
Entah apa yang kurasakan kini, seperti ada yang kurang. Tiba-tiba aku merasakan kehilangan sosok Fabian. Belum lagi ditambah mimpi tentang Fabian masih menemani tidurku. “Masa beneran aku suka dia? Masa sekarang aku benar-benar kehilangan sosoknya? Rasanya aneh saja saat ini, ya walaupun aku sadar bahwa sekarang beda kampus dengannya.” batinku merasa sedih sekali dan menyadari tentang perasaanku kini.
Di awal-awal kuliah, aku tak menemukan seseorang yang mirip dengannya. Aku benar-benar kehilangannya kali ini. Rasa menyesal dihati muncul saat teringat moment-moment bersama Fabian muncul, eh lebih tepatnya dengan tingkah anehnya yang membuatku penasaran. Tanda tanya itu yang terus-terusan mencari jawaban untuk tingkah Fabian yang begitu aneh padaku. Padahal aku sudah berusaha mengidolakan teman kampus, tapi bayangan Fabian lebih kuat berputar dibenakku.
Tapi takdir mempertemukanku dengan Fabian lagi lewat sosmed Facebook. Saat aku tengah online facebook, kulihat Fabian tengah update statusnya. Segera ku komentari status milik Fabian. Setelah berkomentar cukup lama, akhirnya aku menanyai Fabian lagi sembari membalas kiriman wall di facebook-nya juga. Aku dan Fabian sempat berbalas di kronologi facebook milik Fabian Saat kutanya meneruskan dimana, ternyata memang benar Fabian masih berada di Semarang. Ada rasa senang di hati saat mengetahui Fabian masih di Semarang. Berhubung masih dalam moment Hari Raya Lebaran, aku menanyakan Fabian mudik kemana. Ternyata Fabian mengatakan bahwa Lebaran mudik ke Kendal dan Wonosobo. Aku terkejut sekali saat mengetahui Fabian mudik di Kendal. “Hahh, jadi selama ini dia mudik Kendal? Pantesan waktu aku mudik di Kendal masih saja mimpi Fabian terbawa ditidurku. Pantesan juga aku pernah mimpi Fabian ngajakin aku liburan ke Kendal. Ternyata ini jawabannya” batinku yang masih merasa terkejut sekali. Entah kenapa, aku berharap suatu saat bertemu dengannya.
......................
Sebulan sudah, aku menjadi anak kuliahan. Heran saja, kampus-kampus yang lain pada libur, hanya jurusanku saja yang masih rajin masuk karena dosen pengampunya bisa mengajar hari Sabtu pagi. Kebetulan ini tanggal 30 Oktober 2010. Aku yang sudah jenuh menanti bis lewat tak kunjung datang. sampai-sampai bertemu dengan tetangga, adik kelas, guru SMP, dan beberapa orang yang ku kenal menyapaku di pagi ini. Karena saking sebalnya yang dari tadi menanti bis tak kunjung datang malah bertemu orang-orang yang kukenal, aku tanpa sadar bergumam”Sekalian saja ketemu dia” .
Tak lama kemudian, aku yang masih berdiri di depan MiniMarket sembari menanti bis, sedikit terkejut melihat seseorang tengah berboncengan dengan cewek menaiki motor yang hampir mirip punya Fabian lewat depanku. “Kayak punya Fabian” gumamku pelan.
Setelah seseorang itu membuka kaca helm-nya, aku terkejut sekali karena seseorang tersebut memang benar Fabian. “Mi....” sapanya penuh senyum seperti biasa saat bertemu denganku. Di belakang, tampak adiknya mengangguk sopan padaku juga. Aku membalas dengan anggukan juga untuk merespon Fabian dan adiknya. Lagi, lagi, dan lagi aku dibuat terpesona olehnya. Penampilan Fabian pagi ini membuatku hampir klepekan. Dia mengenakan jaket berwarna krem yang terlihat kece sekali. Saat laju motor Fabian menjauh, aku hampir teriak kegirangan karena Fabian. Sesampainya kampus, aku hampir tak bisa berkonsentrasi karena masih tak menyangka dengan pertemuan tadi. Rasanya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Aku mengumpat senyumku seharian gara-gara Fabian.
......................
