First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Empat bulan kemudian, tepat bulan Ramadhan. Seperti biasa SMP mengadakan acara buka bersama. Aku semangat sekali saat menyambut Acara tersebut, rasanya semakin tak sabar dengan acara itu. Segera aku memberi kabar pada teman-teman SMP juga terutama Nurul, Stefani, Fabian, dan Rossi. Aku senang sekali setelah memberi kabar tentang berita Buka Bersama dengan teman-teman SMP. Selalu mendapat respon baik dari Fabian, karena hanya moment ini dan ulang tahunnya, Fabian membalas pesan singkatku. Entah kenapa, perasaanku benar-benar girang sekali kali ini. Benar-benar tak sabar menanti moment ini.


Akhirnya moment yang ditunggu-tunggu datang juga. Tepat tanggal 11 Juli 2014. Ternyata tepat ini juga aku dan teman-teman satu angkatan di SMP sudah menginjak satu dekade dan satu dekade aku kenal dengan Fabian (lumayan lama juga kenal Fabian).


Aku berangkat bersama Nurul dan Maya. Sementara dengan Stefani hanya bertemu di tempat buka bersama saja. Sebelum berangkat, aku sempat berkirim pesan dengan Fabian yang akhirnya datang juga di acara itu. Hampir teriak kegiarangan saat Fabian mengatakan bahwa dia juga ikutan. Walau sebenarnya aku mengelus dada dengan sikap Fabian di SMS yang masih seperti dulu. Sementara, Rossi tak bisa ikutan karena sudah terlanjur ikut acara Buka Bersama di tempat kerjanya.


......................


Aku, Nurul, dan Maya sampai juga di tempat acara buka bersamanya. Ternyata sampai sana menjelang maghrib dan aku segera menempati tempat yang sudah disediakan untuk acara buka bersama. Bertemu dengan teman-teman seangkatan membuatku senang sekali.


Disaat genting-gentingnya, ternyata handphone-ku sempat mengalami trouble. Aku menjadi badmood, karena saat membuka pesan dari Stefani tak bisa.


Saat Adzan Maghrib tiba, buka bersama di mulai. Aku langsung untuk berbuka puasa. Aku benar-benar tahu dengan kondisi handphone setelah ku restart dan mengaktifkannya lagi. Karena dalam posisi silent dan kumasukkan kedalam saku celana jeans-ku. Kulihat sekeliling teman-teman, belum melihat kedatangan Stefani dan Fabian.


Tanpa sengaja, pandanganku jatuh pada temanku yang tengah mengangkat telepon dan kulihat Fabian belum datang. “Apa itu Fabian lagi nelpon?” tebakku dalam hati. Tak lama setelah itu, ternyata Fabian datang juga. Rasa salah tingkah langsung bergelayut dihatiku, tapi hanya sesaat. Karena disebelah Fabian ada cewek. Aku terkejut mendapati itu, “Fabian udah punya cewek ternyata” batinku sedih sembari melihat Fabian dari jauh.


Saat Nurul melihat itu juga, dia berbisik padaku. “Masih cantik kamu Mi, ketimbang ceweknya Fabian”


Aku hanya tersenyum kecut untuk membalas bisikan dari Nurul. Aku pura-pura menahan perasaanku kini, nggak mungkin aku bilang kalau jealous di depan Fabian langsung. Sementara tak lama setelah itu, Stefani juga datang dan menggabung padaku dan yang lainnya.


Sadar bahwa tadi handphone kumatikan, aku terkejut mendapati dua panggilan tak terjawab dari Fabian dan Stefani. Saat Fabian akan mengambil makanan di hadapannya, aku menanyakan Fabian.


“Fabian, kamu tadi telepon aku ya?” tanyaku.


Fabian mendongak kearahku sembari melemparkan ekspresi cengiran kuda dan mengacungkan tanda V kearahku.


“Sorry ya nggak tahu aku kalau kamu nelpon” ucapku merasa tak enak hati dengan Fabian.


Fabian mengangguk penuh senyum dan melanjutkan makannya. Sementara aku juga meminta maaf kepada Stefani karena tak mengangkat telponnya.


“Tadi kamu telpon ya Stef? Sorry ya, aku nggak tahu” ucapku untuk Stefani.


“Nggak apa Mi. Santai saja” angguk Stefani dengan senyuman juga.


Entah kenapa Fabian heboh saat melihat Stefani.


“Stefani kan kamu?” heboh Fabian langsung menghampiri Stefani yang duduk di depanku.


