First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Tak terasa kini sudah kenaikan kelas 12 SMA, kelas dimana sebentar lagi akan meninggalkan bangku sekolah dan berubah status menjadi Mahasiswa, kelas yang dimana nantinya akan fokus mempersiapkan materi untuk Ujian Nasional, dan pastinya akan berpisah dengan teman-teman juga. Yup, waktu berjalan begitu cepat akan meninggalkan bangku SMA. “Sepertinya baru kemarin aku pendaftaran masuk SMA bertemu Fabian. Sekarang udah kelas 12 SMA saja” batinku dengan tersenyum sembari flashback ke jaman awal-awal saat SMA itu.


Liburan kenaikan kelas 12 SMA ini, diisi dengan piknik ke Bali oleh satu angkatanku. “Bali... I’m coming” girangku dalam hati saat menaiki bis pariwisata dan siap duduk dengan Luna.“Yes, always with Luna forever” batinku lagi dengan penuh suka cita pagi ini. Pagi ini rombongan sekolah kami segera berangkat menuju Bali. Perjalanan cukup lama dan melelahkan, karena memakan waktu seharian. Dan pastinya tak bertemu Puji saat piknik ke Bali selama lima hari berikutnya, rasanya bebas sekali.


Menikmati perjalanan jauh dalam waktu seharian ini, membuatku sedikit jenuh tapi semua itu sedikit berkurang karena Luna mengajakku bercerita terus. Walau sesekali turun untuk sekedar singgah makan siang dan makan malam sekalian menunaikan solat wajib. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi sampai ke Jawa Timur tepat nantinya kita turun di Ketapang untuk menaiki ponton. Karena dengan menaiki ponton, kami semua rombongan empat bis siap untuk menyeberangi Gilimanuk.


Dini hari tiba, kami semua sampai juga di Ketapang untuk siap menyeberangi dengan menggunakan ponton dan mengantarkan sampai Gilimanuk.


Aku yang baru saja terbangun dari tidur, langsung melihat luar lewat jendela. Karena aku duduk dekat jendela kaca. Aku terkejut mendapati bis yang berhenti di sebelah bis yang kunaiki adalah bis satu, pandanganku tak sengaja jatuh pada Fabian yang baru saja bangun dengan kondisi rambut acak-acakan dan sedikit kucel diwajahnya. Lalu Fabian tengah melihatku juga dari jendela kaca bisnya. Tanpa sengaja aku dan Fabian saling pandang, tapi setelah sadar, akhirnya saling buang muka dan menyibukkan diri untuk persiapan turun dari bis lalu bergantian menaiki ponton.


Dengan kondisi masih mengantuk dan wajah kucel, kami segera menuruni bis dan berjalan menuju ponton untuk menyeberangi Gilimanuk agar sampai ke Bali. Kami berjalan kaki untuk sampai ke ponton, saat berjalan sebelahku adalah Fabian dengan mengenakan jaket jeans biru seperti warna baju lengan panjang yang tengah kupakai saat ini. Rasa lengket dibadan benar-benar membuatku segera bertemu pagi lalu mandi.


Sesampainya Bali, pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA. Pemandangan indah menyambutku pagi ini, aku tersenyum karena sampai juga di Bali dengan perjalanan lancar. Kabut di pagi hari masih tampak menutupi matahari yang malu-malu muncul mrnyinari indahnya pagi.


Empat rombongan bis turun di tempat makan yang ada kamar mandi umumnya. Aku tak sabar untuk bertemu segarnya air di kamar mandi. Setelah semua selesai, dilanjutkan sarapan pagi di tempat rumah makan lalu melanjutkan perjalanan menuju Tanah Lot, Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, Dreamland, Pabrik Kaos Kartun, Batu Bulan, Sukowati, Pantai Kuta, Joger, dan terakhir wisata di Bedugul dan Pura Kedaton. Aku merasa saat piknik ke Bali selama lima hari tak pernah tegur sapa dengan Fabian. Padahal waktu itu kami sempat berjalan sebelahan, tapi Fabian tak melihatku. Dan selama di Bali juga aku hanya menghabiskan waktu bersama Luna. Walau aku, Luna dan Gazela beda kamar hotel. Tapi kebersamaanku bersama Luna sangat mengasyikkan, karena aku sendiri juga duduk di bis bersebelahan dengan Luna.


