
Dua hari setelah Fabian menolak mentah-mentah atas tindakan konyol yang tak masuk akal itu. Waktu pulang sekolah, kejadian ini terjadi pada 30 Oktober 2008. Aku yang hendak menghampiri ketiga sahabatku untuk pulang bersama. Melewati depan kelas 11 IA 1 dan kebetulan berpapasan dengan Fabian yang akan telah keluar kelas. Aku yang merasa tak enak hati dengannya setelah kejadian dua hari itu, aku pikir Fabian marah dan tak tegur sapa lagi denganku. Ternyata dugaanku sebaliknya, Fabian yang melihatku langsung tersenyum lagi kearahku dengan mengangkat alisnya. Ekspresi terkejut kudapatkan lagi darinya. Refleks, aku langsung membalas senyuman dari Fabian yang selalu saja membuat jantungku berdetak kencang. Rasa malu pastinya hinggap dihatiku. Saat aku membalas senyuman dari Fabian, aku membatin heran.”Lhoh, bukannya kemarin dia ngatain aku ya? Kok sekarang ketemu aku senyum-senyum gitu sih”. Kejadian baru saja pastinya membuatku selalu bertanya-tanya dalam hati. “Apa maksud dari senyum yang Fabian kasih ke aku ya. Nggak ngerti deh” batinku lagi.
Bulan November menyambutku. Awal bulan ini pastinya memberiku sejuta harapan yang indah. Dan semenjak kejadian itu juga, aku mulai berhenti membohongi Puji. Karena aku sendiri juga semakin tak menyukai sikap dan sifat Puji yang terlalu itu. Walaupun Puji sudah berusaha baik padaku, tapi rasanya aku masih merasa sebal dan malas dengannya. Aku semakin acuh, cuek, tak peduli dengan Puji.
Lama-lama aku merasa masa bodoh dengan ketidakhadiran Puji di kelas, rasanya girang sekali saat Puji tak masuk sekolah. Bukan aku mendoakan sakit terus, tapi rasanya malas bertemu dengan orang yang mengakunya teman baikku. Hampir satu semester ini juga, aku telah mengetahui tingkahnya yang memang kelewat begitu. Aku merasa bahwa Puji sering meminjam alat tulis di tempat pensilku yang sengaja ku taruh di meja bangku tanpa se-izinku. Sama sekali tak punya etika sopan santun. Baguslah, kehadiran Puji di kelas membuatku selalu banyak-banyak berbuat sabar.
......................
Di samping itu juga, aku merasa Gazela pelan-pelan menusukku dari belakang. Yup, mentang-mentang sekelas dengan Fabian di kelas IA rasanya Gazela girang sekali menceritakan hal yang membuatku sakit hati karena kedekatannya dengan Fabian.
Entah deh, ngakunya temen baik dari SD. Tapi semakin kesini aku merasa ada yang tak beres dengan Gazela saat bercerita panjang lebar tentang Fabian. Tapi aku bisa apalagi, hanya diam yang bisa ku terima. Mengingat posisi Fabian bukan siapa-siapa untukku. Tapi perasaanku sakit sekali, aku merasa seperti jealous.
Di sisi lain Gazela juga menceritakan padaku tentang Fabian yang akhir-akhir ini mempunyai tempramen buruk semenjak kejadian aku di hasut oleh Gazela untuk menjadikan Fabian sebagai “Pacar Pura-Pura ku”. Hebat dan licik sekali Gazela bercerita seperti itu, seakan dia menyalahkanku atas semua ini. Padahal yang punya ide gila bin nggak waras ini adalah dirinya sendiri. Aku merasa Gazela pelan-pelan ingin merusak pertemanan yang sudah lama ini. Jelaslah! Aku mendengar cerita itu seperti di bayang-bayangi dosa terhadap Fabian dan pastinya semakin sebal dengan tingkah Gazela juga.
......................
