan ujung yang runcing pada pergelangan tangannya.
"Gue nggak peduli lu mau mati sekalian, tidak masalah bagi gue nidurin mayat lu," ucap Elvin dengan santainya.
Pria ini gila, Lisa semakin was-was saat Elvin semakin mendekat ke arahnya.
Pletak!
Dengan muda Elvin menendang tangan Lisa, membuat bando yang dipatahkan oleh Lisa terpelanting sekarang tidak ada lagi penghalang buat Elvin untuk semakin dekat.
Gdub-rung....
Elvin mengangkat Lisa ala karung beras meski ada perlawanan dari Lisa, punggung lebar Elvin Lisa pukul-pukul agar pria ini menurunkannya.
__ADS_1
Brung!
Elvin membanting tubuh Lisa ke atas ranjang yang ada di kamar tersebut, Evan dan Elang menatap lapar Elvin yang sudah membuka kaos hitamnya.
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu gue mohon Elvin!" mohon Lisa saat gaun tipis yang dia pakai dirobek paksa oleh Elvin.
"Gue mo–mohong, Vin hiks ...." Lisa sudah menangis sambil memberontak menendang-nendang Elvin dengan kakinya. Lisa berusaha untuk bangun.
Srett ....
Pakaian Lisa bagian samping sudah robek, Elvin semakin bernafsu melihat pinggang mulus Lisa, Elvin menggukung tubuh Lisa, lalu mendekatkan wajahnya pada Lisa.
Cuih!
Lisa meludah tepat di wajah Elvin, membuat pria itu mengeraskan rahangnya emosi. Dengan kasar Elvin mengangkat rok pendek selutut Lisa, lalu menurunkan cel'ana da'lam gadis itu dengan sekali tarikan.
"Please jangan ...!"
Lisa memberontak sekuat tenaga, namun sayang perlawanan yang dia berikan tidak ada apa-apanya buat Elvin. Elvin menurunkan ce'lana dalam yang Lisa pakai, lalu membuka celananya juga. Siap-siap untuk memasukan miliknya pada Lisa, Elvin melebarkan paha gadis itu dan memegang pinggul Lisa.
Satu.
Dua.
Tiga.
Brak!
Pintu terbuka dengan paksa, di sana muncul seorang pemuda berpakaian santai. Evan yang melihat kegaduhan di depan pintu kamar menghampiri, lalu tercengang saat melihat pemuda tersebut.
"Siapa—"
Bung!
Dung!
Perkataan Evan belum sampai selesai, saat pemuda itu meninju wajahnya kuat, lalu menendang perut Evan sampai-sampai terpental kebelakang. Elang yang menyusul Evan tercengang melihat temanya itu sudah terkapar, Elang maju untuk menyerang.
Pletak!
Dengan sekali gerakan pemuda itu bisa memelintir tangan kiri Elang, membuat Elang mengadu kesakitan.
Dung!
Belum sempat Elang untuk melawan pemuda itu telah terlebih dahulu membanting tubuh Elang dengan kuat ke lantai.
"Akhh ...!"
"Gue ngaku kalah, gue kalah!" Evan yang sudah berdiri dengan agak menahan sakit membatu Elang untuk berdiri, lalu ngajir secepat-cepat dari hadapan pemuda tersebut.
Pemuda ini bukan tandingan Evan, dan Elang memaksakan untuk melawan dia yang bakal babak belur, serangan secuil saja sudah serasa mematahkan tubuh mereka apalagi jika pemuda itu mengeluarkan kekuatan bisa-bisa Evan dan Elang bersilaturrahmi di rumah sakit.
Pemuda itu menatap punggung Evan dan Elang yang berjalan cepat meninggalkan kamar tersebut.
"Tidak ... please, Elvin! Gue sahabat lu dari kecil," ucap Lisa mengingatkan Elvin bahwa mereka adalah sahabat.
"Persetan dengan kata persahabatan!"
Elvan semakin mendekati miliknya pada milik Lisa, percobaan pertama tadi gagal gara-gara gadis ini banyak bergerak padahal sekali hentak saja sudah dapat dipastikan milik Elvin sudah berada di dalam sana. Elvin kembali mengambil ancang-ancang untuk menerobos, pinggulnya sudah berada di udara dan siap berayun dan menghentak milik Lisa. Pegangan pada pinggang Lisa semakin kuat ....
Bung!
Evin langsung oleng dan pingsan saat benda keras menghantam tubuhnya. Pemuda itu menyingkirkan tubuh Elvin dari tubuh Lisa, dapat pemuda itu Lisa wajah Lisa yang dia tutup. Pemuda itu menyentuh bahu Lisa yang langsung ditepis oleh gadis itu.
"Jangan! Tolong jangan lakukan itu hiks, hiks ..." ucap Lisa menangis, dengan sisa kekuatan yang ada Lisa membangunkan tubuhnya.
"Aku mohon jangan," kata Lisa lagi saat tangan pemuda itu kembali hendak menyentuh tubuhnya, Lisa tidak berani menatap dia takut pada Elvin bajingan itu.
Tahu Elvin yang sedang lengah Lisa membalikan tubuhnya hendak berlari, sebelum sempat berdiri tubuh lebih besar dari tubuhnya mendekap tubuh Lisa dari belakang, Lisa bergetar dalam pelukan pemuda itu, lalu memberontak sekuat tenaga meski sekarang kondisinya sudah tidak bisa dibilang baik-baik lagi, rambutnya sudah acak-acakan kerena perlawanannya.
Namun, Lisa tidak juga bisa melepaskan lengan Elvin yang memeluknya.
"Tenanglah, kau membuat bajuku kusut," ucap pemuda itu dengan suara berat, datar nan dingin. Helahan napas dapat Lisa rasakan menerpa lehernya.
"Kak, Al ...."
__ADS_1
Anggap saja seperti ini💫