First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh


__ADS_3

Tak terasa kini bulan November tiba. Tepat tanggal 3 November ini ternyata ulang tahun Wawan. Dan tepat hari ini juga aku mendapatkan kejadian tak mengenakkan di kelas, yakni aku dipermainkan oleh Dangdung cs. Iya, Dangdung pura-pura menembakku karena aku akan dijadikan taruhan oleh teman-temannya. Bodohnya lagi aku begitu polos saat kejadian itu berlangsung. Setelah Jiteng mengatakan.”Dung, kamu sekarang udah jadian kan sama Mimi. Milih uang 300ribu apa kunci motormu?”


Aku terkejut sekali saat Jiteng mengatakan itu. Langsung aku mendamprat mereka habis-habisan, entah tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata kasar pada mereka dan aku tahu hatiku langsung sakit sekali saat mengalami kejadian itu. Aku menangis setelah kejadian itu juga, sebagai sahabat dan teman sebangku Luna menenangkanku. Tapi perasaanku benar-benar sakit sekali dan masih merasakan sakit yang tak bisa diucapkan kata-kata. Saat pulang sekolah tiba, aku hanya terdiam saat mereka menertawakanku habis-habisan.


“Nggak usah dengerin aja Mi” bisik Luna menguatkanku.


Aku yang masih diam tanpa sepatah komentar pun, hanya bisa menggangguk lemas saja. Saat pulang sekolah, Gazela dan Tyas merasa kepo dengan kejadian yang kualami, kemudian menanyakan pada Luna dan Luna bercerita tentang kejadian di kelas tadi. Setelah mendapat informasi itu, tiba-tiba Gazela mengatakan ini padaku. “Mi, Fabian jadian sama Ika lho hari ini. Kamu nggak jealous kan?” tanya Gazela dengan ekspresi penuh senyum siang ini yang pastinya senang sekali saat bercerita demikian.


Mendengar itu, aku terkejut sekali. Rasanya seperti jatuh tertimpa tangga. Hancur sudah hatiku. Iya, sakit sekali hatiku mendapat kabar itu.”Sepertinya Gazela senang sekali saat menyampaikan hal tersebut padaku” batinku sebal. Tapi aku berpura-pura merespon sembari menahan perasaanku.”Nggaklah, ngapain jealous. Syukur deh dia punya cewek”. Melihat ekspresiku begitu, Gazela seakan memancing pertanyaan untukku lagi. Aku hanya menjawab seadanya saja, karena hari ini benar-benar membuatku hilang mood. Sepertinya Gazela juga merasa tak ada dosa karena menceritakan hal tersebut padaku.


Sesampainya di rumah, aku masih murung dan merenungi semua. Mengingat kejadian di kelas yang menyakitkan dan mengingat cerita Gazela tentang Fabian jadian dengan teman sekelasnya. Aku sedih, sedih sekali. Aku merasa selama ini terjebak oleh senyuman Fabian dan sikap-sikap anehnya itu. “Kalau kamu sekarang jadian sama teman sekelasmu, terus apa arti senyuman dan tingkah-tingkah aneh yang kamu beri buatku, walau tanpa sadar membuatku salah tingkah dan tanpa sadar membuatku menyukaimu. Sukses kamu buatku cemburu dengan kabar ini dan sukses juga buatku dijatuhin begini sama kamu Fab. Thanks buat semuanya selama ini” batinku merasa sakit hati sekali dan tanpa sadar airmataku tumpah di pipi.


Sore harinya aku menyadari sesuatu, bahwa belum memberi ucapan ulang tahun kepada Wawan dan menyadari bahwa Fabian juga sudah ada yang punya. Sakit hati karena Fabian sudah punya cewek, aku tak bisa berbuat apa-apa karena sadar bahwa Fabian bukan siapa-siapa buatku. Aku sendiri sampai sekarang juga tak berani mengatakan kalau aku menyukainya. “Yasudahlah, resiko diam-diam suka seperti ini rasanya” sedihku menyadari hal itu. Sadar akan sore ini ingin mengucapkan ulang tahun untuk Wawan, sejenak atau mungkin selamanya aku bisa melupakan tentang Fabian.


Wan, met ultah ya.

__ADS_1


Sorry, baru ngucapin sekarang


Pesan segera kukirim ke nomor Wawan. Setelah terkirim, tanpa menunggu lama Wawan membalas pesan singkatku.


Thanks Mi, nggak apa kok.


Eh, tadi beneran kamu jadian sama Dangdung ya?