Tak terasa bulan November mendekati akhir. Esok ini tanggal 25 November 2008. Aku yang seperti biasa berangkat ke sekolah. Ternyata ada pengumuman bahwa satu kelas di kelas 11 IS 3 sore ini mengadakan remidial olahraga voli. Aku terperanga juga mengetahui hal tersebut. “Pantas saja, nilai UTS ku dapet E” batinku sebal.
__ADS_1
Sore harinya pukul 15.30 .....
Semuanya berkumpul di lapangan olahraga yang letaknya di belakang kantin sekolah. Lebih terkejutnya lagi disana ternyata bertemu dengan kelas 11 IA 1. Karena remidialnya dua kelas itu disatukan.
Teman-teman disuruh lari mengitari lapangan olahraga yang luasnya cukup lumayan membuat kaki pegal-pegal. Aku ternyata tidak boleh diikutsertakan oleh sang guru. Setelah capek berlari-lari, ku lihat Fabian dan Pandu baru saja datang.
Dan ternyata remidial olahraga voli digantikan oleh memaasukkan bola basket di keranjangnya sembari men-driblle-nya. Tapi, saat aku giliran memasukkan bola di keranjang, guru masih saja melarangku. Akhirnya aku mundur. Melihat itu, Fabian dan Pandu yang berdiri di sampingku dan sang guruolahraga.”Kamu remidi apa Mi?” tanya Fabian terlebih dulu.
“Remidi Basket Fab” jawabku pilu, karena aku masih saja nggak boleh ikutan olahraga.
“Kamu remidi apa Mi?” tanya Pandu bergantian.
Ekspresi Fabian dan Pandu hanya manggut-manggut saja. Lalu aku menanyai Fabian balik. “Kalian sendiri remidi apa?”
“Remidi Voli nih” jawab Fabian sembari pandangannya ke teman-teman yang tengah olahraga.
“Remidi Voli Mi...” ulang Pandu menjawab sama seperti jawaban Fabian
__ADS_1
Dengan setengah hati, aku hanya memandang teman-teman berolahraga sampai selesai. Padahal aku sendiri sebenarnya ingin ikutan olahraga juga.
......................
Aku semakin nggak tahan dengan perlakuan Puji di kelas. Benar apa yang Tyas ceritakan padaku bahwa duduk di sebelah Puji hanya bisa membuat emosi semakin menjadi-jadi. Rasanya ingin cepat-cepat kelas 12 SMA dan tak bertemu dengan Puji lagi di kelas yang sama. Kalau perlu setelah lulusan SMA aku tak bertemu dengan Puji selamanya.
Siang ini kelasku tengah jam pelajaran Bahasa Indonesia dan perintah sang guru agar berdiskusi kelompok. Seperti biasa, kelompok hanya terdiri dari orang-orang itu saja. Padahal aku ingin merasakan juga berkelompok dengan yang lainnya.
Aku semakin badmood karena saat berdiskusi ria, yang bekerja dan memikirkan jalan keluar hanya aku dan temanku Taufik. Sementara Puji dan Budi hanya berdiam diri tanpa ikut memikirkan cara menyelesaikan masalah.
“Enak banget mereka nggak ikut-ikutan mikir. Masa iya yang mikir kita terus sih” keluhku pada Taufik yang tengah menulis sesuatu hasil diskusi tadi.
“Yaudahlah Mi, sabar saja. Mereka memang dari dulu begitu sih” respon Taufik.
Mendengar komentar dari Taufik, aku hanya bisa bercedak jengkel. Karena menurutku itu sangat tak adil sekali.
Hari-hari berikutnya aku menjalankan ini semua dengan setengah hati, karena menurutku perlakuan Puji benar-benar di luar batas. Membuat tak bersemangat saat di kelas. Inginnya sewaktu istirahat berkunjung di kelas Lenny yang berada di kelas 11 IS 4 atau nggak berkunjung di kelas Luna dan Tyas yang berada di kelas 11 IS 1.
__ADS_1
......................