
Hari Senin Siang tiba, aku telah siap untuk berangkat sekolah dengan atribut MOS yang kurasa sangat aneh. Iyalah aneh, bayangin aja udah berangkatnya siang, di kucir 5 helai dengan pita warna kuning, pakai kaos kaki warna hitam putih dan pakai ikat pinggang dengan hasil kepangan 5 warna. Sesampainya di sekolah, aku berkenalan lagi dengan teman baru namanya Tyas. Orangnya terlihat cuek saat berkenalan dengannya, tapi menurutku dia baik sih. Setelah berkenalan dengan Tyas, aku segera masuk gerbang sekolah karena Tyas sendiri tengah menunggu seseorang di luar.
Sesampainya di sekolah, aku segera memasang nametag dari kertas karton, topi kerucut dengan hiasan cabai merah dan kacang panjang, rompi koran, tas selempang dari kantong plastik warna hitam putih, dan kalung dengan hiasan (bawang merah, terasi, coklat koin, dan lain sebagainya).
MOS dilaksanakan selama dua hari dan masuk siang. Menjalankan MOS itu melelahkan, apalagi dilaksanakannya siang hari.
Dua hari berlalu setelah dilaksanakannya MOS, resmi sudah aku menjadi anak SMA. Hari Rabunya aku berangkat sekolah pagi seperti biasa sembari pembagian kelas. Pagi hari saat aku tengah menanti bis bersama tetanggaku. Aku sepintas melihat Fabian lewat, dia naik motor, karena aku belum pakai kacamata jadi belum jelas pas dia berhenti di depan toko material dekat minimarket seberang perumahanku. Berhenti lumayan lama sambil menoleh kearahku. Aku yang waktu itu diam saja tak tahu maksud Fabian. Beberapa kemudian, dia segera tancap gas dan berlalu. Sadar Fabian telah berlalu, aku menyadari bahwa tadi ternyata dia nawari aku. “Sorry Fab, aku nggak ngeh. Efek mata minus belum pakai kacamata jadi nggak lihat deh” batinku penuh sesal.
Sesampainya di sekolah, ternyata suasana sekolah masih sepi sembari mencari kelas yang akan ku huni selama setahun berada di kelas 10 B. Yup, ternyata aku ada di kelas 10 B. Satu kelas dengan Gazela dan Pandu. Luna berada di kelas 10 C, sedangkan Puji di kelas 10 D (satu kelas dengan Fabian).
Awal masuk kelas, seperti biasa butuh adaptasi dengan suasana kelas baru. Perkenalan dengan teman-teman baru, wali kelas, pembentukan organisasi di kelas dan lain sebagainya.
Duduk di belakang membuatku tak nyaman dengan penglihatanku, rasanya semakin tersiksa. Akhirnya aku bertukar tempat duduk dengan Gazela yang tadinya duduk di depan Viani. Baru masuk beberapa minggu, entah apa yang kurasa. Seperti rindu dengan suasana SMP dulu. Yup, suasana yang selalu bikin aku terkesan.
......................
Siang itu, aku yang hendak keluar kelas. Merasa tengah menabrak seseorang, tapi entah kenapa jantungku berdegup kencang. Setelah mendongak keatas ternyata aku menabrak Fabian. Nyess! Banget rasanya. Menyadari hal itu, aku langsung berjalan menuju kelas Luna yang berada di sebelahku. Sesampainya di depan gerbang SMA untuk menanti angkot lewat bersama Luna, Gazela dan Puji. Melihat Fabian tengah berboncengan motor dengan Pandu. Mendadak aku iseng ingin meledek Pandu.
“Wah, itu motormu nanti kempes lhoh Fab dinaikin sama Pandu” ledekku iseng.
Mereka berdua langsung menoleh dan melihat keadaan ban motor Fabian di bagian belakang. Melihat itu, aku geli.
“Kempes ya Fab?” tanya Pandu langsung panik.
