FAKE NERD

FAKE NERD
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Tang!


"Dasar gadis mesum," ejek Vegas setelah mejitak pelan kening gadis tersebut, Queen mengusap-usap kening sambil menatap Vegas protes.


Cowok itu berdecak pinggang di hadapan Queen, melirik gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, Vegas terkekeh pelan saat melihat wajah gadis itu yang terlihat cemong persis boca.


Vegas menaikkan tangan ke pipi Queen, membersihkan hitam-hitam yang ada di wajah Queen.


"Memang bocil," kata Vegas hampir tidak terdengar, tangannya masih setia membersihkan kotoran di wajah Queen.


"Kakak ngapain sih?" binggung Queen pada sikap Vegas yang tiba-tiba begini.


Queen masih mengemut permen jeruk di mulutnya, ternyata rasa yang menyentuh bibir Queen tadi adalah permen, Queen saja yang terlalu berharap lebih.


"Nggak lihat," balas Vegas sambil mengangkat kunci di tangan ke atas.


Queen hanya beroria saja, dia kembali melanjutkan tugas menyapunya, dan Vegas yang setia menunggu gadis itu hingga selesai. Dia pemegang kunci sekolah, jadi dia pulang paling terakhir, Vegas harus mengunci setiap kelas tanpa terlewatkan satupun.


Setiap pergerakan Queen selalu cowok itu pantau, membuat gadis itu jadi malu-malu. Queen menundukkan kepala terfokus pada lantai, bahkan saat ingin menabrak meja barulah Queen sadar. Ternyata berdekatan dengan gebetan itu se-canggung ini!


"Geseran dikit Kak, Queen mau nyapu bagian itu!" usir Queen pada Vegas, cowok itu bermalas-malasan melangkah sedikit ke belakang.


Saat Queen akan melangkah tiba-tiba saja Vegas yang sudah memundurkan tubuhnya tadi melangkah lebar sampai menabrak tubuh kecil Queen, untung saja cowok itu cepat-cepat menangkap pinggang Queen kalau tidak sudah dipastikan dirinya akan berakhir di lantai.


Queen dan Vegas sama-sama saling tatap, dan bernapas lega kerena mereka tidak jatuh. Vegas masih betah dengan posisi seperti ini, sedangkan Queen berusaha memberi mereka jarak. Namun, Vegas menahan pinggangnya untuk bergerak.


Tanpa mereka sadari Albani di luar sedang menyaksikan pembicaraan keduanya, laki-laki itu mengambil ponsel lalu mengabadikan momen di depannya dalam bentuk foto. Laki-laki itu tersenyum licik menatap dua insan yang berada di dalam kelas.


"Ternyata pikiran gue tentang lu nggak pernah salah," gumam Albani tersenyum misterius, lalu melangkah pelan, dan pergi dari tempat persembunyiannya tanpa membuat suara.


Setelah selesai menyapu dan mengepel Queen meletakan alat-alat itu pada tempatnya, setelahnya Queen keluar dari kelas yang langsung ditutup Vegas. Queen menunggu Vegas mengunci pintu, setelah selesai Queen berhadapan dengan Vegas.

__ADS_1


"Pulang barang gue?" tawar Vegas, Queen tampak berpikir sebentar sebelum mengangguk mantap.


Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran, sesampai di parkiran Vegas menyuruh gadis ini untuk naik ke atas motornya. Queen sedikit kesusahan kerena motor Vegas yang teramat tinggi, melihat itu Vegas turun dari motornya.


"Makanya kalau tumbuh tuh ke atas bukan ke depan," celutuk-nya kemudian mengangkat Queen naik ke motornya.


Tumbuh tuh ke atas bukan ke depan!


Kata-kata itu membuat Queen binggung, bukanya biasanya 'Tumbuh itu ke atas bukan ke samping' oh, sekarang sudah ganti peribahasa yang dahulu ke samping sekarang ke depan, tapi ada emang tumbuh ke depan?


30 menit perjalanan akhirnya sampai di depan rumah Queen, gadis itu turun dengan meloncat membuat Vegas yang belum siap hampir limbung untung saja dia cepat-cepat menahan motornya cepat.


