
Tanggal 5 Maret 2008. Kejadian yang sama terulang kembali sewaktu pulang sekolah. Siang ini kebetulan cuaca tengah mendung. Saat kami sedang berjalan keluar gerbang sekolah ternyata gerimis besar menyambut, akhirnya aku dan teman-teman berteduh di post satpam dekat gerbang sekolah. Walau basah kuyup sudah membasahi jaket, seragam sekolah, dan sepatu.
Aku yang masih berteduh disana bersama teman-teman, tanpa sengaja aku melihat Fabian lewat bersama temannya dan sedang tersenyum pada temannya. Entah kenapa kemudian Fabian melihatku juga dan melemparkan senyum manisnya lagi kearahku di depan Luna dan Puji. Seperti biasa, aku membalas senyuman darinya. Langsung jantungku berdegup kencang saat mendapatkan senyuman itu lagi.
Tanpa disadari Puji mengatakan. “Ciee, tadi dia senyum sama kamu lho Mi.”
“Iya lho Mi, dia tadi senyum sama kamu” sambung Luna membenarkan ucapan Puji.
Mendengar mereka berkata seperti itu, aku pura-pura menanyakan. Padahal aku sendiri juga melihat dan sudah membalas senyum dari Fabian.
”Eh, masa sih dia tadi senyum sama aku?” tanyaku pada mereka.
“Iya Mi, beneran deh. Tadi dia senyum sama kamu” terang Luna dengan tersenyum jahil padaku.
Aku tersenyum tersipu karena mengingat senyuman dari Fabian tadi sangat manis dan pastinya selalu terbayang-bayang.
Seperti biasa juga kejadian tersebut aku ceritakan ulang pada Rere. Mendengar cerita dariku, Rere tergelak dan meledekku seperti biasa yang selalu buatku makin salah tingkah.
Keesokan harinya saat aku nongkrong lagi dengan Puji. Dia bercerita banyak hal tentang Fabian lagi. Sebenarnya hatiku masih ada perasaan sakit kala Puji menceritakan semuanya tentang keakraban bersama Fabian di kelas. Puji bercerita padaku bahwa hari Kamis kemarin itu Fabian menawari Puji untuk pulang bersama setelah olahraga. Tapi Puji menolaknya. Saat mendengar ceritanya, ekspresi wajahku datar, perasaanku kecut dan aku berpikir bahwa kejadian itu tak mungkin terjadi. Hari demi hari Puji selalu menceritakan apa saja yang berhubungan dengan Fabian di kelas, dan polosnya lagi aku percaya-percaya saja dengan cerita yang disampaikan Puji padaku. Ternyata tanpa sadari membuatku semakin panas di hati. Aku sampai sekarang masih tak bisa mendeskripsikan perasaanku yang sebenarnya. Dari sini aku mulai merasa ada perasaan cemburu yang selalu bersemayam dihatiku.
......................
Aku semakin nggak mengerti dengan sikap Fabian akhir-akhir ini padaku apa. Iya, sikapnya yang terpancar dari senyumannya itu kala berpapasan denganku. Aneh banget, karena senyuman Fabian selalu buatku salah tingkah, jantung bergedup kencang, selalu buatku bertanya-tanya, sampai-sampai pipiku panas karena merona. Masa aku jatuh cinta beneran sama dia sih? Apa sebaliknya? Tapi kalau sebaliknya mana mungkin sih. Terus kenapa dia suka senyum-senyum nggak jelas gitu sama aku. Sementara itu, aku merasa mimpi tentang Fabian juga masih berlanjut sampai sekarang. Aku nggak sendirian, bahkan ada Luna dan Gazela yang selalu pulang bersamaku. Bahkan Puji juga selalu bersamaku. Saat senyuman itu hadir di kehidupanku akhir-akhir ini, aku merasa mengenal Fabian saat masih sekelas dengannya lagi.
Entah, malam ini aku seperti mimpi dengan kejadian aneh. Seperti biasa, mimpi itu terasa sangat nyata.
