First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Lima Belas


__ADS_3

Aku semakin tak mengerti dengan sikap Fabian padaku. Arti sebuah senyumannya itu apa ya? Entah sudah berapa kali dia tersenyum manis untukku. Aku bukannya mau GR ataupun salah tangkap dengan sikap Fabian. Tapi memang tingkahnya akhir-akhir ini membuatku tak mengerti. Belum lagi mimpi tentang Fabian juga masih berlanjut sampai sekarang. Mimpi tentang Fabian berasa seperti mengalami kejadian di dunia nyata. Rasanya seperti mengenalnya saat sekelas dulu dengannya. Mendadak aku mulai flashback lagi saat di kelas 8B dulu sewaktu SMP, betapa baiknya Fabian padaku walau kadang teringat kembali ketika pertama-pertama sekelas dengannya aku dibuat ilfill terus sama Fabian. Semua moment itu tersimpan rapi dan manis dipikiranku. “Ah, masa sih aku beneran naksir dia” batinku ragu-ragu.


Kalau nggak naksir Fabian, seharusnya aku nggak se-marah kemarin dong waktu dibohongi Puji. Nggak sakit hati dan merasa hancur dong hatiku kemarin. “Kenapa sih rasanya semakin aneh saja dengan hatiku ini?” batinku semakin nggak menentu.


Malam ini, aku sudah tertidur dengan pulas dan siap menyambut mimpi indah.


Tapi.......


Aku merasa tengah di kelas 10D, tepat kelas Fabian. Aku yang tengah di kelas. Tiba-tiba Fabian mengenalkanku pada sosok yang tak asing bagiku. Bowo, cowok yang dulu sempat ku taksir saat SD dan menolakku.


“Mi, kenalin ini temenku” terang Fabian sembari mengenalkannya padaku.


Saat aku melihat wajah itu lagi, aku hanya tersenyum kecut padanya sembari mengangguk. “Ihh, Fabian apaan sih. Masa iya mau ngenalin seseorang yang nggak ingin ku temui lagi. Aku sukanya kamu, bukan dia” batinku sebal.


Aku terbangun dan sadar bahwa kejadian baru saja itu hanya mimpi. Tapi entah kenapa aku merasakan sesak sekali saat mengingatnya. “Nggak penting deh, orang di masa lalu datang dan menghancurkan mimpiku” dengusku sembari beranjak dari ranjang dan bersiap-siap berangkat sekolah.


......................


Tanggal 2 April 2008. Pagi ini aku terlambat masuk sekolah, karena bis yang tengah ku nantikan datangnya terlambat. Sehingga membuatku menunggu lama.Sesampainya di sekolah, aku masih bisa diizinkan masuk sekolah, karena terlambatnya belum terlalu lama. Aku terengah-engah saat memasuki kelas.


Berjalannya waktu, siang hari tiba.


Aku segera bergegas pulang ke rumah untuk nanti persiapan Olahraga, saat aku hendak menyeberang di tempat pemberhentian bis. Ada seseorang memanggilku dengan membuka helmnya. Aku menghentikan langkah. Ternyata dia tetanggaku yang tengah pulang sekolah juga, dia menawariku untuk pulang bersamanya. Aku menyetujuinya. Sesampainya di rumah, aku bersiap-siap untuk mandi dan mulai ganti kaos olahraga. Setelah semuanya siap, aku segera berangkat olahraga.


Seperti biasa, aku berjalan kaki keluar perumahan untuk naik bis dan mengantarkanku siang ini supaya sampai trafic light dekat pemberhentian angkutan yang mengantarkanku sampai sekolah.


Saat aku hendak menyeberang, pandanganku beralih pada cowok yang tak asing bagiku tengah naik motor dan hampir melewati depan perumahanku. “Fabian” seruku dalam hati sambil mengamati motor yang tengah dia kendarai.


Tiba-tiba Fabian berhenti di depanku sembari membuka kaca helm-nya. “Hy Mi, mau kemana?” tanya Fabian dengan ramah dan hiasan senyum manisnya.


