First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Keseruan di kelas 12 IS 4, membuatku lupa akan Fabian yang telah mempunyai pacar. Lupa...lupa....lupa, mungkin dengan cara ini bisa membuatku move on darinya. Sementara, mimpi tentang Fabian sudah tak pernah menyambangiku tidurku lagi. Rasanya kali ini bebanku berkurang. Aku jalani saja apa yang tengah kuhadapi sekarang. Rasa sedihku sudah tergantikan oleh keceriaan di kelas, walau masih saja jadi bahan bullying Dangdung cs dan selalu saja membuatku naik darah.


Kehadiran Luna sebagai sebelahku plus sahabatku dari SMP, membuatku merasa terhibur karenanya dan melupakan sejenak tentang Fabian sepenuhnya. Di kelas 12 SMA ini, aku bersyukur sekali karena dipertemukan dengan teman-teman yang seru dan pastinya gokil habis. Kelas yang selalu buat para guru super sekali sabarnya menghadapi kelasku yang notabennya selalu buat ulah. Mungkin beberapa tahun kemudian, aku bakal rindu dengan suasana kelas ini.


Kelas 12 SMA itu kelas disaat-saat terakhir kita memakai seragam sekolah, seru-seruan bareng temen sekelas yang sudah dianggap saudara, kelas 12 SMA itu semua kudapatkan disini. “Bersyukurlah jadi aku yang masuk kelas ini. Walau ada sebagian teman-teman yang membuatku emosi dan jengkel, tapi masih ada yang berbaik hati padaku. Mereka ada yang mengerti aku dan menyupportku” ucapku dalam hati dengan perasaan bangga.


Hari ini, tepat pelajaran Kesenian. Menyenangkan sekali, karena memang mendapatkan guru yang menyenangkan juga dan pastinya baik hati. Berhubung minggu-minggu ini menjelang Ulangan Semester 1 di kelas 12 SMA ini. Beliau menyampaikan bahwa ulangan kesenian diganti dengan pertunjukan drama kelompok yang terdiri dari enam sampai tujuh orang. Seperti awal-awal sewaktu mendapat giliran kelompok. Aku berkelompok dengan Lisa, Dian, Angga, Setiadi, yang pastinya ada Luna juga. Drama kali ini bertemakan bebas. Yup, bebas untuk menampilkan drama apa saja nantinya. Ini berlaku dari kelas 10 sampai kelas 12. Aku sendiri sudah tak sabar menantikan moment-moment itu.


Hari-hari berikutnya, aku dan kelompok drama berdiskusi tentang penampilan drama sesuai dengan jadwal Ulangan Semester nantinya. Luna ternyata yang menulis naskah dramanya. Aku dan teman-teman hanya mengikuti jalan ceritanya saja. Nantinya tinggal memikirkan kostumnya saja yang akan digunakan saat pementasan, karena tidak terlalu menggunakan banyak properti.


Kini, selain mengikuti pelajaran seperti biasanya. Disela-sela waktu luang aku menghafal dialog naskah yang sudah dituliskan oleh Luna, walau kadang-kadang ada yang kelupaan dengan dialog tersebut.


Sibuk mengikuti pelajaran di sekolah, sibuk mengerjakan PR, sibuk menghafal dialog naskah untuk drama, dan sibuk belajar membuatku sepenuhnya lupa dengan Fabian.


......................


Ulangan Umum Semester 1 tiba. Aku mengerjakan soal-soal tersebut sebisa dan semampuku. Seminggu lamanya pelaksanaan Ulangan Umum Semester 1 terlaksana. Disisa-sisa pelaksanaan Ulangan Umum Semester 1, aku dan teman-teman kelompok drama berdiskusi lagi untuk penentuan kostum. Tapi ternyata ada insiden yang benar-benar aku tak mengerti, saat di kelas kulihat Luna mendiamkan aku.


Mendapati tingkah Luna seperti itu, aku semakin bertanya-tanya tentang tingkah aneh Luna. Saat kutanya, Luna masih saja diam. Aku sedih dan tak tahu harus apa. Saat menanyai Tyas dan Gazela, mereka juga tak mengerti apa yang tengah terjadi padaku dan Luna.

__ADS_1


Akhirnya aku bercerita pada Wawan lagi tentang Luna. Aku benar-benar sedih. Hampir tak bisa berkonsentrasi menghafal naskah dramanya karena masalah ini. Dan saat aku menyadari sesuatu tentang ucapanku di SMS, langsung terkejut. Padahal waktu itu aku hanya bercanda tentang kostum. Sedih, sedih, sedih. Itulah yang kurasakan kini. Luna masih saja mendiamkan aku sampai hari pementasan tiba. Tapi walaupun kami tengah konflik, Luna masih membantuku segala hal. Sementara aku sendiri masih tak enak hati dengan Luna atas insiden ini. Rasanya berdosa sekali.


Giliran kelas 12 akan pentas drama. Kulihat teman-teman kelas 12 IA 1 sudah siap dengan kostum dengan karakter masing-masing termasuk aku dan teman-teman satu kelompok.


Hatiku goyah saat melihat penampilan Fabian yang berbeda dengan memakai kemeja putih polos lengan panjang. “Fabian kece banget” kagumku tanpa sadar saat melihatnya dari kejauhan. Sadar bahwa Fabian sudah punya cewek, aku kembali sedih.”Oh iya, jangan terlalu berlebihan kagumnya. Dia sudah punya cewek” sadarku langsung fokus pada kelompokku siang ini.


