First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Delapan Belas


__ADS_3

Bulan Mei sudah berlalu, kini memasuki Bulan Juni. Bulan Juni ini detik-detik menjelang Ulangan Akhir Semester 2 alias Ulangan Kenaikan Kelas.


Tanggal 2 Juni 2008. Aku mendapatkan senyuman dari Fabian lagi sewaktu pulang sekolah siang ini. Awalnya aku dan Gazela tengah berbincang-bincang di buk depan gerbang sekolah sembari menanti Luna keluar gerbang. Tiba-tiba kulihat Fabian yang akan keluar gerbang bersama temannya. Tanpa sadar Fabian juga melihatku yang masih berbincang-bincang dengan Gazela, lalu senyuman itu mendarat lagi kearahku sembari berjalan dibelakang temannya dan mendorong temannya yang jalan di depannya.


Seperti biasa, ekspresi salah tingkah bergelayut langsung di hatiku. Dadaku langsung berdegup kencang kala mengingat kejadian baru saja. “Hobi banget sih Fabian bikin aku semakin salah tingkah karena senyummu” batinku sembari mengumpat senyum karena tengah berbincang-bincang dengan Gazela.


Keesokan harinya, tepat tanggal 3 Juni 2008. Kejadian siang itu waktu pulang sekolah. Aku berjalan di belakangnya, tiba-tiba aku iseng menepuk tas punggung Fabian sembari menegurnya pelan”Fab...”


Fabian yang tengah berbincang-bincang terhenti dan langsung meresponku sembari menoleh pelan”Apa Mi..?”


Aku tersentak kaget karena Fabian tahu aku yang menepuk tas punggungnya


“Nggak apa sih Fab,” ucapku sembari mengatur detak jantung yang sudah tak karuan. “Oya, tanggal 5 besok ada pensi lho” lanjutku mengatakan tersebut pada Fabian.


“Pensi apa?” respon Fabian lagi sembari berjalan.


“Pensi SMP lah Fab,” kataku. “Ya kali pensi SD atau TK ngajakin kamu” lanjutku tapi dalam hati.


“Wah, aku nggak boleh nonton. Kan mau belajar bentar lagi Ulangan Umum” kata Fabian langsung


“Hmm, gitu ya. Emang siapa yang nggak bolehin?” tanyaku sembari mengatur detak jantung yang tengah berdegup ini lagi.


“Orang tua lah” terang Fabian.


Saat aku dan teman-teman sampai di depan toko buku yang letaknya dekat sekolah, lalu menghentikan langkah dan Fabian akan melanjutkan berjalan kaki.

__ADS_1


“Oh, hehee...” cengirku. “Duluan ya Fab” pamitku padanya.


Fabian mengangguk dan melanjutkan berjalan kaki bersama teman-temannya. Setelah kejadian baru saja, aku merasa aneh dengan perasaanku. Entah kenapa, tanganku merasakan dingin semua dan detak jantungku merasa tak karuan.


Sesampai rumah, aku masih tak habis pikir. Kenapa sih Fabian senyum sama aku bisa dan tanpa canggung lagi di depan teman-temanku dan temannya, giliran aku negur Fabian malah jadi seperti ini. Tapi mesti Fabian mulai dulu dan selalu buatku salah tingkah


......................


Tanggal 5 Juni tiba, hari ini kebetulan libur sekolahnya. Entah deh kenapa, tapi katanya sih hari ini libur karena besok sudah mulai Ulangan Kenaikan Kelas. Yup, tanggal 6 sampai tanggal 14 Juni mengadakan ulangan kenaikan kelas. Dan hari ini aku tak jadi pergi ke Pensi SMPku dulu, karena memang nggak boleh sama orang tua dan disuruh belajar di rumah.


Keesokan harinya, Ulangan Akhir Semester atau Ulangan Kenaikan Kelas berlangsung. Hampir dua minggu lamanya mengerjakan Ulangan Kenaikan Kelas dengan berpusing-pusing ria bertemu soal.


Dua minggu kemudian, di detik-detik Ulangan Akhir Semester. Tanggal 13 Juni 2008. Ada kejadian lucu saat pulang sekolah. Kini Tyas yang telah menggabung kami ikut-ikutan pulang bareng, yang masih ada Puji kala itu.


