First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Sepuluh


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, sepertinya takdir selalu mempertemukanku dengan Fabian. Padahal aku dan Fabian sudah tak sekelas lagi.


Entah saat di kantin, perpustakaan, ruang guru. Memang sih namanya juga satu sekolah, pastinya bertemu terus di tempat yang sama dengan pertemuan tak terduga. Aku yang cuek, dia juga semakin cuek. Aku dan Fabian saling diam ketika berpapasan. Bahkan saat mendengar Fabian disukai sama cewek-cewek, hatiku rasanya ngilu banget. Beginilah resiko suka dengan cowok idola di sekolah. “Eh, masa aku masih ada rasa sama dia sih. Nggak mungkin, nggak. Sekarang sifatnya berubah, nggak seperti dia yang dulu” tampikku langsung setelah sadar apa yang tengah mengganggu pikiranku.


Karena terbiasa saling diam kala berpapasan, akhirnya aku dan dia saling cuek dan tak peduli. Seperti tak saling kenal. Tapi lama-lama aku capek mendapati sifatnya yang sangat berubah drastis itu. Ada hasrat ingin menyapa, tapi sepertinya tatapan Fabian seakan tak bersahabat.


Sementara, aku berasa dihantui tentang masa lalu yang ada di kelas 8B dulu. Seperti ada rasa penyesalan.


“Dia itu berbeda dengan cowok-cowok yang ku kenal baik. Mungkin yang baik ada walau nggak banyak, tapi nggak ada yang se-care Fabian, se-asyik Fabian, se-baik Fabian. Kalau dia suka aku, juga nggak mungkin. Tapi rasanya aku telah mengabaikan perasaanku sendiri. Iya, aku seperti menyesal dengan perlakuan baik Fabian yang kadang selalu ku acuhkan. Ada apa dengan perasaanku??” batinku sambil merenungi semuanya.


Semakin kesini, aku mulai beradaptasi dengan kelas 9G. Iya, lama-lama asyik juga walau nggak se-asyik dulu kelas 8B. Seringnya berkumpul dan share-share info tentang apa saja membuatku sedikit melupakan tentang Fabian. Bahkan semua tentangnya dulu. Di kelas ini juga aku pertemukan dengan teman-teman yang care denganku, teman yang asyik juga. Tapi kalau tengah lengah sedikit, otakku bertanya-tanya tentang Fabian lagi. “OMG! Dia kan udah berubah seperti itu, tetep aja ya sukses menari-nari dipikiranku” tampikku sambil membatin. Belum lagi aku semakin memimpikannya.


......................


Pagi ini cuaca mendung, aku yang berteduh sembari menanti bis datang. Bis langganan seperti biasanya aku naiki bersama teman-teman. Tapi bis tersebut tak datang, malah bis lain yang datang jam 06.15.


Akhirnya aku naik bis tersebut yang sudah penuh dengan teman-teman satu SMP. Tanpa sengaja pandanganku melihat Fabian yang tengah berdiri di belakang. Aku yang naik dari arah depan tiba-tiba tergeser sampai belakang, tepat Fabian berdiri. Mana kernetnya mendorongku sampai dekat Fabian persis. Sepertinya takdir selalu mendekatkanku dengan Fabian. Mendapati itu, aku hanya diam pasrah dengan merasakan detak jantung yang tak karuan.


Di sepanjang jalan, seperti biasa aku dan Fabian hanya saling diam. Aku melihat hanya melihat gerimis dari dalam kaca bis yang aku naiki. Rasanya pagi ini benar-benar membuatku mati kutu dan merasa kikuk sekali. Garing sekali suasananya yang dari tadi berdiri disebelah Fabian hanya diam saja, tegur sapa pun tidak. “Ngobrol kek, dari tadi diem aja nggak ajakin ngomong aku. Emang aku disebelahmu ini patung apa?Sombong banget sih” batinku pilu sembari menatap wajah Fabian dari dekat.


Sesampainya sekolah, aku segera turun dari bis. Walau kulihat Fabian sempat mengalah saat aku melewati dia duluan. Dan berjalan menuju sekolah dengan teman-teman lain.


“Mi...” panggil salah satu temanku saat aku tengah berjalan.


Aku menoleh untuk menyahut panggilan temanku yang tak lain adalah Yongki temanku beda kelas. Tapi langkahku terhenti karena hampir saja menabrak Fabian yang berjalan di belakangku. Kulihat ekspresi Fabian masih saja seperti tadi.Acuh.