Saat pementasan drama kelas 12 dimulai, aku melihat penampilan mereka bagus sekali. “Hebat ya, mereka pintar sekali actingnya” kagumku lagi. Aku melihat Fabian tengah berdiri di depan pintu aula, rasa ingin bertanya pada Fabian muncul. Segera kutanyai dia, bukan karena dia seseorang yang kusukai tapi hanya sebatas teman biasa.


“Fab, peranmu jadi apa?” tanyaku dengan bersikap biasa.


Fabian yang dari tadi asyik melihat penampilan teman-teman sekelasnya langsung menoleh saat aku menanyainya pertanyaan tadi.


Kuulangi pertanyaan yang sama untuk Fabian. Lalu Fabian menjawab dengan ekspresi seperti biasa penuh dengan senyuman”Peranku jadi kepala rumah tangga”


Mendengar itu, aku hanya manggut-manggut saja. Perasaan kagum itu muncul lagi dihatiku, lebih dibuat kagum lagi saat Fabian dan kelompok-kelompoknya maju mementaskan dramanya. Aku melihat acting Fabian juga keren. Siang ini aku benar-benar dibuat kagum olehnya walau hanya sesaat. Tapi setelah kelas 12 IA 1 selesai mementaskan drama, aku sudah lupa dengan apa yang baru saja terjadi atau anggap saja lupa beneran.


Menunggu giliran kelasku paling akhir membuatku sangat jenuh, tapi aku sudah hafal dengan dialog yang akan bicarakan nantinya. Waktu terus berjalan dan kini giliran kelompokku maju, baru tampil setengahnya sudah di berhentikan oleh guru kesenian karena durasi untuk teman-teman yang lain. Setelah semuanya selesai, kelas kami mendapat giliran membersihkan aula yang penuh sekali dengan sampah-sampah karena properti dari kelas 10 sampai kelas 12. Walau ada beberapa adik kelas dan teman seangkatan yang ikutan membersihkan. Rasa lega, senang dan puas terasa sekali dihatiku siang ini saat pulang sekolah.


......................

__ADS_1


Biasanya setelah Ulangan Umum Semesteran selesai, selalu diadakan class meeting. Tapi kali ini sekolahku akan mengadakan jalan sehat dan lomba-lomba untuk mengisi waktu class meeting ini. “Tumben, sekolah ngadain acara beginian. Tahun-tahun kemarin nggak ada” batinku.


Tapi di moment ini, ternyata Luna masih saja mendiamkanku. Aku semakin sedih mendapati itu. Rasanya menangis saat mengalami kejadian ini pada Luna. Berharap saat berganti hari, Luna bisa baik lagi denganku atau mengajakku bercerita panjang lebar.


Hari dilaksanakannya jalan sehat di sekolah tiba. Aku berangkat pagi seperti biasanya dan tak lupa membawa celana ganti untuk acara jalan sehat nantinya. Saat pembagian kaos yang bertuliskan AEROBIK untuk jalan sehat ternyata dibagi dua warna dengan tulisan berwarna merah dan biru.


Sebelum mengadakan jalan sehat, kami semua melakukan senam terlebih dahulu sebagai pemanasan otot. Setelah selesai, jalan sehat segera dilaksanakan. Berjalan dengan jarak yang lumayan jauh membuatku merasa lelah sekali. Rasanya ingin merehatkan kedua kakiku tapi rasanya nanggung sekali. Akhirnya kulanjutkan berjalan kaki sampai kembali ke sekolah lagi dengan keadaan lelah yang luar biasa. Aku berjalan sendiri tanpa mereka bertiga, langkah kaki kulanjutkan untuk sampai kelas yang berada di atas.


Aku yang berjalan pelan-pelan, tiba-tiba ada yang memanggilku yakni teman sekelasku untuk naik ke atas bersama. Saat aku dan temanku melewati depan ruangan laboraturium komputer, kulihat Fabian yang tengah duduk sendirian melepas lelahnya juga di buk depan laboraturium komputer tiba-tiba menyapaku dengan senyuman manisnya.”Mi....”


Aku terkejut sekali saat Fabian menyapaku lagi. Yang tadinya benar-benar lupa dengan sosok Fabian, kali ini langsung ingat Fabian lagi secara jelas. “Fabian negur aku? Nanti kalau ketahuan ceweknya gimana?” panikku dalam hati.


Tapi kubalas dengan senyuman kearahnya juga sembari mengeluh capek pada Fabian. “Kakiku pegel-pegel semua nih Fab” .


Mendengar keluhanku, Fabian kembali tersenyum padaku lagi dan aku segera berpamitan padanya untuk naik keatas tepat kelas 12 yang memang kelasnya berada di lantai atas. Setelah kejadian baru saja, aku masih tak mengerti maksud Fabian apa. Benakku selalu menimbulkan tanda tanya terus, rasanya seperti diraih lagi olehnya. Gimana tidak? Karena setelah kemarin-kemarin aku sedih melihat Fabian jalan dengan ceweknya yang ternyata teman sekelasnya, kemudian sudah berusaha melupakannya, sekarang Fabian menyapaku lagi.”Ada apa dengan Fabian? kenapa mendadak dia seperti ini lagi padaku? Jujur Fab, hatiku sedih sekali.” batinku semakin tak mengerti maksud Fabian apa. Sebenarnya saat Fabian menyapaku lagi, aku merasa salah tingkah lagi. Ingatan tentang Fabian benar-benar terekam jelas lagi dipikiranku.


Tepat di hari ini juga, aku kembali akur lagi dengan Luna. Aku segera meminta maaf pada Luna karena masalah kostum yang kemarin. Luna akhirnya memaafkanku.


......................

__ADS_1


__ADS_2