Aku tak mengerti dengan semua yang kualami sekarang. Gimana tidak? Aku kira semenjak pisah kampus dengan Fabian, aku akan sepenuhnya melupakan Fabian. Tapi ternyata kedatangan Fabian lewat mimpi semakin membuatku tak mengerti dengan semua ini. Padahal aku sendiri sudah fokus mengerjakan tugas-tugas kuliah, bergabung dengan teman-teman seangkatan, dan pastinya sudah sedikit demi sedikit beradaptasi dengan mereka.
Malam ini aku tidur seperti biasanya, tapi tiba-tiba......
Aku seperti di sekolah dan tengah pulang sekolah bersama teman-teman. Karena menjelang test SNMPTN. Aku, Gazela, Luna, Tyas, Wawan, Pandu dan Fabian berencana belajar bersama.
Saat kami semua keluar gerbang sekolah, Fabian menanyakan Gazela tentang belajar kelompok siang ini.
“Gaz, nanti jadi kan belajar kelompoknya di rumahmu?” tanya Fabian.
“Iya Fab jadi. Tapi aku udah janji sama Mimi mau belajar di rumahnya bareng Luna, Tyas, sama Wawan” kata Gazela.
“Yasudah, aku nyusul ke rumah Mimi saja. Nanti aku kesana bareng Pandu” terang Fabian sambil berlalu untuk mengantar Pandu ke rumahnya sebentar.
Sementara aku, Luna, Tyas, Gazela, dan Wawan langsung menuju rumahku, karena akan belajar siang ini juga. Saat kami tengah serius mengerjakan soal-soal, ternyata Fabian dan Pandu datang. Setelah itu aku menyuruh mereka untuk langsung masuk ke dalam saja.
Kemudian aku, Luna, Tyas, dan Wawan siap belajar materi Ilmu Sosial. Sementara Gazela, Fabian, dan Pandu belajar materi Ilmu Alam. Saat belajar di mulai, terlihat Wawan menanyaiku tentang keluargaku. Otomatis aku respon saat Wawan menanyaiku, karena dia juga sahabatku.
Lalu aku bertanya materi dengan Luna, “Lun, aku ajarin ini dong, belum paham sama materi ini”
__ADS_1
“Wah Mi, aku juga nggak paham sama ini. Coba tanya Tyas” terang Luna.
Setelah menanyakan materi dengan Tyas, jawabannya sama dan menyarankanku untuk menanyakan pada Wawan. Akhirnya aku bertanya dengan Wawan dan Wawan mulai mengajari materi Akuntansi. Tapi ada yang heran saat melihat Fabian menatapku dengan tatapan jealous, sepertinya Fabian tak suka atas kedekatanku dengan Wawan. Saat waktu senggang, kulihat mereka tengah serius dengan materi yang diterangkan Pandu. Kemudian aku bertanya pada Fabian.
“Masih banyak Fab, materinya?”
Tapi Fabian tak meresponku, dia fokus dengan apa yang di terangkan oleh Pandu. Lalu kutanya lagi “Belajar apaan sih Fab?”
Fabian tak meresponku lagi, akhirnya aku menyerah dan menggabung pada mereka sembari bercerita-cerita. Tapi ternyata Fabian masih melihatku dengan tatapan tak suka. Beberapa menit kemudian, Fabian tiba-tiba langsung beranjak dari situ dan keluar. Aku terkejut sekali mendapati tingkah Fabian yang aneh itu. Aku ikut beranjak dari sana untuk menyusul Fabian yang terlihat ngambek.
“Lhoh Fab, minumnya belum kamu minum kok...” kataku terputus karena Fabian langsung tancap gas pulang.
Melihat kejadian itu, aku dan semuanya tampak kebingungan dengan tingkah Fabian yang langsung tancsp gas begitu saja. “Kok Fabian gitu sih. Masa cemburu sama aku gara-gara aku lebih sering mengobrol dengan Wawan ketimbang dengannya” sadarku dengan perasaan sakit hati. Sementara Pandu juga kebingungan karena tidak tahu akan pulang bersama siapa nantinya.
Sadar kejadian tadi mimpi, aku sangat terkejut sekali dan merasa lemas karena menurutku kejadian baru saja sangat menyakitkan. “Kok Fabian jealous sama Wawan sih? Padahal Wawan sahabatku, wajar kalau aku sama Wawan deketan” sedihku saat mencerna isi cerita dalam mimpi tersebut. Sementara aku sendiri juga masih merasa tak enak hati dengan Wawan atas kejadian mimpi ini.
......................