Lima hari berlalu sepulang dari Bali, aku menikmati sisa liburan kenaikan kelasku di rumah selama dua minggu lamanya. Walau sebenarnya rasa capek itu masih kurasakan karena sepulang dari Bali dengan perjalanan yang cukup melelahkan


......................


Tiga minggu berlalu setelah menghabiskan waktu liburan kenaikan kelas ini. Akhirnya hari Senin ini masuk sekolah lagi dengan title kelas 12 SMA. Aku bahagia sekali karena melihat namaku dan Luna di kelas yang sama. Yup, aku senang sekali dipertemukan dengan Luna lagi. Kelas 12 IS 4.


“Lunaaa, kita sekelas lagi” girangku pada Luna saat melihat Luna baru saja datang.


“Iya Mi, asyiknya sekelas lagi sama kamu” senyum Luna.


Tyas merasa sedih, karena tidak satu kelas denganku dan Luna. Karena Tyas berada di kelas 12 IS 2. Sementara Gazela sendiri masih tetap dengan kelasnya waktu masih di kelas 11 SMA. Aku terkejut saat mendapati satu kelas lagi dengan Puji. “Huhh, dia lagi..dia lagi” sebalku dalam hati dan menerima kenyataan pahit ini.”Yasudahlah, aku tak peduli lagi dengan Puji. Yang penting sekarang aku sekelas dan duduk bersama Luna”

__ADS_1


Dan yang tak kalah mengejutkannya lagi saat mengetahui teman-teman sekelas yang sekarang adalah teman dimana dulunya kami satu bis bersama sewaktu piknik ke Bali serta mendapat wali kelas yang merupakan pendamping saat piknik juga. Benar-benar nggak menyangka sama sekali.


Kulihat suasana kelas kali ini benar-benar asyik sekali dengan teman-teman yang asyik juga. Tapi masih merasa badmood saja mengetahui satu kelas dengan Puji.


......................


Tapi semenjak kelas 12 SMA ini, aku tak pernah berpapasan lagi dengan Fabian. Entah, ada perasaan yang aneh dihatiku saat mengetahui tak pernah bertemu Fabian lagi.


Namun, keasyikan dengan suasana kelas 12 IS 4 ini benar-benar sejenak melupakan sosok Fabian yang berada di kelas 12 IA 1. Kelas 12 IS 4 ini aku merasa seperi di kelas 8B dulu sewaktu SMP. Dan di kelas ini juga aku berkenalan dengan teman cowok yang baik sekali. Wawan namanya. Aku dan Wawan mulai akrab karena saling tukar nomor handphone. Wawan selalu mengirimkanku kata-kata lucu dan pastinya buatku tertawa saat membaca dan akan membalasnya. Banyak sekali kiriman kata-katanya, sampai aku sendiri nggak tega menghapusnya di kotak masuk handphone-ku. Lama-lama aku semakin akrab dan merasa nyaman saat berkirim pesan dengannya. Tapi entah apa yang membuatku kembali menanyakan tentang Fabian lagi saat sadar akhir-akhir ini aku tak bertemu dengannya lagi. “Kenapa tiba-tiba kepikiran Fabian sih dan ingin menanyakan keadaannya sekarang?” tanyaku dalam hati. Setelah sadar, aku mengelak perasaanku lagi. Yup, perasaan yang selalu saja menggangguku terus.





Akhir-akhir ini aku memang tak bertemu Fabian di sekolah sampai menjelang libur Lebaran. Walaupun begitu, media mimpi masih mempertemukanku dengan Fabian. Iya, bertemu Fabian dimimpiku lagi. Mimpi-mimpi itu tak semakin tak pernah hilang dari tidurku. Aku merasa sudah tak memikirkannya lagi, tapi masih saja mimpi itu mengganggu tidurku. Di detik-detik menjelang Lebaran, mimpi tentang Fabian muncul berturut-turut selama empat hari. Mimpi itu datang seperti aku benar-benar mengalami kejadian nyata.


