FAKE NERD

FAKE NERD
Ada apa ini sebenarnya?


__ADS_3

Sekarang Lisa dan Vegas sudah sampai di sekolah, di mana Queen, Alvano, Albani berjalan di belakang mereka. Dua anak manusia ini menatap tajam interaksi Vegas dan Lisa yang terlihat memuakkan mata. Sedangkan Albani terlihat polos di samping Queen dan Alvano.


"Benaran loh Kak, Lisa nggak bohong! Terus Kakak tahu setelah Lisa masakannya gosong, Lisa tinggal tuh kan bentar, pas Liza balik lagi eh udah hilang aja tuh nasi goreng gosong," cerocos Lisa panjang lebar.


Vegas hanya menanggapi celotehan Lisa dengan senyum kecil, wajah gadis itu begitu senang pas menjelaskan padahal tidak ada menurut Vegas yang menarik dari cerintannya. Memang menarik dari mana diceritakan hal begituan? Vegas malah menilai kalau Lisa tidak masuk dalam kriteria wanita idaman Vegas.


"Kayaknya Lisa nggak cocok deh Kak kerja di dapur," bilangnya berargumen tentang dirinya sendiri pada Vegas.


"Yaudah kamu jangan ke dapur lagi, nanti tanganmu terkena percikan minyak," larang Vegas pura-pura prihatin.


"Iya, Kak," jawab Lisa penuh senang.


Sedang asik berbincang-bincang tiba-tiba saja Alvano yang tadi berjalan di belakang mereka tiba-tiba sudah melewati Lisa dan Vegas tanpa melirik sedikit, langkah kaki pemuda itu begitu cepat seperti sedang dikejar seseorang.


Lisa yang juga pura-pura tidak melihat Alvano pas pemuda itu melewati mereka, dan akhirnya dia mengalihkan tatapan dari Vegas ke arah Alvano. Lisa menatap punggung itu, entah kenapa rasanya aneh. Lisa menggeleng kepala, lalu kembali berbicara dengan Vegas.


Saat mereka sibuk berbincang tiba-tiba Queen nyelip di tengah-tengah Vegas dan Lisa. Lisa langsung saja menatap tidak suka pada Queen, wajahnya yang ceria tadi tiba-tiba cemberut seketika.


"Jadi—"


"Kak Vegas udah siap-siapin barang-barang buat kemahan belum?" potong Queen menyerobot ucapan Lisa.


"Belum, emang kenapa?" tanya Vegas kembali.


"Oh, perlu Queen bantuin nggak?" tawar Queen secara terang-terangan, jika dulu dia diam saja dan tidak berani dengan Lisa sekarang tidak lagi.


Vegas tanpa berpikir sejenak, "Hem ... bol—"


"Kak, Lisa duluan-nya," pamit Lisa, lalu pergi dengan kaki yang sedikit dibentak-bentak.

__ADS_1


Queen dan Vegas lah yang melirik gadis itu aneh, tadi Queen dan Alvano yang melirik ke arah Lisa dan Vegas sekarang bergantian. Queen tersenyum miring dalam hati, tanpa disadari oleh Vegas yang berada di samping.


Satu kosong!


"Jadi Kak Vegas butuh bantuan Queen nggak?" ulang Queen lagi. Dan, di angguki oleh Vegas cepat.


Sebenarnya Queen bingung dia menawarkan diri untuk membatu cowok itu berkemas-kemas akan tetapi dia binggung akan membantu mengemaskan apa? Oh, mungkin saja mengemasi baju-baju atau yang lainnya nanti, yang terpenting Vegas calon suaminya ini menerima tawarannya.


Albani yang masih di belakang, yang merasa sesuatu telah terjadi antara mereka. Albani ini memang peka-an orangnya, meskipun dia tidak melihat raut wajah mereka Albani tahu sesuatu terjadi, Albani mengeluarkan ponsel. Mengetikkan sesuatu pada benda pipih itu.


Setelahnya dia memasuki ponsel dalam saku, setelah itu mereka jalan ke kelas masing-masing. Saat berpisah Queen menyempatkan diri untuk berpamitan pada Vegas dan Albani yang dianggap angin lalu oleh Albani.