Aku tersentak kaget saat Fabian menanyaiku. Rasanya salah tingkah dan hampir teriak kegirangan. Aku yang tiba-tiba gugup lalu menjawab”Nggak apa-apa.”


Sejenak Fabian langsung meluncur pergi meninggalkanku. Hatiku terlonjak-lonjak saat Fabian akhirnya masih ingat namakudan manggil aku tanpa sebutan EH lagi. “Seriusan tadi Fabian ingat namaku? Aku nggak mimpi kan?” batinku masih tak percaya.


Setelah kejadian itu, rasanya makin terbayang-bayang dan aku tak bisa menyimpan rasa senangku sore ini. Kejadian baru saja membuatku ingat sesuatu saat Fabian menuliskan namaku di halaman buku paling belakang. “Apa jangan-jangan Fabian masih menyimpan buku tulis yang ada namaku itu” tebakku mulai keGRan.


Selesainya aku berolahraga di sekolah, aku langsung tak sabar untuk menceritakan pada Rere. Seperti biasa, Rere tergelak merespon SMS dariku tentang kejadian sore itu.


Aku rasanya masih tersenyum-senyum tak jelas saat membayangkan kejadian tersebut. “Syukur deh, akhirnya kamu ngerti juga namaku” batinku senang.


......................


Mimpi itu semakin sering datang untuk menyambangi tidurku. Aku semakin bertanya-tanya dalam hati apa arti dari mimpi itu. Seperti malam ini, aku memimpikannya lagi.


Aku merasa tengah bersama Rere dan Fabian waktu pulang sekolah, tapi ini berada di SMA bukan di SMP. Kami bertiga pulang bersama.


“Kita nongkrong-nongkrong dulu yuk” ajakku pada Rere dan Fabian.


Mereka langsung mengangguk setuju. “Yasudah, kita berhenti dulu disini”


Tanpa sadari, kami bertiga nongkrongnya sudah cukup lama. Kemudian Fabian pinta padaku.


“Mi, pulang yuk...” ajak Fabian yang sudah mulai bosan.


“Nanti dong Fab, pulangnya. Masih betah disini nih, ngapain di rumah” kataku.

__ADS_1


Fabian mengalah dan kini diam saja. Lalu Fabian merengek padaku lagi untuk meminta segera pulang saat Rere tengah curhat denganku. Kini giliran Rere memprotes Fabian


“Sebentar dong Fab, nanti saja pulangnya. Ngapain sih di rumah”


Fabian terlihat diam lagi, belum lama dia terdiam. Tiba-tiba Fabian masih mendesakku pulang. “Ayo Mi pulang. Udah siang juga nih”


“Fab, bentar ya si Rere lagi curhat sama aku” pintaku sekali lagi.


Tak lama kemudian, bis yang biasa kami tumpangi lewat. Fabian segera beranjak dan menaiki bis tersebut. Sebelum dia menaiki bisnya, dia sempat berpamitan padaku.


“Mi, aku pulang dulu ya”


Bis segera meninggalkan kami berdua. Sebenarnya ada perasaan bersalah dihatiku, tapi ternyata Rere masih melanjutkan sesi curhatnya padaku. Aku masih mendengarkan curhatan Rere hingga selesai.


Aku terbangun tengah malam ini dan menyadari bahwa kejadian baru saja ternyata hanya mimpi. “Apa maksudnya ya? kenapa tiap aku mimpi Rere pasti ada Fabian” batinku yang ternyata langsung merasakan degupan kencang.


Aku masih mengantuk, dan tidur pun segera berlanjut lagi. Pagi harinya aku berangkat sekolah seperti biasa dan mengikuti pelajaran seperti biasa juga.


Sepulang dari sekolah, Luna dan Gazela mengajakku di persewaan komik. Kali ini aku ikut mereka. Sesampainya disana, tepat depan gerbang persewaan komik aku melihat motor yang tak asing bagiku. “Hahh? Kayak motornya Fabian” tebakku dalam hati.


