
Malam ini, aku yang akan memulai belajar terdengar telepon berdering. Setelah kulihat siapa yang menelepon segera kuangkat, karena telepon tersebut dari Stefani lagi.
“Hallo Stef” sahutku langsung saat merespon telepon dari Stefani.
Mendengar aku langsung merespon telepon darinya. Stefani langsung berteriak histeris. “Mimi, aku kangen sekali sama kamu”
“Sama kali Stef, aku juga kangen kamu” balasku membalas respon dari Stefani dari telepon juga.
“Kumpul-kumpul yuk. Kangen sekali sama kamu, Nurul, Luna sama Rere juga” pinta Stefani.
Aku meringis saat Stefani mengatakan demikian.”Kamu kesini Stef, main-main gitu” saranku.
“Iya Mi, aku ingin sekalimain ke rumahmu deh. Udah lama nggak main ke rumahmu” suara sedih Stefani terdengar dari dalam telepon.
Aku merasa geli mendengar Stefani mengatakan itu padaku. Walau sebenarnya aku juga merindukannya. “Kamu sih pakai pindah rumah jauh sekali” responku.
“Habis Mamaku sih yang nyari rumah jauh-jauh” cerita Stefani.
Cerita Stefani dilanjut lagi. Panjang lebar Stefani melepas kangennya lewat telepon dan ternyata Stefani juga curhat tentang seseorang yang tengah dekat dengannya sekarang. Aku mendengarkan curhatannya Stefani dan sesekali menanggapi curhatannya yang panjang itu.
Setelah Stefani panjang lebar bercurhat-curhat ria, akhirnya Stefani menyudahi percakapan lewat telepon ini. Yup, rasa kangen Stefani terbayar sudah setelah meneleponku dengan durasi yang cukup lama. Rasa telingaku sampai panas berasa dipanggang seperti baberque. Hahaaa.... peace ya Stef.
“Masih kangen sama kamu dan teman-teman kita” sedih Stefani yang masih lewat telepon.
“Hmm.. iya deh Stef, aku ngerti kamu masih kangen sama teman-teman. Mau dititipin salam ke siapa saja?” tawarku pada Stefani.
“Ke semua deh Mi. Sama Pandu dan Fabian juga boleh” pinta Stefani.
“Oke deh, ntar aku sampaikan salamnya Stef” balasku.
“Yaudah, teleponnya aku tutup dulu ya. Makasih udah dengerin aku curhat. Aku mau belajar nih, kan besok ulangan umum. Assamuala’ikum” pamit Stefani.
__ADS_1
“Iya Stef, sama-sama. Walaikumsalam” balasku.
Telepon segera ditutup Stefani, dan aku langsung melanjutkan belajarku malam ini dengan membaca materi di catatan dan LKS.
......................
Keesokan harinya tanggal 11 Juni 2009 aku yang berangkat ke sekolah seperti biasa pagi-pagi sekali karena ingin melanjutkan belajarku yang semalam. Maklum deh suasana masih Ulangan Kenaikan Kelaswajib belajar serius, hehe...
Sesampainya sekolah, suasana sepi sangat kurasakan sekali. Walau ada beberapa teman-teman yang sudah berangkat, termasuk Puji. Saat pandanganku tak sengaja jatuh pada Puji, langsung aku mengalihkan pandanganku ke buku LKS yang tengah kupegang. Jam pertama adalah ulangan TIK, materi kupahami sedikit-sedikit tapi masih ada yang belum kupahami dari materi itu.
Saat ulangan berlangsung, aku mengerjakan soal dengan sebisa mungkin walau ada beberapa jawaban yang harus mengarang alias menjawab sembarangan. Pada akhirnya selesai juga mengerjakan dengan kondisi kepala lumayan pusing setelah menjawabrumus-rumus tentang Excel ysng pastinya buatku semakin tak paham dan pasrah dengan hasilnya.
Setelah mengerjakan soal-soal TIK, giliran aku belajar Bahasa Jawa dan nantinya akan bertemu dengan aksara Jawa. Saat aku baru membuka satu halaman dan akan memulai belajar, tiba-tiba Lenny datang menghampiriku dengan membawakan dua undangan ulang tahun sweet seventeen-nyayang ternyata Lenny berikan padaku dan satunya untuk Gazela juga.
“Makasih ya Len undangannya” ucapku penuh senyum.
“Iya Mi, besok jangan lupa datang ya sama Gazela” pesan Lenny penuh senyum juga.
“Iya Len, Insya Allah ya” anggukku pada Lenny dengan senyuman lagi.
Segera kuantarkan undangan tersebut dari Lenny untuk Gazela yang berada di ruangan atas. Saat aku mencari Gazela di kerumunan kelas 11 IA 1, ternyata aku bertemu dengan Fabian yang tengah sibuk belajar. Aku menepuk pundak Fabian yang langsung membuat Fabian menoleh kearahku sembari menghentikan belajarnya.
