
POV Pulang Kampung
Keesokan harinya Kenny Lin dan Lin Qian sudah bersiap-siap pergi ke kampung halaman Lin Qian. semua persiapan yang harus ia bawa sudah ia siapkan sejak semalam.
"Qiqi..Qiqi..apakah kamu sudah siap??" tanya Kenny Lin dari luar kamarnya.
"Shi...Gege, laiba kita berangkat, oh yaa kita menggunakan mobil atau pesawat??" tanya balik Lin Qian.
"Pesawat saja aku tak ingin terlalu lelah menyetir, Liu Yucha asistenku pun sudah kuberitahu bahwa aku akan pergi bersamamu jadi kusuruh dia menghandle semua urusan kita di Gaman Cafe sementara waktu dan aku juga sudah memberitahu tuan Michael He bahwa kita akan pergi mengunjungi kedua orang tuamu" ujar Kenny Lin sembari menarik kedua koper mereka.
"Qiqi...cepat kamu hubungi Liu Yucha untuk datang kemari sebentar mengantarkan kita ke bandara, ini ponselku...!!" Kenny Lin memberikan ponselnya dan berlalu ke depan halaman gedung apartemen dengan membawa koper.
"Hao...haoba Gege.." Lin Qian langsung menerima ponselnya.
"Halo Gege Liu ini aku Lin Qian, bisakah kamu mengantarkan kami kebandara sekarang kami akan take off jam 08.00 masih ada 30 menit lagi cepatlah datang ke apartemen Gege Kenny Lin" ucap Lin Qian.
"Hao..hao ba aku akan datang sekarang juga" setelah mendapat telpon dari Lin Qian si Liu Yucha pun langsung meluncur ke tempatnya untung saja momentnya pas, tadinya dia sudah bersiap-siap pergi ke Cafe jadi tak perlu ganti baju lagi, sekalian saja mengantar mereka berdua setelah itu mengontrol situasi Cafe.
Beberapa menit kemudian Liu Yucha datang menggunakan taksi, karena tentu saja ia akan mengantarkan temannya menggunakan mobil Kenny Lin, sebelumnya Kenny Lin sempat mengatakan keinginannya bahwa ia ingin menikahi Lin Qian. Liu Yucha adalah teman dan asisten yang baik bagi Kenny Lin ia tak pernah menyembunyikan apapun darinya karena sejak dulu jauh sebelum teman-temannya tahu hubungannya dengan Lin Qian si Liu Yucha sudah tahu lebih dulu.
"Hai Gege...akhirnya kamu merealisasikan keinginanmu ini, aku akan selalu mendukungmu, mana mobilmu aku akan menyetir menggunakan mobilmu saja" pinta Liu Yucha.
__ADS_1
"Ini...duibuqi Liu aku sudah merepotkanmu, oh ya tolong sekalian untuk beberapa hari ini kamu handle pekerjaanku di Gaman Cafe dan jika kamu membutuhkan kendaraan pakai saja mobilku, sayang kalau didiamkan di garasi" ucap Kenny Lin memasukkan kopernya ke bagasi mobil dan memberikan kontak mobilnya pada Liu Yucha.
"Hao..Gege..semua pasti beres, ayo cepat nanti kalian terlambat" ucap Liu Yucha.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di bandara.
"Akhirnya sampai juga, silahkan tuan Kenny Lin dan nyonya Lin Qian" ucap Liu Yucha meledek mereka.
"Candaanmu tidak lucu Gege..goule, kami akan berangkat sekarang" ucap Lin Qian sembari menurunkan koper dari dalam mobil.
"Ehh...tunggu sebentar, apakah kalian akan lama disana??" tanya Liu Yucha.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju kampung halaman Lin Qian. Lin Qian tidur dibahu Kenny Lin, ia terlihat lelah sekali, sampai tak sadar sudah terbawa kealam mimpi.