“Iya, gitu dulu kamu lupa sama aku kan kata Mimi” dengus Stefani pada Fabian.


Entah kenapa, Fabian tiba-tiba meminta Stefani untuk menukar pin bb-nya. Membuat hatiku sangat kecut sekali.

__ADS_1


Fabian hanya diam saja saat Stefani bercerita tentang dirinya yang lupa akan dirinya kepada Maya. Aku langsung mengingat moment SMA itu lagi saat Fabian lupa dengan Stefani. Aku sangat geli saat mengingat kejadian itu. Tapi hatiku malam ini benar-benar kecut walau sudah mencoba bergabung dengan mereka. Saat pembicaraan berlanjut, aku hanya dicuekin mereka. Sementara cewek Fabian juga dicuekin, aku merasa tak mempedulikan. Gondok sekali. Setelah selesai menyantap makanan. Aku, Maya, dan Nurul menunaikan solat Maghrib. Sebelumnya, aku dan Stefani mengganggu Fabian.


“Silakan Mas, makanannya dihabiskan. Tuh ikannya juga masih banyak.”


Fabian mendongak mendengarkan kami mengganggunya, lalu hanya tersenyum dan meminta izin untuk melanjutkan makannya. Lalu aku mulai solat Maghrib.


Saat akan mulai mengumpulkan uang untuk membayar makanan. Aku mulai iseng dengan cara memberi candaan untuk Fabian, sebenarnya sembari menahan perasaanku malam ini.


“Lhoh Fab, seharusnya yang bayarin makanan yang kemarin itu habis ulang tahun” candaku padanya.


Fabian langsung merasa dan memberiku kode untuk diam, aku tertawa melihat ekspresi Fabian seperti itu. “Fabian masih ingat ternyata waktu aku ucapin ulang tahunnya lewat SMS itu” batinku senang.


“Iya Fab, mana makan-makannya?” tambah Stefani geli


”Umur udah tua juga, minta makan-makan” protes Fabian.


Aku dan Stefani tertawa saat mendengar Fabian memprotesnya begitu. Setelah menyantap makanan buka bersama malam ini, aku masih bergabung dengan mereka. Aku terkejut saat Stefani menanyai Fabian yang ternyata kerja di Mall yang selama ini aku singgahi bersama mereka.”Apa? Jadi selama ini? Pantas saja aku merasa dia kerja disana tiap pergi kesana” batinku selama ini merasa benar.


Saat semua lengah, kulihat Fabian bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Aku melihat sekitar saat merasa hanya aku dan Fabian saja yang dari SMA yang sama. Karena teman-teman SMP kebanyakan teman SMA juga.


“Fab, ini yang dari SMA yang sama cuma kita berdua doang?” tanyaku pelan pada Fabian.


Tanpa sadar, pertanyaanku terdengar oleh Maya. Lalu menanyaiku dan Fabian.”Kalian dulu satu SMA ya?”


Setelah itu Fabian juga melihat sekitar saat aku mengatakan demikian lalu mengangguk.”Iya, cuma kita berdua saja. Ini Buka Bersama SMP apa SMA sih?” tanya Fabian lagi seperti pertanyaan pada pesan singkatnya sebelum berangkat menuju tempat Buka Bersama.


“Buka Bersama SMP sih Fab” terangku sembari meringis kearah Fabian.


Ekspresi Fabian hanya manggut-manggut saja saat aku mengatakan seperti itu. “Amazing bener ini. Dari satu SMA yang sama hanya aku dan Fabian saja. Apa ini rencana Allah?” batinku langsung salah tingkah sekali dan mengingat bahwa Fabian masih sering mendatangi mimpiku.


Beberapa menit kemudian, Fabian menanyaiku balik. “Ini masih ada acara lagi nggak?”


“Nggak ada Fab, cuma nongkrong-nongkrong saja” jawabku untuk Fabian.


Setelah itu Fabian memutuskan untuk pulang bersama ceweknya malam ini. Saat Fabian akan menyalamiku, aku ingin menahannya tapi sadar bahwa di samping Fabian ada ceweknya.


“Mi....” pamit Fabian sembari menyalamiku.


