First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Minggu, 25 April 2010. Dimana sekolahan mengadakan acara Promnight sederhana yang diselenggarakan di halaman SMA kami. Di acara Promnight sederhana ini, cewek menggunakan baju berwarna hitam dan cowok menggunakan baju putih. Lagi-lagi hatiku dibuat goyah saat kulihat Fabian datang dengan mengenakan kaos biasa berwarna putih, dia terlihat kece sekali.


Aku seperti biasa membaur pada ketiga temanku Luna, Tyas, dan Gazela sembari menanti acara di mulai. Sementara aku dan teman-teman lainnya dihinggapi perasaan was-was karena esok hari sudah pengumuman kelulusan. Acara berlangsung lancar dan malam ini ternyata pemutaran video. Aku tercengang karena video itu berisi ketika aku dikerjain habis-habisan oleh Dangdung cs. “Astaga! Mereka parah sekali muterin video gila ini, bikin malu saja” batinku merasa sebal sekali.


Belum lagi saat Jeprex mengambil mic waktu naik ke panggung dan mengatakan bahwa Dangdung suruh menghampiriku yang sedang duduk dibarisan paling belakang. Aku langsung berlari dengan keadaan perutku masih nyeri sekali. “Sumpah! Mau ditaruh dimana mukaku kalau mereka belum puas mem-bully-ku sampai separah ini. Mana di depan teman-teman seangkatan lagi” gerutuku sembari menghindari mereka yang terus-terusan mengejarku dalam kondisi perutku nyeri karena hari kedua haid. Kulihat Fabian dan Wawan ikutan geli melihat kejadian gila ini. Saat aku merasa mereka telah menjauh, aku bersembunyi di belakang Fabian sembari mengatur nafas.


Benar-benar malam ini sangat memalukan, aku tak ingin mengingat kejadian Promnight ini. Rasanya ingin cepat berganti hari esok, esok, dan esoknya lagi sampai tak bertemu dengan mereka lagi.





Keesokan harinya, tepat tanggal 26 April 2010. Dimana hari ini pengumuman kelulusan SMA serentak di Indonesia. Rasa deg-degan semakin bergemuruh dihatiku. Tegang sekali pastinya, aku yang sudah stand by di sekolah ternyata belum juga keluar hasil pengumumannya. Segera aku dan ketiga temanku menuju ke warnet untuk melihat hasil pengumuman kelulusan. Sesampaimya disana, kami berempat segera memasukkan ID dan Password masing-masing. Mereka bertiga tampak girang setelah dinyatakan tidak mengulang alias LULUS. Tapi giliranku saat membuka ID dan Password untuk membuka hasil pengumuman, ternyata belum dinyatakan lulus. Aku shock, sedih, lemas, dan spechleess bercampur aduk juga dihatiku. Benar-benar hancur siang ini saat aku mengtahui hasil pengumuman tak sesuai dengan ketiga temanku. Aku menangis karena sedih sekali mengetahui hal buruk terjadi padaku. Aku merasa gagal kali ini, walau mereka bertiga sudah berusaha menghiburku. Tapi hatiku benar-benar hancur sekali. Segera kuceritakan pada teman-teman terdekatku termasuk Wawan yang akrab denganku semenjak ada di kelas 12 IS 4.


Mereka mengetahui hasilku segera menyupportku untuk lebih giat lagi dalam belajar. Wawan awalnya tak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Sampai malamnya Wawan meminta ID dan Password-ku untuk mengecek hasil pengumuman milikku. Setelah tahu aku dinyatakan belum lulus alias mengulang. Wawan semakin sering menyupportku. Bahkan Wawan rela tak membalas pesanku karena aku tidak boleh gagal lagi kala mengulangnya nanti. “Subhanallah Wawan memang baik sekali denganku. Disaat aku jatuh begini, dia masih mau menyupportku. Sorry ya Wan, dulu aku sempat hampir naksir kamu yang lebih pantas aku jadikan sahabat ketimbang aku taksir seperti Fabian” batinku bangga pada Wawan.


Sebenarnya, aku juga ingin bercerita pada Fabian. Tapi kenyataannya aku tak punya contact Fabian. “Gimana ya reaksi Fabian saat aku dinyatakan belum lulus kali ini?” tanyaku dalam hati dengan perasaan sedih. Disaat-saat seperti ini, rasanya ingin di support Fabian juga, tapi memang aku sendiri tak punya contact-nya jadi hanya bisa aku pendam saja. Dan saat kelulusan itu, aku tak pernah mengerti tentang kabar Fabian lagi. “Mungkin Fabian sedang prepare untuk melanjutkan kuliahnya ke luar kota.Entah jadinya Fabian meneruskan kemana” tebakku dari dalam hati.


