FAKE NERD

FAKE NERD
Apakah gagal?


__ADS_3

Bung!


"Aduh!" keluh Queen saat tubuhnya terhantuk tubuh besar di belakangnya.


Queen memutar badan, memandang siapa yang menabraknya, dan ... itu Vegas, laki-laki itu mengambil ponsel Queen yang jatuh akibat ulahnya. Kemudian memberikan ponsel tersebut kembali pada pemiliknya.


Namun, sang pemilik malah terdiam mematung sambil menatap ke arahnya, Vegas yang sadar itu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Vegas mengusap-usap wajah dan membenarkan pakaian barang kali ada yang tidak enak dilihat, sebenarnya dia kembali hanya untuk mengambil tasnya.


Cukup lama tangan Vegas tergantung sampai-sampai ia mulai merasa lelah, maka diturunkan lah tangannya.


Hap!


Vegas tanpa aba-aba menarik tangan Queen, meletakkan ponsel gadis itu di genggaman. Kemudian mencondongkan tubuhnya sampai-sampai Queen ikutan memundurkan tubuh kerena perilaku Vegas, dengan mata saling menatap dalam.


"Gue cuma mau ngambil ini," ucap Vegas mengangkat tas yang dia tarik dari belakang Queen, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawabannya saja.


Vegas laki-laki itu memutar tubuh, melangkah meningalkan Queen yang masih termenung memikirkan banyak hal, mungkin!


"Tunggu!" panggil Queen dengan suara sedikit besar, Queen dengan berlari kecil menghampiri Vegas.


Queen mengulurkan tangan kanannya, membuat laki-laki itu mengerutkan dahi. Queen memberi senyum manis pada Vegas yang hanya memberi tatapan datar padanya, dengan bodohnya Queen mengambil tangan kanan Queen dan menyalami.


"Kenalin aku Felory, kamu bisa panggil dengan sebutan Felo," ujar Queen menyebut nama tengahnya, tangan mereka masih bertautan.


Dengan sekali tari Vegas membuat gadis di depannya ini tertarik ke depan sampai-sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Queen melotot kaget dan terkejut saat Vegas menariknya.


Hush ...


Vegas meniup tepat mengenai wajah cantik Queen, membuat gadis itu yang tadi melotot berkedip-kedip lucu. Namun, saat Vegas melepaskan tangan pada lengan Queen membuat Queen langsung ambruk ke lantai dengan posisi telungkup.


Vegas tersenyum smart menertawakan gadis itu dalam hati. "Lain kali hati-hati," kata Vegas lalu membantu Queen untuk berdiri.


Queen merenggut, sangat kesal pada kelakuan Vegas. "Jelas-jelas kamu yang narik paksa, sekarang malah nyalahin siapa," ucap Queen kesal, untung saja giginya tidak kepentok lantai.

__ADS_1


"Sorry, i thought you could handle it," balas Vegas sembari memperhatikan gadis itu yang membenahi penampilannya.


Transelet: [Maaf, saya pikir Anda bisa mengatasinya.]


Queen memajukan bibirnya, kemudian berkata dengan nada sedikit kesal.


"Handsome lord, just so you know I'm not a Superhero or a Superman with powers," balas Queen tidak kalah dalam berbahasa Inggris.


Transelet: [Tuan yang tampan, asal kau tahu aku bukan Superhero atau Superman dengan kekuatan.]


"Tapi sayangnya aku malah memikirkan kau seorang yang cupu," katanya lalu tersenyum misterius pada Queen.


Sialan!


"Tunggu!" panggil Queen lagi saat Vegas kembali melangkah, belum sempat dirinya berucap Vegas telah lebih dahulu mengatakan sesuatu yang membuat Queen semakin bad mood.


"Don't tease me, I don't like pretty girls."


Translate: [Jangan menggodaku, aku tidak suka gadis cantik!]


"Semoga nanti yang menjadi pendamping mu memiliki kesabaran yang ekstra full, biar nggak mati mudah," gerutunya sambil mere'mas-re'mas ponsel pada tangannya. Queen kembali teringat pada vidio aneh yang tadi dikirim nomor kesasar.