“Iya Yong, kenapa?” responku.


“Aku pinjam bolpoinmu dong.Bolpoinku ternyata ketinggalan di rumah Mi” terang Yongki sambil nyengir kuda.


Aku geli mendengar Yongki berkata itu. “Iya deh, aku ambilkan dulu ditempat pensilku” anggukku sembari mengambilkan bolpoin di dalam tas dan menyerahkan pada Yongki.


“Jangan lupa dikembaliin ya nanti” pesanku.


“Iya, tenang saja. Pinjem dulu Mi. Thanks” ucap Yongki.


Kemudian langkah kakiku dilanjutkan sampai sekolah lagi dan masuk di kelas 9G untuk meletakkan tas punggungku di bangku depan. Setelah itu, seperti biasa aku bergabung pada teman-teman dekatku yang tengah nongkrong di seberang kelasku sembari menanti kedatangan Rere.

__ADS_1


Tapi hampir bel masuk, Rere belum datang juga. Saat bel masuk berbunyi, aku dan teman segera masuk kelas untuk siap menerima pelajaran di jam pertama. Ku lihat cuaca masih terlihat mendung sekali.


Saat istirahat pertama tiba, aku sudah tak sabar ingin bercerita dengan Rere tentang kejadian tadi pagi yang super nyebelin itu.


“Mimi..” panggil Rere saat menghampiriku di depan kelas 9G.


“Hay Re...” sambutku penuh senyum.


“Kamu tadi pagi naik bis yang mana sih?” tanya Rere.


“Bis seperti biasa Re, tapi bukan yang cepet itu. Emang kamu sendiri naik bis yang mana?” tanyaku balik.


“Maaf Mi, aku tadi bangun kesiangan. Jadi naik bis yang belakangnya” cengir Rere.


“Hmm, pantesan aja tadi nggak ada kamu. Oya Re, tadi aku berdiri persis dekat Fabian tauk” curhatku pada Rere dengan ekspresi sebal.


“Ciee. Tuh kan Mi, jodoh itu nggak akan kemana” geli Rere saat aku bercerita demikian.


Entah kenapa saat Rere meledekku, aku jadi tersipu malu.


“Eh, iya ya. Sekarang dia rada sombong gitu kalau ketemu kamu Mi” kata Rere.


“Iya Re, pokoknya nyebelin banget tadi itu” sebalku.


Yup, itulah kebiasaanku dan Rere yang selalu meluangkaan waktu untuk bertukar cerita saat bertemu di sekolah. Semakin kesini, aku dan Rere semakin tak bisa dipisahkan.


Aku sering sekali bercerita pada Rere tentang Fabian. Iya, semenjak kedekatanku dengannya sampai terbawa mimpi dan bahkan sampai sekarang masih bercerita tentangnya. Seringnya bertemu dengannya membuatku malas untuk menyapanya lagi. Akhirnya aku dan Fabian saling diam kalau bertemu.


......................


Satu semester sudah terlewatkan, kini memasuki semester dua di kelas 9 SMP. Dimana kelas ini persiapan menjelang UAN. Liburan semester kali ini hanya seminggu, karena seminggunya lagi digunakan untuk tambahan jam pelajaran, karena setelah ini minggu depannya persis kami siswa-siswi kelas 9 SMP mengadakan Try Out Pemerintah selama 3 hari. Berjalannya waktu kami semua kelas 9 SMP semakin sibuk dengan diadakannya tambahan jam pagi dan tambahan jam siang. Belum lagi di kelas persiapan mengerjakan soal-soal untuk UAN, persiapan foto sekelas untuk pembuatan katalog sekolah, Ujian Praktik, latihan Ujian Nasional atau Try Out, sampai persiapan doa bersama.


Seringnya diadakan Try Out Pemerintah dan Try Out dari sekolah. Membuatku benar-benar lupa dengan sikap Fabian yang sedikit berubah itu. Aku benar-benar memfokuskan diri untuk belajar persiapan UAN. Sebelumnya kami mengadakan Ujian Praktik selama dua minggu lamanya.


Tapi ada kejadian tak terduga menjelang UAN dan UAS, sekolahku mengadakan doa bersama selepas pulang sekolah sabtu sore ini. Kami semua saling bersalaman satu sama lain dengan perasaan haru. Karena mengerti setelah lulusan ini kemungkinan besar tak bertemu lagi di SMA yang sama. Kami siswa-siswi kelas 9 berkumpul di Aula Sekolah.