"Lu kalau turun kasih tahu gue, hampir guncang bumi sama lu," kesal Vegas membuka tutup helm.


Queen hanya melibatkan baris-berbaris gigi putihnya tanpa dosa, Vegas pun tidak tega hati untuk memarahi gadis ini.


"Udah sana masuk! Kenapa masih berdiri di sini?!" usir Vegas dengan suara beratnya.


***


Semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga, di mana Queen duduk paling sudut sofa sedangkan Albani, Valen, dan Lisa duduk berkerumun. Alvano, pemuda itu tidak terlihat batang hidungnya.


Disaat semuanya fokus pada layar televisi Queen malah fokus pada kerumunan itu, dirinya seperti diasingkan. Queen iri melihat bagaimana Valen dan Albani yang terlihat sangat peduli pada Lisa.


"Tadi di sekolah nggak ada yang jail 'kan sama kamu, Sayang?" tanya Valen penuh dengan perhatian.


Lisa terlihat sangat nyaman pada elusan tangan Valen di kepalanya, kalau saja wanita paru baya itu tidak memangil Lisa sudah bisa dipastikan Lisa akan tertidur.


"Mana berani, Ma! Lisa 'kan punya Bang Bani sama Kak Al," balas Lisa semakin menyenderkan tubuhnya pada Albani.


Albani dan Valen tampak tersenyum mendengar jawaban dari Lisa, sangat lucu menurut mereka.

__ADS_1


Albani mengacak-acak rambut Lisa membuat gadis itu menatap protes pada Albani. Tangan Lisa juga ingin membalas sebelum mengenai rambut laki-laki itu Albani sudah terlebih dahulu memundurkan kepalanya, lalu menjulurkan lidah pada Lisa mengejek.


"Ma, lihat Bang Bani jahil sama Lisa!" aduh Lisa pada Valen.


"Bani! Mau Mana jewer telinganya?" Valen membentuk tangannya seperti jepitan yang siap mendarat pada telinga Albani.


Albani laki-laki itu menyatukan tangannya, meminta ampun pada Valen.


Muak melihat adekan yang ada di depan matanya, Queen bangkit dan hendak meninggalkan mereka.


"Mau ke mana?" Valen melirik Queen yang bangkit dari tempat duduknya.


Queen melirik sebentar pada mamanya. "Kamar!" jawabannya datar, lalu hendak melanjutkan langkah. Namun, langkah Queen kembali terhenti saat Valen kembali berbicara.


"Sini duduk dekat Mama," ajak Valen menepuk-nepuk tempat di dekat Lisa.


Queen melirik Valen dan Lisa bergantian, tatapan dari mata Queen terlihat kosong menatap dua wanita tersebut. Sebelum akhirnya Queen kembali berucap.


"Buat apa? Di sana 'kan udah ada Lisa," bilang Queen dengan nada semakin datar.


Valen dan Lisa melirik Queen tercengang, menurut mereka Queen tidak seperti biasa hari ini, apa Queen sedang sakit? Tapi, dari wajahnya terlihat baik-baik saja.


"Nggak ap—"


"Udah lah, Ma!" kata Queen memotong ucapan Valen, gadis itu melangkah tanpa pikir banyak pikir lagi.


Valen dan Lisa menatap punggung Queen yang perlahan semakin jauh dari pandangan mata mereka. Setelah gadis itu menghilang tidak terlihat lagi Valen dan Lisa kembali menatap televisi.


Albani yang berada di belakang Lisa memutar kepalanya melirik atas tangga, tatapannya nanar melihat pintu kamar yang sudah tertutupi. Kerena kamar Queen memang tepat pas penghabisan tangga.


Pikiran Albani berkelana ke mana-mana, dia tidak tahu mengapa Queen bersikap begitu. Gadis itu tampak kosong, Albani tidak suka seperti ini, benar-benar tidak suka melihat Queen yang bersikap acuh!

__ADS_1


"Lu kenapa Queen?!"


__ADS_2