“Fab, kamu dapat salam” kataku pada Fabian dengan cara mendongak kearahnya, karena Fabian berpostur tinggi.
“Dari Stefani lagi ya” tebak Fabian penuh senyum.
Aku langsung meringis sembari mengangguk saat tebakan Fabian ternyata benar. “Iya Fab, dapat salam dari Stefani”
Aku dan Fabian saling diam, tapi saat aku hendak beranjak dari sebelah Fabian tiba-tiba urung karena ingat sesuatu.
“Oya Fab, kamu punya teman TK namanya Lia ya. Dia anak SMA Negeri 9” tanyaku pada Fabian.
__ADS_1
Mendengar nama asing itu, Fabian tampak berpikir lalu merespon”Hmm, Lia? Wah, aku lupa tuh Mi yang mana orangnya” cengir Fabian.
Aku meringis sekali lagi kearah Fabian sambil manggut-manggut. “Soalnya dia cerita sih sama aku kalau kamu teman semasa TKnya Fab. Makanya aku tanya kamu” ceritaku pada Fabian.
“Hmm.. Yang mana sih orangnya? Aku beneran lupa Mi” tanya Fabian sembari mengingat-ingat.
Sementara aku sendiri juga nggak bisa mendeskripsikan bagaimana orangnya. Takut salah mendeskripsikannya, tapi kemudian aku merespon Fabian”Oalahh, heheee”
Sadar akan tujuanku kesini mengantarkan undangan ulang tahun Lenny untuk Gazela. Akhirnya aku mengakhiri percakapanku dengan Fabian yang tampak akan melanjutkan belajarnya.
“Oya Fab, bentar ya aku mau nganter undangan ulang tahun buat Gazela dulu” pamitku.
“Oke...” senyum Fabian.
Segera kucari Gazela untuk menyerahkan undangan ulang tahun dari Lenny. Setelah bertemu dengannya, segera kusodorkan undangan tersebut pada Gazela dengan keadaan keburu-buru. Aku segera beranjak dari ruangan kelas 11 IA1 dan akan menuruni tangga. Kulihat Fabian tengah membaca materi bahasa Jawa dengan serius lalu aku berpamitan padanya lagi.
“Yok Fab” pamitku lagi.
“Oke Mi” respon Fabian lagi sembari melihatku juga dan melambaikan tangan kearahku.
Cepat-cepat langkah kakiku menuruni anak tangga. Aku tengah merasakan aneh sekali dihati, iya aneh karena baru saja menyambangi ruangan milik Fabian. Untung saja aku segera beranjak dari sana, kalau tidak mungkin jantungku berdebar lebih kencang dan semakin salah tingkah karenanya.
“Dag-dig-dug”. respon jantungku tak menentu saat mengalami kejadian baru saja. Aku merasakan salah tingkah luar biasa. Iya, Fabian selalu saja buatku salah tingkah. Mengingat kejadian baru saja, aku hanya bisa mengumpat senyum tersipu sembari melangkahkan kaki menuju buk depan ruang laboraturium komputer dan ingin melanjutkan belajar lagi. Nyaris siang ini tak bisa buatku konsentrasi dengan peristiwa tadi. Demi nilai kenaikan kelas, aku memfokuskan belajar dan melupakan sejenak tentang Fabian. Walau kejadian itu tak mau pergi dari ingatanku dan terus merekam kejadian manis itu.
Saat ujian berlangsung, akhirnya aku bisa juga mengerjakan soal Ulangan Bahasa Jawa. Karena kebetulan di dalam ruangan yang kutempati mendapat pengawas Guru pengampu Bahasa Jawa. Sang guru berbaik hati dan siap membantu kami mengerjakan soal-soal tersebut.
Waktu mengerjakan sudah habis, teman-teman yang lain banyak yang sudah keluar. Melihat itu, aku juga ikutan keluar. Karena kalau tidak kepalaku tambah pusing memandang kertas jawaban. Saat aku keluar ruangan, ternyata masih sepi dan mereka bertiga juga belum keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, kulihat Luna dan Tyas baru saja keluar ruangan dan segera menghampiriku yang tengah memasukkan alat tulis ke dalam tas ranselku dan menunggu Gazela keluar ruangan juga. Tak butuh waktu lama, akhirnya pada keluar dari ruangan masing-masing termasuk ruangan kelas 11 IA 1.
Saat teman-teman yang berada di ruangan atas tengah menuruni tangga, mereka berhamburan keluar dan saat kelas 11 IA 1 keluar, pertama kali yang kulihat juga Fabian. Dia tengah berjalan dan melewati depanku, saat menoleh Fabian tersenyum kemudian berpamitan padaku. “Pulang Mi...”
__ADS_1
Lagi-lagi aku refleks karena Fabian berpamitan denganku, setelah itu kubalas penuh senyum juga sembari mengganguk.”Iya Fab”. Seperti biasa, saat langkah Fabian menjauh dadaku bergedup kencang sembari mengumpat senyum tersipu.
......................