
"Hah?! Kakak barusan gomong apa?" teriak Queen tidak mendengar jelas apa yang Vegas ucapkan. Vegas tambah tersenyum misterius.
"Lu lucu, gue suka," bilangnya lagi pelan.
Pung!
Queen menabok pelan punggung Vegas dia benar-benar kesal kerena calonnya ini mempermainkan dirinya, bibirnya sedikit maju alias manyun.
"Is, Kak! Queen nggak dengan Kak Vegas gomong apa," keluh Queen lagi melihat Vegas dari kaca spion motor cowok itu.
"Yaudah, lupain aja. Lu nggak peka!" kata Vegas sedikit berteriak pada Queen, membuat bibir gadis itu tambah manyun.
Bung!
Vegas memajukan motor dengan lajuan kencang sampai-sampai Queen memeluk pinggang cowok itu kencang, takut-takut dirinya jatuh dan berakhir di rumah sakit 'kan tidak lucu. Sedangkan Vegas cowok itu sudah tertawa kemenangan kerena bisa mengejai gadis itu ... hahah!
45 menit akhirnya mereka sampai di rumah Vegas, sudah 5 menit semenjak motornya berhenti gadis di belakangnya masih memerlukan dan menutup wajahnya di punggung lebar Vegas.
Vegas menepuk-nepuk tangan Queen yang berada di pinggangnya, "Bangun tukang tidur! Kita sudah sampai," bilang Vegas dan juga mengoyang bajunya sedikit kencang.
Queen yang dituduh tidur mengangkat kepala dari punggung Vegas, Vegas tergelak lagi melihat raut wajah Queen yang mirip Mak lampir dalam film-film Indosiar.
"Queen nggak tidur ya," sewot Queen sambil turun dari motor gedek Vegas.
"Iya, lu nggak tidur! Tapi, betah 'kan meluk-meluk gue?" goda cowok itu membuat Queen mengeleng-gelengkan kepala cepat.
Pede banget yu, Bang!
Memang punggung calon suaminya ini hanya cocok buat sandaran, cuma buat Queen seorangnya! Bukan sandaran buat Lisa atau gadis lain di luar sana. Egois memang!
"Jangan melamun aja, lu mau masuk apa berdiri di sini sampai malam?" bilang Vegas jalan terlebih dahulu meningalkan Queen.
Sesampainya di dalam rumah Vegas Queen terpanah melihat ruang tamu yang begitu hitam namun indah dipandang, ada beberapa foto yang dipajang, tampaknya foto Vegas sendiri. Queen menuruti ke mana cowok itu akan membawanya, sampailah mereka di kamar Vegas.
'Canti banget,' batin Queen kagum melihat kamar modern tidak kecil dan tidak terlalu besar yang sedang-sedang saja.
"Lu duduk sini sebentar, gue mau ke belakang gambil minuman buat lu!" perintah Vegas memerintahkan Queen agar duduk di ranjangnya, setelah itu Queen ditinggal.
__ADS_1
Queen yang dasarnya kepoan memilih mengitari kamar Vegas, dia membuka jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar itu. Queen tertarik pada jejeran mainan seperti Superman dan Heromen yang berada di dalam lemari bening tembus pandang itu.
Queen melihat satu persatu barang-barang yang ada di dalam lemari kaca itu, dari kelihatannya yang ada di dalam lemari tersebut tampak mahal. Membingungkan juga kenapa Vegas tertarik mengoleksi barang-barang antik seperti ini?
"Lu lagi lihat apa?" tanya Vegas yang entah datang dari kapan, cocok itu sudah membawa dua minuman yang dia pegang dan beberapa cemilan di tangannya.
"Kakak suka mengeloksi barang-barang ya," jawab Queen masih melihat mainan Vegas.
Cowok itu tampak berjalan ke arah Queen, lalu berdiri di samping gadis itu sama-sama menatap benda-benda yang ada di dalam lemari kaca itu bersama.
Namun, raut wajah Vegas langsung sendu melihatnya. Queen yang menyadari seketika bingung dengan Vegas.
"Kakak kenapa? Kok kelihatan sedih, Queen salah gomong, ya?" tanya Queen barang kali dia membuat salah.
Vegas mengeleng, lalu berali menatap Queen. Kemudian memberikan senyum manis untuk gadis itu, Queen yang mendapatkan senyuman dari Vegas seketika melelahkan dirinya sendiri dengan cara meletakan tangan di wajahnya terpesona.
"Gue capek 'kan?" ucap Vegas memajukan wajahnya ke arah Queen dengan posisi masih menyamping.
"Iya, cakep ... eh, nggak!" balas Queen pilin-pelan membuat Queen gemas seketika.
"Jadi gue cakep apa nggak?" tanya Vegas menyudutkan gadis itu, terlihat wajah Queen yang sudah memerah di kedua pipi berisi miliknya.
"Awk ...," ringgis Vegas memegang tangannya yang dia tarik dari kepala Queen.
"Kak nggak apa-apa?! Tangannya sakit? Bagian mananya yang sakit? Seharusnya Kak Vegas nggak letakin tangan Kakak di kepala Queen tadi," ucap Queen panjang lebar, sambil memeriksa tangan Vegas barang kali ada yang lecet.