Aku yang tengah berjalan pulang masuk perumahan, tiba-tiba bertemu dengan teman semasa SD. Cowok, bernama Ferdi. Yup.. dulu semasa SD aku sering digosipkan dengannya. Kami dulu sempat saling diam kala berpapasan di sekolah.
“Mi....” panggil Ferdi yang berjalan disebelahku
Aku menoleh sembari menghentikan langkah kaki. “Eh, kamu Fer. Ada apa?” tanyaku merspon panggilan Ferdi.
“Eh Mi, denger-denger kamu jadian ya sama Fabian?” tanya Ferdi langsung.
Aku kaget saat mendengar pertanyaan Ferdi.”Dapet berita dari mana tuh kamu? Sok tahu deh” balasku langsung.
Ferdi tertawa dan mengatakan”Ya, denger-denger aja sih”. Aku hanya diam saja tanpa mengomentari Ferdi lagi.
__ADS_1
Aku kebangun, rasanya kaget saat memimpikan seperti itu. “Maksudnya apaan ya? kok gosipnya begitu sih” batinku bingung. Lalu melanjutkan tidurku lagi.
......................
Berjalannya waktu, senyuman itu tak pernah absen dari pandanganku. Aku semakin nggak mengerti dengan tingkah Fabian yang sekarang. Menurutku, dia selalu mencuri kesempatan saat tersenyum padaku. Tapi semakin kesini ada yang mencurigakan, yakni saat aku tengah duduk bersebelahan dengan Puji senyuman itu tetap mendarat manis di hadapanku. “Kalau Puji akrab sama Fabian di kelas, masa dicuekin sih? Harusnya senyuman itu juga buat Puji dong” heranku mengetahui hal tersebut. Bahkan setelah aku mendapatkan senyuman dari Fabian, Puji heboh sekali. Puji semakin sering bercerita tentang Fabian di kelas. Tapi hatiku berasa aneh, aku seakan dibakar cemburu kala mendengarkan Puji bercerita banyak hal tentang Fabian di kelas. Polosnya lagi, aku masih percaya-percaya saja dengan curahan hati dari Puji.
Di sisi lain, aku juga mendengarkan Gazela bercerita tentang keakrabannya dengan Fabian. Aku merasa semakin aneh, ada perasaan cemburu dan iri saat mendengarkan itu semua. “Ya Allah, kenapa sih semuanya jadi seperti ini. Emang salahku apa ya, kok bisa sih mereka melakukan itu semua padaku.”
Aku merasa di SMA ini perasaanku benar-benar di uji dengan mereka. Rasanya ingin balik lagi ke jaman-jaman SMP, dimana aku bersama mereka membaur menjadi satu dengan gelak tawa yang selalu kudapatkan dari mereka. Bukan seperti ini. Tapi aku masih bersyukur, kehadiran Luna selalu menghiburku, dia mungkin mengerti dengan apa yang tengah kurasakan kini.
Semakin Fabian sering senyum kearahku, semakin sering juga mimpi itu hadir untuk menyambangiku terus. Aku semakin nggak mengerti dengan maksud dari semuanya. Ada yang merasa aneh dihatiku. Tapi apa? Aku tak pernah menemukan jawabannya satu pun dari maksud mimpi tersebut. Aku juga merasa, kala tengah kagum dengan seseorang selain Fabian. Pasti malamnya Fabian datang ke mimpiku. Apa maksudnya ya?
Tanggal 11 Maret adalah dimana aku bertambah usiaku. Saat ini aku sudah berusia 17 tahun. Aku senang mendapatkan berbagai ucapan dari keluarga dan orang-orang terdekat pastinya. Aku ingin diusiaku kini dirayain, sekedar mengundang orang-orang terdekatku saja. Rere menyarankanku kalau mau ada acara menraktir ambil Sabtu saja. Karena esoknya libur, aku memutuskan hari Sabtu mengajak mereka untuk datang dengan tujuan ku traktir di sebuah Mall yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahanku. Termasuk Puji.
