
"Dokter harus melakukan operasi pengangkatan sumsum tulang belakangnya, Dok. Kalau tidak nyawa korban bisa tidak terselamatkan," kata sang perawat yang berada di samping sang Dokter yang memeriksa.
Edgar yang juga berada satu ruangan dengan putranya Albani terasa bagaikan tersambar petir, dia juga mengalami luka yang sangat parah tidak sebanding luka yang sekarang putranya Albani dapatkan. Bagaimana tidak tubuh Albani terpelanting menghantam kaca depan, entah ceritanya bagaimana waktu itu sampai-sampai putranya bisa terpelanting.
Namun, Edgar samar-samar masih bisa mendengar ucapan Dokter dan perawat itu, Edgar bukanya tidak tahu apa itu operasi sumsum tulang belakang.
"Kita tidak bisa melakukan operasi sembarangan, butuh pendonor yang cocok untuk anak ini," balas sang Dokter kembali memeriksa kondisi Albani.
Mengabaikan Dokter dan perawat yang menanganinya, Edgar berusaha untuk turun. Edgar dan Albani hanya di pisahkan oleh kertas putih yang menjuntai sangat panjang. Edgar bisa menatap putranya itu, Albani sudah tidak sadarkan diri. Kondisinya benar-benar kritis, Edgar bisa melakukan apa saja buat keluarganya, bahkan taruhan nyawa sekaligus Edgar tidak masalah.
"Tolong tetap di tempat, Tuan. Luka Anda ini bukan luka kecil, bisa-bisa luka Anda akan semakin parah," ucap sang Dokter yang berada di samping Edgar.
Edgar bersih keras untuk membangunkan tubuh meski sangat sulit, 'kan sudah dibilang luka-luka pada tubuh Edgar ini tidak bisa disebut luka biasa. Sekarang yang terpenting baginya adalah Albani.
"Tolong Dok, operasi anak saya secepatnya, saya bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang saya, Dok," kata Edgar pada Dokter di sampingnya.
"Tapi, Tuan ... kondisi Anda ini tidak memungkinkan untuk melakukan pendonoran," larang sang Dokter kerena Edgar bersih keras untuk mendonorkan sumsum tulang belakang pada Albani.
"Saya tidak peduli, Dok, Dokter bisa ambil semua bagian tubuh saya jika itu diperlukan untuk anak saya, Dok." Edgar tidak mungkin membiarkan anaknya itu menderita seumur hidup, cukup dirinya saja, toh dia juga sudah tubuh dan juga sudah cukup lama menaungi kehidupan ini.
__ADS_1
"Itu sangat berbahaya buat keselamatan, Tuan. Tuan bisa tidak terselamatkan jika memaksa untuk melakukan pendonoran," jelas sang dokter panjang lebar pada Edgar, sang Dokter juga tidak mungkin melakukan operasi jika pendonornya dalam kondisi tidak baik.
"Saya tahu yang terbaik buat saya, Dok, saya mohon operasi anak saya sekarang jangan menunda-nunda lagi," mohon Edgar berusaha menyatukan tangan di depan sang Dokter.
"Tetap tidak bisa, Tuan. Kami tidak bisa melakukan operasi kalau keadaan Tuan saja begini," tolak Dokter itu lembut.
"Saya mohon, tiada guna hidup saya kalau nanti anak saya tidak bisa diselamatkan ... atau sesuatu yang nanti bakal buat dia menderita," mohon Edgar berusaha menyakinkan sang Dokter lagi, bahkan dia akan bersujud jika perlu supaya cepat mengoperasi Albani.
Edgar berusaha bangun, akan tetapi kembali ditahan oleh sang Dokter.
"Baiklah-baik, baik, kami akan segera mengoperasikan anak Tuan. Kami akan lakukan yang terbaik buat Tuan dan anak Tuan." Finally, Dokter itu menyetujui permohonan Edgar.
Edgar dan Albani langsung di bawah keruangan Operatie Kamer (OK) yang artinya kamar operasi.
"Pa, Bani!" teriak Valen saat melihat bangsal Edgar dan Bani didorong begitu cepat menuju arah kanan, Valen mengekor dari belakang.
6 Menit, akhirnya bangsal yang di tempati Edgar dan Albani memasuki ruang operasi. Valen yang ingin ikut masuk langsung dihentikan oleh salah satu Dokter.
"Maaf Buk, Anda tidak bisa masuk!" larang sang Dokter pada Valen.
__ADS_1
"Saya ingin melihat anak dan suami saya, Dok," ujar Valen berusaha untuk masuk ke dalam.
"Tidak bisa, Ibuk akan menganggu jalanya operasi. Mohon tunggu di luar," balas dokter itu lalu menutup ruang operasi di mana Albani dan Edgar berada.
Valen menunggu dengan hati resa, beberapa menit kemudian Alvano dan Queen datang dengan berbalutkan perban, Queen yang berbalut perban di tangan kanan kerena terkena pecahan kaca, dan Alvano pada bagian kepala.
Valen menatap ke arah Queen, andai saja mereka mau mendengarkan Valen, andai saja Queen putrinya ini mau mendengarkan perkataan Valen hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
"Kamu lihat Papa, dan Bang Bani mu luka parah?! Coba tadi kamu Queen dengar apa yang Mama bilang, kecelakaan ini tidak akan terjadi. Dan, Bang Bani sama Papa mu tidak perlu ada di ruangan itu," kata Valen emosi menunjuk tempat di mana Albani dan Edgar berada, ini semua salah Queen. Yah, ini salah putrinya!
Queen hanya menangis saat sang Mama marah-marah padanya, Queen kecil tidak tahu harus berbuat apa.
2 Jam sudah Albani dan Edgar berada di ruang operasi, tidak ada tanda-tanda mereka akan keluar. Valen tidak henti-hentinya berputar di depan ruangan itu, sambil berjalan cemas ke sana ke mari mirip setrikaan. Sesekali Valen menatap ke arah Queen kecil marah, sedangkan Queen kecil hanya menundukkan kepala sedari tadi.
Ting ....
Ruang operasi terbuka, dari sana keluar seorang dokter dengan pakaian operasinya. Valen segera menghampiri dokter tersebut, ingin tahu kondisi putra dan suaminya.
"Bagiamana kondisi suami dan anak saya, Dok? Operasi mereka berjalan lancarkan, nggak terjadi hal buru 'kan sama suami dan anak saya?!" tanya Valen setengah memaksa sang Dokter untuk berbicara.
__ADS_1
"Kondisi pasien ...."