First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Sembilan Belas


__ADS_3

Hari Selasa aku masih berangkat lagi ke sekolah. Yah, walaupun ada rasa jenuh karena tak ada kegiatan di Sekolah. Tapi masih beruntung karena bertemunya dengan Luna, Gazela, Tyas, dan Puji membuatku sedikit terhibur dan lumayan bisa mengusir rasa badmood-ku. Hari Rabunya, waktunya pengembalian buku Pemkot ke sekolah.


Hari yang membuatku badmood karena membawa 14 buku paket yang ukurannya lumayan tebal dan sangat berat sekali. Setelah sampai sekolah, rasanya lega karena buku tersebut sudah aku serahkan pada petugas perpustakaan yang melayani mengembalian buku paket dari Pemerintah Kota. Esok harinya tinggal bersantai-santai ria saja.


Tapi kenyataan itu melesat saat Gazela menitipkan separuh bukunya padaku. Dia mengatakan akan mengembalikan buku paket tersebut besok Jumatnya.”Huhh, menyebalkan sekali dia” batinku merasa sebal saat mengetahui hal tersebut.


Hari Jumat, tangal 20 Juni 2008. Hari ini menjelang penerimaan raport kenaikan kelas 11. Harusnya hari ini aku sudah ada di rumah, karena buku paket sudah kukembalikan lagi. Tapi hari ini berangkat lagi, karena kemarin Rabu si Gazela menitipkan separuh buku Pemkot yang aku titipkan padaku. Ternyata hari ini adalah tepat kelas Fabian juga mengembalikan buku pemkot juga di sekolah. Aku tahu karena Puji dan Tyas sama-sama mengembalikan buku paket hari ini juga.


Setelah mereka mengembalikan buku paket dari Pemkot, mereka menggabung pada kami sembari bercengkerama seperti biasa. Karena merasa jenuh, kami keluar gerbang sembari duduk-duduk disana dan melanjutkan bercengkerama lagi.


Tak lama kemudian, kulihat Fabian baru saja datang. Saat melihatku tengah bersama Puji, motor dihentikan sebentar di depan gerbang sekolah.


“Eh, boleh masuk kan ini” tanya Fabian padaku dengan senyuman


Entah kenapa, Puji seperti mencari perhatian pada Fabian.” Ya masuk-masuk aja dong. Ya kan Mi”


Aku menoleh sembari tersenyum kecut dan mengangguk pada Puji.


“Ya boleh dong Fab, masa nggak boleh” geliku merespon Fabian.


“Aku masuk dulu ya Mi” pamit Fabian dengan senyuman lagi.


“Oke Fab” anggukku penuh senyum juga.


Saat motor akan masuk gerbang, motor Fabian terkena batu besar dan hampir celaka. Batu besar itu segera ku singkirkan, karena membahayakan pengendara lainnya.


Setelah Fabian mengembalikan buku paket dari Pemkot, kulihat dia tengah keluar gerbang sembari memboncengkan temannya. Fabian juga melihatku yang masih berada di depan gerbang sekolah bersama Puji.


“Kamu ngapain Mi masih disini?” tanya Fabian sembari tersenyum padaku.

__ADS_1


“Nggak apa dong, lagi kepingin nongkrong disini aja. Ihh, kamu tanya gitu mulu deh Fab. Nggak ada yang lain apa?” protesku sembari mengumpat senyum.


Fabian hanya tersenyum saat aku memprotesnya sembari melaju motornya yang siap melanjutkan berjalan meninggalkan sekolah. Setelah kejadian itu, lagi-lagi Puji menjadi heboh. Aku merasa gerah saat melihat Puji yang sok heboh itu.


......................


Liburan kenaikan kelas tiba, libur selama 3 minggu membuatku merasakan sangat jenuh. Di kenaikan kelas 11 SMA ini, aku masuk jurusan IS alias Ilmu Sosial. Dan semenjak liburan kenaikan kelas ini, aku masih saja dihantui Fabian lewat mimpi. Padahal mikirin Fabian sebelumnya juga nggak, tapi bayangannya itu yang nggak pernah absen dari ingatanku dan pastinya mimpiku. Aku tak tahu kenapa kejadian ini sering aku alami.


Mimpi, mimpi, dan mimpi. Kejadian yang tak terduga dan selalu datang saat aku tidur. Aku semakin bingung dengan apa yang tengah kualami kini. Aku merasa kedatangan Fabian di mimpi seperti sebuah petunjuk, tapi aku tak mengerti apa artinya.


Liburan kenaikan kelas selama 3 minggu berakhir sudah. Hari Senin ini akhirnya berangkat sekolah juga. Saat pembagian kelas, aku berada di kelas 11 IS 3 dan ternyata satu kelas dengan Puji. Aku dan Puji memutuskan untuk duduk sebangku. Sementara Luna dan Tyas berada di kelas 11 IS 1, dimana kelas itu adalah kelas Ilmu Sosial unggulan. Gazela berada di kelas 11 IA alias Ilmu Alam.”Eh, Fabian masuk jurusan IS atau IA ya...?” tanyaku mulai penasaran. Ternyata saat aku melihat daftar di kelas Ilmu Alam ada nama Fabian. “Waww, pintar juga dia” kagumku dalam hati. Ternyata Pandu juga ada di kelas tersebut. Menurutku, masuk jurusan Ilmu Alam adalah orang-orang jenius.


Teringat dulu sewaktu aku masih kelas 10 SMA, Wali kelasku menawarkanku masuk jurusan Ilmu Alam, tapi aku tak berani masuk jurusan tersebut dan memilih jurusan Ilmu Sosial. Dan kini aku telah masuk jurusan Ilmu Sosial. Diawal-awal masuk kelas 11 IS 3 sangat menyenangkan, aku membaur sekali dengan suasana kelas tersebut. Merasakan nyaman sekali, karena sebagian ada beberapa yang sudah ku kenal.