Segudang rencana telah kupersiapkan baik-baik. Tinggal menunggu hari special-nya saja.
Kamis, 13 Maret 2008. Aku kesiangan berangkatnya. Iya, karena tengah menanti masakan nasi goreng yang masih dimasak Mamaku. Jadi aku sarapan hanya sedikit saja.
Sesampainya di depan perumahan, ternyata sudah tertinggal bis yang seperti biasa aku naikin dan itu bis adalah langganan dari SMP. Dengan berat hati aku menanti bis belakangnya.
Saat masih menanti bis seorang diri dan berdiri, aku melihat seorang cowok tengah diantar Ibunya berangkat sekolah. Ternyata itu adalah Fabian. Seperti biasa, senyuman itu selalu dia lemparkan untukku. Aku refleks membalas senyuman darinya dengan degupan kencang. Lagi dan lagi aku merasakan salah tingkah sekali.
Saat ku lihat Puji ternyata dia sudah pulang. Agak kecewa juga mendapati itu, dia mengatakan padaku ingin membantu ibunya di rumah. Dengan berat hati aku terima alasannya dan memakluminya.
Kini aku, Luna dan Gazela naik angkutan untuk sampai ke Mall yang ku maksud. Di perjalanan.
“Mi, si Puji nggak ikutan?” tanya Gazela.
“Nggak Gaz, nggak tahu kenapa dia nggak ikutan” gelengku.
“Yaudahlah, nggak apa-apa Mi. Kan masih ada kita berdua” hibur Luna padaku.
Aku mengangguk penuh senyum pada Luna. Kami hening dan menikmati perjalanan sampai tujuan. Sesampainya disana tak butuh waktu lama untuk bertemu mereka. Segera ku traktir mereka, sebelumnya kami mengelilingi stand-stand di Mall tersebut terlebih dahulu. Setelah cukup lapar, kami segera makan yang berada dilantai 3. Yup, aku menraktir mereka. Kemudian aku diberi kado pada Rossi dan Rere. Aku memberi kado pada Rossi juga. Menyenangkan sekali hari ini. Setelah makan-makan kami melanjutkan jalan-jalan lagi dan pada akhirnya bertemu dengan teman-teman lama. Aku dan mereka langsung menuju ke photo box. Sabtu yang mengasyikkan dengan mereka.
Sesampainya di rumah, aku membuka kado dari mereka. Ternyata Rere memberiku sebuah MUG lucu bergambar kambing sesuai shio tahun kelahiranku. Sedangkan Rossi memberiku kado berupa Foto Box yang bisa dipindah-pindah piguranya dengan hiasan Winnie The Pooh. Aku menyukainya semua .
Malam harinya, tepat sehabis solat Maghrib. Tiba-tiba Stefani meneleponku. “Tumben Stefani telepon” batinku yang akan memulai mengangkat teleponnya. Setelah kuangkat, Stefani dalam kondisi menangis langsung menceritakan apa terjadi pada dirinya. Panjang lebar Stefani curhat padaku tepat malam minggu ini. Aku merasa kasihan pada Stefani yang mendapat perlakuan tak mengenakkan dari teman sekolahnya sama seperti yang kualami sekarang di kelas. Setelah cukup lama, tampak perasaan Stefani berubah menjadi tenang, kini telepon diakhiri dan aku segera menutup teleponnya.
__ADS_1
......................
Hari Seninnya, entah kenapa aku ingin cepat-cepat menanyakan alasan Puji tidak jadi ikutan bersamaku saat hendak ku traktir. Aku yang tengah di depan kelas Luna, melihat Puji yang menghampiriku di depan kelas Luna.
