
Kata orang-orang, terutama teman-teman yang kuceritakan tentang mimpi yang terjadi padaku bahwa MIMPI itu adalah sekedar BUNGA TIDUR. Tapi aku sepertinya mendeskripikan yang lain, bahwa mimpi yang kualami selama 5 tahun ini adalah sebuah petunjuk bagiku dari Allah swt. Karena aku mempunyai feeling bahwa mimpi yang kudapatkan dari Fabian adalah kelebihan yang tidak banyak orang mengalaminya sepertiku. Tapi petunjuk apa dibalik peristiwa ini? Kenapa sebelum-sebelumnya aku tak pernah mengalami kejadian ini. Hanya dengan Fabian saja aku mengalami seperti ini. Aku juga menyadari bahwa selama ini perasaanku pada Fabian tak pernah diketahui oleh Fabian sendiri.
Masih saja aku penasaran dengan apa yang kualami sampai saat ini. Mencerna semua arti mimpi-mimpi tentang Fabian yang tak mau hilang dari tidurku. Sebenarnya aku sedih saat moment-moment bersamanya tak mau hilang. Tapi semakin kesini perasaanku semakin dalam pada Fabian dan semakin bertambah, mungkin perasaan terpendam itu berubah menjadi cinta.
Bahkan mimpi-mimpi tentang Fabian tak mau hilang dari tidurku. Aku bertemu dengan Fabian lewat mimpi seperti bertemu di dunia nyata, padahal setelah sadar kejadian itu ternyata mimpi. “Apa yang tengah terjadi padaku? Kenapa masih saja Fabian datang di mimpiku?” batinku tak henti-hentinya menanyakan perihal itu. “Ya Allah, jika Fabian adalah orang yang terbaik untukku. Dekatkanlah aku dengannya. Kalau bukan yang terbaik untukku, jauhkan segalanya tentang Fabian” doaku setiap malam.
Setelah berdoa, perasaanku sedikit tenang, tapi benakku masih saja menimbulkan tanda tanya tentang kejadian ini. Kejadian yang kualami akhir-akhir ini, semenjak sekelas dengan Fabian tepatnya.
......................
Memasuki tahun 2012......
Tepat hari ini tanggal 11 Maret 2012. Kini usiaku menginjak 21 tahun. Merasa umurku semakin menua harusnya aku bisa menjadi lebih baik lagi. Di hari ulang tahunku ini, aku senang karena mendapatkan ucapan dari orang rumah, teman-teman terdekat, dan teman-teman di Facebook. Belum lagi kedatangan Nurul ke rumahku adalah sebuah surprise untukku dan mengucapkan ulang tahunku langsung.
Lebih tak terduga lagi saat tengah online Facebook, aku makin senang bercampur salah tingkah. Karena saat melihat daftar nama yang online Facebook ada nama Fabian. Berasa diberi kado ulang tahun kali ini saat mendapatkan Fabian tengah online. Rasa senang, salah tingkah, dan gembira bercampur menjadi satu dihati. Lalu kutegur Fabian lewat chatt Facebook. Saat obrolan lewat Massage di Facebook berlangsung, aku hampir mati kutu dibuatnya. Gila! Rasanya bercampur aduk dengan perasaan canggung. Dan aku menyadari sesuatu atas kejadian ini. Aku dan Fabian sama-sama canggungnya saat obrolan di facebook tengah berlangsung. Walaupun, aku sesekali menanyakan hal yang nggak penting padanya. Karena bingung ingin membahas tentang apa, dan aku juga sekedar tanya tentang kabarnya sekarang. Disamping itu, aku juga menegur teman SMA ku yang sempat satu kamar denganku saat piknik ke Bali. Okta namanya. Tapi saat online berlangsung, aku sedih Fabian tak mengucapkanku ulang tahun.”Nggak apa deh Fab, kamu nemeni aku chatting di facebook juga udah seneng kok. Itu sudah termasuk kado terindahku hari ini. Thanks yaa” ucapku merasa girang sekali karena mengingat hari ulang tahunku ini yang jatuh pada hari Minggu.
__ADS_1
......................
Singkat cerita, aku sekarang mulai berkomunikasi dengan Okta lewat SMS setiap harinya. Iya, karena aku dan Okta sempat bertukar nomor handphone lewat obrolan di facebook. Seiring berjalannya waktu, aku pelan-pelan mulai curhat dengan Okta tentang Fabian, walau awalnya Okta terkejut saat aku bercerita tentang itu. Tapi lama-lama Okta ketagihan mendengarkan curhatanku, karena menurutnya cerita tentang Fabian sejak SMA sangat lucu. Aku juga nggak habis pikir dengan semua kejadian yang kulalui bersama Fabian dulu waktu di SMA, belum lagi di SMP.
Dan Okta juga berpikir sama seperti Rere kalau Fabian menyukaiku. Tapi aku masih bingung dengan deskripsi dari Okta. Selalu saja benakku dipenuhi dengan kata-kata”Ah, masa sih Fabian suka aku? Kayaknya nggak mungkin deh. Tapi kalau teringat perlakuannya, buatku semakin penasaran juga”. Akhirnya Okta memberiku nomor handphone milik Fabian. Aku senang mendapati nomor Fabian kini. Saat akan memulai mengirim pesan dengannya, rasanya bingung dan canggung harus mengirim pesan apa.