Setelah Lisa meningalkan Queen dan Vegas sekarang dia malah berjalan entah ke mana saking kesalnya, sampai-sampai tubuhnya tertarik oleh seseorang dan memojokkan pada dinding.


"Lepasin, Kak!" ucap Lisa setengah kesal pada Alvano yang menariknya.


Sedangkan Alvano menatap gadis itu tajam nan datar siap-siap menghunus mata biru Lisa, gadis itu saja sampai menundukan tatapan saking tidak sanggup melihat tatapan tajam dari Alvano. Alvano menarik dagu gadis itu agar menatapnya dengan tangan kanan, setelah kedua bertatapan barulah Alvano mengucapkan sesuatu.


"Gue nggak suka lu dekat-dekat sama cowok itu, apa lagi kelihatan akrab begitu!" bilang Alvano tidak ingin dibantah.


Lisa yang diancam begitu merasa tidak terima, dia malah balik menantang dengan menatap tak kalah tajam dengan Alvano. Dan, menarik dasi yang dipakai pemuda itu mengakibatkan tubuh Alvano semakin dekat dengan tubuhnya.


"Namanya Vegas, bukan cowok itu! Dan, apa hak Kakak larang-larang Lisa buat dekat dengan Vegas!" ucap Lisa mengebu-gebu.


Sekuat dan seberani apapun Lisa dia akan tetap menciut saat pandangan mata Alvano dan rawut wajah pemuda itu mulai mengeras, pertanda sedang menahan emosi. Alvano semakin mendekat wajahnya membuat Lisa kembali menunduk, wajah Alvano melewati wajah Lisa dan berhenti tepat pada telinga.


"Lu itu milik gue, jangan berani dekat-dekat dengan yang lain kalau mau aman!" ancam Alvano lalu menarik wajahnya, terpampang wajah Alvano yang tersenyum miring.


Brung!

__ADS_1


"Gue bukan milik lu! Jangan coba-coba ngancam gue, lu menjijikan ... ciuh!" Setelah menendang dan meludah namun tidak mengenai Alvano, Lisa beranjak membiarkan Alvano yang masih menahan sakit pada selang'kangan yang ia tendang.


Menantang!


Setelah kepergian Lisa Alvano menyandarkan tubuhnya pada tembok, lalu tiba-tiba saja cowok itu tersenyum dengan sendiri, senyum kali ini rada-rada menakutkan kerena cowok itu sambil memejamkan mata.


Tidak lama tawa tadi berangsur-angsur berganti dengan tawa kecil dan bibir sedikit meringis entah kerena sakit di bawah mungkin. Setelah itu tiba-tiba saja Alvano beranjak dan pergi.


Dengan tangan kanan yang memasuki saku celana yang ia pakai dan tangan kiri yang mengurai rambut-rambut pada kepalanya, Alvano berjalan ke kelas dengan santai meskipun mungkin saja guru yang mengajar sudah memulai pelajarannya.


"Gue lihat lu kemarin ketemu sama Vegas buat apa?" tanya sosok itu menahan tangan Alvarez yang ingin memasuki kelas.


Alvarez melirik pada orang tersebut. "Lu nggak perlu tahu, itu bukan urusan lu! Lu urusin saja hidup lu!" kata Alvarez penuh penekanan, lalu menghentak tangan orang itu yang memegang tangannya cukup kuat.


"Urus Vegas itu juga urusan gue, cepat kasih tahu gue sekarang!" paksa orang itu mendesak Alvarez untuk berbicara.


"Cih, semacam berharga bangat lu di mata cowok itu!" Alvarez tidak kalah dalam menjawab ucapan dari sosok tersebut.


Dan, terjadilah aksi tatap menatap antara keduanya, di mana mereka sama-sama ingin mengintimidasi masing-masing. Bahkan satupun antara mereka tidak ada yang mau mengalah atau berbesar hati untuk mengalah.


Tanpa mereka sadari Queen berada di tengah-tengah menatap keduanya bingung dan dahi yang mengkerut-kerut saking tidak tahunya apa yang mereka bahas 'kan.


Pung!


Queen menepuk kedua bahu laki-laki itu membuat keduanya mengalihkan tatapan dan menatap Queen tajam.


"Kalian gapain?" tanya Queen dengan begitu polosnya.


Satu tebakan sebentar lagi akan terjawab🗿

__ADS_1


__ADS_2