Dengan baik-baik ku tanyakan pada Puji langsung. “ Kemarin kamu nggak jadi ikutan kenapa? Padahal aku ingin kamu ikutan, biar kenal dengan teman-temanku”
Dengan ekspresi girang, Puji mulai menceritakan tentang hari Sabtu kemarin. “Sorry Mi, aku bener-bener sorry banget. Kemarin Fabian ngajakin aku nge-date di pasar swalayan yang deket sekolah itu sampe sore. Terus aku ditembak sama dia”
Mendengar cerita dari Puji, hatiku merasa dihantam balok kayu. Sakitttt sekali. Aku terdiam sesaat kala Puji menceritakan semuanya padaku. Rasanya spechleess dan hancur. Ekspresi emosi, marah, benci itulah yang kurasakan kini. “Masa Fabian begitu sih?” batinku sesak dan merasakan sedikit kecewa.
Lalu demi Puji kuusahakan tersenyum dan aku meresponnya. “Ciee, ciee yang habis ditembak. Terus-terus gimana tuh?”
“Aku dianterin pulang sama Fabian. Seneng banget” cerita Puji yang masih memasang ekspresi girang.
Mendengar cerita dari Puji, aku berasa ingin marah dengan mereka. Terutama dengan Fabian. Dan lebih mencengangkan bahwa hari ini kata Puji, Fabian kecelakaan dan tak masuk. Pokoknya aku benar-benar hancur rasanya. Setelah mendengar cerita dari Puji, aku kembali ke kelas dengan perasaan yang makin tak tentu. Hampir tak bisa berkonsentrasi karena mendapat berita yang menyakitkan hati, aku masih belum percaya dengan semuanya ini. Otakku bertanya-tanya dengan ini semua. Dalam hatiku mengatakan ”Kenapa kalau Fabian suka Puji, dia seringnya senyum-senyum kearahku. Kenapa Fabian begitu padaku. Aku jealous Fab”. “Makasih aja deh buat semuanya”.
Saat pulang sekolah, kejadian itu aku ceritakan ulang pada Luna dan Gazela. Mendengar cerita itu, mereka membelalak tak percaya. Setelah itu mereka menghiburku dalam kesedihanku.
“Nggak mungkin Mi, Fabian begitu. Puji itu bohongin kamu Mi” timpal Luna merasa tak percaya.
“Iya Mi, bener deh. Paling Puji bohong. Aku aja masih tak percaya dengan ceritamu,” sambung Gazela.“Entar deh aku tanyain ke Fabian” tambah Gazela.
“Aku merasa sih juga begitu” anggukku dengan masih merasakan sesak di hati.
Aku bingung dan tak tahu harus berbuat seperti apalagi. Sesak sekali hatiku. Setelah pulang sekolah, kemarahanku ku lampiskan ke diary-ku yang selama ini aku buat tempat curhat. Di diary-ku, ku curahkan kekesalan hatiku yang sedari tadi ku pendam dari pagi. Aku kesal sekali dengan Fabian. Hampir dua halaman kemarahanku kulampiskan di diary-ku. Ingin rasanya aku menangis.
Tapi entah kenapa rasa amarahku pada Fabian tak bertahan lama. Walaupun dadaku masih sesak saat mengingat cerita dari Puji yang katanya ditembak Fabian, tapi perasaanku tak bisa lama-lama untuk membenci Fabian.
Aku terdiam, entah apa yang kurasakan saat ini seperti kehilangan dia. Sebenarnya, hati kecilku merasa bahwa memang cerita Puji bohong sekali.
Dua hari setelah kejadian itu, aku memimpikan Fabian lagi di tidurku. Tiba-tiba aku merasa mendapat pesan singkat dari Fabian. SMS yang isinya.
Di hari jadimu, ku ucapkan selamat ulang tahun aja buatmu yang ke 17 tahun. From: Fabian.
Mendapati ucapan ulang tahun lewat SMS dari Fabian, ekspresiku langsung senang. Tapi aku bingung, dia dapet nomerku dari siapa. Perasaan aku nggak pernah tukeran nomer handphone sama dia.
Aku langsung tersadar dari bangun tidurku, karena kejadian baru saja ternyata hanya mimpi. Setelah sadar aku mengalami kejadian tersebut, aku hanya mendesah pasrah dan tanpa sadari jantungku berdegup kencang.
__ADS_1
......................