“Nggak kok” respon Fabian sambil menggeleng.
Setelah mereka mengecek ban motor, ku lihat Fabian tersenyum padaku. Tapi aku masih merasa geli dengan kejadian baru saja.
......................
Sebulan kemudian, aku memutuskan untuk periksa mata. Karena penglihatanku semakin parah. Aku sengaja izin berangkat sekolah karena ingin memeriksa kondisi kedua mataku yang telah mengganggu penglihatanku. Setelah di periksa aku ternyata sudah minus silindris 2.
......................
Keesokan harinya, tepat tanggal 17 Agustus 2007.....
__ADS_1
Pagi ini aku berangkat pagi-pagi sekali, karena upacara di sekolah dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Upacara tak hanya dilaksanakan di sekolahku saja, tapi dilaksanakan di sekolah-sekolah lain bahkan sampai kantor-kantor.
Aku yang sudah sampai di sekolah pagi-pagi dan terlihat sepi. Saat sepi itulah aku memutuskan untuk keluar kelas melihat kelas kanan kiri yang masih tampak sepi juga. Beberapa menit kemudian, kulihat Fabian datang dan berjalan lewat depanku persis saat aku tengah berdiri di depan kelas(karena parkiran motor ada di depan kelasku persis jadi Fabian memarkir motornya di depan kelasku). Aku hanya diam saat melihatnya lewat, pikirku dia masih seperti dulu waktu kelas 9 SMP. Ternyata aku salah, tiba-tiba dia tersenyum manis sekali. Tapi aku masih bengong untuk siapa itu senyuman sampai-sampai aku menoleh kanan dan kiri. Tapi adanya aku doang disini dan senyuman itu tak hentinya untukku. Setelah sadar Fabian tersenyum padaku, aku membalas senyumnya dengan ekspresi malu-malu dan tanpa sadar juga dadaku berlonjak-lonjak tak karuan. Aku salah tingkah sekali. Jantungku masih saja berdegup kencang saat mengalami kejadian itu. Tanganku langsung terasa dingin semua.
Setelah Fabian berlalu, rasa itu masih ada sampai-sampai aku merasa senyuman Fabian masih menari-nari dibenakku. Lalu aku bertanya dalam hati”Fabian tumben banget sih sekarang ini, berubah drastis coba. Semenjak kejadian pamitan sama aku sambil senyum. Sekarang aku dikasih senyumannya lagi. Dia lagi kesambet makhluk apaan ya? Bukan karena dulu aku bilangin sombong kan?”
Aku yang kembali masuk kelas masih saja terbayang-bayang kejadian baru saja, rasanya ingin terulang kembali.
Sebulan kemudian, kejadian serupa terulang kembali. Diakhir bulan, tepat tanggal 25 September 2007, tepat bulan Ramadhan. Kebetulan waktu itu pulang sekolah. Aku yang sudah keluar kelas waktu itu hendak ke kelas 10C untuk menghampiri Luna. Aku berpapasan dengan Fabian yang kebetulan dia mau ambil motor di parkiran depan kelasku. Tiba-tiba senyuman itu mendarat lagi untukku. Iya, senyuman manis dari Fabian kudapatkan lagi. Aku langsung membalas senyuman dari Fabian dengan ekspresi tersipu dan jantungku langsung berdegup dahsyat setelah kejadian itu. Otakku bertanya-tanya ada apa dengan Fabian sekarang ya? Nggak biasanya begini deh, suka senyum-senyum nggak jelas begini.
......................
Awal bulan Oktober, tepat tanggal 2 dan 3 kejadian serupa lagi. Lagi dan lagi kejadiannya saat pulang sekolah juga. Aku semakin nggak mengerti dengan sikap Fabian padaku akhir-akhir ini. Jelaslah, kejadian tersebut semakin buatku salah tingkah dan selalu terbayang-bayang kala mengingat senyuman dari Fabian. Dulu dia kelas 9 SMP sombong sama aku, bahkan lihat aku seperti tak mengenalinya, sekarang dia kala bertemu denganku senyum-senyum. Seperti ada perubahan drastis di dalam diri Fabian padaku. Padahal cewek-cewek di SMA juga banyak yang cantik-cantik. Tapi aku nggak ingin ke-GR-an dulu atau salah tangkap dengan sikap Fabian yang begitu manis padaku.
