First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Ujian Nasional tiba.


Rasa tegang, grogi, takut bergelayut sukses di hatiku, karena pasti ada. Perasaan salah menjawab itu pasti ada, tapi aku tetap optimis dengan semua hasilnya nanti.


Lima hari berlalu, Ujian Nasional telah usai. Rasa dag-dig-dug masih saja bergelayut dihati karena menunggu hasilnya sebulan lagi. Setelah Ujian Nasional berlalu, kini giliran fokus pada Ujian Praktek dan Ujian Sekolah.


Dan setelah Ujian Nasional, hari Sabtunya tanggal 27 Maret 2010. Semua murid kelas 12 SMA wajib datang, karena ada pembekalan dan pengarahan khusus tentang bagaimana cara menjadi MC yang baik menggunakan Bahasa Inggris. Aku sendiri sengaja karena kelasku paling akhir mendapat giliran masuk Aula sekolah untuk mendapatkan pengarahan tentang menjadi MC di acara ulang tahun menggunakan Bahasa Inggris. Sembari menunggu giliran masuk, aku yang dari tadi sudah berangkat sedang bercengkerama dengan beberapa teman di kelas. Karena tak kunjung keluar juga, akhirnya aku keluar kelas dan menanti di luar kelas sembari melihat teman-teman yang baru saja datang dari bawah. Iya, karena yang masuk ruangan Aula adalah dari kelas 12 IA 1, 12 IS 1, dan kelas 12 IS 2.


Hampir setengah jam lamanya menanti ketiga kelas itu keluar dari ruang Aula. Aku yang dari tadi keluar kelas dengan beberapa teman, kulihat Luna baru saja datang dan akan menaiki tangga. Kupanggil Luna, dan Luna sendiri meresponnya dengan mendongak keatas, tepat aku memanggilnya. Setelah Luna sampai depan kelas, langsung menghampiriku dan mengajak bercengkerama denganku. Bebarengan dengan teman-teman yang baru saja keluar dari Aula, kulihat Tyas langsung menghampiriku dan Luna di depan kelas 12 IS 4. Saat aku dan kedua temanku tengah asyik bercengkerama, tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pundakku dan langsung refleks menoleh sembari mencari siapa yang menepuk pundakku.


“Mi, kamu nggak masuk ruang Aula?” tanya seseorang yang tak lain Fabian sambil berjalan melewati kelasku.


Aku terkejut sekali saat mendapati Fabian yang ternyata menepuk pundakku tadi. Refleks aku dihinggapi perasaan salah tingkah.


“Eh, iya Fab. Nanti aku masuknya” jawabku dengan menahan perasaan salah tingkah


Fabian segera berlalu, aku sendiri masih saja merasakan deg-degan yang luar biasa karena Fabian tadi menepuk pundakku. Aku berpikir”Fabian berani sekali negur aku di saat ramai-ramainya begini. Padahal biasanya kalau negur aku sewaktu suasana sepi”


Saat kelas 12 IS 3 dan kelasku 12 IS 4 mendapat giliran masuk Aula, tiba-tiba Luna tengah mencari seseorang. Aku yang akan masuk ruang Aula ikut kebingungan melihat Luna tengah mencari seseorang.


“Kenapa Lun?” tanyaku penasaran.


“Mi, kamu lihat Gazela nggak?” tanya Luna balik padaku.


“Hmm, nggak tuh Lun” jawabku sembari menggeleng


“Anterin sebentar ya Mi ke kelas 12 IA dulu” pinta Luna yang terlihat butuh sekali.


“Oke Lun” anggukku setuju karena kulihat belum ada siswa yang masuk ruangan Aula.


Sesampainya di kelas 12 IA 1, ternyata di dalam terdapat Fabian seorang diri. Luna semakin bingung sembari menoleh-noleh ke dalam.


“Fab, Gazela mana?” tanya Luna.


“Eh, aku nggak tahu. Mungkin lagi keluar sama Ambar ke fotokopian sebentar” terang Fabian.


“Gimana Lun?” tanyaku pada Luna.


Luna tampak kebingungan akan menjawab bagaimana lalu diam. Lalu aku giliran menanyai Fabian yang tengah duduk sendirian di meja bangku.


“Sendirian aja Fab?” tanyaku pada Fabian.


Mendengar itu, Luna berbisik iseng padaku.”Udah  temeni Fabian disini”


Ekspresi Fabian hanya tersenyum padaku dan Luna. Sementara aku merespon.”Ih, apaan sih kamu Lun?”tampikku malu-malu.


“Eh, siapa Mi? Aku?” tanya Fabian balik sembari menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Iyalah Fab, kamu. Adanya kamu kok, masa iya aku tanya kanan kirimu sih?” responku geli.


Langsung Fabian menoleh ke kanan dan kiri yang memang tak ada orang, selain Fabian saja di kelas. Setelah sadar, Fabian melempar cengiran kuda kearahku. Mungkin dengan menyimpan perasaan malunya juga.


Mendapati itu, aku terkejut walau sebenarnya mengumpat perasaan geli.”Aneh Fabian ini, ditanya Luna nyambung gitu. Giliran kutanya malah nggak nyambung begini. Maksudnya apaan coba?” batinku heran. Karena ini bukan kejadian pertama saja, tapi sudah berulangkali.


Berhubung Gazela tak kunjung balik lagi ke kelas. Aku dan Luna memutuskan untuk segera ke Aula. Sebelumnya berpamitan pada Fabian yang masih duduk di meja bangku. Aku dan Luna segera bergegas menuju Aula untuk mengikuti pengarahan seperti kelas Fabian dan teman-teman yang lainnya.