Setelah masuk di tempat persewaan komiknya, tak salah lagi aku memang benar bertemu Fabian di dalam bersama beberapa temannya. Entah kenapa, hatiku berdesir kencang saat mengetahui Fabian berada disana juga. “Apa mungkin ini efek semalam habis mimpiin dia. Sekarang ketemu langsung sama orangnya” batinku.


Saat Fabian tengah memilih buku komik yang berada di rak komik-komik itu. Dia menoleh dan kaget saat melihatku bersama teman-teman. Aku tersenyum padanya, lalu menanyakan”Kamu juga suka komik ya Fab?”


Fabian menoleh kearahku lalu membalas dengan anggukan sembari membolak balik komik yang dia tengah baca. Tampak Gazela juga terkejut mendapati Fabian yang tengah ada di persewaan komik juga. Setelah cukup lama di persewaan komik itu, segera akan meninggalkan tempat persewaan komik itu sembari memakai sepatu yang dilepas di luar, tiba-tiba Gazela mengatakan”Eh Fab, aku mau ngomong apa ya sama kamu” pada Fabian yang baru saja keluar dari dalam persewaan bersama Yuda dan Setya untuk memakai sepatu masing-masing.


Yuda, teman Fabian langsung berceletuk”Dicariin sama Puji tuh”. Mendengar celetukan dari teman Fabian, mereka tertawa termasuk aku. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa sakit dihatiku saat teman Fabian mengatakan seperti itu, malas mendengar nama Puji lagi di telingaku.


Gazela menambahinya untuk memancing Fabian. “Puji suka sama kamu lho Fab”


Mendengar Fabian berkata seperti itu, aku sedikit terkejut. Tapi di hatiku sebal karena Gazela memancing pertanyaan itu, yang pastinya buatku semakin sebal sekali. “Nggak usah diungkit-ungkit lagi kenapa sih. Bikin makin ilfill aja” batinku jengkel.


“Apalagi kenalan ya Fab, sorry banget” kata Yuda sembari menambahkan.


“Jadi cerita selama ini bohong dong?” tanya Gazela pura-pura memancing Fabian lagi.


“Iya, cerita selama ini bohong” jawab Fabian cepat.


Mendengar penuturan dari Fabian langsung, hatiku langsung tenang dan lega. Walaupun aku sangat sebal dengan Gazela yang mencoba memancing Fabian menjawab demikian.


“Bener kan Mi, Puji bohongin kamu?” kata Luna membisikkan itu padaku


“Iya Lun, Puji memang bohongin aku. Aduh, aku jadi nggak enak sendiri sama Fabian” balasku berbisik pada Luna juga.


Luna tersenyum mengerti kearahku. Dan aku sendiri juga merasa lega sekali mengetahui hal tersebut hanya bohong belaka. Setelah peristiwa tadi, aku merasa masih sebal.


Malam berikutnya aku memimpikan Fabian lagi, padahal sebelumnya aku tidak sedang memikirkannya.


Aku merasakan berada di SMA yang kini ku tempati, saat pulang sekolah entah kenapa Luna dan Gazela ternyata meninggalkanku seorang diri. Aku merasa sebal.


Melihat aku tengah sendirian tanpa Luna dan Gazela, Fabian menghampiriku.


“Sendirian aja Mi?” tanya Fabian.


“Iya Fab, aku ditinggal nih sama mereka berdua” jawabku merasa badmood.

__ADS_1


“Emang kamu mau kemana?” tanya Fabian lagi.


“Aku ada janji sih sama temen-temen SMP, mau ke CL” terangku.


“Yaudah, aku anter kamu ya” tawar Fabian penuh senyum.


Aku tampak masih berpikir, kemudian menyetujui tawaran Fabian.


“Iya deh, tapi aku boncengnya miring aja ya. Kan pakai rok” pintaku.