Saat ku ceritakan kembali pada Rere, dia tergelak. Bahkan Rere mendeskripsikan bahwa Fabian menyukaiku. Tapi apa bener kalau Fabian suka aku? Mendengar Rere berkata demikian, hatiku salah tingkah sekali. Sementara mimpi tentang Fabian ternyata sampai sekarang masih datang untuk menemani tidurku. Ada apa denganku? Apa aku mulai suka Fabian juga? Kadang perasaanku juga merasa aneh. Sudah setahun ini aku memimpikannya.
Tanggal 8 Oktober 2007, kejadian sama kembali terulang. Waktu itu hari terakhir UTS menjelang libur Lebaran dan dilanjutkan lagi setelah libur Lebaran. Hari Senin ini, pulang lebih awal karena jadwal UTS tak terlalu banyak. Waktu pulang ternyata aku pulang sendirian tanpa Luna dan Gazela. Aku naik angkutan sendirian tanpa mereka.
Setelah turun dari angkutan, aku menyeberang untuk menunggu bis. Aku terkejut kala mendapati Fabian juga menanti bis. Beruntungnya ada kakak kelas cewek yang tengah menanti bis juga. Sedikit menghilangkan rasa grogi karena melihatnya, aku bercerita-cerita dengan kakak kelas sampai tak terasa bis yang kami nanti datang juga. Aku duduk di dalam dekat pintu belakang. Sementara Fabian duduk di belakang dekat pintu keluar. Saat bis berjalan, aku hanya diam sembari menikmati perjalanan pulang. Sesampainya di perumahan tempat tinggalku. Aku bersiap-siap berdiri di belakang, tepat Fabian tengah duduk disana juga. Aku yang hendak turun, pandangan Fabian beralih padaku. Entah kenapa dia mengamatiku dari bawah dan saat melihatku akan turun dia tersenyum sedekat mungkin kearahku. Aku membalas menatap Fabian dengan malu-malu sembari membalas senyumannya itu dan tanpa sadar aku merasakan panas di pipiku. Yup, merona karena membalas senyuman dari Fabian. Jantungku langsung berdegup tak karuan. Saat aku turun, ku tepuk kakinya sembari mengatakan”Duluan ya Fab”. Ku dengar Fabian merespon”Ya...”
Aku mengatakan itu tanpa berani menatap wajahnya lagi, karena aku sudah terlanjur merasakan salah tingkah yang luar biasa. Sembari melangkahkan kaki masuk perumahan, aku masih terbayang-bayang kejadian barusan. Aku tak bisa mengumpat rasa senyum-senyumku siang ini. Mendadak aku sadar sesuatu”Astagfirullah! Mi, ini Bulan Ramadhan. Dosa dong tadi waktu saling menatap mata, mana pakai tebar pesona lagi”. Rasanya seperti orang gila kala senyum-senyum tak jelas mengingat kejadian tadi siang. Aku semakin tak sabar untuk bercerita lagi dengan Rere.
......................
Tapi saat Puji bergantian membalas menceritakan tentang Fabian di kelas, aku merasa hatiku pedih. Rasanya aku seperti terbakar cemburu dan hatiku berkata”Masa sih Fabian begitu sama Puji di kelas?”. Tapi aku tetap menampik semuanya, karena merasa hatiku pasti akan baik-baik saja. “Masa aku cemburu sih kala Puji bergantian bercerita tentang Fabian di kelas? Masa aku cemburu sih sama orang yang tengah dekat denganku? Masa gitu sih, Fabian orangnya di kelas?” hatiku berusaha bertanya-tanya tentang perasaanku ini dan tentang Fabian yang bersikap begitu kepada Puji.
