First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Bulan September tiba, tapi kegiatan Praktik Kerjaku masih berlanjut. Sementara kuliahku sudah mulai masuk juga dengan statusnya semester 5. Di bulan September ini, kegiataku menjadi double. Yakni dari pagi sampai siang Praktik Kerja, siang sampai sorenya melanjutkan kuliah. Kegiatan ini kulakukan hingga satu bulan kemudian. Walau rasa capek mendera, tapi inilah perjuanganku saat kuliah.


Tak terasa, sudah memasuki akhir bulan. Tepat ini tanggal 28 September 2012. Hari Jumat aku memang tak mengikuti Kegiatan Praktik Kerja, karena ada kuliah pagi dan seperti biasa sampai sore hari, karena di semester ini aku juga mengulang mata kuliahku. Belum lagi tengah menyusun laporan hasil Praktik Kerja.


Malam ini, aku yang tengah melepas lelah dengan cara menonton tv. Karena sampai rumah pukul 17.30. Iya, rasanya sangat lelah sekali malam ini dan rasa kantuk sudah menghinggap.


Saat tengah asyik-asyiknya menonton tv, aku mendapat SMS dari Okta.


Eneng..... lagi apa kamu?


Aku yang dari tadi asyik menonton tv belum sadar akan adaSMS dari Okta. Saat aku meraih handphone, aku tersenyum membaca satu pesan di terima dari Okta. Segera kubalas pesannya.


Lagi nonton tv nih, heheee....


Kamu sendiri lagi apa neng?


Pesan segera kukirim lagi pada Okta. Tak berapa lama kemudian, Okta membalas pesanku lagi.


Lagi tiduran saja neng


Kamu lagi nonton tv apa?


Pesan segera kubalas dan ku kirim lagi pada Okta lagi. Dan kita mulai asyik berSMSan ria. Aku yang dari tadi fokus melihat tv, malah semakin fokus dengan SMS dari Okta.


Perasaan senang berubah menjadi terkejut saat Okta membalas SMSku lagi.


Neng, aku minta maaf ya sebelumnya


Bukan maksudku untuk merusak persahabatan kita


Tadi Fabian nembak aku pakai nomor Awan


Tapi aku belum jawab SMS dari Fabian.


Rasa percaya tak percaya bergelayut dihatiku. Entah kenapa, yang tadinya aku biasa saja tiba-tiba aku merasa mataku langsung berkaca-kaca. Sedikit demi sedikit air mata itu tanpa sadari tumpah di pipi dan mulai basah di pipi.


Rasa sakit, perih, dan merasa dijatuhkan lagi yang kedua kalinya dengan sikap Fabian yang menghipnotisku. Iya, aku menyadari bahwa aku terhipnotis oleh senyum dan sikapnya selama ini. “Mi, sabar kan hatimu ya. Mungkin Fabian bukan cowok baik-baik seperti yang kamu kira” kataku pelan sembari menenangkan perasaan kalutku.


Tapi kenyataannya, air mataku tumpah sebanyak-banyaknya. Aku sampai tak tahu lagi harus bagaimana. Benar-benar sakit sekali hatiku dan merasa kehilangan sosok Fabian yang baik itu. “Ya Allah, apa ini yang namanya patah hati? Hatiku sakit sekali” gumamku yang masih tak percaya dengan cerita dari Okta.


Sembari menahan tangisku, aku membalas pesan dari Okta lagi.


Neng, masa sih Fabian nembak kamu?

__ADS_1


Setelah ku kirim pada Okta. Tak lama kemudian, Okta membalasnya lagi.


Iya neng, Fabian nembak aku


Ini saja sampai Awan marah-marah sama aku karena Fabian nembak aku


Sabar ya neng...


Udah, kamu fokus dengan laporan kerja praktikmu saja neng.


Setelah membaca pesan dari Okta, rasanya masih spechleess sekali. Perasaan perih, lara, dan sakit hati yang amat sangat masih berkabung di hatiku. Kenangan demi kenangan yang dulu manis, seakan pecah menjadi serpihan-serpihan yang mungkin mustahil untuk disatukan lagi. Kalut dan kalut sekali perasaanku kini.


Untungnya besok Sabtu ada acara di kampus, jadi rasa sedihku sedikit terobati dengan bergabung bersama teman-teman seangkatan.


......................


Seminggu...


Sebulan....


Dua bulan......


Memang butuh waktu lama untuk menerima kenyataan pahit ini dari Fabian. Rasanya benar-benar hancur sekali hatiku saat ini.


Berjalannya waktu, rasa benciku pada Fabian hilang. Rasa benci itu tak bertahan lama dan bodohnya aku mempunyai prinsip mengenal Fabian dari awal lagi. Seperti pagi ini saat aku merasakan jenuh, karena teman SMS ku si Okta tengah asyik-asyiknya menjadi Mahasiswa Baru. Tiba-tiba ada hasrat ingin SMS Fabian hanya sekedar menanyakan kabar saja.


Segera aku mengirim pesan pada Fabian.


Hy Fab.... kamu apa kabar?


Sibuk kerja ya sekarang?


Saat pesan itu ku kirim untuk Fabian, ternyata nomornya masih akif. Iya, semenjak aku patah hati karenanya, aku tak SMS Fabian lagi. Walau aku tahu resikonya apa setelah mengirim pesan ini padanya.


Beberapa jam kemudian, ternyata Fabian merespon pesan singkatku. Sembari menahan perasaanku, aku membuka pesan dari Fabian lalu kubaca.


