First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Enam Belas


__ADS_3

Tanggal 20 April 2008. Kami semua siswa-siswi kelas 10 SMA. Mengadakan studi lapangan lagi, karena insiden sebulan yang lalu saat dua bis pariwisata yang mengantar kami studi lapangan ke Yogyakarta mengalami mogok.


Pagi ini tujuan pertama kami ke Borobudur, Magelang. Perjalanan lancar selama 3 jam akhirnya sampai juga di Borobudur. Saat turun dari bis, kami bersambut dengan suka cita. Kunjungan di Borobudur karena mendapat tugas Sejarah dan Bahasa Inggris. Anak tangga demi anak tangga yang jumlahnya banyak itu, kami naiki hingga sampai puncak tertinggi. Melelahkan tapi menyenangkan, belajar sembari berekreasi.


Tak sengaja aku berpapasan dengan Fabian, tapi tumben banget Fabian diam saja waktu berpapasan denganku. Tapi sewaktu dia tengah berdiri dekat stupa, sementara aku sendiri akan melanjutkan menaiki anak tangga selanjutnya. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat Fabian tengah tersenyum, dan aku bingung dia senyum sama siapa. Awalnya aku cuek, karena aku merasa kalau Fabian tadi tengah tersenyum Pandu.


Tapi setelah sampai puncak kedua, aku sadar dan merasa Fabian tadi tengah tersenyum padaku. Ada sedikit tak enak hati. ”Ups, sorry Fab. Aku nggak tahu, habis kamu selalu begitusih. Bikin tanda tanya saja” batinku merasa bersalah.


Cuaca panas di Borobudur siang ini, membuatku ingin segera beranjak dari tempat ini dan tak sabar melanjutkan studi lapangan di tempat berikutnya. Tapi semangat nggak harus hilang begitu saja karena tugas kelompok menanti. Pemandu Wisata di Borobudur memberikan pengarahan kepada kami semua tentang sejarah Borobudur. Setelah itu dilanjutkan bertemunya turis asing untuk diwawancarai menggunakan bahasa inggris dan meminta foto bersama dengan mereka.


Beberapa menit kemudian, studi lapangan di Borobudur selesai juga. Saat menuruni anak tangga yang bejibun, kami semua kelelahan. Aku yang sudah dibawah dan menanti rombongan lainnya, tiba-tiba melihat temanku tengah diangkat oleh guru geografi. Yup, kulihat Puji pingsan. Melihat itu, entah kenapa aku tak punya perasaan iba padanya. Sontak teman-teman seangkatan pada heboh melihat Puji pingsan, lagi-lagi mereka membicarakan dari belakang. Aku sebenarnya tahu Puji tak se-populer seperti teman-teman yang lain punya banyak Gank dan main-main bersama mereka-mereka yang Gaul ala ABG jaman sekarang. Dia hanya sendirian, walau kadang kulihat dia bersama Tyas. Bahkan aku mengajak Puji menjadi teman dekat karena itu kemauanku sendiri dan bukan karena dia memang tak punya banyak teman. Aku sekedar ingin menambah teman saja.


Setelah mengunjungi Borobudur, rute selanjutnya dilanjutkan menuju Malioboro. Rombongan bis berhenti di sebelah Museum 11 Maret, lalu kami berjalan kaki yang jaraknya lumayan melelahkan. Berjalannya menuju Malioboro bersama teman-teman membuatku tak merasakan lelahnya berjalan kaki sampai kesana.


Sesampainya disana, kami semua mulai sibuk mencari oleh-oleh untuk keluarga. Termasuk aku. Perjalanan dilanjut untuk mencari oleh-oleh yang merasa kurang. Setelah kurasa cukup, aku dan temanku berbalik menuju lokasi bis lagi. Tapi tanpa sadari, aku berpapasan dengan Fabian. Kulihat Fabian berjalan sendirian dan berbalik arah padaku.


“Beli oleh-oleh apa Fab?” tanyaku padanya.


