First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Lima


__ADS_3

Lama-lama aku makin nggak ngerti deh dengan tingkah Puji. Di saat mendapatkan nilai bagus, selalu saja pamer padaku dengan cara mengipaskan kertas hasil ulangan itu di hadapanku. Tapi giliran aku mendapat nilai bagus, ekspresi Puji seakan tak suka denganku mendapatkan nilai yang diatasnya. Kurang kerjaan kali.....


Siang itu tengah jam pelajaran Sosiologi, sang guru menyuruh kami mengerjakan soal-soal yang ada di buku Pemkot. Aku terkejut saat melihat buku pemkot tersebut sudah terisi semua pada bagian pilihan ganda.


Mengetahui bahwa buku pemkot yang tengah kubawa telah diisi pilihan gandanya, mereka menyalin jawaban dengan cepat saat sang guru tengah keluar kelas. Tapi hal yang tak kusuka saat Puji ikut-ikutan menyalin jawaban itu juga. Tapi tingkahnya kali ini sengaja aku diamkan saja. 20 nomor mereka menyalin jawaban di buku pemkot yang tengah ku bawa akhirnya selesai juga.


Kini saat aku mulai mengerjakan soal tersebut, tampak Puji melirik buku pemkot yang ada dihadapanku dan kubiarkan Puji melirik itu jawaban. Setelah pilihan ganda selesai ku kerjakan, kini giliran soal uraian yang akan ku selesaikan. Saat aku menanyakan pada teman belakangku, ternyata mereka belum sampai di soal uraian, tapi giliran aku menanyakan hal tersebut baik-baik pada Puji. Tiba-tiba buku tulis dan buku pemkotnya ditutup seolah aku tak boleh mengintip jawaban darinya. Melihat itu aku bengong, dan ternyata Puji merespon dengan nada ketus”Baca dong! Dibuku ada kok”.


Aku terkejut sekali mendapati Puji merespon seketus itu padaku. Langsung ekspresiku melengos dan hatiku berasa gondok sekali. Aku mendengus kesal dan bergumam” Daripada kamu nyontek nggak itungan”. Tapi Puji tak meresponku lagi.


Setelah kejadian itu, aku menanyakan kepada Ayu lagi yang duduk di belakangku persis. Ayu terkejut saat mendapatiku menghadap ke belakang lagi dan menanyakan hal yang sama padanya. Aku langsung saja bercerita tentang apa yang terjadi baru saja. Ekspresi Ayu hanya manggut-manggut mengerti dan akhirnya memberiku jawaban di soal uraian itu.


......................


Menyesal. Itu kata-kata yang tengah berputar di otakku. Yup, menyesal karena telah berbagi cerita banyak hal bersama Puji dan menyesal telah menuduh Fabian yang nggak-nggak tentang kedekatannya dengan Puji. Rasa itu tak mau hilang dari ingatanku. Aku sedih karena aku tak mengikuti kata hatiku. Fabian yang tak tahu tentang apa-apa atas apa yang di rekayasa Puji. Sementara, Puji sendiri merasa tak punya salah denganku dan Fabian.


Orang yang aku anggap baik-baik ternyata menusukku dari belakang. Aku benar-benar menyesal sudah berteman sedekat itu dengan Puji. Lama-lama aku semakin cuek dan masa bodoh dengan sikap Puji saat di kelas. Rasanya ingin cepat-cepat meninggalkan kelas ini.Moment yang paling aku tunggu saat Puji tak masuk sekolah (bukan aku mendoakan dia sakit terus cuman malas saja ketemu orang penghianat seperti dia).


Hari-hari berikutnya aku semakin tak peduli dengan Puji. Karena aku sendiri tengah menanti moment disaat akan piknik ke Bali nantinya sesudah terima raport kenaikan kelas 12. Rasanya semakin tak sabar saja, karena aku sendiri ingin duduk bersama Luna. Tapi sayangnya Tyas nggak ikutan saat piknik ke Bali. Sedih sih, tapi masih ada mereka berdua yang ikutan kesana.

__ADS_1


Rencana saat piknik ke Bali, aku duduk bersama Luna dan saat itu aku belum melunasi pembayaran piknik.