Alhmdulillah, kabarku baik.


Iya, lagi sibuk kerja


Dilanjut nanti lagi ya


Setelah membaca pesan dari Fabian, aku langsung membalasnya.

__ADS_1


Iya Fab, nggak apa-apa kok.


Sorry ganggu ya


Nanti sore aku juga ada kuliah 


Setelah membalas pesan dari Fabian. Perasaanku semakin tak karuan. Iya, perasaanku biasa saja bahkan sakit sekali. “Rasanya masih sakit sekali ternyata hatiku” sedihku lagi.


Untungnya saja, setelah aku membalas begitu, Fabian tak membalas pesanku lagi. Kini kusibukkan mengetik Laporan Praktik Kerjaku sembari menunggu kuliah sore untuk menghilangkan rasa sakit di hatiku. Tapi ternyata sore harinya, kuliah kosong. Jadi aku tak jadi berangkat kuliah.


Sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan mengetik laporan praktik kerja membuatku lupa akan patah hatiku karena Fabian. Tapi aku optimis karena aku bisa melaluinya semua. Walau masih terbayang-bayang cerita dari Okta tentang Fabian yang nembak Okta. Aku yang bercerita kepada sahabat-sahabatku, mereka merespon agar aku cepat-cepat move on dari Fabian atau mereka ada yang merespon kalau aku dan Fabian belum jodoh. Sementara kata Stefani sendiri, Fabian nggak tahu tentang perasaanku ini. Iya, karena aku sendiri sampai sekarang belum berani mengutarakan perasaanku padanya.


Awal patah hati, aku punya kepikiran ingin menghapus contact Fabian. Tapi aku tak sampai hati saat berniat menghapus contact Fabian. Apalagi merobek diary jaman SMA dulu. Kalau move on darinya.... bisa sih, tapi hatiku selalu memberontak. Rasanya jadi serba salah sekali dengan perasaanku. Tapi pelan-pelan aku seperti sudah melupakan apa yang terjadi saat ini


......................


Tapi ternyata mimpi tentang Fabian masih datang di tidurku, tepat tanggal 9 Januari 2013 dan itu tepat juga 7 tahun Fabian hadir di mimpiku. Rasanya seperti “Pungguk merindukan bulan” meraih sesuatu yang mustahil untuk kuraih. Iya, kamu Fabian. Padahal sebelumnya mikirin Fabian juga sudah nggak lagi, malah setelah kejadian patah hati itu aku benar-benar lupa dengan segalanya yang berhubungan dengan Fabian.


Hatiku sakit sebenarnya saat mengingat dialog dengan Fabian lewat SMS, walau itu di mimpi.


F: Hy Mi... ih, sombong kamu sekarang. Nggak pernah SMS aku lagi.


M: Sombong apaan sih Fab. Bukannya kamu yang nggak pernah balas SMSku. Eh, tapi percuma deh kalau yang aku SMS ternyata naksir cewek lain. Temen deketku lagi si Okta.


F: Eh, kamu tahu darimana Mi? Bukan begitu maksudku Mi. Sorry ya...


M: Udahlah Fab, kamu nggak perlu tahu semuanya dari siapa. Jujur Fab, aku sakit hati dan sekarang aku masih patah hati gara-gara kamu.


F: Apa Mi? Kamu patah hati karena aku? Maaf Mi, aku bener-bener minta maaf. Aku nggak tahu kalau kamu suka aku. Tapi kalau waktu dapat di putar lagi. Mau nggak kamu jadi cewekku?


M: Hmm, sorry Fab, aku udah terlanjur sakit hati. Jadi nggak bisa.


“Padahal aku ingin sekali Fab, jadi cewekmu” ungkapku dalam hati.


Saat sadar itu dialog di mimpi semalam, walau lewat SMS. Hatiku langsung merasakan sakit sekali. Hampir menitikkan air mata saat aku tengah di bis menuju Perpustakaan Daerah tempat dimana aku bertemu teman-teman seangkatanku. “Ya Allah, cobaan apalagi ini. Kenapa saat semuanya hancur, sekarang jadi seperti ini. Tuh kan Fabian sukanya seperti meraihku lagi” lirihku yang masih terbayang-bayang dialog bersama Fabian lewat SMS walau di mimpi.


Aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi padaku saat ini. Sepertinya baru kemarin aku dijatuhkan Fabian. Sekarang di beri mimpi lagi tentangnya dan sekarang juga semakin terbayang-bayang kenangan masa SMP dan SMA lagi. Walau wajah Fabian benar-benar lupa seperti apa. “Ya Allah, aku menyerah dengan semua ini. Jika ini takdirmu, aku ikuti saja petunjuk-petunjukMu yang menurutMu itu terbaik untukku” doaku dengan perasaan pasrah dan tak tahu harus mencari jalan keluar seperti apa lagi tentang ini.


Tapi dengan adanya peristiwa ini, aku mengambil hikmahnya. Karena aku dan Okta merasa semakin akrab dan saling support satu sama lain. Aku seperti mendapatkan sahabat baru lagi. “Thanks Fab......” ucapku.


Walau kadang menyadari sesuatu bahwa Fabian bukanlah siapa-siapa bagiku. Mungkin hanya orang masa lalu yang masih kekeuh datang di mimpi saja. Karena masih saja terbayang sampai saat ini.


......................

__ADS_1


__ADS_2