
Hari pendaftaran SMA tiba.....
Hari ini aku yang mencoba mendaftar di SMA Negeri yang sudah aku inginkan dari SMP. Walau dengan NEM yang nyaris, tapi nggak ada salahnya mencoba di sekolah tersebut. Setelah bolak-balik mendatangi sekolah tersebut, esoknya ternyata pengumuman. Tapi aku belum keterima. Sedih banget, tapi tak apalah, anggap saja belum rejeki aku sekolah disana.
Tapi, hari Sabtu tanggal 7 Juli 2007.
Papaku mengajakku mendaftar SMA swasta umum yang entah kenapa aku membencinya. Rasa khawatir tak bertemu dengan teman-teman SMP dan nggak tahu juga alasannya kenapa aku tidak menyukai bersekolah di tempat tersebut. Tapi ternyata aku bertemu temanku cewek yang satu SMP denganku dulu. Selanjutnya saat masuk ruang wawancara siswa baru aku bertemu lagi dengan temanku cowok. Rasanya masih sedih karena masuk SMA tak sesuai harapan. Saat Papaku bercerita pada Kepala Sekolah yang kebetulan teman akrab Papaku di kantor sebuah Universitas Negeri memperlihatkanku daftar nama teman-teman yang asal dari satu SMP denganku lumayan banyak. Aku sedikit lega karena tak melihat nama Fabian disana.
Setelah beliau melihatkan daftar nama calon siswa baru, kemudian aku mulai di wawancara dan setelah itu Papaku masih berbicara banyak dengan kepala sekolah itu. Aku yang dari tadi diam, bingung mau ngapain. Aku tak sengaja menoleh ke belakang, melihat cowok dengan Ayahnya tengah mengantri mendaftar dan wawancara sepertiku tadi. Awalnya aku cuek dengan si cowok itu karena masih merasa badmood saat memutuskan untuk mendaftar sekolah ini. Tapi aku menoleh lagi karena merasa cowok itu tak asing bagiku dan tengah memakai seragam OSIS persis dengan SMP-ku dulu. Setelah sadar, aku menoleh lagi untuk memastikan kalau dia beneran Fabian dan bergumam pelan”Eh, itu cowok mirip Fabian deh”. Setelah sadar, ternyata itu beneran Fabian. “DUARRR!” Jantungku berasa meledak saat mengetahui cowok itu memang beneran Fabian.
Segera ku tanyai dia. “Lhoh Fab, kamu daftar SMA ini juga?”
Fabian menoleh lalu menggangguk padaku. Saat Fabian mengangguk, rasanya aku masih tak percaya dan lemas. “What?Satu sekolah lagi dengan Fabian?” batinku dengan perasaan tak karuan. Aku diam dan tak tahu harus berkomentar bagaimana lagi, tapi suara Papaku membuyarkan lamunanku.
“Itu temenmu?” tanya Papaku.
Aku secara tak langsung mengangguk lemas pada Papaku. Aku yang dari tadi diam mendengarkan Papaku dan Kepala Sekolah tengah berbicara, tak sengaja pandanganku beralih pada Fabian yang sudah di wawancara dengan Guru laki-laki. Tak lama kemudian, Fabian dan Ayahnya keluar ruangan wawancara. Ku pikir sudah pulang, ternyata saat aku dan Papaku akhirnya keluar ruangan wawancara bertemu lagi dengannya. Entah apa yang kurasakan saat itu. Tadinya aku disuruh masuk kedalam ruangan sempit yang bertuliskan”Ruang Tata Usaha”. Tapi saat aku yang hampir masuk ruangan dan hampir duduk dekat Fabian disuruh keluar lagi. Aku menanti di luar, kulihat Papaku tengah menanyai Fabian entah tentang apa. Aku yang dari tadi diluar dengan ekspresi diam, tiba-tiba ada salah satu teman dari sekolah lain tengah memperkenalkan diri padaku, dengan senang hati aku menyambut perkenalan tersebut sebagai teman baru.
Tak lama kemudian, aku melihat Fabian pulang bersama dengan Ayahnya, pertanda urusan pendaftaran sudah selesai. Ku pikir dia masih seperti dulu sewaktu kelas 9 SMP yang acuh dan tak peduli itu, ternyata saat lewat di depanku persis dia menoleh dan berpamitan padaku.
“Eh, aku pulang dulu ya” pamit Fabian dengan melemparkan senyuman manisnya yang sempat kulupakan.
