First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Bulan Oktober menyambut, dimana sebentar lagi akan mengadakan UTS. Lebih tepatnya tinggal menghitung hari saja, karena UTS dilaksanakan tanggal 5 Oktober 2009. Saat melihat jadwal UTS yang padat, aku hanya memandangi jadwal dengan perasaan pasrah. Hari pertama UTS langsung mendapatkan empat jadwal yang buatku semakin pusing.


Senin malamnya, saat aku tengah membuka buku Bahasa Inggris paket. Beberapa menit kemudian Gazela datang dan menyelonong masuk rumah begitu saja tanpa permisi. Mendapati itu, aku langsung mendongak dan melihat Gazela berjalan menghampiriku yang tengah asyik membaca buku Bahasa Inggris di depan ruang tv. Tiba-tiba Gazela meminta untuk meminjam buku Bahasa Inggris, mendapati itu aku terkejut dan memprotesnya.


“Nggak seru deh, lagi dibuat belajar juga” sebalku saat Gazela meminta itu.


“Bukan begitu Mi masalahnya, kelasku belum dapat bukunya”rengek Gazela sambil memohon.


Aku berpikir sejenak dan membatin.”Kalau Gazela pinjem kan pasti ngembaliinnya lama. Tapi aku juga butuh sekali bukunya” .


Melihat aku yang tampak berpikir dengan buku Bahasa Inggris paketku sendiri yang akan di pinjam Gazela, kemudian Gazela menunjukkanku pesan singkat yang memang dari Fabian yang memang meminta Gazela untuk meminjam buku paket Bahasa Inggrisku .”Sebentar doang Mi, mana aku udah janjian sama Fabian di fotokopian nih. Lagian Fabian yang minta sendiri untuk pinjam bukumu”


Mendengar Gazela berkata demikian, aku lagi-lagi terkejut dan pastinya aku merasa salah tingkah sekali. “Fabian ternyata yang memintanya. Okelah nggak apa-apa” batinku mulai merasa ke-GR-an dan mengumpat perasaan girang di hati.


Akhirnya aku menyodorkan buku Bahasa Inggrisku kepada Gazela dengan menutupi perasaan salah tingkahku malam ini. “Iya deh ini bukunya, tapi cepetan, aku juga mau belajar kali” pesanku pada Gazela.


“Iya, iya... tapi aku kesini ngajak Fabian ya, kan sekalian nganter aku pulang” cengir Gazela.


Mendengar Gazela mengatakan itu, hatiku merasa kecut dan sok jaim. “Ih, ngapain sih ngajakin dia kesini”


Gazela tergelak saat aku memprotesnya begitu. “Yasudah, aku pinjam dulu Mi. Udah ditungguin Fabian juga ini” pamit Gazela sambil keluar rumah.


Sementara, saat buku Bahasa Inggrisku tengah difotokopi Gazela dan Fabian. Aku membuka materi lainnya. Dan baru membuka buku sebentar kudengar suara di luar rumah. “Pasti mereka deh” batinku sembari beranjak dari ruang tv dan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Benar saja di luar ada Gazela dan... Fabian. Saat aku membuka pintu rumah dan akan menyuruh mereka masuk ke dalam.


Aku yang berdiri di ambang pintu rumah, mereka langsung berhenti bercengkerama. Kulihat Gazela segera menyodorkan bukuku yang tadi di pinjam Gazela dan Fabian untuk di fotokopi.


“Nih Mi, bukunya aku kembalikan. Cepet kan aku pinjamnya untuk di fotokopi” kata Gazela


Ekspresiku hanya manyun saja saat mengambil buku cetak yang Gazela serahkan padaku.

__ADS_1


“Hallo Mi...” senyum Fabian dengan ekspresi lucu saat melihatku berdiri di teras rumah.


Aku membalas dengan senyuman tersipu kepada Fabian.”Iya Fab” anggukku pada Fabian dengan perasaan salah tingkah sekali. Setelah kejadian itu, aku merasa canggung sekali. Kemudian menyuruh mereka masuk rumah saja.


“Masuk dulu yuk, nggak sopan nemuin tamu di luar” ajakku pada mereka.


“Eh, di luar saja Mi” pinta Fabian yang masih berdiri dekat motornya.


Akhirnya aku sebagai Tuan Rumah mengalah dan menemui mereka sebentar di teras rumah.


“Kita langsung pulang saja ya Mi” pamit Gazela padaku.


“Iya Mi, mau belajar juga” sambung Fabian juga.


“Hmm, iya deh kalau gitu. Aku juga mau lanjut belajar” anggukku pada mereka.


“Pulang dulu ya Mi. Makasih bukunya” pamit Fabian dengan senyuman.


Segera motor dinyalakan oleh Fabian. Setelah motor Fabian menyala, Gazela langsung naik dan siap membonceng Fabian. Tapi ada insiden yang lucu, yakni motor Fabian langsung mati saat Gazela mulai menaikinya. “Rasain tuh, motornya Fabian nggak ikhlas dinaikin sama kamu” batinku merasa geli mendapati motor Fabian mati saat Gazela menaikinya.


Aku tergelak melihat motor Fabian tiba-tiba mati saat Gazela menaikinya. “Parah Fab, motormu dinaikin Gazela langsung mati” kekehku pada Fabian.


Saat aku mengatakan demikian pada Fabian, dia juga tampak tertawa untuk Gazela. “Iya Gaz, motornya kamu naikin langsung mati. Kamu pulang jalan kaki aja ya” geli Fabian juga sembari menoleh singkat kearah Gazela.


