
Menjelang study tour ke Jakarta-Bandung-Bogor, kami semua siswa-siswi kelas 8 SMP memilih tempat duduk untuk di bis Periwisata nantinya. Tak terkecuali aku dan teman-teman kelas 8B. Aku yang memang belum memilih tempat duduk study tour.
Tetapi siang ini, aku yang mengantar Luna memilih tempat duduk study tour di ruang guru tempat meja wali kelas kami 8B Bu Rina, tampak memilih daftar tempat duduk yang masih kosong.
Aku yang ikutan melihat daftar nama tempat duduk di kertas yang Bu Rina perlihatkan pada kami, mendadak aku membaca nama Fabian dan Pandu memenuhi daftar tempat duduk tersebut. “Mereka ini milih tempat duduk sampai bejibun gini sih, sebenarnya mereka milih tempat duduk yang mana?” tanyaku dalam hati sembari melihat-lihat daftar yang masih kosong. Akhirnya Luna memilih tempat duduk bersama Indri di bagian tengah.
Beberapa minggu kemudian, tepat siang itu saat istirahat kedua berlangsung, aku yang tengah berbincang-bincang dengan Rere di depan pintu kelas 8B, persis di depan Fabian yang tengah berdiri disana juga. Tiba-tiba Fabian memotong pembicaraanku dengan Rere.
“Mi, aku boleh minta tolong sesuatu nggak?” pinta Fabian penuh senyum.
“Eh, minta tolong apaan Fab?” tanyaku.
“Minta tolong pilihkan tempat duduk buat study tour dong” mohon Fabian.
“Hahh? Bukannya kamu sama Pandu udah milih tempat duduk piknik ya? Mana penuh lagi nama kalian” kagetku.
Sambil nyengir kuda, Fabian mengatakan”Aku lagi bingung mau milih tempat duduk yang mana. Makanya ganti-ganti mulu.”
“Aduh, gimana ya Fab. Aku sendiri juga masih belum milih tempat duduk piknik” raguku saat Fabian mengatakan itu.
“Ayolah Mi, pliss. Pilihin aku tempat duduk piknik” pinta Fabian lagi.
Mendengar Fabian merengek minta tolong padaku, Rere berbisik”Fabian baik banget ya Mi. Kalau ngomong juga enak. Nggak kasar lagi.”
Mendengar bisikan Rere, aku menyahut”Iya Re, dia emang asyik orangnya”. Sementara Fabian tersenyum padaku dan Rere.
Aku semakin bingung saat Fabian memintaku memilihkan tempat duduk piknik. “Biasanya kan kalau milih tempat duduk piknik itu sendiri Fab, masa suruh pilihin aku Fab?”
“Ya nggak apa-apa Mi. Aku sendiri masih bingung mau duduk yang mana” bimbang Fabian yang masih meminta tolong padaku.
“Duh, gimana ya Fab” ucapku yang ikutan bimbang juga, walaupun pikiranku sudah berpusat pada daftar nama tempat duduk.
Ingin sebenarnya bantuin Fabian memilih tempat duduk untuk piknik nanti, tapi aku sendiri juga belum lunas bayarnya dan belum kepikiran memilih tempat duduk untuk piknik nanti.
Aku diam, entah apa yang tengah aku pikirkan.“Fabian menyuruhku untuk memilihkan tempat duduknya? Jadi aku orang kepercayaannya dia dong selama ini. Pantesan dia hobi banget nyuruh-nyuruh aku” batinku yang mulai bergejolak lagi dengan detak jantung berdebar dahsyat.
“Kalau nggak bisa nggak apa-apa kok” ucap Fabian sembari tersenyum manis.
“Deg! Bukan gitu kali Fab, aku sendiri juga lagi bingung nih milih tempat duduk untuk study tour nanti” batinku yang merasa tak enak hati dengan Fabian. Setelah aku mengobrol dengan Fabian, kini pembicaraan berlanjut pada Rere.
“Mi, ini tanggal berapa?” tanya Rere dengan mengumpat senyum jahil.
“Tanggal 11 Maret Re, kenapa?” tanyaku
“Ciee, Mimi ulang tahun” bisik Rere padaku
Aku tertawa saat Rere berkata demikian. “Iya Re, ini hari ulang tahunku.”
“Happy birthday ya Mi” cengir Rere sembari menyalamiku.
“Thanks Re, untuk ucapannya” senyumku tersipu sembari membalas jabat tangan Rere.
“Fabian tahu nggak kalau ini ulang tahunmu Mi?” tanya Rere jahil.
“Hmm, nggak deh Re kayaknya” gelengku.