Setelah Fabian berpamitan padaku, aku tersentak. Dadaku bergemuruh dahsyat lalu langsung menggangguk penuh senyum padanya juga. Kemudian Fabian segera pulang meninggalkan sekolah ini. Saat sadar itu ucapan pamitan dari Fabian aku masih merasa salah tingkah dan hampir teriak kegirangan.“Eh, beneran tadi Fabian pamitan sama aku?” batinku yang merasa masih tak percaya saat Fabian pamit denganku. Rasanya masih berasa mimpi saat Fabian baru saja berpamitan denganku.Tapi ini nyata dan aku sedang tak bermimpi.
Kejadian baru saja masih berputar terus di otakku, aku yang masih bengong sambil senyum-senyum nggak jelas dan membatin”Seriusan tadi Fabian pamit aku? Lagi kesambet makhluk apaan dia. Biasanya kalau ketemu aku diem”. Rasanya masih belum percaya dengan kejadian tadi saat Fabian berpamitan denganku, aku masih bertanya-tanya dalam hati. Dadaku tak henti-hentinya berdegup kencang. Saat pulang dari pendaftaran SMA, aku rasanya makin terbayang-bayang dengan kejadian itu. Mengumpat senyum dengan perasaan yang tak karuan membuatku ingin cepat-cepat bercerita pada Rere.
Sesampainya di rumah, aku sudah tak sabar bercerita pada Rere tentang kejadian saat mendaftar SMA.
Re, tadi aku waktu pendaftaran ketemu Fabian.
Pesan itu segera ku kirim pada Rere.
Tak lama kemudian, Rere menjawab SMSku.
Ciee, Tuh kan Mi kalo jodoh nggak bakal kemana, hahaa...
Saat SMS ku terima, segera ku jawab lagi SMS dari Rere.
Ah, kamu itu Re bisa aja.
Ih, kaget tauk waktu tahu aku pendaftaran ketemu dia.
Segera SMS itu ku kirim lagi pada nomor Rere. Setelah terkirim, beberapa menit kemudian Rere merespon.
Hahahaa... terima sajalah Mi, takdirmu itu.
Balasan dari SMS Rere dengan ekspresi tergelak.
Ah, Rere.. nyebelin deh satu sekolah dengannya lagi. Responku
Tapi Rere belum menjawab SMSku sampai sorenya. Kebetulan besok Minggu ada acara di Kendal, jadi sore ini aku melupakan sejenak tentang SMS Rere, walaupun masih terbayang-bayang jelas kejadian saat pendaftaran tadi. “Rasanya masih seperti mimpi saja, tapi kejadian siang itu ternyata nyata” batinku yang masih terselip rasa salah tingkah.
Kejadian itu masih melekat jelas diotakku, bahkan saat aku sudah sampai Kendal. Saat membaur dengan saudara-saudara dan Mbah Putriku disana, aku sejenak melupakan kejadian siang itu. Liburan di Kendal adalah rutinitasku saat liburan semester dan semenjak pindah di Semarang. Liburan disana, memang sangat kurasakan senang sekali. Karena mengingat masa kecilku dulu. Mengisi waktu luang untuk menanti masuk sekolah lagi.
Malam harinya saat sudah tertidur lelap, aku merasa mimpi itu datang lagi. Yup, siapa lagi kalau bukan mimpi tentang Fabian. Dalam mimpi itu, aku dan Fabian dipertemukan lagi dalam kelas yang sama.
Pagi ini sebelum mengadakan acara keluarga, aku tak sabar untuk berkirim pesan lagi dengan Rere lewat via SMS. Seperti biasa, aku duluan yang memulai berkirim pesan dengannya.
Pagi Re.... ah, semalam aku ngimpiin Fabian lagi nih.
__ADS_1
Curhatku pada Rere langsung.
Tak lama kemudian, Rere membalas SMS dariku.
Pagi juga Mi.. hahaa, emang mimpinya gimana Mi?.
Respon Rere dengan ekspresi geli.
Saat Rere menjawab SMS dariku, aku segera membalasnya lagi.
Huhu... aku mimpinya sekelas lagi dengannya.
Balasku dengan ekspresi sedih.
Beberapa menit kemudian, Rere merespon SMS dariku lagi.
Ciee.. asyik tuh mimpinya, hahaaa. Kan aku udah bilang Mi, kalau jodoh nggak akan kemana.
