First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Tak habis-habisnya merenungkan semua kejadian demi kejadian yang aku lalui sampai saat ini, salah satunya dengan tingkah Fabian terhadapku. Aku merasa Fabian lain dari teman-teman cowok lainnya. Lama-lama aku semakin nggak ngerti dengan sikapnya, walau aku tahu niat Fabian melakukan itu semua baik sekali tapi tanpa Fabian sadari membuatku salah tingkah sekali karenanya.


Disisi lain, saat aku melihat kedekatan Wawan dengan Lisa entah kenapa membuatku sakit. Seperti aku tengah merasakan jealous. “Masa sih, aku naksir sahabatku sendiri?” batinku merasa tak enak hati. Karena aku menganggap Wawan adalah teman baikku. Kadang perasaan dilema itu muncul ketika merenungi semuanya yang aku rasakan sekarang.


“Ya Allah, kenapa perasaanku jadi seperti ini? Pilihkan salah satu dari mereka” doaku malam ini sesudah solat Isya. Karena hatiku benar-benar tengah di rundung kebimbangan. Yup.. untuk kesekian kalinya Fabian adalah orang yang di pilih Allah untuk hadir di mimpiku lagi. Sudah empat tahun ini Fabian hadir di mimpiku.


“Yasudahlah, kalau memang Fabian adalah pilihan Allah untuk hadir di mimpiku. Aku nggak bisa berbuat banyak lagi” pasrahku dalam hati saat menyadari mimpi Fabian hadir lagi di tidurku. Walau sebenarnya dibenakku masih menyimpan sejuta tanya tentang mimpi.


......................


Beberapa minggu kemudian, kami semua murid-murid kelas 12 SMA disibukkan dengan pemadatan soal untuk menghadapi Try Out Pemerintah yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Rasanya benar-benar sibuk, benar-benar padat jadwal, dan benar-benar fokus dengan materi yang akan diujikan nantinya.


Pertengahan Januari, Try Out Pemerintah tahap 1 terlaksana selama seminggu. Seminggu berikutnya pemadatan soal lagi dengan cara diadakan jam tambahan pagi dan tambahan sore. Seminggu setelah itu, tepat awal bulan Februari kami semua disibukkan lagi dengan Try Out dari sekolah. Setelah Try Out sekolah, mulai pelajaran biasa sembari pemadatan soal-soal lagi saat jam tambahan pagi dan sore. Seminggunya lagi, Try Out Pemerintah tahap 2 tepat tanggal 15 Februari 2010. Saat aku akan menaiki tangga, ternyata berpapasan dengan Fabian dan Pandu. Samar-samar terdengar Fabian mengatakan”Untungnya teman-teman sekelas pada nggak tahu kalau hari ini ulang tahunku”. Aku terkejut saat mendengar Fabian berkata demikian, langsung aku sadar bahwa hari ini ulang tahun Fabian. “Oh iya ya, hari ini ulang tahun Fabian” ucapku dalam hati sembari menahan geli siang ini dan melanjutkan langkah kaki sampai kelas.


Tapi baru melaksanakan Try Out pada hari ketiga tepat tanggal 17 Februari, siangnya Mamaku mendapat kabar dari Bekasi kalau Mbah Putriku satu-satunya meninggal dunia. Iya, Mbahku yang di Kendal meninggal. Sedih sekali mendapat kabar duka dari Bekasi. “Hiks, Mbah Putriku nantinya nggak bisa lihat aku jadi mahasiswa” sedihku sembari menitikkan air mata siang ini. Semua aku beri kabar tentang kabar duka ini, kecuali Fabian karena aku tak punya nomer handphone-nya. Setelah aku memberi kabar mereka, Wawan juga langsung empaty sekali. Wawan mengatakan akan melayat, tapi aku menjawab tengah perjalanan ke Kendal. Karena jenazah Mbah Putriku sedang di berangkatkan dari Bekasi menuju Kendal. Sore ini aku benar-benar dilema, antara ikut ke Kendal dan disisi lain Try Out–ku juga belum selesai. Akhirnya aku merelakan Try Out-ku gugur karena melayat ke Kendal. Teringat 3 tahun silam saat aku kelas 9 SMP, Eyang Putriku dari Papa yang tinggal di Jepara meninggal dunia. Rasanya benar-benar sedih saat menyadari sekarang aku sudah tidak punya nenek lagi.


