
"Aduh ...," len'guh Lisa menahan sakit pada tubuhnya, apalagi bibirnya yang mungkin berdarah kerena men'cium lantai cukup kuat.
Alvano yang melihat itu melewati Lisa dengan langkah besarnya, sedikit santai pas jalan. Pemuda itu sama sekali tidak kasihan maupun melirik ke belakang, memang tidak punya perikemanusiaan sekali Alvano.
Lisa berusaha membangunkan tubuhnya, rasa sakit dia tahan. Matanya melirik tajam punggung Alvano, sedangkan tangannya berada di bibir. Memang ini salahnya sendiri, setidaknya cowok itu punya belas kasihan untuk membantunya minimal berdiri, ini malah pergi dengan tanpa dosa sedikitpun.
Bersabar adalah andalan Lisa untuk sekarang. "Lu harus sabar Lis, setelah dendem kematian Ayah lu terbalaskan baru lu boleh berbuat semau lu di rumah ini ...."
"Sekarang lu hanya perlu bersikap baik sama mereka," tambah Lisa lagi pada dirinya sendiri.
Lisa kembali melanjutkan langkahnya, sebelum itu ia mengambil ponsel yang dia bawah sebagai penerangan.
[Kita ketemu besok siang di tempat biasa, jangan sampai ada yang curiga.]
Setelah menulis itu Lisa kembali berjalan ke kamarnya, sebenarnya Lisa itu ingin melupakan kejadian dahulu akan tetapi setiap melihat keluarga ini tertawa bahagia hatinya sakit, seharusnya dia juga bisa begitu sama sang Ayah tercinta.
Sungguh malang padahal waktu itu umur Lisa baru 11 tahun, akan tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa harus kehilangan sang Ayah. Padahal ayahnya adalah orang satu-satunya yang dimiliki Lisa di dunia ini, mamanya entah hilang ke mana. Dari kecil dia sudah di tinggal sang Mama dan juga Ayah.
Pada waktu para polisi membawa ia ke
rumah ini semenjak itulah dendam di hatinya dimulai. Kekacauan pada masa itu, dan kemarahan dari keluarga ini Lisa manfaatkan untuk menjadi kesayangan Albani dan Valen.
Sampai akhirnya dengan sedikit usaha ia bisa meracuni Albani dan Valen untuk membenci Queen sampai sekarang.
Malam berganti siang, Queen terbangun dari tidurnya. Saat ia ingin turun dari ranjang tanpa sengaja ia melirik sesuatu di samping tempat tidur tepatnya di meja. Queen mengambil kotak kecil berwarna putih itu, lalu mengerutkan dahinya sekian rupa. Sekarang bukan hari ulang tahunnya 'kan?
Dan, siapa orang yang memberi Queen kita biru ini. Tanpa pikir panjang Queen membuka kota putih tersebut.
__ADS_1
"Kalung?" gumamnya saat melihat sebuah kalung berada di dalamnya, Queen mengeluarkan kaluang tersebut dari dalam kotak putih tersebut.
"Cantiknya," ucap Queen takjub melihat kalung tersebut.
Queen mencari sesuatu di dalamnya barang kali ada surat atau petunjuk dari sang pengirim, ia membolak-balik kotak putih itu. Namun, tidak ditemukan sesuatu di sana, Queen jadi binggung siapa orang yang telah meletakkan ini di kamarnya.
"Ah, mungkin peri gigi yang meletakkan semalam," kata Queen dengan omong kosongnya.
Queen berlari ke arah cerimin, kemudian memasangkan kalung tersebut ke lehernya, tampak sangat cantik di leher putihnya Queen memegang kalung tersebut lalu menciumnya. Setelah itu Queen siap-siap untuk ke sekolah.
Di meja makan ada Alvano, Lisa, dan Valen. Queen yang selesai dengan urusan beres-beres kemudian turun ke bawah, saat perjalanan turun Queen berpapasan dengan Albani yang berjalan mendahului tanpa menyapa sedikitpun.
Bukanya Queen sedih atau kesal, gadis itu malah seperti orang menahan tawa di belakang Albani. Entah apa yang ia tawakan, Albani yang sadar hanya terus melangkah tanpa memperdulikan.
Sesampainya mereka di meja makan Queen dan Albani langsung memilih tempat duduk, Queen yang ingin mengambil nasi terhenti dengan omongan Lisa.
"Makasih Mama atas kalung yang tadi pagi Mama kasih, Lisa suka bangat sama kalungnya. Cantik!" kata gadis itu penuh dengan keceriaan pada Valen.
Valen tersenyum menanggapi ucapan Lisa. "Sama-sama, Sayang," jawab Valen.
"Pantasan muka mu ceria, Dek, pagi ini. Ternyata dapat kado istimewa dari Mama," imbuh Albani melihat kebahagiaan di wajah gadis itu sekarang.
Lisa mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. "Yah dong Bang," balas Lisa sambil masih memegang kalungnya.
"Oh, iya! Mama juga beli buat Queen, gimana suka nggak sama kalung yang Mama kasih?" tanya Valen sekarang melirik Queen.
__ADS_1
'Oh, kalung itu Mama yang beri? Tapi buat apa coba? Mana kembaran sama ratu ular ini lagi,' batin Queen kesal melihat kalung yang Lisa pakai sama dengannya.
"Nggak," jawab Queen singkat.
"Kamu nggak nemuin kalung yang Mama kasih?" tanya Valen panik takut-takut kalung yang dia kasih semalam hilang atau dicuri orang pada malamnya.
"Hem ...."
Queen harus bersyukur kerena baju yang ia pakai ia kenakan buahnya sampai habis dan tubuhnya juga menutupi leher tidak memperlihatkan kalung yang dia pakai. Kalau tahu Valen yang membelikan Queen tidak akan menerima, apalagi sama dengan Lisa.
"Nanti Mama lihat di kamarmu barang kali jatuh pas tadi malam, atau kamu mau Mama belikan yang baru?" bilang Valen merasa bersalah pada Queen putrinya.
"Terserah!" Queen menjawab singkat, lalu bangun dari duduk dan melangkah pergi.
Albani, Valen, dan Alvano menatap binggung ke arah Queen, apalagi makanan gadis itu belum tersentuh sedikitpun olehnya. Albani juga bangkit dari duduk.
"Ma, Bani berangkat duluan, soalnya ada piket pagi," bilang Albani pada Valen.
"Tapi makananmu belum habis, Sayang," kata Valen sambil melihat makanan Albani yang disentuh sedikit oleh putranya itu.
"Nggak apa-apa, Ma. Nanti Bani beli makan di sekolah aja, Bani pamitnya," ujar Albani menyalami tangan Valen.
Sekarang tinggal mereka bertiga di meja makan, Alvano sedari tadi fokus dengan makanya tanpa ingin menghiraukan sekeliling. Sedangkan Lisa menatap puas tadi pada punggung Queen, dirinya merasa menang! Pasti gadis itu sedang sakit hati gara-gara Lisa juga dibelikan kalung yang sama oleh Valen.
"Ma! Lisa berangkatnya," pamit Lisa setelah selesai dengan makanannya.
Valen mencium kening Lisa, lalu gadis itu pergi dari meja makan. Sebelum pergi ia sempat tersenyum sini entah untuk apa author tidak tahu.
__ADS_1