Fabian langsung tak menyetujuinya.”Udah, bonceng seperti biasanya aja”. Entah kenapa, kata-kata Fabian langsung aku setujui. Lalu aku diantar dengannya sampai tujuan.


“Makasih ya Fab, sorry jadi ngrepotin kamu” ucapku.


“Sama-sama Mi. Iya, santai saja lagi” senyum Fabian.


Aku masuk ke dalam Mall dengan posisi sendirian, dan ternyata mereka sudah menantiku di depan toko buku. Tampak mereka menceramahiku karena menantiku lama.


“Maaf ya lama” ucapku merasa bersalah pada mereka.


“Hmm, ya udah deh nggak apa Mi” angguk Tiwi.


“Emang kamu kesini tadi diantar siapa?” tanya Rere.


“Aku dianter sama dia” cengirku.


Mendengar itu, mereka kompak ber ciee-ciee ria padaku. Aku hanya bisa tersipu malu.


Sadar, itulah saat aku terbangun dari tidurku. “Mimpi dia lagi tadi, apa ya artinya mimpi-mimpi ini” batinku dengan ekspresi bengong-bengong dan tengah mengatur detak jantung.


......................


Beberapa hari kemudian, kejadian itu muncul lagi dan saat pulang sekolah. Tanggal, 12 April 2008. Aku yang baru saja keluar kelas untuk pulang, berpapasan dengan Fabian di depan kelas 10 C yang akan lewat dan mengambil motor di parkiran yang letaknya depan kelasku.


Aku yang akan jalan ke kiri, Fabian juga jalan ke kiri. Saat aku ambil jalan ke kanan, Fabian juga sama. “Ihh, Fabian ini apa-apaan sih?” batinku bingung dengan keinginan Fabian ingin berjalan kearah mana. Saat langkahku maju, dia juga ikutan maju. Kami hampir saja bertabrakan. Mengetahui hal tersebut, Fabian melihatku lalu tersenyum padaku. Aku membalas senyuman dari Fabian yang selalu buatku salah tingkah dan merasakan jantung berdegup kencang.


Setelah kejadian itu, aku masih dibuat penasaran dengan tingkahnya yang selalu buatku bertanya-tanya. “Fabian itu ya, selalu begitu. Bikin aku tambah salah tingkah saja” ucapku dari hati sambil berjalan keluar gerbang sekolah.


Sementara, semenjak kejadian pertengkaranku dengan Puji Sabtu minggu lalu itu entah kenapa membuatku akur lagi dengannya. Aku sendiri nggak tahu kenapa, padahal hatiku sudah tersakiti olehnya. Tapi rasanya aku tak peduli dengan perasaanku sendiri. Polosnya lagi aku selalu bercerita dengannya tentang Fabian.


Seminggu setelah kejadian aku hampir menabrak Fabian. Jumat ini tepat tanggal 18 April 2008, aku tengah di luar gerbang sekolah bersama Puji seperti biasa sambil nongkrong. Kulihat Fabian berlari keluar gerbang sekolah dan berjalan seorang diri.


“Lari-lari entar jatuh lhoh” seruku untuk Fabian saat berlari keluar gerbang.


Fabian menoleh saat aku berkata demikian, tiba-tiba dia tersenyum manis padaku. Melihat Fabian tersenyum, aku refleks membalasnya seperti biasa dengan perasaan degupan jantung yang luar biasa kencang.


Tetap saja ekspresi Puji sangat heboh saat melihat Fabian tersenyum padaku.


“Ciee, pakai seragamnya sama-sama OSIS” sorak Puji saat melihat seragam yang tengah kukenakan sama seperti Fabian.


“Biarin dong, kan seragam kotak-kotak birunya besok minggu dipakai untuk studi lapangan lagi” balasku.


“Kamu juga tuh pakai baju OSIS” ucapku sembari mengamati Puji memakai seragam yang sama sepertiku.


Puji melihat seragam yang dikenakannya sendiri sambil meringis. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


......................


__ADS_2