Hari berikutnya, aku mengikuti Try Out lagi sampai hari Jum’at alias hari terakhir. Ternyata saat aku kemarin tak mengikuti Try Out Geografi karena melayat Mbah Putriku, nggak bisa mengikuti Try Out susulan dan otomatis Try Out tahap keduaku gugur.


......................


Setelah pelaksanaan Try Out Pemerintah tahap kedua, mulai lagi pelajaran biasa dilanjutkan jam tambahan sore hari untuk materi Ujian Nasional nantinya. Siang ini, aku yang baru saja selesai makan siang di kelas akan mencuci tanganku di kamar mandi. yup.. semenjak diadakan jam tambahan sore, aku mulai sering membawa bekal untuk makan siangku di kelas. Aku berjalan melewati kelas Fabian, karena akses terdekat adalah lewat kelas Fabian yang berada di kelas 12 IA 1. Saat melewati depan kelas 12 IA 1, aku bertemu Okta dan Awan tengah bercengkerama. Tanpa sadar pandanganku sekilas melihat Fabian dari jendela transparan kelasnya tengah duduk di meja dan sembari berbincang-bincang dengan temannya. Tapi ternyata Fabian juga melihatku dan terus melihatku, aku yang merasa dilihat Fabian tanpa mengalihkan pandangannya cepat-cepat langkah kaki kupercepat untuk sampai kamar mandi untuk segera cuci tangan. Karena menghindari perasaan salah tingkahku.


Sekembalinya dari kamar mandi, aku lewat sana lagi. Dan tepat melintasi depan kelas Fabian lagi. Tampak Fabian melihatku lagi dengan posisi yang sama seperti tadi. Aku yang ingin membalas menatap Fabian tak berani, karena hatiku sudah terlanjur salah tingkah sekali. “Ih, Fabian apa-apaan sih, bikin aku makin salah tingkah saja dilihatin segitunya” batinku mulai tak karuan sembari melangkahkan kakiku menuju kelas, benakku masih saja dipenuhi tanda tanya tentang sikap Fabian tadi. “Maksud Fabian apa coba lihatin aku segitunya” tanyaku dalam hati dengan perasaan masih salah tingkah. Sesampainya di kelas, aku masih saja terngiang-ngiang dengan kejadian baru saja.


......................


Jauh-jauh hari sebelum Ujian Nasional dimulai, aku benar-benar merasa bimbang. Yup, tepat hari ini aku merasa bimbang dan dilema. Karena mengingat aku belum sempat minta maaf pada Fabian tentang masalah Puji waktu kelas 10 SMA itu.


Hari Minggu ini, saat waktu senggang aku meminta pendapat kepada Wawan lewat SMS. Segera ku tulis pesan untuknya.


Wan, curhat dong.


Ada waktu nggak?

__ADS_1


Pesan singkatku pagi ini untuk Wawan


Tak lama kemudian, Wawan membalas pesan singkatku.


Curhat aja deh


Emang mau curhat apa?


Segera aku mengetik pesan lagi untuk Wawan. Pesan dengan isi curahan hatiku yang sempat mengganjal sampai sekarang.


Tak lama kemudian, Wawan membalas.


Ya minta maaf saja


Lagian sebentar lagi kan mau Ujian Nasional


Rasanya pasti ada yang mengganjal nantinya kalau belum minta maaf


Iya sih Wan, ya udah deh aku minta maaf saja sama Fabian.


Thanks Wan


Setelah aku membalas itu pada Wawan, tampak Wawan tak membalas pesanku lagi. Tapi kini hatiku lega, dan aku mulai merencanakan untuk meminta maaf kepada Fabian nantinya.


......................


Sebulan kemudian, kami semua kelas 12 SMA mulai disibukkan lagi dengan materi-materi Ujian Nasional yang akan diadakan pada tanggal 22 Maret 2010. Materi-materi khusus yang akan diujikan nantinya mulai dipadatkan lagi.


Detik-detik menjelang Ujian Nasional, tepat tanggal 19 Maret 2010. Dimana hari ini mengadakan doa bersama menjelang Ujian Nasional, serta memohon doa restu pada guru-guru, dan bersalaman dengan teman-teman seangkatan. Rasa haru menghampiri kami semua saat bersalaman dengan teman-teman seangkatan, terutama teman sekelas karena kemungkinan setelah lulusan SMA tak betemu mereka-mereka lagi termasuk Fabian, Luna, Tyas, Gazela, maupun Wawan.