Malam harinya, aku seperti memimpikan Fabian lagi di tidurku.


Aku merasa berada di sekolah. Dan suasana siang ini tepat pulang sekolah. Saat aku bersama teman-teman tengah duduk di buk depan SMP. Kulihat Fabian menghampiriku.


“Mi....” panggil Fabian untukku.


“Eh, iya Fab. Ada apa?” sahutku.


“Kamu liburan ini kemana?” tanya Fabian lagi.


Aku terkejut saat Fabian menanyakanku tentang liburanku kemana. “Biasanya sih aku liburan di Kendal. Gimana Fab?” terangku.


Fabian hanya manggut-manggut. Kemudian Fabian menjawab”Aku anter yuk, kebetulan aku juga liburan ke Kendal juga. Sore ini ya berangkat kesana”


Aku yang belum merespon Fabian, entah kenapa aku langsung mengangguk setuju dengan ajakan Fabian. Saat Sore tiba, ternyata Fabian sungguh-sungguh mengajakku ke Kendal. Aku dan Fabian boncengan hanya berdua. Dengan jarak tempuh 1,5  jam saja dari Semarang sampai Kendal.


Sesampai sana, ternyata saudara-saudaraku menyambut hangat kedatanganku dengan Fabian. Setelah itu, saat bercengkerama aku ditinggal begitu saja. Saudara-saudaraku mengajak Fabian bergabung pada mereka tanpaku. Rasa badmood langsung menderaku saat ini juga.


......................


Hari Senin siangnya, tanggal 29 Maret 2010 mulai diadakan Ujian Listening Praktek Bahasa Inggris bagi semua murid kelas 12 SMA. Sore hari selesai sudah ujian listening-nya. Seperti biasa aku, Luna, dan Tyas menanti teman special kami yang berada di kelas 12 IA 1, siapa lagi kalau bukan Gazela. Setelah lumayan lama menanti dengan keadaan yang sudah jenuh. Akhirnya keluar juga kelas 12 IA 1 dari ruangannya. Tapi ternyata Gazela di jemput Papanya, mengetahui hal tersebut kami semua mendengus kesal. Yup, karena sudah menunggu lama sekali dengan kondisi hujan ternyata Gazela di jemput. Berhubung hari sudah semakin sore, akhirnya bingung juga mau pulang naik apa. Semetara Tyas sudah pulang terlebih dahulu naik angkutan.


Kulihat Fabian berjalan di seberangku, lalu kutanyai dia. “Nggak bawa motor kamu Fab?”


“Motornya dipakai semua Mi” respon Fabian.


Aku hanya manggut-manggut saat Fabian merespon begitu. Akhirnya aku, Luna, Gazela, dan Fabian duduk di depan buk gerbang sekolah. Tiba-tiba Fabian bergantian menanyaiku.”Kamu nggak di jemput Mi?”


Aku masih kebingungan saat Fabian menanyai seperti itu sembari memegang handphone. “Nggak tahu nih Fab. Masih bingung juga” jawabku yang benar-benar ragu.


“Orang rumah suruh jemput saja Mi. Lagian sudah semakin sore begini nggak mungkin juga ada bis” saran Fabian padaku.


“Iya juga sih Fab, udah sore juga ini” responku sembari manggut-manggut.


Tanpa pikir panjang, aku segera mengikuti saran Fabian dengan cara memberi kabar orang rumah untuk minta di jemput. Setelah SMS orang rumah, ternyata yang di jemput terlebih dahulu adalah Gazela.


Kini tinggal aku, Luna dan Fabian yang tengah menanti jemputan masing-masing. Sembari menanti jemputan, aku menanyakan tentang ujian listening tadi kepada Luna dan Fabian.


“Gimana tadi ujian listening-nya?” tanyaku pada Fabian.

__ADS_1


Tapi yang mendengar Luna, akhirnya Luna menyahut pertanyaanku. “Jelas dong, anak IA kan harus tertib”


Aku meringis mendengarkan Luna menyahut seperti itu. “Iya juga sih, wahh.. ruanganku banyak yang ketahuan nyontek, kertasnya pada diambilin sama gurunya” terangku.


“Di ruanganku yang ketahuan cuman Adit doang Mi” cerita Luna.


Mendengar itu, akhirnya Fabian ikut menggabung dan tertawa. “Payah, nyontek kok terang-terangan”


“Emang punyamu gimana Fab?” tanyaku dan Luna serentak.


“Kayak aku ini lho, nyontek diem-diem. Tinggal narik celana panjang, terus lihat tulisan di paha” terang Fabian dengan perasaan bangga.


Mendengar penjelasan Fabian, aku dan Luna tercengang. Lalu merespon”Yee, sama saja bohong dong Fab”.


Tapi Fabian hanya merespon dengan melempar cengiran kuda kearah kami berdua. Ternyata suasana hangat ini berakhir saat Fabian sudah di jemput Ayahnya, kemudian tak berapa lama kemudian Luna di jemput. Setelah itu baru aku.


......................


Hari berikutnya, masih berlanjut dengan Ujian Praktek sampai seminggu berikutnya. Memasuki bulan April mulai disibukkan dengan pemadatan soal-soal untuk Ujian Sekolah.


Beberapa minggu berlalu, Ujian Sekolah dilaksanakan selama seminggu juga. Dan sisanya kami tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan


......................


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2