“Ih, Fabian nyebelin deh” gerutu Gazela tapi centil dengan memukul ringan pundak Fabian.


Melihat pemandangan Gazela yang terlihat centil pada Fabian, aku merasa sebal. Tapi aku berusaha tertawa di depan mereka. Segera motor Fabian dinyalakan kembali dan menyala lagi. Setelah itu Fabian berpamitan padaku lagi.


“Pulang dulu Mi” pamit Fabian padaku lagi dengan hiasan senyuman manisnya

__ADS_1


“Iya Mi, aku juga pulang dulu ya” pamit Gazela juga


“Iya, hati-hati kalian” ucapku pada mereka.


Saat laju motor Fabian menjauh, aku tampak mengumpat rasa senyumku dan senangku malam ini. Kemudian aku yang akan melanjutkan belajar malam ini hampir saja nggak bisa konsentrasi karena mengingat kejadian baru saja.


Seusai belajar, aku tidur karena besok harus berangkat pagi dan melanjutkan belajar di sekolah. Saat aku tidur, aku seperti mimpi Fabian. Iya, Fabian datang di mimpiku lagi malam ini. Entah ini sudah keberapa kalinya dia datang di mimpiku. Tapi aku merasa Fabian datang di mimpiku hampir tiga tahun ini. Aku sebenarnya masih tak mengerti tentang datangnya Fabian di mimpiku akhir-akhir ini, tepatnya saat takdir mempertemukanku dengannya dari SMP dan lanjut ke SMA ini.


Aku sadar, pertemuanku dengannya pasti tidak lama lagi. Kemungkinan besar aku tak bertemu dengannya lagi ketika menjadi Mahasiswa kelak. Iya, waktu berjalan begitu saja.


......................


Pagi harinya, ketika aku sudah sampai sekolah. Seperti biasa suasana sekolah masih tampak sepi dan walaupun ada beberapa teman yang sudah berangkat. Aku semakin tak sabar untuk menceritakan kejadian semalam kepada Luna dan Tyas. Tapi saat mereka datang dan aku mulai menceritakan ulang tentang kejadian semalam itu, ternyata respon tak mengenakkan yang kudapat, aku langsung badmood pagi ini juga dan meneruskan belajarku lagi sampai bel masuk berbunyi.


UTS hari kedua ini telah usai, kami segera pulang. Tapi saat pulangnya tepat di dalam angkutan, Gazela menceritakan ulang kejadian yang sama persis ketika aku bercerita tadi pagi. Aku terkejut saat Luna dan Tyas meledekku. Ekspresi Gazela ikutan tertawa setelah menceritakan ulang tentang kejadian semalam. Aku semakin dibuat jengkel oleh Gazela. Seakan puas sekali menceritakan kejadian semalam dengan mereka.


Rasa gondok dan badmood masih menghinggap dihatiku. Aku mengalah dan diam, tapi hatiku merasa ingin menangis.”Nyebelin banget Gazela. Puas sekali cerita gitu sama mereka. Teman macam apa itu?” sebalku dalam hati.


Saat di bis, aku yang masih saja merasa sebal dengan tingkah Gazela saat di angkutan tadi. Aku hanya diam dan tak banyak berbincang dengan Gazela. Tiba-tiba aku yang dari tadi diam, Gazela bercerita padaku tentang kejadian semalam saat Gazela diantar Fabian pulang ke rumahnya, ternyata ketahuan oleh pacarnya. Pacar Gazela seakan cemburu melihat Gazela diantar pulang Fabian. Mendengar cerita dari Gazela, ekspresiku hanya tersenyum dengan paksaan tanpa berkomentar. Tapi dalam hatiku seakan tertawa sepuas-puasnya karena aku merasa Gazela telah kena batunya dengan bercerita tadi di angkutan tentang kejadian semalam yang seakan mempermalukanku di depan Luna dan Tyas. “Sukurin tuh, ketahuan sama pacarmu kan saat diboncengin Fabian. Centil sih” batinku merasa senang.


......................


Tapi semenjak kejadian malam itu juga, aku tak bertemu Fabian lagi di sekolah. Mimpi itu juga tak pernah hadir ditidurku. Rasanya semakin aneh dengan perasaanku yang mengalami kejadian ini. Iya, seperti ada yang kurang dalam hidupku.”Kalau seperti ini bukannya aku cepat bisa move on dari Fabian ya” pikirku yang merasa mimpi itu sudah tak hadir di tidurku lagi. Tapi kenapa aku merasa ada yang hilang dan kurang. “Masa aku beneran kangen Fabian sih. Nggak mungkin ahh” tampikku lagi dalam hati.


Lama-lama rasanya hambar saja, seperti mendapatkan perasaan bimbang antara ingin melupakan dan masih menanyakan tentang Fabian.


Di kelas 12 IS 4 ini, aku merasa seperti diberi kenyaman yang ekstra dengan hadirnya teman-teman se gokil dan se crazy mereka. Aku kali ini menikmati kenyamanan kelas ini. Belum lagi aku semakin akrab dengan Wawan dan beberapa teman lainnya yang memang baik denganku. Walaupun aku dan Luna tak pernah terpisahkan.


Akhir bulan Oktober, aku dipertemukan lagi dengan Fabian saat pulang sekolah dan sama-sama tengah keluar gerbang sekolah. Langkahku dipercepat kemudian berpamitan dengan Fabian tanpa melihat wajahnya. Aku mendengar Fabian meresponku sembari mengobrol dengan teman-temannya

__ADS_1


......................


__ADS_2