First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya itu....


Aku mulai sedikit-sedikit beradaptasi dengan suasana kelas 11 IS 3. Ternyata di kelas ini sangat menyenangkan, mungkin karena aku telah mengenal mereka sebelumnya di kelas 10 SMA dulu.


Pertemananku dengan Puji masih berlanjut, entah apa yang membuatku yakin kalau aku masih bisa berbuat baik pada Puji. Walau teman-teman yang lain masih banyak yang mencibir tentang Puji. Aku tetaplah ingin berteman dengan siapa saja, termasuk Puji. Tak masalah denganku. Karena aku mengenalnya dari awal masuk SMA dan mengenalnya dengan sosok yang asyik. Walau aku tahu Puji telah membohongiku. Mungkin aku memberi waktu untuk merubah sikapnya. Tapi semakin kesini, aku merasa aneh dengan sikap dan sifat Puji padaku.


Satu bulan berlalu berada di kelas 11 IS 3. Aku semakin nyaman dengan nuansa kelas ini. Teman-teman yang asyik dan menyenangkan, walau ada seorang teman yang tak menyukaiku. Entah karena apa.


Tak terasa Bulan Agustus sudah hampir memasuki pertengahan. Tepat hari ini tanggal 16 Agustus 2008, hari dimana sekolahku tengah mengadakan lomba-lomba 17an untuk menyambut Hari Kemerdekaan esok hari. Dan tepat hari ini, sekolah kami tengah free class karena mengadakan lomba 17an tersebut. Lomba di sekolah antara lain hias tumpeng, lomba melukis tong sampah, dan lomba K3.


Sebelum kegiatan lomba, aku berkunjung di kelas 11 IS 1 kelas Luna dan Tyas. Kebetulan disana juga ada Gazela. Jadi kami berlima berkumpul di depan kelas 11 IS 1. Saat aku berdri berhadapan dengan Tyas, tiba-tiba Tyas membisikkan sesuatu padaku dengan perasaan sebal sembari melirik Puji.


”Ngapain sih Mi kamu ngajakin Puji kesini” bisik Tyas sepelan mungkin di telingaku.


Aku hanya tersenyum kecut pada Tyas lalu berbisik”Dia ngikut sendiri kok”


Tampak Tyas menghembuskan napas perlahan dengan ekspresi sebal. Lalu kami semua terdiam, tiba-tiba aku beralih ke pandangan cowok yang tengah memeluk gitar lalu setelah itu memetiknya pelan-pelan. Yup, siapa lagi kalau nggak Fabian.


“Waww, Kamu bisa main gitar ya Fab” komentarku saat melihat Fabian masih memetik gitar pelan-pelan.

__ADS_1


Mendengar itu, Fabian mendongak lalu tersenyum kearahku. Setelah itu Fabian merespon.”Nggak bisa aku Mi, ini cuma iseng-iseng doang kok”.


Aku membalas dengan manggut-manggut dan tersenyum. Belum selesai pembicaraanku dengan ketiga temanku, kelasku terlihat sudah masuk kelas. Aku dan Puji buru-buru berlari menuju kelas 11 IS 3. Setelah masuk kelas, akhirnya disuruh bersih-bersih kelas untuk persiapan lomba K3. Di tengah-tengah melakukan bersih-bersih kelas, kejadian iseng tercipta di kelas 11 IS 3. Entah, apapun itu yang mereka lakukan. Aku hanya ikut membaur dengan suasana kelas yang menyenangkan ini. Ternyata setelah melaksanakan bersih-bersih kelas, ada beberapa teman yang tengah membawa tumpeng sisa dari lomba tadi.


Mereka membagi nasi kuningnya per anak secara estafet, setelah dibagi semua kami satu kelas segera menyantapnya hingga tak tersisa. Lumayan deh, habis bersih-bersih kelas dapat nasi kuning.


Dan setelah acara makan-makan di kelas, kemudian aku keluar kelas yang ternyata diikuti Puji dari belakang. Rasanya lama-lama malas kala diikuti Puji terus.


Aku duduk di buk depan kelas sembari melihat-lihat sekitar. Belum lama aku duduk, aku melihat Fabian lewat depanku persis dan tiba-tiba saat menoleh kearahku, Fabian melemparkan senyum untukku. Langsung aku refleks membalas senyuman dari Fabian dan tanpa sadar membuat detak jantungku berdebar tak karuan.