Kejadian pertama, aku yang tidur sehabis Sahur. Setelah solat Subuh, aku terlelap begitu saja.


Setelah itu Fabian duduk di sebelahku. “Hay Fab...” responku.


“Eh, sebenarnya kita lagi diikutkan apa sih Mi?” tanya Fabian langsung ceplas-ceplos.


Aku hanya mengangkat bahu, pertanda tak mengerti dengan maksud tujuan di ikutsertakan lomba ini.”Nggak tahu juga Fab”


“Tapi denger-denger sih cuma kita berdua perwakilan dari sekolah” kata Fabian penuh senyum.


Aku terkejut mendengar Fabian begitu. Saat aku melihat sekeliling, memang hanya aku dan Fabian saja yang dari SMA yang sama. “Yah, aku mana bisa. Kalau Fabian kan pintar” batinku sedikit minder.


Lebih terkejut lagi saat aku kebangun sudah menunjukkan pukul 07.30. Benar-benar terkejut menyadari bahwa aku baru saja memimpikan Fabian lagi.

__ADS_1


Malam kedua, sebelum Sahur. Aku tidur nyenyak seperti biasa.


Aku merasa sedang berada di kelasku sendiri 12 IS 4. Aku yang tengah kebingungan dengan mencari translate bahasa Inggris untuk menerjemahkan sesuatu dari sang Guru. Aku yang tengah fokus dengan kamus bahasa Inggris, tiba-tiba menyerah karena masih saja belum menemukan jawabannya.


Terdengar ramai-ramai dari ruang Aula yang ruangannya dekat sekali dengan kelasku. Ternyata anak-anak kelas 12 IA 1 berhamburan keluar ruang Aula. Saat Fabian melewati depan kelasku persis, tampak menoleh melihat kondisi di dalam. Aku juga melihat Fabian melintas depan kelas, segera ku panggil dia.


“Fabian.....” panggilku untuknya


Fabian yang masih tampak di depan kelasku segera menyahutku dan langsung masuk kelasku.”Woi, ada apa Mi?”


“Ajarin aku bahasa Inggris dong yang ini” pintaku.


Langsung saja Fabian mengangguk kemudian duduk disebelahku dan mengajariku bahasa Inggris saat itu juga. Aku memperhatikan cara Fabian mengajariku bahasa Inggris saat ini juga.


Kebangun lagi karena menyadari bahwa kejadian baru saja adalah mimpi. Dadaku langsung berdegup kencang saat ini juga. “Ya Allah, aku mimpiin Fabian lagi?” ucapku dengan mengingat kejadian di mimpi.


Malam ketiga dan malam keempat mimpinya seperti dipertemukan dalam bis. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa dengan apa yang terjadi denganku sampai sekarang ini.


......................


Disamping itu juga, aku juga pernah memimpikan teman sekelasku sendiri yakni Wawan. Teman yang akhir-akhir ini dekat denganku di kelas dan lewat SMS.


Mulainya masuk sekolah lagi kini diberikan kesempatan bertemu dengannya lagi tepat saat hari itu Halal bi Halal di sekolah. Setelah itu, aku tak bertemu dengannya lagi. Karena kesibukan masing-masing dengan posisi kelas yang berbeda dan pastinya dengan jurusan yang berbeda juga. Aku semakin betah dengan suasana kelas yang kutempati sekarang, walau aku tahu di kelas itu ada Puji.


Semenjak kelas 12 SMA, aku juga semakin tak ingin berbicara lagi dengan Puji. Rasanya benar-benar malas saat Puji mencuri perhatian kepada kami berempat, tapi kami tak mempedulikan keberadaan Puji yang tengah membaur.


......................

__ADS_1


__ADS_2