Disisi lain aku melihat Fabian seperti yang ku kenal jaman kelas 9 SMP dulu. Saat berpapasan dengannya kembali terdiam. Aku semakin tak mengerti tentang sikap Fabian yang berubah begini lagi.
Semester 1 di kelas 10 SMA ini akan berakhir. Di sekolahku setelah mengerjakan Ulangan Akhir Semester diadakan class meeting, jadi siswa-siswi terserah mau berangkat dan pulang jam berapa saja. aku yang berangkat sekolah seperti biasa dengan tujuan sekedar berkumpul-kumpul dengan teman-teman dekat. Yup, kegiatannya sangat bebas sekali. Hampir seminggu sudah dilakukan class meeting di sekolah tanpa melakukan kegiatan apapun. Tapi berkumpulnya dengan teman-teman terdekat membuatku sangat senang.
Hari Senin dan Selasa, aku masih berangkat sekolah seperti biasanya. Ternyata hari ini per anak diberi tiket untuk Pensi esok Hari di sekolah. Tapi aku tak datang, karena akan pergi ke Solo tempat saudara dari Papaku. Dan kebetulan besok adalah hari ulang tahun Rere.
Setelah acara resepsi disana, sorenya pulang ke Semarang lagi. Sesampai Semarang malam hari. Rasa lelah terasa sekali saat aku merebahkan tubuhku di ranjang. Aku tidur.
Aku merasa waktu sudah menujukkan pagi hari. Aku terkejut melihat Fabian datang ke rumah, sebelumnya ku persilakan dia masuk ke dalam rumah. Saat duduk, tiba-tiba Fabian memarahiku dan mengatakan”Kamu kemarin nggak datang ke acara pensi sekolah ya? Aku tunggu-tunggu juga di sekolah”
__ADS_1
“Sorry, sorry. Kemarin aku ada acara keluarga di Solo. Terus rasanya kecapean, jadi nggak berangkat ke sekolah deh Fab” terangku.
Fabian terdiam dan hanya membalas manggut-manggut saja.
Aku terbangun, karena sadar belum solat Subuh. Sebelumnya terkejut mengingat kejadian baru saja ternyata mimpi. Hatiku langsung berdesir hebat sembari mengingat-ingat kejadian di mimpi itu.
......................
Kini saat memasuki semester 2, aku semakin akrab dan dekat dengan Puji. Walau aku masih dekat dengan Luna. Karena dengan Luna aku mengenalnya lebih jauh sebelum mengenal Puji. Dan aku merasa juga dekat dengan Gazela. Iya... karena aku sekelas dengannya membuatku akrab dan kami sering pulang bersama. Gazela bercerita banyak hal tentang apa yang dia alami. Ada rasa ingin bergantian curhat dengannya, tapi aku malu. Kata hatiku sebenarnya tak menghendakiku untuk bercerita balik pada Gazela, karena yang aku alami menyangkut tentang teman SMP. Iya, seseorang yang selalu hadir dimimpiku. Tapi mulutku ingin bercerita tentang apa yang kualami. Karena aku percaya pada Gazela yang ku kenal sedari SD sampai saat ini. Tapi setelah aku bercerita dengan Gazela, ekspresinya berubah terkejut lalu Gazela berubah menjadi gelak tawa. Entah kenapa, perasaanku menjadi pahit dan seperti membuka rahasia terbesarku. Rasanya aneh sekali.
