
"Di sini kalian akan dibagi menjadi beberapa tim, satu tim akan diketuai oleh satu orang. Diharapkan setiap anggota regu mengikuti ketua, bagi anggota yang nanti kehilangan regunya bisa mengunakan semafor untuk berkomunikasi keanggotaan. Dan, Bapak tidak mengharapkan hal itu terjadi, makan untuk ketua pantau selau anggotanya!"
Info: Semafor adalah suatu cara untuk mengirim dan menerima berita dengan menggunakan bendera, dayung, batang, tangan kosong atau dengan sarung tangan. Informasi yang didapat dibaca melalui posisi bendera atau tangan.
Setelah informasi tersebut pembagian kelompok dibagi oleh beberapa guru cewek yang memilih dengan acak. Queen sekelompok dengan Alvin, Albani Vegas, Bunga, Alaska, sedangkan Lisa sekelompok dengan Alvarez, Elang, Alvano, Alexandra, Elvin, Evan. Kelompok Lisa kelebihan satu orang, sedangkan kelompok lain-lain itu anggotanya cuma lima.
Lisa yang mendengar Elvin dan Evan sekelompok dengannya seketika takut, cemas, semuanya datang tiba-tiba. Dia masih mengingat kejadian dahulu, trauma akan kejadian itu muncul dengan sendirinya.
"Buk! Saya boleh ganti kelompok nggak?" tanya Lis pada Ibu guru yang tadi membagi kelompok.
"Kamu mau ganti kelompok sama siapa?" tanya guru cewek itu balik.
Lisa melihat kanan kiri lalu bertemu tatap dengan Queen yang langsung mengalihkan pandangannya dari Lisa.
"Saya ingin tukar kelompok dengan Queen, Buk," tunjuk Lisa pada Queen yang tidak jauh darinya berdiri.
Queen langsung menggelengkan kepala dan melambaikan tangan kiri kanan pertanda dia tidak mau bertukaran dengan Lisa. Apa-apaan gadis itu sudah dikasih kelompok malah minta tukaran dengan Queen, tidak akan Queen biarkan Lisa berdekatan dengan Vegas barang sedikit saja.
"Saya nggak mau tukaran sama dia, Buk," tolak Queen menatap Lisa sinis. Sedangkan yang ditatap sudah pias saking takut dengan Elvin dan Evan.
"Bung! Lu mau tukaran 'kan sama gue?" Sekarang malah Bunga yang ditanyai oleh Lisa, sama saja! Bunga juga tampak tidak ingin menukar kelompok.
Siapa juga yang mau sekelompok dengan cowok-cowok berandalan kayak Evan, Elvin, dan Alvano yang terlihat dingin bisa-bisa mati berdiri dirinya. "Maaf Lis, gue di kelompok ini aja, sekali lagi sorry," ujar Bunga tampak tidak enak hati dengan Lisa.
__ADS_1
Lisa sudah pasrah sekarang, namun tidak apa-apa setidaknya ada Alvano yang akan melindungi dirinya. Dia yakin Alvano akan melindungi dirinya dari manusia-manusia semacam Evan dan Elvin.
"Baiklah, jika tiap kalian sudah memiliki kelompok masing-masing makan dipersilahkan untuk mendirikan tenda atau keperluan lainnya. Semuanya silakan bubar!"
"Pak! Jadi yang cewek tidur barang cowok-cowok dong?!" teriak Alvarez yang tampak kesenangan.
"Bukan, bukan begitu maksudnya. Kelompok hanya berlaku waktu nanti permainan dimulai, akan tetapi tidur tetap cewek dengan yang cewek begitu juga yang cowok. Tidak ada yang melenceng ya!"
Alvarez tampak lesu akan jawaban dari Bapak yang menjadi pembina pramukah. "Yeh, Bapak nggak asik!" sorak Alvarez dengan suara sedikit lemah.
"Terkhusus untuk murid kesayangan Bapak, akan Bapak perbolehkan tidur dengan cewek," ucap guru pembina itu pada Alvarez.
Alvarez langsung kembali ceria mendengar ucapan dari sang pembina. Tubuh yang tadi lesu langsung tegap berdiri menghadap sang pembina, tanpa tahu apa yang akan pembina itu katakan padanya.
"Kamu boleh memilih untuk tidur dengan Bu Anita, atau Bu Met!"
"Buat Bapak aja deh, Alvarez tidur sama cowok-cowok aja. Demi kebaikan bersama!" kata Alvarez dengan senyum tertahan.
Sedangkan yang lain sudah tertawa mendengar pembicaraan antara Alvarez dan Bapak pembina pramukah. Alvarez tampak dongkol dengan bercandaan dari Bapak-bapak botak yang menjadi pembina mereka sekarang. Ingin sekali Alvarez menggambar di kepala botaknya itu.
"Apa lu lihat-lihat?!" ketus Alvarez pada Queen yang berada tidak jauh darinya. Gadis itu tampak puas menertawakannya.
"Ceh elah, gambek nih ye," ledek Queen menoel-noel lengan Alvarez dengan lengan panjangnya.
__ADS_1
Hal itu tidak luput dari penglihatan Vegas, diam-diam cowok itu memperhatikan Queen sedari tadi. Bahkan dia tidak mendengarkan ucapan pembina di depan dia lebih tertarik dengan gadis yang berada dia baris di depannya sekarang.
Vegas langsung memasang wajah semakin datar melihat interaksi Queen dan Alvarez ada bagian hatinya yang terasa tidak enak. Uh! Vegas tidak tahu mengapa itu.
Persetan dengan mereka!
Alvarez pergi dari tempatnya sebelum barisan dibubarkan, walaupun begitu guru-guru dan pembina di depannya tidak ada yang melihat kepergian Vegas. Akan tetapi Alvin di sampingnya tadi tampak mengejar cowok itu.
"Lu kenapa?" tanya Alvin pada Vegas.
Meskipun mereka rival di sekolah, namun persahabatan antara mereka terjadi cukup baik. Meskipun Alvin melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan Vegas akan tetapi tidak pernah melakukan hal yang melukai cowok itu, dia masih punya pikiran yang baik.
"Ada yang salah, atau menganggu lu?" tanya Alvin lagi semakin kepo.
"Berada di sana bikin hati panas!" Cuman itu yang Vegas ucapkan pada Alvin.
Alvin tampak bingung atas ucapan Vegas. "Maksud lu?!" Alvin menghadap Vegas.
Vegas menolehkan kepalanya pada Alvin. "Nggak semua hal harus lu ketahui!" ujarnya menekan setiap kata yang terucapkan.
Alvin tidak lagi bertanya, tampaknya suasana hati Vegas sekarang tidak baik-baik saja. Lebih baik dia tidak menganggu cowok itu sampai Vegas kembali membaik, Alvin tetap mengikuti ke mana pun Vegas melangkah. Meskipun tidak ada pembicaraan antara mereka Alvin masih setia mengekor.
Sedangkan di barisan tampak Queen yang sedang mencari keberadaan Vegas, bahkan dia sedikit berjinjit hanya untuk menemukan pujaan hatinya itu. Namun, tidak juga dia temukan keberadaan Vegas.
__ADS_1
Alvarez yang melihat Queen terlihat kehilangan sesuatu ikutan melihat ke sana ke mari meskipun tidak tahu harus mencari apa dia hanya mengikuti Queen.
'Kakak di mana?'