First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Enam


__ADS_3

Aku rasanya masih nggak habis pikir dengan tingkah Fabian di kelas padaku. Bukannya aku nggak ingin GR dulu atau salah tangkap. Tapi aku merasa perasaanku beda dan aku belum pernah merasakan seperti ini. “Masa iya sih, aku beneran suka dia?? Tapi tingkahnya selalu buatku bertanya-tanya terus” batinku mulai gusar dan bimbang.


Lama-lama sekelas dengannya benar-benar asyik. Aku sangat nyaman berada di kelas ini.


Entah apa yang membuatku seperti ini. Sering sekali dibuat kelinci percobaannya dia, maksudnya aku sering saja disuruh-suruh sama dia. Walaupun berkali-kali nolak, dia kekeuh banget minta bantuan dariku. Belum lagi mimpi itu semakin sering menyambangi tidurku di malam hari. Aku sampai bingung apa yang terjadi padaku dan Fabian.


Tapi akrab dengannya emang asyik banget, banyak candaan yang kudapat darinya. Entah itu berupa tebak-tebakan lucu. Kebetulan salah satu teman kami ada yang nggak berangkat, aku disuruh Anis untuk menemani dibangku, dan belakangku Fabian lagi.


Aku merasakan ini kejadian langka, karena sebelumnya aku belum pernah merasakan kejadian seperti ini. Tapi yang namanya bullying masih tetap ada dan selalu kudapatkan. Disaat teman-teman sekelas pada mengejek nama orangtua, tapi Fabian dan Pandu tak melakukan tindakan setega itu padaku. Walaupun awal sekelas dengan Fabian menjengkelkan, tapi semakin kesini sifat baik dan menghargai itu muncul. Aku semakin kagum dibuatnya. “Eh, apaan sih? Nggak mungkin aku suka dia” tampikku lagi dalam hati.


Tapi ada yang hilang saat dia tidak masuk sekolah karena sakit. Entah apa yang aku rasakan, sedih pastinya. Karena ada suasana yang berbeda. Tapi kalau dia nggak berangkat, aku jaimlah nanyain dia. Hahaaa :D


......................


Kejadian mencengangkan kembali terjadi di kelas. Ini waktu jam olahraga yang hanya diisi satu jam pelajaran. Guru olahraga mengatakan hari ini diisi dengan teori dan disuruh maju dua orang untuk menghafal materi yang berada di LKS.


Aku yang waktu itu masih duduk dengan Irul, ternyata Luna memintaku untuk maju denganku. Dengan senang hati aku mengindahkan permintaan Luna. Kemudian aku me-request kepada temanku yang tengah menulis nomer absen di papan tulis.


“Willy.. aku sama Luna ya. Nomer absen 16 sama 25” pintaku pada temanku yang tengah menulis nomer absen dipapan tulis.

__ADS_1


Willy menoleh kearahku sembari mengangguk setuju lalu segera menuliskan angka 25 dan 16. Mendadak Fabian pesan pada Willy untuk nomer absen 12. Entah kenapa, ini kesalahan Willy sendiri atau permintaan Fabian.


Mendadak nomer absen 16 digantikan nomer absen 12. Yup, nomer absen Fabian.


Mendapati itu aku dan Luna terkejut, karena nomer absen 16 diganti nomer absen 12. “Willy menulisnya salah. Kok bisa sih akhirnya aku sama Fabian ntar majunya” batinku yang masih tak percaya, lalu konsentrasiku buyar untuk menghafal materi di LKS dan gara-gara Fabian me-request nomer absennya setelah nomer absenku.


Akhirnya aku dan Luna memprotes Willy untuk mengganti nomer absen yang salah. Melihat itu, guru olahraga marah-marah dan mengatakan”Nomer absen yang sudah ditulis di papan tulis nggak boleh di ganti-ganti lagi”. Karena beliau juga melihat teman-teman yang lain pada ganti nomer absen dipapan tulis.


Mengetahui hal tersebut, aku dan Luna mendengus kecewa. Dan pada akhirnya aku maju ke depan bersama Fabian untuk menghafal bersama materi di LKS tadi. Masih shock banget rasanya.


......................


Lagi dan lagi Fabian menyuruhku. Kali ini dia menyuruhku untuk memberikan surat izin milik Lala di kelas 8C. Yup, Lala tak masuk sekolah dan rumahnya belakang Fabian persis. Saat aku akan bertandang ke kelas 8C untuk bertemu Rere, Fabian melihatku.


Aku menghentikan langkah dan menoleh kearah Fabian. “Iya Fab, emang kenapa?” anggukku sembari menyahut Fabian.


Sambil nyengir kuda, Fabian menyerahkan surat izin milik Lala padaku. “Minta tolong ya Mi, ini surat izinnya kasihkan anak 8C.”


Aku kaget mendapati itu. “Kok nggak kamu sendiri aja sih Fab ke kelas sebelah?” tanyaku

__ADS_1


“Aku malu Mi ke kelas sebelah” cengir Fabian.


Aku geli mendengar penuturan dari Fabian”Ya nggak apa Fab, malu kenapa coba?”


“Ya malu aja sih. Tolong Mi, plisss” pinta Fabian dengan memohon.


Tanpa pikir panjang, aku mengindahkan permintaannya.” Yaudah, mana surat izinnya. Aku kasihkan ke temannya nanti.”


Segera surat izin itu dipindahtangankan padaku, kemudian aku memberikan pada salah satu anak kelas 8C. Setelahnya itu aku mengobrol dengan Rere sampai bel masuk.


15 menit berlalu, kini saatnya bel masuk lagi dan mulai pelajaran. Aku yang hendak duduk dibangku, Fabian memanggilku, “Mi..” panggil Fabian.


Aku menoleh untuk menyahut karena Fabian memanggilku.


“Suratnya udah dikasihkan anak 8C kan?” tanya Fabian.


“Iya Fab, udah” anggukku penuh senyum.


“Makasih ya Mi” ucap Fabian penuh senyum juga sembari melambaikan tangan kearahku.

__ADS_1


“Iya Fab, sama-sama” responku lagi dan segera duduk lagi.


......................


__ADS_2