Queen membuka aplikasi WhatsApp-nya, kemudian memandang penampilan luar Vidio tersebut. Lalu mengetuk-ngetuk dagunya tampak berpikir, Queen takut untuk membuka. Mana tahu vidio yang tidak baik, semacam 21+ alias dewasa.


Namun, penasaran membuat Queen hendak menekan vidio. Dia mengangkat jempol untuk menekan, semakin dekat dengan vidio tersebut. Beberapa gerakan lagi Queen berhasil menekan, tinggal 95% lagi jari Queen akan menyentuh Vidio itu, semakin dekat, 98% kedekatan dengan vidio, 99% lagi akan mengenai Vidio. Dan ....


"Eh, kamu masih di sini Queen?" tanya Edo yang datang dari lubang semut, mungkin!


Queen memalingkan wajahnya menghadap Edo, "Iya, Bang. Ini bentar lagi keluar," celutuk Queen kemudian mengambil tasnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas itu.


"Mau diantar pulang nggak?" tawar Edo mengajak Queen pulang barang.


"Lu nggak lihat gue dari tadi duduk di sini? Tidak perlu mengantar Queen pulang, Queen sudah jadi tanggung jawab gue, lu nggak perlu kuatir."

__ADS_1


Suara seseorang membuat tatapan mereka teralihkan, tidak jauh dari mereka tampak Sinta yang menurunkan koran dan kacamata yang wanita itu pakai.


"Tap—"


"Wanita selalu benar!"


Edo mengalah, ketika Sinta telah mengeluarkan ultimatum itu pertanda Edo tidak akan menang walaupun melawan berbagai cara, memang jalan yang terbaik mengalah saja pada Mak lampir Sinta.


"Queen pulang duluan ya, Bang," pamit Queen pada Edo sopan.


"Hati-hati," ingat Edo lalu mengantar mereka sampai ke depan mobil.


Sebelum mobil Sinta jalankan Edo kembali mengingatkan, ini bukan pada Queen melainkan Sinta sendiri.


"Jaga putri gue, jangan sampai lecet," bilangnya yang hanya di–deheman oleh Sinta, setelahnya mobil Sinta benar-benar pergi.


'Bahagia selalu putriku!' ucap Edo pada mobil yang sudah mulai menghilang dari pelupuk matanya, setelah itu Edo kembali masuk.


Seperti biasa Queen turunkan di gang biasanya, gadis itu sudah berganti pakaian dalam mobil tadi. Dan, seperti biasa juga Sinta menawari Queen agar ia mengantar sampai depan rumah gadis itu, dan jawaban seperti biasa 'Tidak' yang Queen keluarkan.


"Benaran nggak mau diantar sampai rumah?" tawar Sinta lagi, yang kembali mendapatkan penolakan dari Queen.


"Is, Kakak ... Queen nggak apa-apa pulang sendiri, Kak nggak perlu kuatir," rengut Queen memasang wajah cemberut.


"Jangan cemberut gitu nanti cantiknya hilang, yasudah kalau kamu nggak mau diantar. Tapi, ingatkan kalau ada bahaya cepat hubungi Kakak," bilang Sinta pada Queen.


Queen mengangkat tangan seperti hormat. "Siap, Bos!" kata Queen semangat.


Setelahnya mereka berjalan ke jalanan masing-masing, beberapa meter akhirnya sampai juga Queen di rumahnya. Queen langsung memasuki kamar, dan ingin cepat-cepat membasuh tubuhnya yang lengket.


"Kenapa wajah tuh cewek tampak biasa-biasa aja? Dia udah lihat vidio-nya 'kan?" tanya sosok yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Queen secara sembunyi di sofa.


Seharusnya sekarang Queen akan marah-marah, atau menimal memasang wajah sedih, kecewa, ataupun sebagainya. Ini malah terlihat seperti biasa aja, hanya ada raut lesu yang Lisa lihat. Ck, memang bukan harapan Lisa sekali.

__ADS_1


Padahal dia sudah mengirim Vidio itu pada Queen beberapa jam yang lalu, seharusnya Queen sudah melihatnya.


'Gue nggak gagal 'kan?"


__ADS_2