Aku terkejut sembari menahan geli.”Hahh, bukannya aku yang harusnya menanyai Fabian begitu ya?Bukan sebaliknya” batinku heran. Dengan menyembunyikan perasaan salah tingkahku, cepat-cepat langsung kujawab”Nggak apa-apa Fab”.


Setelah kejadian itu, aku masih nggak habis pikir dengan maksud Fabian apa. Lagi-lagi tingkahnya baru saja selalu buatku tanda tanya. Kejadian itu selalu berputar di kepalaku terus.


......................


Hari Senin tiba, tepat tanggal 16 Juni 2008. Setelah dua minggu mengerjakan Ulangan Akhir Semester 2, aku dan semua teman-teman masuk sekolah seperti biasa.


Aku yang berangkat pagi, ternyata saat turun bis sudah ada angkutan berwarna orange yang berjajar untuk mengantar kami semua sampai tujuan. Kebetulan pagi ini saat akan naik angkutan dengan rute yang biasa melewati sekolahku, sudah banyak teman-teman yang menaiki angkutan juga. Lumayan banyak teman yang satu jalur sekolah denganku dan banyak juga anak-anak yang bersekolah di jalur yang berbeda.


Kami semua segera naik angkutan tersebut dan sopir itu segera menjalankan angkutan untuk mengantar penumpang yang ada di angkutannya tersebut. Tapi ternyata arah angkutan bukan belok di dekat pom bensin yang biasanya melewati arah sekolahku, melainkan berjalan lurus.

__ADS_1


Mengetahui hal tersebut, aku dan teman-teman satu angkutan pada bengong dan terkejut. Tiba-tiba ada salah satu temanku mengatakan


“Lhoh Pak, angkutannya kok lurus terus sih. Tadi bukannya Bapak bilang kalau melewati rute biasa kan?”


Sang sopir angkutan itu meresponnya. “Iya Dik, angkotnya muter dulu ya”


Mendengar pembicaraan sopir angkot dan salah satu temanku yang berada di SMA Negeri, aku membisikkan pada sebelahku yang bernama Ussi tentang hal ini.


“Untungnya sekolah kita class meeting yah. Jadi agak santai berangkatnya”


“Iya Mi, bener itu” angguk Ussi membenarkan.


Akhirnya kami rombongan yang berada di angkutan tersebut menuruti apa kata sopir angkutan tersebut. Berkeliling sembari menurunkan anak-anak sekolah dijalur yang berbeda.


Setelahnya itu, rombongan kami melanjutkan perjalanan supaya sampai sekolah. Saat rute akan sampai pada sekolah kami, pandanganku beralih pada cowok yang tak lain Fabian. Dia tengah berlari, mungkin karena takut terlambat dan kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.00.


Sesampainya sekolah, aku dan teman-teman turun dari angkutan lalu berjalan menuju gerbang masuk sekolah. Saat aku tengah berjalan pelan-pelan dengan teman-teman yang satu angkot denganku, kulihat Fabian juga berjalan disebelah kananku. Sadar bahwa sampingnya adalah aku, Fabian menoleh dan tersenyum manis padaku. Aku langsung membalas senyuman dari Fabian.Setelah membalas senyuman dari Fabian, perasaan salah tingkah langsung bergelayut padaku. Dadaku berdegup kencang. Fabian selalu begitu, disaat teman-teman lengah denganku, pasti senyuman itu selalu mengembang manis untukku.


Kejadian baru saja, selalu membuatku bertanya-tanya lagi dalam hati tentang arti senyuman manis dari Fabian.


Di sisi lain, aku nggak mengerti dengan perasaanku setelah aku tersakiti oleh kebohongan Puji, masih saja aku bertemanan dengannya. Padahal hatiku sudah sakit sekali. Saat tengah berkumpul dengan teman-teman dekatku, termasuk bergabungnya Tyas pada kami.


Aku berbincang-bincang dengan Puji di depan laboraturium komputer, tapi entah kenapa aku merasa Fabian melihatku dari kejauhan. Aku nggak tahu persis apa maksudnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2