Aku semakin tak mengerti dengan maksud mimpi-mimpi itu. Rasanya semakin aneh dengan perasaanku. Seperti malam berikutnya, aku bermimpi jealous dengan Fabian yang naksir teman kampusku. Padahal aku dan Fabian juga sudah pisah kampus. Sebenarnya aku sedih saat mengalami kejadian seperti ini. Apa maksud dari mimpi-mimpi yang terus menyambangi tidurku ini. “Apa jangan-jangan arti mimpi ini pertanda untukku? Tapi pertanda apa dibalik ini semua?” tanyaku yang masih bingung menemukan jawaban atas ini semua.
Malam berikutnya, aku bermimpi lagi.
“Sorry Mi, aku sama Gazela nggak bisa pulang sama kamu” terang Luna.
“Iya Mi, sorry ya. Mendingan kamu pulang sama Fabian saja” saran Gazela.
Aku mengangguk dan mengikuti saran Gazela. Kemudian aku menghampiri Fabian untuk minta tolong supaya diantar sampai rumah.
“Fab, aku nebeng kamu pulang dong” pintaku pada Fabian
Fabian yang dari tadi diam sembari menanti seseorang, segera menoleh karena aku memanggilnya.
“Eh Mi, sorry banget ya aku nggak bisa nebengin kamu pulang. Karena Ika minta anterin aku pulang” terang Fabian merasa tak enak hati.
Aku tersenyum dan mengangguk mengerti.”Oh, iya deh Fab. Nggak apa-apa”
__ADS_1
“Sorry banget ya Mi, aku nggak bisa nganter kamu pulang” kata Fabian yang masih merasa tak enak hati denganku.
“Nggak apa-apa kok Fab santai saja” anggukku penuh senyum.
Luna tampak menghampiriku.”Gimana Fabian bisa Mi?” tanya Luna.
Aku menggeleng kearah Luna, setelah itu Luna tersenyum mengerti kearahku dan memberi ide untuk pulang bersama Wawan. Akhirnya aku mengikuti saran Luna untuk meminta tebengan pada Wawan.
“Wawan....” panggilku untuk Wawan.
Wawan menoleh dan langsung meresponku. “Ada apa Mi?”
“Aku minta tolong dong, anter sampai rumah” pintaku.
Tanpa pikir panjang, Wawan mengangguk setuju. “Iya deh, tapi bentar ya aku ada urusan sama temen-temen” terang Wawan.
Aku mengangguk mengerti dan menunggu Wawan. Sementara dari jauh, tanpa kusadari tampak Fabian melihatku dan Wawan tengah membicarakan sesuatu.
“Oke, aku tunggu di depan sama Luna” kataku.
Wawan merespon dengan anggukan kearahku. Lalu sembari menanti Wawan, aku melihat Fabian masih menanti Ika. Kutegur dia.
“Masih nungguin Ika ya Fab?” tanyaku.
Tapi pandangan Fabian berubah tak menyenangkan, tatapan Fabian seakan jealous padaku. Beberapa menit kemudian, Wawan memanggilku.
“Mi, jadi pulang nggak?” tanya Wawan
“Eh, iya Wan” anggukku.
Langsung aku menghampiri Wawan dan tak lupa berpamitan pada Fabian, tapi masih saja Fabian tak merespoku. Saat motor dinyalakan, aku segera membonceng Wawan dan mulai meninggalkan sekolah.
“Fab, aku duluan ya” pamitku untuk Fabian.
Tapi Fabian tak melihatku, dia pura-pura cuek terhadapku. Mendapati itu, aku hanya geleng-geleng kepala dan bingung dengan maksud Fabian.
__ADS_1
Sadar bahwa kejadian tadi ternyata mimpi. Aku sangat terkejut sekali dan berpikir”Kok Fabian jealous lagi sama Wawan. Padahal Wawan kan sahabatku. Kalau kamu jealous sama aku, kenapa kamu memilih untuk nganter Ika ketimbang nganter aku? Emangnya aku nggak jealous apa kamu masih peduli sama Ika yang sudah jadi mantanmu. Bukan salahku juga kan? Lagian aku menganggap Wawan hanya sahabat seperti Luna, Gazela, dan Tyas serta sahabat-sahabatku SMP”. Dengan kejadian tadi dimimpi, rasanya aku semakin tak mengerti apa yang diinginkan Fabian lewat mimpi ini. Aku merasa juga Fabian seperti menahanku agar aku tak menyukai cowok-cowok lain selain Fabian. Aku sendiri juga semakin tak enak hati dengan Wawan, tapi suatu saat aku akan menceritakannya pada Wawan.
......................