“Aku bilangin dia ya, kalau kamu ulang tahun hari ini” canda Rere.
__ADS_1
“Ih, kau itu Re. Nggak usah” tampikku cepat-cepat
Rere tergelak saat aku mengatakan seperti itu. “Oya Mi, ntar pulang sekolah antar aku beli kado ya” ucap Rere.
“Pasti kado buatku, hahahaaa.” geliku walau dalam hati.
“Bukan buat kamu kok Mi” ujar Rere berbohong.
“Oke Re, aku temani nanti ya” senyumku menyetujui ajakan Rere nanti siang.
Bel pulang tiba, aku yang sudah siap pulang bersama Rere. Mendadak mendapat kejutan dari teman-teman berupa guntingan kertas kecil-kecil yang dilemparkan pada kepalaku sambil berteriak”Happy Bitrhday Mimi”
“Aahh, kalian ini deh. By the way makasih ya buat surprise-nya” kejutku yang merasa spechleess siang ini.
“Ciee, ciee yang sekarang ulang tahun” sorak Irul.
“Iya Mi, makan-makan dong” gelak Indri
“Makan-makannya di rumah masing-masing ya” balasku sambil tergelak pada mereka
“Yah, Mimi gitu deh” cemberut Luna
Aku geli melihat ekspresi wajah Luna saat cemberut.
“Yaudah Mi. Met ultah aja buat kamu. Panjang umur, sehat selalu, lancar sekolahnya, apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud” ucap Irul sembari memberiku doa.
“Thanks ya Rul, aminnn” senyumku sembari mengamini doa dari Irul.
“Thanks ya semua buat surprise-nya siang ini” ucapku pada mereka.
“Hallo Mi, met ultah ya” ucap Rossi yang tiba-tiba datang dan memberi ucapan ulang tahun untukku.
“Thanks ya” ucapku untuk mereka berdua.
“Ayo Mi, ntar keburu kesorean lagi pulangnya” bisik Rere padaku.
“Oke Re..” anggukku setuju.
Setelah berpamitan pada semua. Aku dan Rere siang ini bertandang ke tempat toko alat tulis yang letaknya di depan SD ku dulu.
Sesampainya disana, Rere memilih tempat pensil berwarna peach dengan gambar manusia tomat yang menurutku sangat cute sekali dan memilih booknote dengan corak 3 dimensi bergambar bunga yang beraroma wangi. Setelah Rere mengambil dua barang itu kemudian membayarnya. Setelah membayarnya, kami bergegas meninggalkan tempat toko alat tulis itu.
Sembari menunggu bis yang mengantar kami pulang, aku mulai curhat empat mata dengan Rere. Curhat tentang Fabian pastinya. Rere yang dari tadi aku ceritakan tentang Fabian tampak tergelak karena menurutnya itu cerita terlucu dariku.
Sementara aku sendiri setelah bercerita seperti itu tengah mengumpat senyum-senyum tak jelas sembari mengingat kejadian di kelas.
Rere masih merasakan geli sekali saat aku masih meneruskan cerita-cerita tentang Fabian di kelas.
“Jangan-jangan dia beneran suka sama kamu lagi Mi” geli Rere merespon ceritaku.
“Ah Rere ini deh. Nggak mungkin” sanggahku cepat-cepat.
Saat Rere tertawa, aku memasang wajah cemberut. Tapi aku merasakan panas dipipi karena merona dan degupan kencang dihati. Tapi dibalik itu semua, aku senyum-senyum sendiri saat flashback tentang Fabian di kelas. Otakku kembali bertanya-tanya, maksud Fabian begitu padaku apa ya?? karena aku merasa Fabian sangat berbeda dari teman-teman cowok lainnya.
Aku menceritakan ini semua pada Rere tentang Fabian di kelas dan seringnya dia nongol di mimpiku saat tengah tidur. Rere semakin tergelak saat aku menceritakannya semua. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi semua ini.
Ceritaku terpotong karena bis telah datang dan siap mengantar kami pulang ke rumah. Rere mengatakan bahwa nanti sore sekitar jam 5an dia akan ke rumahku.
__ADS_1
Sore hari tiba, sekitar pukul 5 sore tepatnya. Rere menepati janjinya untuk menyambangi kerumahku. Ternyata bukan hanya Rere saja yang datang, melainkan bersama Rossi dan Stefani juga ikut serta kesini. Mereka memberiku selamat ulang tahun lagi dan lebih berkesan lagi ternyata mereka memberiku kado.
“Maaf ya Mi, kadonya kecil” ucap Rossi sambil nyengir dan memberiku sebuah kado.