Tapi ekspresi wajah Fabian sore itu tampak sedang kurang bersahabat. Dengan singkat dia menjawab”Nggak apa-apa”


Aku bengong mendapati sikap Fabian sore ini. “Hah, dia lagi apa sih, ditanyain begitu banget deh responnya” heranku sembari berjalan dengan temanku.” Masa gara-gara di Borobudur itu tadi? Nggak mungkin ah, Fabian nggak mungkin bersikap begitu. Kalau masih terbawa suasana itu, aku minta maaf deh” ucapku dengan perasaan menyesal.


Setelah perjalanan di Borobudur dan Malioboro, sore ini pulang ke Semarang. Sesampainya Semarang waktu malam hari, lelah benar-benar mendera tubuhku ini karena studi lapangan yang kedua.


......................


Sepulang dari studi lapangan minggu itu, untung saja hari Seninnya libur. Karena ruangan kelas 10 dan kelas 11 di pakai untuk Ujian Nasional kelas 12.

__ADS_1


Senin pagi ini, aku masih merasakan capek sekali. Yup, kakiku masih merasakan pegal-pegal sekali karena efek berjalan kaki menuju Malioboro kemarin. Tapi bagiku menyenangkan.


Liburan UAN ini, aku merasa mimpi itu masih bersemayam di tidurku. Yup, mimpi tentang Fabian pastinya. Mimpi yang pertama aku merasa bertemu dengannya di studi lapangan, ekspresi Fabian masih seperti yang kutemui saat berpapasan di Malioboro itu. Sehabis memimpikan itu, seperti biasa aku merasakan degupan kencang didadaku. Rasanya aku merona setelah mengalami mimpi itu, walau sederhana tapi aku merasa itu mimpi tak pernah absen dari tidurku.


Beberapa hari kemudian, di malam berikutnya menjelang masuk sekolah. Aku memimpikannya lagi.


Aku merasakan tengah berdua dengan Fabian saja. Yup, hanya berdua dengannya. Kejadian tak terduga datang menghampiriku.


“Mi, mau nggak kamu jadi cewekku?” ungkap Fabian saat menembakku jadi ceweknya.


Aku terkejut saat Fabian mengatakan itu. Antara percaya dan masih belum percaya. Tapi tanpa pikir panjang, aku menjawab”Iya Fab, aku mau jadi cewekmu. Karena aku juga suka sama kamu”


Fabian tersenyum senang padaku, lalu mengucapkan terima kasih padaku. Di mimpi itu, waktu berselang beberapa minggu kemudian, Fabian mendatangiku lagi. Tapi aku dan Fabian masih berstatus murid SMA.


“Mi, mau nggak kamu menikah denganku?” ucap Fabian lagi yang kali ini dia melamarku.


Aku semakin terkejut saat mendengar Fabian berkata demikian, lalu aku tersenyum sambil mengangguk setuju padanya.


“Hahh, dadakan sekali Fab” kagetku lagi.


Fabian hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku.


Dan ternyata benar, aku menikah dengannya. Aku memakai gaun putih dan Fabian memakai jas hitam. Diacara pernikahan itu, para tamu undangan tak banyak yang datang. Hanya ada beberapa orang terdekat saja. Saat acara pernikahan berlangsung, Fabian hampir saja melakukan kissing, tapi aku menolaknya.


“Kok nggak mau sih Mi, kita sekarang kan udah jadi suami istri” protes Fabian


Aku hanya tersenyum malu-malu dengannya. Karena benar-benar malu, walau sudah resmi.

__ADS_1


Setelah acara pernikahan, aku diajak di sebuah kost yang sederhana. Aku yang akan masuk di kamar yang sama dengan Fabian, dia memberi isyarat padaku.


“Terbangin itu bunga, sebelum kamu masuk” perintahnya.


Setelah aku menerbangkan bunga ke pengunjung. Lalu aku mengatakan”Sekarang aku boleh masuk? Karena sudah jadi istrimu”. Dia memyetujuiku, lalu aku masuk kamar kostnya.


Di kamar aku dan Fabian tak melakukan apa-apa. “Fab, nanti kalau berangkat sekolah sekolah aku anterin dong ya. Tapi jangan sering-sering, ntar temen-temen pada curiga lagi”.