Pesan dari Wawan, langsung kuterima dan kubaca sembari mengingat kejadian pahit di kelas.


Hehee... Nggak lah Wan. Ih, hatiku sakit sekali tahu kalau inget kejadian itu


Balasku untuk Wawan lewat SMS.


Setelah itu, aku segera menceritakan secara detail dan rinci pada Wawan. Sampai tak terasa aku benar-benar lupa dengan sakit hati karena Fabian telah jadian dengan teman sekelasnya. Seperti biasanya, ada-ada saja pesan Wawan yang selalu membuatku tertawa dan lupa dengan Fabian malam ini. Aku sendiri nggak tahu kenapa bisa se nyaman ini saat berkomunikasi dengan Wawan lewat SMS. Aku baru pertama kali akrab dengan cowok yang benar-benar membuatku geli sampai terpingkal-pingkal karena kekonyolannya. Tak lupa aku menceritakan kejadian ini kepada Rere. Respon Rere menyuruhku untuk bersabar

__ADS_1


......................


Kedekatanku dengan Wawan lewat SMS yang selalu membuatku tertawa, sejenak bisa melupakan kejadian di sekolah saat melihat ataupun berpapasan dengan Fabian yang tengah jalan bersama ceweknya. Walau sebenarnya melihat mereka membuatku sesak di hati. Tapi aku merasa Fabian masih aneh karena dari tatapannya seperti tak mengenaliku lagi. Karena setiap aku berpapasan dengan Fabian yang pulang bersama ceweknya, Fabian tak menegurku apalagi memberi seulas senyuman padaku lagi. Yang memberi senyuman malah cewek Fabian. Aku merasa heran dan berpikir“Kalau aku dianggap teman biasa, ya seharusnya tak masalah dong Fabian memberikan itu semua padaku. Aku tahu sih, melihat mereka melintas di depanku membuatku sakit. Tapi aku sendiri juga sadar akan tindakanku selama ini yang masih belum berani mengatakan perasaanku padanya”.


Beberapa hari belakangan ini, aku merasa tak melihat Fabian di sekolah lagi.”Mungkin dia sudah pulang bersama ceweknya” pikirku positif, walau itu nyesek ketika melihatnya.


Saat pulang sekolah ini, aku dan ketiga temanku berjalan sembari keluar gerbang. Tiba-tiba ada salah satu teman sekelas Gazela yang juga teman sekelas Fabian menanyakan dimana rumah Fabian. Saat mendengar percakapan Gazela dengan teman sekelasnya, aku terkejut. Berpikir sejenak”Apa Fabian sakit? Ada apa dengannya?” tanyaku dalam hati dengan perasaan cemas.


Setelah teman Gazela pergi, langsung Gazela bercerita padaku kalau Fabian habis kecelakaan sepulang dari les. Aku terkejut sekali, rasanya kasihan pada Fabian. Rasanya ingin menengoknya, tapi sama siapa?


Aku dan teman-teman pulang seperti biasa, tapi sebenarnya hatiku tak tenang. Jujur ingin sekali menengoknya, tapi bingung sama siapa kesana. Rumahnya saja aku nggak tahu. Pikiranku buyar karena mendadak suasana di bis berubah menjadi keruh, karena bis yang tengah aku tumpangi dan bis yang melaju dibelakang sedang bersaing untuk sampai di terminal, sampai akhirnya aku lupa. Bahkan Luna yang akan turun tak bisa karena bisnya benar-benar sedang bersalipan dengan bis yang ada di depannya. Sesampainya di depan perumahanku. Kami bertiga turun, Luna yang kebetulan melihat bis yang berangkat langsung saja naik. Sementara Gazela dan teman-temannya segera meluncur ke rumah Fabian, kulihat salah satu diantara mereka ada ceweknya Fabian. Akhirnya niat ikutan menengok Fabian benar-benar urung, walau rasanya ingin sekali. Aku melangkahkan kaki sampai rumah, rasanya masih sedih aja mengingat Fabian habis kecelakaan dan tak bisa ikut menengoknya. “Yah, semoga kamu cepat sembuh Fab dan cepet berangkat sekolah lagi” doaku dalam hati.


......................


Semenjak aku memang tak bisa menengoknya karena kecelakaan, aku benar-benar lupa dengan sosok Fabian yang memang telah punya orang lain. “Kalau cara Fabian yang sudah jadian dengan teman sekelasnya membuatku langsung lupa dengannya, baiklah...aku terima. Mungkin dengan cara ini juga membuatku cepat-cepat move on darinya” pikirku dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


......................


__ADS_2