“Iya Mi, terima ya kado pemberianku juga” sambung Rere sembari memberiku kado juga
“Ah, makasih ya kadonya. Kalian ini repot-repot deh kasih kado segala” senyumku bahagia.
“Eh, maaf Mi. Aku nggak kasih kado kamu deh” kata Stefani padaku.
“Iya, nggak apa kok Stef. Udah ngucapin ultah aja aku seneng banget” jawabku penuh senyum.
“Mi, kadonya buka dong yang dari kita berdua” pinta Rossi.
“Iya Mi, buka dong kadonya” sambung Rere juga.
Aku mengangguk setuju dan segera membuka kado dari mereka. Setelah ku buka kado dari mereka, aku girang sekali karena Rossi memberiku cincin dan langsung ku pakai di jari manis sebelah kiriku. Lalu mengucapkan terima kasih padanya. Sekrang giliranku membuka kado dari Rere yang isinya ternyata tempat pensil warna peach dengan lambang boneka tomat dan booknote 3 dimensi yang tadi siang Rere beli bersamaku. Aku langsung menyukainya.
“Sorry ya Mi, aku tadi bohong sama kamu. Itu sebenarnya kado buat kamu” jujur Rere sambil nyengir kearahku.
“Nggak apa Re, thanks ya buat kadonya. Aku suka sekali” ucapku penuh senyum sore ini.
Sore ini Mamaku menyuguhkan kue tart yang dibeli Papaku tadi siang, kami memakannya kue itu penuh suka cita. “Akan selalu ku kenang kawan” batinku senang.
......................
Hari berikutnya saat di kelas, aku yang kelupaan belum memilih tempat duduk untuk study tour segera bertanya pada Irul. Teman sebangkuku sementara, karena Indri minta duduk dengan Luna. Aku yang akan memilih tempat duduk untuk studytour karena pembayaranku telah lunas.
“Rul, mau milih tempat duduk buat study tour kapan?” tanyaku.
“Hmm, kapan ya Mi. Aku juga bingung nih, soalnya aku kurang sedikit lagi bayarnya” jawab Irul.
“Apa besok Rabu gimana? Nanti kita duduk dibelakang Luna dan Indri” lanjut Irul.
“Oke deh Rul kalau gitu. Soalnya teman-teman sekelas udah pada milih tempat duduknya sih, takut kita nggak kebagian” cemasku.
“Iya deh Mi” senyum Irul.
Hari Rabu tiba, Irul yang telah lunas membayar study tour ke Jakarta-Bogor-Bandung akhirnya mengajakku untuk memilih tempat duduk di bis. Yup, kita berdua menyambangi Bu Rina wali kelas 8B untuk memilih tempat duduk nantinya waktu study tour. Aku dan Irul memutuskan untuk duduk di seberang Luna dan Indri.
Setelah menulis nama di daftar kursi untuk study tour, segera kami berdua meninggalkan ruang guru. Tiba-tiba aku teringat sesuatu”Oya, Fabian di kursi nomer berapa ya?” tanyaku dalam hati sembari berjalan menuju kelas 8B lagi. Sekembalinya aku dan Irul di kelas dilanjutkan bercengkerama dengan Luna dan Indri lagi. Lagi-lagi aku kelupaan saat ingin menanyakan lagi pada Fabian di kelas.
Siang ini kebetulan jam terakhir setelah jam pelajaran Ekonomi. Saat bel jam pelajaran kedua, teman-teman kelas 8B berhamburan keluar untuk melaksanakan pembiasaan solat Dhuhur di Mushola dekat kelas kami. Aku yang sudah selesai menunaikan Solat Dhuhur dan berdoa, kulihat Fabian masih mengantre tempat solatnya. Aku ingat sesuatu yang harus ku tanyakan padanya.
“Eh Fab, kamu tempat duduk study tour-nya dapat nomor berapa?” tanyaku.
Fabian menoleh saat tengah mengantre tempat solat. Lalu dengan melempar senyumnya, dia menjawab” Aku dapat kursi nomor 23-24 Mi”
“Oh, emang duduk sama siapa akhinya?” tanyaku lagi sambil manggut-manggut mengerti.
“Aku duduk sama Harry” jawab Fabian lagi.
“Hmm, syukur deh kalau udah dapat tempat duduknya” senyumku merasa lega.
“Oya, aku mau Solat Dhuhur dulu ya Mi” pinta Fabian saat akan melaksanakan Solat Dhuhur
“Oke Fab....” anggukku sembari akan melipat mukena yang aku kenakan.
__ADS_1
......................