First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Enam


__ADS_3

Aku merasa ada yang berbeda saat takdir mempertemukan dan mengenal Fabian sampai sejauh ini. Mungkin Fabian sendiri tak merasa apa yang tengah aku rasakan. Iya, karena tingkah aneh Fabian selalu saja buatku bertanya-tanya dalam hati. Seperti senyuman manisnya yang selalu dia berikan padaku, jujur sih saat senyum itu mengembang manis untukku tanpa sadar jantungku selalu saja berdegup kencang. Tapi, apa Fabian sadar dengan hal tersebut. Hal yang selalu membuatku salah tingkahataumungkin Fabian juga sudah tahu kali ya kala senyum itu mendarat manis dihadapanku yang selalu saja membuatku merona. Karena saat senyuman manis itu mengembang untukku, aku merasa pipiku panas seperti merona. Itulah yang kurasakan saat senyuman manis dari Fabian tak pernah hilang dari memoriku.


Hari ini saat pulang sekolah seperti biasa. Aku biasanya pulang bersama Luna, Tyas dan Gazela naik angkot. Tapi siang ini, aku tak ikut mereka bertiga ke persewaan komik. Jadi aku pulang terlebih dahulu tanpa mereka. Tapi aku juga menyadari satu hal. Aku merasa saat tak pulang bersama mereka bertiga, aku yang pulang sendirian itu tanpa sengaja bertemu Fabian yang pulang naik bis juga. “Tumben Fabian naik bis?” tanyaku dalam hati saat bis sudah berjalan dan mengantarkan kami menuju rumah masing-masing. Pertemuanku dengan Fabian saat di bis selalu saja membuat kami canggung. Yup, karena aku dan Fabian sama-sama terdiam. Entah apa yang akan dibahas siang ini saat di bis.


Akhirnya, aku memberanikan diri membuka pembicaraan dengannya. Walau aku tahu itu selalu membuat jantungku berdetak tak beratuan.


“Tumben kamu naik bis Fab?” tanyaku yang tengah berdiri di belakang.


Fabian mendongak saat aku menanyakan perihal itu. Lalu Fabian menjawab pertanyaanku. “Motornya dibawa bapakku luar kota Mi”


Mendengar Fabian menjawab begitu, aku hanya manggut-manggut saja. Tapi setelah itu aku dan Fabian saling diam lagi hingga akhirnya sampai juga di perumahanku. Aku yang siap-siap turun, tampak Fabian melihatku dengan hiasan senyuman manisnya. Aku membalas senyumannya dan berpamitan”Duluan ya Fab”. Saat mendengar aku berpamitan dengan Fabian, tampak Fabian membalas mengangguk dengan hiasan senyuman manisnya lagi. Segera aku turun dari bis, rasa salah tingkah langsung bergemuruh hebat di dadaku. Iya, aku tak bisa menyembunyikan rasa salah tingkahku siang ini karenanya.


Beberapa hari setelahnya itu, menjelang Ulangan Kenaikan Kelas semester 2 tepat tanggal 2 Juni 2009. Aku dipertemukan lagi dengan Fabian saat pulang sekolah. Iya, karena siang ini Fabian naik bis lagi dan kebetulan aku pulang sendiri lagi tanpa mereka berdua.


Awalnya, aku dan Fabian saling diam. Seperti biasalah tak ada bahan pembicaraan siang ini. Lalu aku membuka pembicaraan padanya.

__ADS_1


“Tumben nggak bawa motor kamu Fab?” tanyaku.


Fabian menoleh kearahku, tampak dia sedang berpikir. Lalu merespon.”Motornya di pakai Ibuku buat nganter adikku periksa”.


Mendengar Fabian merespon begitu, ekspresiku hanya manggut-manggut lagi seperti beberapa hari yang lalu saat aku menanyakan hal yang sama. Sementara Fabian kembali terdiam. Tapi entah kenapa, aku ingin menanyakan sesuatu hal lagi pada Fabian. Karena besok kebetulan sudah mengadakan Ulangan Kenaikan Kelas


“Fab, kamu ruang berapa?” tanyaku lagi mencari topik lain


“Maksudnya?” tanya Fabian balik.


Fabian tersenyum mendapati tingkahku seperti itu. Sementara aku masih berpikir tentang hal apa yang akan kutanyakan padanya.


“Ruangan apa? Test apa kamar hotel buat nginep besok waktu di Bali?” tanya Fabian sembari membantuku


Setelah ingat, aku langsung menanyakan lagi. “Ruang test besok itu Fab?”

__ADS_1


“Ruang 1 Mi besok aku” jawab Fabian.


Setelah mendengar Fabian menjawab begitu, aku hanya manggut-manggut saja. Karena sebentar lagi aku akan turun dari bis, sesampainya tujuan aku yang hendak turun kusempatkan berpamitan padanya terlebih dahulu. Ekspresi Fabian mengangguk dengan senyuman. Kemudian aku turun.


......................


Tak terasa kini sudah memasuki Ulangan Kenaikan Kelas lagi di kelas 11 SMA. Karena sebentar lagi akan menduduki kelas tertinggi, yakni kelas 12 SMA. Rasanya semakin tak sabar meninggalkan SMA dan berubah status menjadi Mahasiswa.


Tanggal 5 Juni 2009. Kini dua hari sudah Ulangan Kenaikan Kelas terlaksana di SMAku. Seperti kemarin, aku dan dua temanku menunggu Gazela keluar ruangan test. Aku, Luna, dan Tyas menunggu di depan ruang laboraturium komputer yang memang terdapat tempat duduknya seperti buk depan gerbang sekolah.


Hampir satu jam lamanya menunggu kelas 11 IA 1 keluar dan mungkin ini sudah masuk dua jam lamanya menanti teman special kami keluar ruangan test. Rasa jenuh mulai mendera kami bertiga saat kelas 11 IA 1 belum juga keluar dari ruangan. Iya, jenuh sekali rasanya.


Beberapa menit kemudian, kelas 11 IA 1 keluar juga dari ruangan test. Akhirnya penantian panjang menanti ruang Gazela berakhir. Lega juga setelah menanti ruangan Gazela keluar. Tapi ternyata yang keluar pertama kali adalah Fabian. Kulihat Fabian tengah berjalan seorang diri, tiba-tiba Fabian menoleh kearahku dengan senyumannya sembari mengatakan”Pulang Mi..” .


Aku terkejut ketika Fabian berpamitan denganku, refleks aku mengangguk dan tersenyum kearahnya sembari membalas.”Iya Fab”. Setelah langkah Fabian menjauh, degup jantungku langsung tak beraturan dan pastinya kejadian itu selalu buatku salah tingkah. Tapi aku sedikit heran, kenapa yang diberi senyuman Fabian hanya aku saja. Kenapa nggak sama Luna dan Tyas. Fabian kan juga kenal mereka, tapi yang dapat senyuman itu selalu aku doang. Saat Gazela turun dan menghampiri kami bertiga, lamunanku tentang Fabian tadi langsung buyar dan menggabung kepada mereka semuanya. Aku menggabung mereka dengan cara mengalihkan pembicaraan dan pura-pura melupakan kejadian tadi.

__ADS_1


......................


__ADS_2