Tiba-tiba seseorang langsung heboh saat mengetahui kejadian itu. Yup, siapa lagi kalau bukan Puji yang langsung merasa heboh dan meledekku.


......................


Aku yang seperti biasa mengampiri Gazela di kelasnya terlebih dahulu dan seperti biasa Puji mengikutiku dari belakang. Sebelum menghampiri Luna dan Tyas di kelasnya, tapi ternyata kulihat Luna dan Tyas sudah lebih dulu keluar kelas. Aku menyambut mereka dengan senyuman dan masih menanti kelas 11 IA 1 keluar.


Tak lama kemudian, kelas 11 IA 1 berhamburan keluar kelas. Dan saat mereka-mereka berhamburan keluar kelas, aku melihat pertama kali yang keluar kelas adalah Fabian dan Pandu. Entah kenapa saat Fabian melihatku balik sembari melemparkan senyuman manisnya. Aku membalasnya dengan tersenyum juga sembari mendongak kearahnya yang ada di depanku persis.


Saat aku membalas Fabian dengan senyuman, tiba-tiba Fabian merespon”Kamu ngapain Mi?”

__ADS_1


Mendengar Fabian berkata demikian, aku dibuat terhenyak lagi dan tanpa sadar jantungku berdegup kencang. Dengan ekspresi yang masih tersenyum, aku membalasnya”Eh, nggak apa kok Fab”. Tapi batinku bertanya lagi”Ini anak aneh banget deh, senyum-senyum sendiri kearahku. Tapi setelah aku balas kok tanya kenapa? Harusnya aku yang tanya itu, bukan kamu Fabian”


Puji langsung heboh melihat pemandangan itu dan meledekku.”Kok Fabian aneh gitu sih Mi, dia senyum-senyum sendiri kearahmu. Malah tanya kamu”


Aku meresponnya dengan mengangkat bahu tanda tak mengerti sembari tersenyum singkat. Saat Gazela keluar kelas, kami segera berjalan meninggalkan sekolah.


......................


Hari Seninnya sewaktu upacara, kebetulan pagi ini Kepala Sekolah memberi amanat sekaligus himbauan pada kami semua bahwa akhir-akhir ini terjadi kehilangan motor. Kepala Sekolah mengatakan bahwa jangan di parkir di luar sekolah lagi, tepatnya di parkiran yang dulunya Mall.


Keesokan harinya, tepat hari Selasa. Aku berangkat seperti biasa dan sesampainya sekolahan ternyata masih terlihat sepi. Aku berangkat sekolah tidak naik motor, melainkan naik bis dan angkutan untuk sampai ke sekolah. Saat memasuki kelas 11 IS 3, suasana kelas terlihat lengang sekali. Beberapa menit kemudian, ada dua teman yang sudah berangkat.


Dan masih dengan suasana sepi, aku masih duduk di bangku depan deretan kedua. Aku merasa kacamata yang kupakai agak kurang jelas. Akhirnya ku lepas kacamataku sebentar untuk kubersihkan, saat kondisiku masih tak berkacamata, aku sempat menoleh ke luar kelas. Ternyata melihat seseorang tengah memarkir motornya di depan kelasku. Samar-samar cowok itu seperti Fabian, setelah kupakai kacamatanya lagi. Ternyata memang Fabian yang tengah parkir di depan kelasku. Dan kulihat juga Fabian segera berjalan menuju kelasnya.


Tak terasa, kini waktu pulang pun tiba. Aku yang segera keluar kelas untuk menghampiri teman-teman. Ternyata berpapasan dengan Fabian yang hendak mengambil motornya di depan kelasku juga. Fabian melihatku lalu senyuman itu langsung mendarat kearahku. Mendapati itu, aku membalas senyuman dari Fabian dengan perasaan yang pastinya langsung buatku salah tingkah.


Aku semakin nggak mengerti arti dari senyuman Fabian apa. Dengan perasaan yang masih merasakan salah tingkah, dibenakku masih bertanya-tanya tentang arti senyuman dari Fabian.


......................

__ADS_1


__ADS_2