Tapi Fabian tak meresponku dan mengomentariku, Fabian hanya diam saja. Setelah aku mengatakan bahwa Fabian cakep, langsung senyuman itu tersungging dari bibirnya. Aku geli melihat ekspresinya.


Saat aku terbangun dari tidurku, aku tengah mengingat sesuatu. Yup, mengingat kejadian baru saja ternyata mimpi. Dadaku berdetak tak beraturan saat tersadar mengalami mimpi tersebut. Hampir seharian ini aku terpikirkan maksud dari mimpi semalam apa. Mimpi tentang Fabian yang mengajakku untuk menikah padanya.


Aku hanya bisa berdoa pada Allah untuk meminta sebuah petunjuk tentang apa yang tengah kualami akhir-akhir ini.


......................


Hari Jumat, tanggal 25 April 2008. Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa lagi setelah empat hari libur karena ruangan kelasnya untuk Ujian Nasional kakak kelas 3 SMA.Sesampainya sekolah, suasana sekolah masih terlihat sepi sekali. Walau ada beberapa yang sudah berangkat sekolah.


Seperti biasa juga aku mengikuti akivitas di sekolah. Tapi entah apa yang kupikirkan hari ini, kejadian di mimpi kemarin masih terngiang-ngiang jelas di otakku. Yup, tentang mimpi Fabian yang mengajakku untuk married. “Ada apa ya? eh, maksudnya pertanda apa ini tentang mimpi tersebut?” batinku semakin bertanya-tanya tentang mimpi yang selalu menyambangiku hampir dua tahun ini.


Saat pulang sekolah tiba. Aku, Luna, dan Gazela pulang bertiga seperti hari-hari biasanya. Luna dan Gazela sudah berjalan di depan terlebih dahulu. Saat aku berjalan untuk keluar gerbang depan sekolah, ternyata belakangku persis Fabian. Perasaan salah tingkah langsung bergelayut di hatiku. Fabian hampir saja menabrakku, karena Fabian mundur dan langkahku maju. Setelah sampai di gerbang sekolah, aku menoleh ke belakang. Ternyata Fabian melihatku juga, langsung dia tersenyum se-manis mungkin padaku. Dadaku langsung merasakan degupan dahsyat dan tanganku terasa dingin karena mendapat senyuman manis itu. Aku langsung membalasnya dengan perasaan masih salah tingkah. “Duh, aku jadi seperti ini. Apa mungkin ini efek mimpi kemarin itu ya” batinku sembari merasakan deg-degan yang luar biasa.


Siang ini saat aku, Luna, dan Gazela menaiki angkutan karena mereka mengajakku untuk pergi ke tempat nongkrong. Luna aku ceritakan tentang kejadian dimimpiku kemarin. Tampak ekspresi Luna sangat geli mendengar ceritaku. Hatiku langsung dihinggapi perasaan tersipu malu.


Setelah lumayan lama menghabiskan waktu di Mall. Kami bertiga pulang ke rumah masing-masing. Aku yang sudah sampai di perumahan tengah berjalan kaki untuk sampai ke rumah, pandanganku jatuh pada cowok yang tengah melintas melewati kantor pemasaran di perumahanku sedang berboncengan dengan temannya. Saat kulihat orangnya, ternyata itu Fabian.


Fabian melihatku juga, lalu senyuman manis itu dilemparkannya untukku lagi sembari mengangguk sopan kearahku. Aku yang sedang berjalan itu juga membalasnya dengan senyuman. Salah tingkah bergelayut lagi dihatiku. “Hahh, Fabian Solat Jumatnya di Masjid perumahan ini? Tumben banget” batinku. Kejadian siang ini selalu membuatku makin tersipu karenanya.

__ADS_1


Seperti biasa, peristiwa itu aku ceritakan ulang pada Rere lewat telepon. Mendengar cerita yang mengejutkan dariku, Rere terpingkal-pingkal sembari meledekku. Sementara aku yang mendengar Rere meledekku, hanya menahan rasa tersipu malu.


......................


__ADS_2