Aku semakin fokus dan sibuk mempersiapkan materi untuk kegagalanku kali ini. Aku optimis pasti aku kali ini dinyatakan LULUS. Sebulan kemudian, ujian ulang dimulai, aku mengulang dua mata pelajaran. Aku fokus dengan apa yang tengah kuraih saat ini. Bahkan sedikitpun mengingat Fabian pun tidak, karena aku memprediksi dia sudah jauh di luar kota. Mungkin dengan cara ini aku bisa cepat melupakannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian pengumuman tiba, akhirnya aku dinyatakan lulus juga dari pihak sekolah. Semua teman terdekatku merasa bangga apa yang telah kuraih sekarang termasuk Wawan. Dan berkat Wawan juga aku sangat berterima kasih padanya atas support yang selama ini dia beri untukku.


Setelah berlelah-lelah bertemu materi Ujian Nasional karena mengulang, aku disibukkan lagi dengan belajar lagi untuk menghadapi Ujian Mandiri D-III di Universitas Diponegoro. Berbulan-bulan kemudian, setelah aku mengerjakan test masuknya. Ternyata masih menunggu pengumumannya lagi. Aku girang sekali saat dinyatakan keterima di Universitas Diponegoro walaupun melalui jalur D-III. Rasanya seperti mimpi saat dinyatakan keterima di Universitas yang selama ini aku inginkan dari kecil. Aku merasa bangga sekali kali ini. Teringat pepatah”Kegagalan adalah kunci keberhasilan”. Akhirnya Bulan September 2010 aku resmi menjadi mahasiswa di Universitas negeri ini. Teman-teman terdekatku juga ikut senang saat mengetahuiku masuk Universitas Diponegoro. Iya, Universitas favorit itu yang isinya orang-orang jenius. Wawan juga bangga dengan apa yang aku raih sekarang.


Tapi senangnya Wawan saat aku keterima di Universitas negeri, tak membuatnya bangga pada diri sendiri. Wawan ternyata masuk Universitas swasta. Mengetahui hal tersebut, aku bergantian untuk menyupportnya dan mengatakan bahwa masuk Universitas mana saja tak jadi masalah. Asal kita mampu. Sementara, dibalik keberhasilanku masuk Universitas negeri di Semarang. Ternyata Rere harus pindah lagi ke tempat tanah kelahirannya, Palembang. Aku sedih sekali, bahkan sampai menangis saat Rere berpamitan padaku akan pindah di Palembang. Rossi keterima di STIFAR, Tyas keterima di Universitas Swasta, Stefani dan Nurul keterima di Unnes, Gazela keterima di Polines, dan Luna keterima di Undip sepertiku juga.





Kini saatnya kesibukan menjadi Calon Mahasiswa Baru dimulai. Kegiatan demi kegiatan seperti Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru, Kegiatan OSPEK dilaksanakan saat bulan Ramadhan. Aku girang sekali saat mendapati satu fakultas dengan Luna. Yup, senangnya yang bertemu dengan Luna terus dari jaman SMP sampai kuliah ini. Luna keterima di jurusan s1 Sastra Jepang.


“Loe lagi, Loe lagi. Ahh, bosen Gue” protes Luna mengetahuiku satu kampus dengan Luna lagi.


Luna membalas dengan cara berdecak, aku semakin tertawa melihat ekspresi Luna seperti itu. Awal-awal menjadi mahasiswa memang butuh adaptasi ekstra, karena teman-teman kampus tidak hanya dari dalam kota. Bahkan ada yang dari luar kota sampai luar jawa.


Menjadi mahasiswa baru dengan teman-teman baru juga, membuatku mengenal teman yang bernama Indri. Walaupun begitu, aku masih tetap bersama Luna diberbagai kesempatan. Yah, mungkin di kampus ini juga aku bisa sepenuhnya melupakan Fabian. Ini awal dimana aku harus lebih beradaptasi dengan yang lainnya.


Sebenarnya sewaktu Lebaran tiba, aku mengirim sesuatu di dinding facebook-nya Fabian untuk mengucapkan Hari Raya Lebaran. Tapi belum di balas oleh si empunya akun.

__ADS_1





Siang ini saat pulang kuliah, aku bertemu dengan Ussi teman sedari SMP sampai SMA. Ussi meneruskan kuliahnya sama seperti Gazela dan tenyata mereka satu jurusan.


Saat bercerita-cerita, Ussi tiba-tiba bercerita padaku tentang Fabian. Ussi bercerita Fabian kuliah di Universitas swasta, entah dimana Ussi lupa namanya.


“Luar kota kan dia kuliahnya?” tanyaku pada Ussi.


“Nggak tahu juga Mi, sepertinya dia masih di Semarang. Tapi dimana gitu aku lupa” terang Ussi.


Aku terkejut saat Ussi mengatakan bahwa Fabian masih berada di Semarang. “Seriusan tuh Fabian nggak jadi ke luar kota? Fabian masih di Semarang?” batinku terlonjak karena terselip rasa senang.


“Oh, aku kira jadi ke luar kota dia” responku.


“Kayaknya sih nggak kok Mi, Fabian masih di Semarang” terang Ussi lagi


Aku hanya manggut-manggut saja. Tiba-tiba rasa penasaran tentang Fabian muncul. “Dimana ya sekarang kuliahnya?” tanyaku dalam hati.

__ADS_1





__ADS_2