
Queen secara perlahan membuka mata, dan saat rentinanya bertemu cahaya Queen mengerjap-mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan, Queen bisa mendengar perdebatan Alvano dan Albani. Queen yang ingin membuka mata kembali menutupnya.
Tangan seseorang terasa di bahunya, Queen pelan-pelan mengintip dan mendapatkan Lisa yang hanya diam saja, tiba-tiba saja Queen dibuat kaget saat Albani abangnya sendiri memakinya dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa laki-laki itu.
Queen mengerutkan keningnya, saat Albani membawa masalah tadi dengan masa yang telah berlalu. Ingin rasanya Queen menjawab, namun mulutnya terasa keluh dan memilih untuk pura-pura diam saja. Tiba-tiba saja satu tangan Albani yang berada di sisinya secara perlahan terangkat dan menunjuk Queen, Queen semakin mengeratkan matanya tidak ingin ketahuan sedang berpura-pura tidur.
Beberapa lama perdebatan itu akhirnya selesai juga saat Alvano berbicara dengan tegas, Queen tidak habis pikir kenapa abangnya Albani sangat benci padanya padahal kecelakaan dulu itu bukan dia penyebabnya, tampaknya Albani butuh pencerahan rohani dari Queen agar sesekali otaknya tidak berjalan di tempat saja!
Queen melirik Lisa, "Pasti tuh cewek merasa senang dalam hati melihat Bang Albani yang sangat benci sama gue!" gumam Queen sudah bisa membaca pikiran ulat keket Lisa.
Ting!
Sebuah ide muncul dari kepalanya, Queen membalik tubuh menghadap Lisa membuat gadis itu terkejut atas perbuatannya. Kepala dia jatuhkan ke pundak Lisa, dengan wajah yang mendusel-dusel lengan baju gadis itu.
Lisa yang mendapatkan serangan dari Queen menahan kepala Queen dengan tangan kanannya, namun kurang kuat Queen malah semakin mendusel-dusel padanya sambil meningalkan liur pada lengan baju Queen.
'Nih cewek pingsan apa tidur sih?!' tanya Lisa sambil mencoba mengintip wajah Queen untuk memastikan.
Hacim!
__ADS_1
Pas Lisa sudah sejajar dengan wajahnya, Queen mengangkat kepala dan bersin sekuat-kuatnya sampai air liurnya menyembur Lisa, kemudian dia kembali pura-pura pingsan. Meski Queen yakin semuanya tahu kalau dirinya tidak sedang pingsan lagi, setidaknya mereka menganggap Queen sedang tidur, ya! Sedang tidur.
Lisa menyeka air liur Queen yang memenuhi wajah cantiknya, rasa kesal tiba-tiba saja mendera dirinya. Gadis ini benar-benar tidak tahu terima kasih, sudah Lisa jagain malah dibayar begini, tahu begitu kejadiannya tadi Lisa tidak akan memilih untuk masuk mobil.
'Nahkan kena semburan maut gue,' batin Queen tersenyum miring.
Saat berbalik ke samping arah Albani, seketika sifat jahilnya kembali kambuh. Dengan senyum tertahan Queen menggeser tubuhnya yang membuat tubuh Albani seketika tergeser juga, beruntung sekali Queen kerena mereka duduk berempat meskipun ada beberapa orang yang harus sempit-sempitan kerena itu.
"Awkh!" ringgis Albani saat tangannya yang sakit bersentuhan dengan tubuh Alvano.
Albani menutup matanya menahan sakit pada tangannya, Queen yang melihat itu seketika merasa bersalah dia tidak tahu akan terjadi begitu. Albani mendorong tubuh Queen dengan sebelah tangannya yang tidak sakit, membuat Queen terdorong ke arah Lisa secara sangat kasar.
Hal itu membuat Queen membuka matanya secara refleks, matanya melotot menatap Albani sedangkan di belakang tubuhnya ada Lisa yang hilang kerena terdorong akibat ulah jahat Albani.
"Lu sengaja kan ngelakuinnya? Lu dendam sama gue kerena gata-gatain lu?!" kata Albani bertubi-tubi, Queen tidak terima langsung saja mengelang-geleng tidak membenarkan ucapan Albani.
"Lu pura-pura pingsan biar bisa balas dendam sama gue, 'kan?" tuduh Albani yang lagi mendapatkan gelengan dari Queen.
Mata cowok itu hampir saja keluar kerena marah, tajam matanya menusuk tepat ke mata Queen membuat hati Queen jedag-jedug di tempatnya. Bukan jedag-jedug cinta mainkan takut pada Albani.
__ADS_1
Albani ini memang emosian, jika Alvano emosi hanya mengeluarkan beberapa kata dingin berbeda dengan Albani yang mampu berbuat kasar baik itu wanita maupun laki-laki. Memang terdengar tidak manusia.
Queen kembali mengeleng kepala. "B–bukan, begitu," ucapnya terbata-bata.
"Queen nggak tahu kalau ada Bang Bani di samping Queen," tambahnya lagi, entah ke mana sifat dinginnya kemarin-kemarin.
Memang selalu begini saat dia akan mengacuhkan keluarganya, tiba-tiba beberapa hari selanjutnya sifatnya kembali seperti sembula. Queen tidak bisa berlama-lama mengacuhkan ataupun bersikap dingin pada keluarganya sendiri, bilang saja Queen bodoh!
"Alah alas...."
"Diam!" Ucapan Albani terhenti saat Alvano menarik wajahnya ke arah dirinya.
Albani masih saja mengerut meski wajahnya tidak lagi menghadap Queen, dia juga kesal pada setuasi yang kenapa mereka duduk harus berdesak-desakkan begini, padahal di belakang masih ada yang kosong. Ini kerena Alvano bodoh mau-mau saja duduk sempit-sempit, nah Alvano pun ikut terbawa dalam kekesalannya.
Albani menahan kekesalannya, entah mengapa saat melihat Queen emosinya selalu naik dan tidak terkontrol. Dan, gadis itu juga selalu cari gara-gara dengannya.
Perjalanan terasa begitu lama, setelah perdebatan tadi Queen tidak lagi berusaha membuat kejahilan. Semua keusilan yang dia lakukan kenapa selalu berbalik padanya, dulu saat dia mengerjai Lisa malah dia yang tersesat sekarang saat mengerjai Albani malah begini jadinya, apa hidupnya akan selalu sial begini?
"Mungkin ini penebusan dosa di masa lalu yang gue lakuin!" pikirnya, batinnya pun tiba-tiba menyetujui apa yang sedang Queen pikirkan sekarang.
__ADS_1
Queen menatap lurus, dan tanpa sadar tatapannya bertemu dengan tatapan Vegas. Mata mereka menatap cukup lama, seperti mengeluarkan semua yang ada di hati masing-masing untuk dibagi.
Deng!