FAKE NERD

FAKE NERD
Tentang Kecurigaan


__ADS_3

"Seharusnya tadi ke sini bukan lurus, ini gara-gara lu ngajakin gue debat kan gue jadi salah baca petanya," bilang Alvarez dengan sangat santai menyalahkan Lisa.


Gadis itu langsung saja terbelalak saat dirinya disalahkan, perasaan dari tadi dia sudah mengingatkan cowok itu agar memilih jalan ini saja. Namun, cowok bernama Alvarez itu bersikukuh dengan pilihannya.


Dan, lihatlah sekarang mereka hanya putar-putar saja di sana sedangkan yang lain sudah pasti sangat jauh. Huhu! Ingin sekali Lisa mejitak kepala pemuda itu, atau mencubit gemas pipinya, namun rasa segan lah yang membuatnya memendam semua keinginannya. Andaikan Lisa cowok sudah pasti dilakukan olehnya.


"Serah lu deh ...," kata Lisa lalu melangkah setelah mengambil peta yang ada pada Alvarez, membuat cowok itu langsung bermuka masam.


Berbeda dengan Alvano cowok itu sepanjang jalan menebak-nebak tiga cowok yang sedari tadi selalu berbarengan, rasa-rasanya Alvano pernah bertemu dengan tiga orang tersebut. Namun, Alvano bertemu di mana, ahk! Kenapa otaknya tiba-tiba saja macet biasanya lancar-lancar saja.


Alvano kembali memandang pada ketiga cowok di depannya, sengaja dia di belakang untuk mengawasi anggota-anggota kerena dia ketua yang terpilih di kelompoknya.


"Akh, is!" keluh Alvano mumet, dan hal itu terdengar oleh ketiga cowok tersebut.


Mereka adalah Elvin, Evan, Elang, masih ingat mereka bukan? Tentu saja, ketiga cowok itu menatap Alvano dengan kening mengkerut sedangkan yang lain maksudnya Alvarez, Lisa masih asik berjalan.


"Lu kenapa?" tanya Elvin memastikan keadaan Alvano.


Alvano menjawab dengan wajah datarnya tidak ada senyum atau tai kucing di wajahnya yang tampan, bahkan suasana seketika menjadi menegangkan hanya kerena Elvin bertanya pada Alvano. Sedang kedua temannya menatap takut-takut pada Alvano dia masih mengingat dengan jelas wajah di depannya ini.


Mereka masih mengigat dengan jelas pukul-pukulan yang cowok itu berikan, entah kenapa buka sedari tadi saja mereka mengingatnya kenapa baru pertengahan perkemahan baru mereka ingat. Kalau tahu dari awal mereka pasti akan meminta pindah kelompok saja biar aman.


Meskipun perbuatan mereka tidak dilaporkan pada polisi tetap saja mereka jadi harus waspada pada orang-orang yang terlibat di dalam kejahatan mereka termasuk Lisa. Untung juga gadis itu tidak melapor mau melapor pun pasti butuh bukti.

__ADS_1


"Itu kan co—"


"Diam peak!" Evan langsung saja menyingkut lengan Elang, memang temannya ini tidak bisa diajak kerja sama.


"Van, it ... awk!" pekik Elang saat Evan menghantam perutnya dengan sikut agak keras membuat cowok itu setengah terunduh.


Evan langsung melirik Elang tajam, meskipun hanya ditanggapi kebingungan oleh temannya itu, mereka sekarang berbisik-bisik di belakang Elvin sedangkan Elvin masih menunggu jawaban dari Alvano.


"Gue tahu, diam-diam saja nanti dia dengar!" peringat Evan berbisik pada Elang.


Elang langsung mengangguk paham dengan ucapannya, dan syukur Evan tidak perlu menjelaskan lagi pada teman itu.


"Keroyok rame-rame pasti tuh cowok kalah," celutuk Elang tanpa otak, yang hampir saja membuat sepatu Evan pakai melayang pada tengkoraknya.


"Ini nih kalau setengah otak monkey jadinya bigikan," keluh Evan tidak ingin menghiraukan Elang lagi berbicara dengan elang sama saja berbicara dengan orang gila.


Setelah itu tampak Elvin kembali berjalan setelah disuruh Alvano, Elang dan Evan yang belum tahu masih tetap berada di tempatnya sampai diteriaki oleh Elvin.


Tampa mereka sadari Lisa dan Alvarez sudah jauh melangkah meninggalkan mereka.


***


Hacim!

__ADS_1


Bunga bersin tepat pada wajah Albani, gadis menarik wajah lalu memisal-misal hidungnya yang barusan saja mengeluarkan mak mah di dalamnya, gadis itu bahkan masih ingin bersin akan tetapi terhalang terlebih dahulu oleh tangan seseorang.


Albani langsung menahan wajah Bunga dengan tangan kirinya ada rasa jijik pada tangan dan wajahnya yang terkena najis-najis dari gadis itu. Ingatkan setelah ini Alvarez harus melakukan mandi kembang agar virus-virus yang disebarkan oleh gadis itu terkena padanya.


"Kalau mau bersih jauh-jauh sana jangan di muka gue!" bilang Albani masih menahan tangannya di hidung Bunga.


"Awas aja kalau virus lu nempel-nempel sama tubuh gue, nggak bisa jalan lu besok," gerutunya mengambil tisu di dalam tas kecil di depan badannya.


"Kakak pikir aku ini virus mematikan?" sewot Bunga dengan berusaha melepaskan tangan Albani dari wajahnya.


Walaupun ganteng tetapi tangan laki-laki seperti terasa, atau itu napasnya sendiri yang dia cium? Ah, mana mungkin. Napa Bunga itu harum seperti namanya, kecuali bunga bangkainya. Itu bukan termasuk kaumnya.


Queen dan yang lain asik melihat perdebatan Bunga dan Albani, baru kali ini ada yang berani melakukan hal tersebut pada abangnya itu, tanpa ada teriakan dari Albani.


Asik menyaksikan perdebatan itu tanpa sadar Queen melangkah mundur ke belakang sampai pada saat ....


Brung!


Tubuh Queen terjatuh dalam posisi duduk, rasanya tulang ekornya sakit. Entah apa yang tadi dia tabrak sepertinya ranting mati. Dengan sigap Vegas membantu Queen berdiri, meskipun sakit yang penting yang bantu adalah calonnya.


Namun, Saat benar-benar mengamati wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi orang lain membuat Queen kaget.


"Astagfirullah ...."

__ADS_1


__ADS_2