“Ayo Mi, kapan kamu lunas bayar pikniknya. Keburu penuh lagi di bis 2” terang Luna saat aku menyambangi di kelasnya dan tengah bergabung dengan Tyas tanpa kehadiran Gazela di sini.


Aku hanya bisa meringis kearah Luna saat menanyai seperti itu. “Nggak tahu kapan lunasnya”


“Nanti kalau bis 2 penuh, kamu di bis 1 saja ya. Bareng-bareng kelas IA”sindir Luna dan aku langsung tahu maksud Luna.


“Ih, kamu Lun. Nggak ahh, aku maunya sama kamu” tampikku cepat-cepat dan menahan rasa tersipu


“Makanya cepetan di lunasin Mi” geli Luna.


“Iya, iya. Aku lunasin pembayaran pikniknya” anggukku yang masih terselip rasa malu.


......................


Mendengar berita itu, aku senang. Karena tak bertemu dengannya saat piknik ke Bali nanti. Tapi siang ini saat pelajaran Akuntansi, tiba-tiba Bu Sri Guru Akuntansi menanyai Puji yang tengah mengerjakan soal dan membuatku mendongak juga.


“Puji, kamu itu sudah nyicil bayar piknik ke Bali belum?” tanya Bu Sri

__ADS_1


Langsung Puji menjawab”Sudah Bu, saya sudah nyicil”. Mendengar Puji mengatakan itu, tampak Bu Sri tampak mengerutkan kening curiga.


“Masa kamu sudah bayar?” tanya beliau sekali lagi.


Puji menggangguk pertanda meyakinkan sang Guru Akuntansi, tapi beliau masih tampak mencurigai Puji. Kejadian tersebut membuatku semakin penasaran.


“Bener nggak tuh kamu udah nyicil?” tanyaku sembari melirik sebelahku.


“Bener kok Mi, aku udah nyicil” angguk Puji lagi dan melanjutkan mengerjakan Akuntansi


Saat Puji tengah melanjutkan mengerjakan Akuntansi, tiba-tiba Bu Sri membisikkan sesuatu padaku.”Paling Puji bohong tuh Mi”


Mendengar beliau mengatakan demikian, aku hanya tersenyum seadanya pada guru pengampu Akuntansi itu. Tiba-tiba aku membatin”Puji kan memang tukang bohong Bu. Saya aja di bohongin, apalagi Ibu”.


Beberapa hari kemudian saat jam pelajaran Sosiologi di jam terakhir, tiba-tiba aku disuruh ke ruang guru yang letaknya dilantai 2. Segera aku kesana, dan benar saja aku ditanyain macam-macam tentang Puji yang menyicil pembayaran uang untuk ikutan piknik ke Bali. Bu Sri mengatakan bahwa Puji belum sama sekali menyicil uang untuk membayar piknik ke Bali saat menanyakan hal tersebut kepada sang Ibunya. Dan saat kedatangan guru Sosiologi dari kelasku mengatakan hal yang sama. Aku terkejut dan semakin benci dengan perlakuan Puji.”Ngeselin dia emang. Ngaku-ngaku udah nyicil pembayaran untuk ikutan piknik ke Bali ternyata belum sama sekali” batinku dengan perasaan kesal sekali.


Duhh, di ruang guru siang ini berasa diintrogasi dengan bejibun pertanyaan tentang Puji yang memang notabennya tukang bohong. Dengan keputusan yang sama akhirnya Puji tetap tidak boleh mengikuti piknik ke Bali. Saat kembali ke kelas, rasa badmoodbergelayut langsung di hati. Merasa sebal, makin ilfill dengan tingkah Puji yang pandai bersandiwara. “Dasar troublemaker. Nyesel aku temenan sama kamu si tukang bohong” batinku semakin jengkel sembari menatap sengit ke arah sebelahku.


......................

__ADS_1


Akhirnya aku dan Luna mendapatkan tempat duduk untuk piknik ke Bali di bis 2. Tempat duduk di belakang. “Syukur deh, masih dapat tempat duduk di belakang, dengan memesan tempat di waktu akhir-akhir” ucapku merasa lega.


......................


__ADS_2