Aku mengangguk penuh senyum untuknya sembari membalas jabat tangan saat akan berpamitan pulang. Kulihat Fabian akan meninggalkan tempat acara Buka Bersama, aku iseng mengatakan. “Fab, awas ya kamu lupa sama aku”


Fabian menoleh dan tersenyum lebar kearahku. Mendadak salah tingkah sekali mendapati tingkah lucu yang masih melekat pada Fabian. Setelah beberapa menit Fabian pulang bersama ceweknya, acara foto-foto dimulai. Aku merasa moment ini tak akan kulupakan, walau sejujurnya Fabian sudah mematahkan hatiku lagi. Tapi entah kenapa perasaan sebal itu hilang saat melihat wajah Fabian.

__ADS_1


......................


Setelah acara buka bersama, kami pulang ke rumah masing-masing. Nurul terlebih dulu mengantarkanku pulang ke rumah. Sementara Stefani dan Maya langsung pulang dengan melewati jalur yang beda.


Saat di jalan, aku masih merasa sedih saat membayangkan Fabian mengajak ceweknya tadi. Nurul mencoba untuk menghiburku saat ini juga. Walau Nurul juga tak menyukai pemandangan tadi sebenarnya.


“Sabar ya Mi” ucap Nurul.


“Iya Rul, udah biasa sebenarnya lihat Fabian lagi sama cewek” balasku. “Terbiasa nyesek maksudnya” lanjutku dalam hati.


Tak terasa, menjelang tidur ini. Aku masih saja terbayang-bayang saat moment tadi. Antara senang, sedih, patah hati, dan salah tingkah. Ekspresiku campur aduk menjadi satu. Aku yang dari tadi menahan perasaanku di depan mereka semua termasuk Fabian, tiba-tiba air mataku tumpah sebanyak-banyaknya dibalik bantal. Hatiku sesak sekali saat terngiang-ngiang kejadian Buka Bersama tadi. “Oke Fab, ternyata aku masih ada perasaan suka padamu tadi aku patah hati lagi karena kamu ngajak cewekmu. Aku ngajakin kamu Buka Bersama karena aku ingin bicara banyak sama kamu. Bukan dicuekin kayak tadi. Kamu lupa dengan tingkah anehmu waktu SMP-SMA dan tanpa sadar membuatku jatuh hati padamu. Sakit Fab, sakit” sedihku yang masih larut dalam tangisku malam ini. Aku tertidur malam ini juga dan sejenak melupakan sakit hati saat di tempat acara buka bersama tadi.


......................


“Ya Allah, aku sudah patah hati sebanyak tiga kali ini. Ya Allah, jika Fabian jodohku dekatkan padaku. Jika belum jodoh, jauhkan aku dari bayangan Fabian sejauh-jauhnya sampai aku tak ingat Fabian lagi” doaku yang benar-benar pasrah dengan perasaanku ini.


Ternyata setelah aku berdoa demikian, mimpi Fabian masih hadir di tidurku. Aku benar-benar sedih dan tak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah berusaha melupakannya, tapi masih saja mimpi itu hadir. Tapi semakin kesini aku sudah melupakan semuanya tentang sakit hati itu dan Fabian. Benar-benar lupa karena aku mulai fokus mencari informasi tentang lowongan kerja lagi.


Kali ini, aku benar-benar lupa lagi dengan Fabian dan benar-benar tak ingat lagi. Tapi dua minggu kemudian, tepat nuansa masih Idul Fitri. Nurul datang ke rumahku untuk sekedar silaturahmi dan sekalian meluruskan masalah dengan Gazela yang memang rumahnya satu perumahan denganku.


Sebenarnya aku malas sekali bertemu Gazela, tapi demi Nurul aku mengindahkan ajakan Nurul. Sesampai sana, aku rasanya ingin pulang ke rumah karena aku tahu pasti nantinya Gazela ujung-ujungnya menanyakan tentang Fabian padaku, aku berusaha diam saat Gazela tengah berbincang-bincang dengan Nurul. Tapi tak berapa lama, Gazela menanyakanku tentang Fabian.”Tuh kan, ngapain sih bahas Fabian lagi” sebalku dalam hati sembari membayangkan lagi bahwa Fabian sudah punya cewek. Sore ini, aku benar-benar menahan perasaanku saat Gazela masih menanyakanku tentang Fabian. Sangat malas sekali aku menanggapinya, hatiku sakit. Aku menanggapinya dengan setengah hati dan perasaan moody.


Saat akan pulang, aku sengaja meledek Gazela. Dengan tindakan itu perasaanku sedikit lega, karena ucapan ini sudah terpendam lama sekali untuk membalasnya.


......................