Ekspresi geli kini ku dapatkan lagi dari pesan Rere. Aku langsung merespon SMS dari Rere lagi dan bercerita lagi tentang hal kemarin siang.
Ah, Rere...Oya Re, aku kemarin lupa cerita sama kamu. Pas ketemu dia di sekolah itu, waktu pulang dia sempat pamitan sama aku lho.
Pesan ku kirim pada Rere lagi, tak lama kemudian Rere menjawab SMSku lagi.
Apa? Pamitan sama kamu Mi. Ciee, ciee Mimi. Tuh dia akhirnya nggak sombong sama kamu, hehe :D
Aku membalas SMS dari Rere lagi. Walau sebenarnya saat membalas SMS dari Rere aku tengah mengumpat senyum.
Huhh! Iya sih Re, tapi kayaknya lupa sama aku deh Re. Masa iya manggil aku EH gitu sih.
Segera pesanku ku kirim lagi padanya, selang beberapa menit kemudian Rere merespon SMSku lagi.
Geli Rere merespon curhatanku lagi.
Aku melanjutkan berkirim pesan lagi pada Rere. Fabian. Itulah trending topic yang selalu kuceritakan pada Rere, kisah tentang Fabian memang tak akan ada habisnya. Malah nggak habis-habis, dan selalu menjadi bahasan menarik. Yup, aku mengalaminya itu. Mengalami kejadian saat bersama Fabian pastinya.
......................
Tak terasa hampir dua minggu ini aku habiskan waktu liburanku di Kendal. Hari Kamis aku dan keluarga pulang ke Semarang, karena hari Sabtu aku masuk sekolah lagi untuk diberi pengarahan tentang MOS untuk hari Seninnya.
Hari Sabtu tiba, aku berangkat pagi seperti biasa. Saat aku turun dari angkot dan akan menyeberang menuju sekolah baruku. Aku terkejut karena di SMA tersebut kebanyakan dari teman-teman SMP dulu. Aku juga melihat Fabian tengah nongkrong di luar gedung SMA bersama teman-teman semasa SMP. Saat aku masuk ke area sekolah, ku lihat Luna juga. Aku menghampirinya dengan ekspresi senang
“Mimi......” sapa Luna penuh senyum.
“Hay Lun,” sambutku penuh senyum juga. “Akhirnya kita satu sekolah lagi ya”
“Kamu lagi, kamu lagi Mi. Bosen aku” protes Luna
Aku meringis kearah Luna. “Ih, gitu banget sama temen sendiri”
Luna hanya geli saat aku memprotesnya.
Menyenangkan sekali. Karena aku dipertemukan lagi pada Luna sahabatku dari SMP. Sementara Rere keterima di sekolah swasta kristen, Rossi keterima di SMA Negeri, Stefani keterima di sekolah swasta umum, Indah dan Irul keterima di SMK Negeri, dan Nurul keterima di sekolah swasta Islam.
Setelah itu kami masuk sekolah bersamaan.
“Lun, tahu nggak. Kita satu sekolah lagi dengan Fabian” ceritaku langsung.
Mendengar ceritaku, Luna tersenyum jahil sambil manggut-manggut. “Ciee, seneng nih satu sekolahan lagi dengannya” ledek Luna padaku
__ADS_1
“Apaan sih Lun, nyebelin tauk” sebalku.
Luna hanya tersenyum padaku dan mengajak mencari tempat duduk. Akhirnya kami menemukan tempat duduk di buk, depan laboraturium komputer. Dan berkenalan dengan teman-teman baru yang lainnya. Menyenangkan sekali, semoga ini untuk selamanya. Jam 7 tepat, kami para siswa-siswi baru disuruh baris di lapangan upacara sembari dipanggil sang kakak kelas untuk sekalian dibagikan kelompok MOS.
Ternyata aku berkenalan lagi dengan teman baru, Puji namanya. Saat berkenalan, ternyata kami dipertemukan satu kelompok. Dan lebih terkejutnya saat aku mengetahui satu kelompok dengan Fabian dan tak satu kelompok dengan Luna.
“Hahh, sudahlah terima saja. Ini memang jalan hidupku seperti ini” ungkapku sembari mendesah pasrah dan melangkahkan kaki untuk masuk kelas yang sama seperti Fabian.
Saat masuk ruang kelas E yang nantinya akan jadi kelas sementara untuk MOS. Aku duduk bersama Puji di depan. Aku makin terhenyak saat mengetahui satu kelas hampir berisi dari asal SMP-ku dulu.