Di hari pertama masuk, sudah diberi materi sekolah seperti biasa, perkenalan dengan materi-materi baru dan tentunya beradaptasi dengan kelas baru juga. Di kelas ini juga pertemananku dengan Puji semakin akrab, aku tak tahu persis kenapa pertemananku dengan Puji kembali akur lagi. Padahal sebelumnya aku dan Puji sedang mendapat konflik yang menyakitkan beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya hatiku masih merasakan sakit sekali dengan kejadian tersebut, tapi entah kenapa aku kembali baik padanya lagi. Walau tak seperti dulu saat pertemanan itu di mulai.


Tak terasa pelajaran berakhir, aku yang pulang dan diikuti Puji dibelakangku tengah berjalan menuju kelas Gazela yang berada di kelas Ilmu Alam dan menghampiri Luna beserta Tyas yang berada di kelas 11 IS 1. Ternyata mereka sudah berjalan bebarengan keluar kelas. Aku segera menghampirinya lalu ikut pulang. Saat berjalan keluar kelas, aku bertemu dengan Fabian dan Pandu.


Refleks Fabian menoleh kearahku dan hanya lemparan senyum yang ku dapat. Rasa salah tingkah langsung bergelayut dihatiku. Setelah itu, aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang.


......................


Hari Selasanya, hari pertama di jam pertama adalah Matematika. Saat guru masuk di kelas, suasana tegang langsung menghinggapi kelas 11 IS 3. Karena guru Matematika terkenal serius dan sedikit bercanda. Beliau menerangkan materi di depan, setelah itu kami satu kelas di beri soal dari Buku Pemkot. Baru akan mengerjakan di awal-awal nomor, tampak Puji di suruh maju mengerjakan soal di papan tulis. Aku menyupportnya untuk segera maju.


Tapi kenyataannya, Puji hanya diam dan tak bisa mengerjakan soal di papan tulis. Bahkan sempat melamun beberapa menit. Karena kelamaan, akhirnya Puji di suruh mundur dan digantikan yang lain.


Mengetahui itu, aku menanyainya. “Kok melamun sih? kamu nggak bisa ngerjain ya?”


Ekspresi Puji berubah kecut dan hanya menggangguk lirih kearahku. Lalu dia bercerita padaku dengan ekspresi jealous.” Aku semalam mimpiin Fabian, dia ngajarin kamu soal Matematika. Dia bilang’Sini Mi, aku ajarin kamu cara Matematikanya yang nggak bisa’. Makanya aku nggak bisa konsentrasi”

__ADS_1


Mendengar cerita dari Puji, ekspresiku bergantian tersenyum kecut padanya. Tapi entah kenapa dalam hatiku mengatakan.”Lhah, situ sendiri yang mimpiin dia. Kenapa ekspresinya aneh sama aku”.


Setelah itu, kami berdua hanya terdiam dan melanjutkan mengerjakan Matematika. Tapi setelah pulang sekolah, aku sedikit kepikiran dengan mimpi Puji. “Puji masih suka ternyata sama Fabian” batinku merasa sebal.


......................


Hari Kamisnya, seperti biasa saat pulang sekolah. Aku dan teman-teman tengah nongkrong di depan buk SMP, ku lihat Fabian dan Pandu lewat di depan kami. Seperti biasa ekspresi Puji berubah seperti cacing kepanasan. Aku cuek karena ternyata Pandu meledekku di depan mereka semua, mendengar Pandu tengah meledekku. Aku membalas ledekan dari Pandu dan entah kenapa membuat Fabian tersenyum padaku. Refleks aku membalas senyuman dari Fabian yang manis itu.


......................


Semenjak SMA, Stefani sering sekali meneleponku. Entah dia membahas apa saja saat menelponku dengan durasi yang cukup lama, tapi komunikasiku dengan Rere dan Rossi masih berlanjut. Sebenarnya aku juga kangen dengan kebersamaan teman-teman SMP dulu. Tapi sadar akan kesibukan masing-masing dan jarangnya kami bertemu karena beda sekolahan. Aku ingin bercerita pada Stefani tentang apa yang kualami akhir-akhir ini, tapi aku belum punya keberanian untuk bercerita.


Saat mengakhiri percakapan dengan Stefani malam ini, aku sempat bercerita kalau aku satu sekolah dengan Fabian lagi. Saat itu juga Stefani menitipkan salam kepada Fabian, Pandu, dan Luna.


Beberapa hari kemudian, saat aku melihat Fabian tengah di ruangan kelas bersama teman-temannya. Aku mengintip dari kelas dan memanggil Fabian.


“Fabian...” panggilku pada Fabian


Fabian langsung menoleh kearahku. “Kamu dapat salam” ujarku.


“Dari siapa?” tanya Fabian.


“Dari Stefani” ucapku.


Tampak Fabian berpikir keras mendengar nama Stefani. Lalu mengatakan”Stefani siapa?”


Aku terkejut lalu terbelalak kearah Fabian sembari menahan rasa gondok dihati. “Lhah, masa lupa sih, dia kan temenmu SD dulu”


“Oh, ya ya...” respon Fabian hanya manggut-manggut saja, entah itu pertanda sudah ingat atau masih lupa.

__ADS_1


Kemudian aku berpamitan padanya sembari keluar kelas, rasa gondok masih bersarang dihatiku saat mengetahui Fabian sudah lupa dengan Stefani. Saat aku ceritakan ulang atas kejadian itu, Stefani terkejut dan aku sendiri tertawa geli.


......................


__ADS_2