Beberapa bulan kemudian setelah kejadian buka bersama SMP itu. Kata Rossi aku mendapat undangan dari teman SMP yang kebetulan pernah satu kelas denganku sewaktu kelas 8 SMP. Setelah mendapat kabar itu, aku sengaja mengajak Stefani dan Fabian yang juga pernah sekelas denganku sewaktu kelas 8 SMP.


Tapi kata Stefani lewat telepon, Fabian tak bisa datang karena sibuk kerja di sebuah Mall. Stefani bercerita lagi padaku lewat telepon saat dirinya menanyakan Fabian nyusul kapan, lalu Fabian menjawab sudah putus dari pacarnya yang kemarin. “Hahh, secepat itu mereka pacarannya?” kejutku dalam hati sembari masih mendengarkan cerita dari Stefani. Pasti Stefani dapat kesempatan saat mengetahui Fabian putus dari ceweknya kemarin, kata Stefani sambil bilang pada Fabian kalau Fabian dapat salam dariku. Aku sangat terkejut sekali karena aku sendiri tak merasa menyampaikan salam pada Fabian. Otomatis, ekspresi salah tingkah langsung bergemuruh hebat di dadaku.


Tak lama kemudian, tepat Stefani menceritakan itu semua padaku. Aku mulai dibayangi Fabian lewat mimpi. Bahkan dalam mimpi tersebut, Fabian dan Fean mengatakan cintanya padaku, aku benar-benar dibuat bingung dengan apa yang akhir-akhir ini menimpaku lewat mimpi. Pada akhirnya yang masih bertahan untuk menyambangi mimpiku adalah Fabian. Kenangan demi kenangan semasa sekolah dulu berputar manis dibenakku lagi, aku semakin tak mengerti dengan semua ini. “Sebenarnya Fabian itu siapa sih buatku? Dari jaman sekelas dengannya sampai saat ini Fabian masih saja menyambangi tidurku. Padahal aku sendiri juga tengah melupakannya, tapi bayangan itu semakin jelas sekali” gelisahku dalam hati dan benar-benar aku tak mengerti dengan perasaanku kini. Sementara disisi lain, aku juga menyadari bahwa perasaanku sampai sekarang belum terucap langsung di depan Fabian.


......................


Fabian adalah seseorang pertama kali kutemui dengan sikapnya yang pendiam, asyik diajak ngobrol walau kadang harus sabar karena suka nggak nyambung, apa adanya, supel, friendly, murah senyum, baik hati, dan kadang nyebelin plus usil. Itulah special-nya Fabian menurut penilaianku selama enam tahun satu sekolah dengannya.


Sedangkan Wawan, sikap dan sifatnya hampir seperti Fabian. Aku menganggapnya sebagai teman baik yang lama-lama jadi sahabat. Sosok yang lumayan care, pendengar yang baik walau kadang sering saling mengejek, dia selalu ada buatku. Itulah special-nya Wawan menurut penilaianku selama setahun sekelas dengannya waktu SMA dan sampai sekarang aku masih akrab dengannya. Dua orang yang menurutku is the best dimataku. Saat ini, aku bukan ingin membandingkan mereka, tapi ingin menceritakan bahwa aku beruntung dan merasa bangga bisa mengenal baik mereka. Iya, Frist Love dan Best Friend-ku (dua jempol untuk Fabian dan dua jempol lagi untuk Wawan).


Tapi dari sekian cowok yang pernah kukagumi, yang bertahan sampai sekarang hanya Fabian. Entah apa alasannya apa, aku sendiri sampai sekarang tak pernah menemukan alasan yang tepat. Hanya Allah yang tahu kenapa aku selama ini diberi mimpi tentang Fabian, mungkin suatu saat aku menemukan teka-teki tentang semua ini. Sebenarnya, teman-teman dekatku mendukungku dengan Fabian. Padahal aku sendiri nggak tahu persis kenapa semua ini terjadi padaku. Termasuk Wawan sendiri juga menyupportku.


Kisah tentang Fabian memang sangat banyak dan pastinya tak akan ada habisnya, saking special-nya dia hampir aku dibuat gila kala mengingat semua pertemuan dari awal sekelas dengannya waktu SMP sampai dipertemukan lagi di SMA. Tapi di sisi lain aku dan Fabian tak pernah berkomunikasi, walau begitu dia masih seperti dulu saat ku kenal pertama kali. Sementara Wawan, aku sampai sekarang masih berkomunikasi baik dan tak pernah bertengkar sampai sekarang.

__ADS_1


◇End◇


......................


__ADS_2