Akhirnya ku mulai dulu untuk Say Hallo padanya. Kemudian, beberapa jam setelahnya itu akhirnya Fabian membalas SMS ku. Rasa senang malam itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasa capek setelah pulang kuliah langsung hilang. Setelah kejadian itu juga, Fabian selalu membalasnya terus, hingga aku bersemangat. Tapi semakin kesini, aku baru menyadari sifat asli Fabian yang ternyata agak cuek, bahkan saat membalas hanya singkat-singkat saja sampai tak pernah membalas sama sekali. “Kirain Fabian kalau di SMS asyik seperti yang lainnya, ternyata begini banget. Seperti SMS dengan orang asing” sedihku.
Semenjak kejadian itu juga, aku seperti merindukan sosok Fabian yang dulu. Ternyata enak bertemu secara langsung ketimbang lewat SMS yang balasnya hanya singkat-singkat. Walau aku mengerti Fabian sedang sibuk bekerja, tapi seenggaknya sempatkan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatku.Tapi yasudahlah, aku juga nggak bisa memaksa keinginan Fabian. Saat Okta kuceritakan tentang Fabian yang jarang membalas, Okta hanya bisa mengiburku dan mengatakan untuk aku terus bersabar
Entah kenapa, semenjak itu juga kenangan demi kenangan dimasa SMP dan SMA berputar kembali dibenakku. Rasanya manis, indah, bikin crazy dan senyum-senyum tak jelas, dan buatku merasa geli juga. Aku semakin terngiang-ngiang terus dan terus. Sampai suatu hari aku menangis karena masih saja terbayang-bayang kenangan bersama Fabian, padahal ini sudah tahun 2012. Aku merasa sudah waktunya untuk melupakan ini semua yang memang ternyata susah juga untuk dilupakan.”Aku nggak yakin dengan semua ini? Apa aku bisa menghadapinya sendirian. Dan aku yakin pasti Fabian juga lupa dengan semuanya” sedihku.
......................
Pesanku untuk Okta saat ini lewat SMS.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Okta membalas.
Sabar ya neng, kamu yakin aja kalau jodoh nggak akan kemana kok.
Aku membaca pesan dari Okta lagi, sembari mencerna isi pesan darinya. “Benar juga sih, apa yang dikata Okta. Aku juga yakin itu kalau Fabian nantinya jodohku bakal disatukan lagi. Tapi menghapus kenangan selama 6 tahun bersamanya memang susah sekali. Tapi aku nggak pernah menyesal atas apa yang telah aku lewati bersama Fabian saat sekolah dulu” batinku sembari menenangkan diri dan meyakinkan diri kalau semua ini termasuk rahasia Allah swt.
Akhirnya aku lanjut berkirim pesan dengan Okta lewat SMS, ada perasaan lega dihatiku saat semuanya tercurahkan begitu saja. Walaupun aku masih berkomunikasi dengan teman-teman lainnya, tapi dengan Okta lebih sering. Aku senang karena Okta memberi support untuk kejadian apa yang telah kulalui sampai sekarang. Namun, moment-moment di SMP dan SMA dulu terngiang lagi saat aku bercerita pada Okta.
Pesan dari Okta saat kubaca.
Mungkin dia First Love-mu neng.
Soalnya semua yang kamu alami dari kejadian-kejadian tersebut terasa special.
Setelah kubaca, aku merasa terhenyak saat mencerna kata First Love di dalam pesan tersebut. Frist Love? Jadi First Love-ku itu Fabian? . Bukan cowok yang pernah aku sukai dulu sampai ditolak. Sekarang aku menyadari kata First Love dari Okta. “Pantas saja rasanya beda sekali saat menyukai itu cowok dengan saat menyukai Fabian. Iya, aku merasa saat jatuh cinta pada Fabian ternyata permintaan hatiku sendiri dan tanpa paksaan. Sementara aku dulu menyukai teman SD-ku hanya ungkapan dari bibir saja bukan dari hatiku sendiri. Walau mereka sama-sama aku suka dari parasnya, dan yang bertahan sampai saat ini adalah Fabian” batinku menyadari satu hal itu. Aku merasa memang sosok seperti Fabian-lah yang tak akan tergantikan. Karena aku sendiri mencari-cari yang lain tidak ada yang seperti dia sampai aku disukai beberapa orang tapi aku seperti diingatkan oleh hatiku sendiri bahwa aku memang menyukai Fabian sekali. Walau aku tahu, mimpi tentang Fabian masih saja datang untuk menyambangi tidurku.
__ADS_1
Sementara dengan Wawan sendiri. Aku masih menganggap Wawan adalah teman terbaikku. “He is my best friend” ungkapku penuh senyum. Iya, aku sampai sekarang masih berkomunikasi dengannya. Walau pada akhirnya Wawan juga mendukungku agar semakin dekat lagi dengan Fabian.
......................