Sebelum masuk Aula, kami disuruh mengambil air wudhu dahulu. Saat aku akan duduk disebelah temanku. Aku kaget mendapati sebelah kananku ternyata Fabian. Aku dan Fabian tak sengaja saling pandang, kemudian pandangan itu hilang ketika guru Agama menyuruhku untuk pindah ke belakang. Menjelang sore, doa bersama selesai dan berjalan dengan lancar. Selesainya acara sore ini, aku bergegas menuju SD untuk meminta doa restu pada guru-guru disana dan sekalian berkumpul dengan teman-teman SD yang dulu aku paling benci dengan suasananya.

__ADS_1


......................


Ujian Nasional tiba, selama 3 hari berturut-turut dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. 3 hari itu penentuan kelulusan nantinya. Alhamdullilah, 3 hari berturut-turut aku diberi kelancaran saat mengerjakan UAN. Setelahnya itu kami masih disibukkan dengan UAS yang berjalan seminggu. Walau masih ada rasa tegang di hati sembari menanti pengumuman kelulusan. Sebulan kemudian, pengumuman kelulusan tiba. Aku senang sekali saat dinyatakan LULUS dan yang lebih membanggakan kelasku 9G LULUS 100%. Rasanya lega saat sudah dinyatakan LULUS.


Sembari menunggu pengumuman dari sekolah setelah pengumuman kelulusan. Quality time bersama Rere dan Rossi berlanjut lagi. Menyenangkan sekali rasanya berkumpul dengan mereka lagi.


Entah kenapa, aku malam ini memimpikannya lagi. Aku yang memutuskan untuk tidur paling akhir, karena sehabis menonton film horor di tv. Sehabis menunaikan solat Isya, aku langsung tidur.


Aku merasa sedang berada di dalam bis, aku yang duduk di tengah pada bangku bis sebelah kiri, ternyata kulihat Fabian juga duduk di seberangku persis. Lalu aku memulai membuka pembicaraan dengannya.


“Mau lanjut daftar SMA mana Fab?” tanyaku.


Fabian menoleh saat aku menanyai demikian, dengan hiasan senyuman yang manis itu dia menjawab” Aku mau nyoba daftar di SMA 5 Mi. Kamu gimana?”


Aku manggut-manggut lalu merespon pertanyaan Fabian balik. “ Aku mau daftar di SMA 4 Fab. Nyoba aja”


Tiba-tiba Fabian pindah posisi dan akhirnya duduk di sebelahku. Aku terkejut mendapati itu. Fabian lalu tersenyum padaku.


“Ih, iseng kamu Fab” protesku.


“Nggak apa dong. Aku pengen duduk deket kamu Mi” cengirnya.


Akhirnya saking asyik bercanda dengannya, sampai tak terasa bis sampai berhenti di depan perumahanku. Aku yang sudah mengatakan permisi dengannya. Tapi Fabian tak menggubrisnya


“Fab, aku mau turun” pintaku.


Tetap saja aku ditahan nggak boleh turun.


“Fab, tolong. Aku mau turun” pintaku lagi


Tapi Fabian masih tak mengizinkanku keluar. Akhirnya aku memaksa diri untuk keluar dari sana. Tiba-tiba Fabian cemberut lalu pindah ke belakang bersama teman-teman. Saat aku berpamitan dengannya, Fabian langsung buang muka dan terlihat ngambek padaku sembari merespon” iya, iya.....”.Mendapati itu aku hanya tersenyum geli dan geleng-geleng kepala.


Entah karena apa, aku terbangun. Aku sadar bahwa kejadian baru saja ternyata hanya mimpi. Hatiku langsung berdegup kencang karena mengingat mimpi tersebut. Aku beranjak dari tempat tidur untuk solat Subuh. Seperti biasa, kejadian itu kuceritakan kepada sahabatku tercinta Rere.


Kami masuk sekolah lagi dengan tujuan untuk cap 3 jari untuk Ijazah SMP. Saat pengambilan ijazah tiba, aku ternyata tak bertemu dengan teman-teman dekat, melainkan bertemu dengan Fabian lagi. Aku merasa sampai sekarang saat berpapasan dengannya masih ilfill.


......................

__ADS_1


__ADS_2