"Cieee ... ada yang panik nih!" goda Vegas lalu menarik tangannya saat melihat Queen paham dengan ucapannya.
Setelah itu Vega mengambil ancang-ancang untuk menghindar dan terjadilah aksi kejar mengejar di mana Queen yang ingin memukul tangan Vegas yang cowok itu pakai tadi untuk melindungi kepalanya.
"Is, Kak Vegas ngeselin ... jangan lari!"
***
Di rumah Queen ada Alvano dan Lisa yang terlihat saling diam-diaman, di rumah itu cuma ada mereka berdua. Valen tampaknya pergi kerja dan Albani cowok itu entah pergi ka mana. Alvano fokus pada leptop di tangannya sedangkan Lisa berada tidak jauh darinya sedang menonton televisi.
Sebenarnya Lisa lah yang duluan di sini setelah itu barulah Alvano datang, Lisa sebenarnya ingin pergi akan tetapi Lisa mengurungkan niatnya. Takut Alvano beranggapan kalau dirinya takut dengan cowok itu makanya menghindar.
__ADS_1
Diam-diam Lisa memandangi wajah Alvano, pemuda itu memiliki rahang yang tegas, bibir tebal dan kulit putih. Mata laki-laki itu tertuju pada leptop di pangkuannya, dan jari-jarinya yang bermain dengan lihai bisa Lisa lihat.
Tampaknya!
Tanpa sadar Lisa mengagumi keindahan tubuh Alvano, dad'anya yang cukup kekar mungkin enak buat Lisa bersandar nyamanan di sana. Dan, tangan yang sedikit berurutan mungkin bisa membuatnya tertidur kerena belahain tangan Alvano.
'Sadar Lisa! Lu harus ingat dia siapa!' batin Lisa berusaha untuk membangun dirinya dari khayalan, akan tetapi Lisa menolak sadar.
Tanpa sadar tatapan Lisa tertuju pada leher cowok itu, dan tanpa sadar dirinya melihat kalung berliontin C melingkar di lehernya, membuat hati Lisa tiba-tiba saja memanas entah kenapa, Lisa pun tidak tahu.
Semakin dipandang maka hatinya semakin panas, akhirnya Lisa beranjak ke dapur untuk mendinginkan sesuatu yang membuat panas pada hatinya. Sesampainya di dapur Lisa mengambil air dingin lalu memasukkan ke dalam gelas.
Hugh ... hugh!
Beberapa kali tanda air di gelasnya langsung habis tidak tersisa, setelah merasa lega dan sedikit tenang pada hatinya Lisa hendak kembali lagi. Namun, bukan ke ruangan tengah malas rasanya melihat cowok itu.
"Astaga ... Kak Al!" kaget Lisa melihat melihat Alvano sudah berdiri di belakangnya dengan wajah dingin.
"Apa—"
Hap!
Belum sempat Lisa melanjutkan ucapannya Alvano telah terlebih dahulu menating tubuhnya dan meletakan pada meja di belakang Lisa. Lisa yang ingin turun langsung terhalang kerena Alvano sudah berdiri di tengah-tengah kaki Lisa yang terbuka.
"Apa yang K—"
Ucapan Lisa terhenti lagi saat Alvano tanpa aba-aba mencium bibirnya paksa, Lisa memukul bahu cowok itu namun tidak berakhir apa-apa Alvano masih sibuk men'gulum bibirnya. Bahkan tendangan dari kakinya saja tidak membuat cowok itu kesulitan sedikitpun.
"Lepa–lepasin!" ucap Lisa setengah berteriak saat Alvano melepas bibirnya.
Namun, di detik kemudian cowok itu kembali menyambar bibirnya, bahkan Alvano juga memeluknya dengan kedua tangan. Sekarang tubuh mereka sudah berdempetan sekali, Alvano bahkan bisa merasakan sesuatu mengganjal dadanya.
Kerena perlawanan yang diberikan sia-sia Lisa akhirnya pasrah, namun dia bukanya menikmati ciuman Alvano. Mata Lisa yang menang terbuka tanpa sengaja melihat kalung yang tadi di leher Alvano, seketika kesal melanda secara diam-diam Lisa mengangkat tangan dan meletakan di bahu cowok itu seperti sedang memeluk Alvano. Mungkin memang sedang memeluk.
Tangan Lisa yang ada di bahu Alvano diam-diam merayap dan mata Lisa memastikan cowok itu sibuk dengan bibirnya, bahkan Lisa juga menyambut ciu'man cowok itu tidak kalah brutal. Sedangkan tangannya di belakang leher cowok itu pelan-pelan mengucilkan pengikat kalung yang Alvano pakai, setelah berhasil Lisa secara perlahan menurunkan tangannya dari belakang Alvano.
Dan ....
__ADS_1
Bung!
Lisa langsung mendorong tubuh Alvano yang terlena dengan sekuat tenaga dan membuat pag'utan cowok itu terlepas serta agak sedikit mundur, tanpa kata Lisa turun setelah mengelap kasar bibirnya. Kemudian meningalkan Alvano dengan langkah cepat menuju kamarnya.