"Dia sangat cantik sekali jika sedang tidur rasanya aku ingin menyentuh bibirnya" batin Kenny Lin memandangi Lin Qian yang sudah tertidur lelap, beberapa menit kemudian ia sadar lalu memukul pelan kedua pipinya dan menggelengkan kepala "Meiyou..apa yang aku pikirkan"
Kenny Lin akhirnya ikut tertidur bersama Lin Qian dalam satu selimut, mereka berdua saling mendekatkan tubuh masing-masing mencari kehangatan. tak lama beberapa jam kemudian seorang pramugari membangunkan mereka.
"Permisi..duibuqi mengganggu kalian, pesawat akan landing dimohon agar bersiap-siap semuanya" ucap wanita berseragam itu.
"Hoooaammm...sepertinya nyenyak sekali tidurku kali ini mungkin aku terlalu lelah" ucap Lin Qian menoleh ke sebelah. ia terkaget karena bahunya ternyata untuk sandaran tidur Kenny Lin, ia tersenyum lalu mengusap sebagian rambut yang agaknya menutupi kening Kenny Lin.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Lin Qian membangunkan Kenny Lin dengan pelan-pelan.
"Gege...bangun, kita sudah mau sampai ini, cepat bukalah matamu, jika tidak cepat bangun akan kucubit hidungmu" Lin Qian mengancamnya.
"Haaah...meiyou..meiyou..kamu suka sekali menyiksaku Qiqi" Kenny Lin cepat membuka matanya dan langsung mengamankan hidungnya dari tangan Lin Qian yang akan memulai cubitannya.
"Hahaha...kamu ini, mangkanya jangan keenakan tidur di bahuku hhuuuff.." ucap Lin Qian menyembulkan bibirnya mengeluarkan angin hingga rambut dikeningnya beterbangan.
Setelah keluar dari pesawat mereka berdua langsung menuju taksi yang sedang mengantri mencari penumpang di bandara, tak selang beberapa lama mereka masuk kedalam taksi dan sebelumnya berkata pada si supir bahwa mereka akan menuju ke sebuah desa di Niujie. supir itu menganggukkan kepala tanda mengerti akan tujuan penumpangnya.
"Darao yixia, apakah anda bisa mengantarkan kami ke desa Niujie, kami akan kesana menggunakan taksi anda??" tanya Kenny Lin sopan dengan driver taksi yang sedang duduk santai.
"Shi...hao de..saya akan mengantarkan kalian mari masuk" ucap driver tersebut dengan ramah.
Selama dalam perjalanan mereka berdua diam dan malah sibuk dengan ponsel masing-masing. sedangkan si driver berkonsentrasi menyetir. Lin Qian lebih memilih bermain ponsel dengan membuka beberapa wechat maupun weibonya, banyak sekali pertanyaan yang masuk di chatnya dari para penggemar yang sibuk berkomentar di berita yang beredar mengenai hubungannya antara dia dan kekasihnya.
"Isshh...apa-apaan mereka ini berita seperti saja harus dibuat heboh, apa mereka tak punya pekerjaan selain mengurusi urusan pribadi orang lain, menyebalkan sekali" gerutu Lin Qian yang terdengar oleh si driver dan Kenny Lin.
"Fangshou ba Qiqi...kamu tidak boleh menjudge mereka itu hak mereka, lama-lama juga mereka akan bosan dengan beritanya, malah berita kita bisa membantu orang lain mencari pekerjaan bukan jika tidak ada berita seperti ini pengusaha di media online akan bangkrut kalau tak ada pembahasan untuk dijadikan topik usahanya, kita terima saja omongan mereka toh mereka tak salah sepenuhnya dalam hal ini" ucap Kenny Lin memberikan penuturan lembut pada Lin Qian.
"Hao..hao ba Gege..mungkin ini resiko dan konsekuensi yang memang harus di ambil harus ada yang mengalah dan dikorbankan, kita pun sekarang mengorbankan karir kita yang tadinya sedang diatas daun tapi kita justru melepaskan karir yang telah lama kita tekuni karena hubungan ini, mungkin sudah takdirnya kita keluar dari zona nyaman kita dan memulai hal yang baru" ujar Lin Qian berusaha melonggarkan pikirannya.
__ADS_1