Aku tak lupa bersalaman dengan Luna, Tyas dan Gazela. Serta Wawan dan teman-teman lainnya. Saat aku, Luna, dan Tyas yang akan bersalaman di ruang guru urung, karena melihat anak-anak kelas 12 IA 1 tengah memberi surprise pada wali kelasnya yang kebetulan berulang tahun. Saat kulihat Pandu, aku bersalaman juga dengannya. Dan saat pandanganku jatuh pada Fabian, aku ingin sekali meminta maaf karena sebenarnya aku masih merasa dosa dengannya telah berburuk sangka terlebih dulu. Saat akan meminta maaf pada Fabian yang tengah berdiri di dekat tangga rasa ragu dihati mulai bergelayut. Tapi karena permintaan hatiku sendiri, akhirnya kuberanikan untuk menghampiri Fabian yang tengah berdiri sendirian.


“Fab, kita kan pendaftaran SMA bareng nih. Masa lulusannya nggak. Maafin aku ya kalau selama ini ada salah yang di sengaja atau tidak sengaja sama kamu” ucapku yang mulai mengulurkan tangan untuk meminta maaf pada Fabian.

__ADS_1


Fabian tampak menoleh dan sedikit terkejut dengan kehadiranku. “Eh, iya Mi. Maafin aku juga ya, kita sama-sama” balas Fabian dengan senyuman sembari menjabat tanganku juga.


Mendengar Fabian berkata demikian, hatiku sangat lega sekali. Sepertinya Fabian sudah melupakan tentang kejadian itu. Tapi aku baru minta maaf sekarang, nggak apa-apalah daripada nggak minta maaf sama sekali.


“Oya Fab, Yusa itu mantan kamu bukan?” tanyaku iseng.


Ekspresi Fabian sangat terkejut sekali saat aku menanyai perihal itu. “Ha? Yusa belakang rumahku itu Mi maksudnya?”


Aku diam, karena aku sendiri tak tahu persis letak posisi rumah Fabian dan Yusa ada dimana. “Hhee, ngg...iya mungkin Fab” jawabku sedikit terkejut dan penuh ragu karena bingung sendiri ingin menjawab bagaimana.


“Nggak Mi, nggak...” tampik Fabian cepat.


“Yang bener Fab?” tanyaku lagi, karena merasa kepo.


“Beneran Mi, Yusa bukan mantanku” tampik Fabian lagi.


Ekspresiku langsung lega ketika Fabian mengatakan itu. Lalu aku manggut-manggut saja kearah Fabian. Tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu hal lagi pada Fabian.


“Oya Fab, kuliah nanti mau lanjut kemana?” tanyaku mengganti tema pembicaraan.


“Hmm, pengennya sih luar kota kuliah di Jakarta atau nggak di Yogyakarta Mi” terang Fabian penuh senyum.


Aku bergantian terkejut saat mendengar Fabian yang mempunyai rencana akan melanjutkan kuliah keluar kota, tanpa sadar aku kelepasan merespon”Lho Fab, di Semarang saja dong”


Fabian tersenyum saat aku tanpa sadar menanyatakan keberatanku tentang Fabian yang rencana akan ke luar kota nantinya saat kuliah. Dengan santai Fabian menjawab.”Cari suasana beda aja Mi, sudah bosan juga di Semarang terus. Masa dari kecil sampai sekarang di Semarang terus”


Mendengar penjelasan Fabian tentang alasan rencananya kuliah luar kota, aku tak bisa berbuat banyak. “Benar juga sih, apa yang dikata Fabian. Tapi kok rasanya berat ya di detik-detik meninggalkan kelas 12 SMA ini. Rasanya seperti kehilangan Fabian” batinku sedih.


“Oh, begitu ya. Ya udah deh” balasku yang masih menyimpan perasaan sedihku siang ini.


Setelah percakapan itu, aku dan Fabian terdiam kemudian tak melanjutkan pembicaraan lagi. Aku terkejut sekali karena tadi aku tak sengaja kelepasan berbicara dengan Fabian yang keberatannya tidak boleh ke luar kota nantinya saat kuliah, tapi disisi lain aku senang sekali mengingat tadi aku berbicara dengannya lumayan lama. Disisi lain, aku juga malu karena tanpa sadar aku kelepasan ngomong begitu padanya. “Oh iya, mana besok ketemu Fabian lagi di SMP untuk minta doa restu pada guru-guru disana” panikku merasa salah tingkah sekali.


......................

__ADS_1


__ADS_2