Aku nggak mengerti dengan perasaanku sendiri, walaupun kejadian waktu bertemu Fabian saat pendaftaran itu. Aku merasa masih ada perasaan sebal di hati kala melihat Fabian, karena aku dan dia sama-sama terdiam saat dipertemukan satu kelas lagi. “Kok bisa gitu sih diem-dieman lagi?” batinku heran. Rasanya seperti aku sekelas lagi dengannya. Aku merasa cuek dan mengalihkan semuanya saat bercerita dengan Puji si teman baru.
Istirahat tiba, aku sudah tak sabar menceritakan ini kepada Luna.
“Luna....” panggilku saat melihat Luna yang ternyata dia bersebelahan dengan ruang MOS yang ku tempati.
“Hay Mi” senyum Luna sambil menghampiriku.
Saat aku, Luna, dan Puji bertemu. Ku kenalkan mereka berdua. Setelah mereka berkenalan, aku segera menceritakan apa yang terjadi di ruang MOS yang kini ku tempati.
“Lun..” panggilku lagi
“Iya Mi, kenapa?” sahut Luna.
“Tahu nggak? Aku satu kelompok MOS nih sama Fabian, berasa sekelas lagi deh” ceritaku dengan berbisik.
“Ciee, ciee.. asyik tuh satu kelompok dengan Fabian. Udah aku bilang kan kalau jodoh nggak bakal kemana” geli Luna merespon ceritaku.
“Ih, Luna ini ya” jawabku dengan ekspresi tersipu.
“Sudahlah Mi, terima saja takdirmu itu ya” kata Luna
“Iya, aku sudah terima sajalah Lun” anggukku pasrah sembari menghela napas.
Kemudian aku terdiam sembari memendam perasaan malu dan salah tingkah.
“Kalian duduk sebangku ya?” tanya Luna padaku dan Puji.
“Iya Lun” angguk kami.
“Luna itu sahabatmu ya Mi?” tanya Puji.
“Iya, dia emang sahabatku” anggukku.
Puji hanya manggut-manggut saja. Setelah bel masuk, kami melanjutkan kegiatan di ruang kami masing-masing sembari diberi pengarahan MOS untuk hari Senin.
Tak terasa waktu pulang pun tiba, aku pulang bersama Luna dan tak sengaja bertemu dengan Gazela teman sejak SD hingga sekarang. Saat pulang bersama dan sembari menanti bus, kami bercerita tentang hari ini di sekolah baru. Tepat di ruangan masing-masing. Maklum masih siswa baru, hehe.....
Sesampainya di rumah, aku segera menceritakan kejadian saat pembagian kelompok MOS kepada Rere. Mendengar ceritaku dari dalam telepon, Rere tergelak saat aku menceritakan hal tersebut padanya.
“Bener kan Mbak, aku sudah bilang kalau jodoh itu pasti ketemu. Tuh, buktinya kamu diketemuin lagi dalam ruangan MOS yang sama dengan Fabian” respon Rere yang masih merasa geli karena ceritaku.
“Ah Rere, nyebelin deh. Waktu Fabian masuk ruangan, aku lega. Tapi setelah mengetahui aku masuk kelas yang sama kayak Fabian, aku kaget” ceritaku
Mulai lagi nih curhat tentang Fabian lagi pada Rere. Mungkin Rere kenyang kali ya aku curhatin tentang dia terus. Akhirnya aku dan Rere lanjut bercerita tentang MOS untuk hari Senin.
Mulai Sabtu sore aku mempersiapkan bahan-bahan untuk MOS esok Senin. Ribet? Pastinya dong. Karena harus mempersiapkan bahan kertas karton untuk membuat nametag, topi kerucut berhiaskan cabai merah dan kacang panjang, kantong plastik warna hitam putih yang dibuat menjadi tas slempang, rompi dari kertas koran, ikat pinggang yang dikepang dengan tali rafia 5 warna, kalung yang berhiaskan (bawang merah, coklat koin, uang 100 koin, terasi), buku dengan sampul putih yang pastinya aku ambil dari balik kalender, kaos kali warna hitam putih, serta persiapan kuciran sebanyak 5 helai di rambut dengan warna kuning, dan beberapa persiapan yang lain dengan dibantu orang tua pastinya, hehe....
......................
__ADS_1