Hari demi hari, aku semakin dekat dengan Puji. Dan semakin kesini Puji semakin sering bercerita tentang kedekatannya dengan Fabian di kelas. Saat Puji bercerita demikian, aku merasa seperti terbakar cemburu. Iya, cemburu dengan Puji. “Masa sih Puji juga suka Fabian? Masa Fabian begitu sama Puji kalau di kelas? Tapi feeling-ku mengatakan kalau Fabian tak melakukan itu semua kepada Puji. Buktinya tiap Fabian senyum kearahku, Puji tetap saja dicuekin” batinku semakin bertanya-tanya dengan perasaan yang semakin berkecamuk tak karuan. Aku tak mengerti dengan semua yang tengah menimpaku saat ini. Antara ada perasaan jealous, ada perasaan curiga dengan cerita dari Puji, dan percaya bahwa Fabian tak melakukan itu semua. Aku hanya menutupi rasa itu semua di depan Puji dengan berpura-pura meledeknya sekaligus sok heboh mengetahui hal tersebut.
Hari esok adalah misteri. Iya, semua orang tak tahu hari esok akan mengalami kejadian seperti apa itu tidak tahu. Termasuk aku yang tak tahu saat ini akan mengalami kejadian apa.
Seperti hari ini, tanggal 19 Februari 2008. Tepat jam istirahat pertama, setelah aku makan bersama teman-teman di kelas. Aku menawari diri untuk membuang plastik bekas roti yang habis kami makan. Aku segera beranjak dari bangku dan keluar kelas untuk membuang sampah. Saat aku keluar kelas, kulihat Fabian dan temannya tengah berdiri di depan parkiran motor yang letaknya depan kelasku persis. Entah apa yang mereka lakukan disana. Sementara aku masih kebingungan mencari tempat sampahnya dimana.
Sembari membenarkan tali sepatunya, Fabian yang masih disebelah temannya melihatku yang masih kebingungan dan tiba-tiba tersenyum kearahku. Saat sadar bahwa Fabian tersenyum padaku, dengan ekspresi malu-malu aku membalas senyumannya dan membatin”Itu Fabian lagi senyum kearahku sambil nali sepatunya dan sebelahnya ada temennya. Misalkan Fabian salah nali ke temennya jatuh mungkin mereka, heheee.....” batinku geli sembari membayangkan kejadian konyol itu seandainya terjadi.
Setelah kejadian itu, lagi dan lagi aku merasakan salah tingkah dan jantungku bergedup kencang. Aku tak mengerti maksud Fabian senyum lagi kearahku kenapa ya. Kejadian itu membekas terus dipikiranku, rasanya ingin terulang kembali. Sadar bahwa dari tadi aku ingin mencari tong sampah, ternyata tong sampah itu bersembunyi dibalik pintu kelas. Segera ku buang sampah yang sedari tadi aku pegang. Aku masih merasakan degupan kencang dengan kejadian baru saja.
Seminggu kemudian, kejadian serupa kembali terulang. Senin ini tanggal 25 Februari 2008. Kebetulan siang ini pulang lebih awal. Sewaktu aku menyambangi Luna di depan kelasnya, Luna mengajakku untuk minta ditemani ke Pasar Swalayan yang tak jauh dari sekolah kami, walau ditempuhnya masih menggunakan angkutan umum. Kami bertiga pulang bersama seperti biasa. Karena aku tak bertemu Puji siang ini. Gazela memintaku dan Luna untuk menemaninya di depan gerbang sekolah untuk menanti seseorang menjemputnya. Tak lama kemudian Gazela sudah di jemput. Setelahnya Gazela dijemput, aku dan Luna segera menaiki angkutan umum yang sudah di depan kami persis. Aku dan Luna duduk dekat pintu keluar. Angkutan tersebut masih berhenti di depan gerbang sekolah dan tengah menanti penumpang lainnya. Saat pandanganku melihat kearah belakang, kulihat Fabian di belakang angkutan yang kunaiki kini. Dia masih berdiri disitu karena terhalang angkutan.
Tampak Fabian juga melihatku yang tengah di dalam angkutan bersama Luna. Tiba-tiba Fabian tersenyum, aku terhenyak mendapati Fabian tersenyum kearahku. Tanpa sadari aku juga ikutan tersenyum membalas senyuman Fabian yang manis itu “Gila ini cowok. Aku sudah ada di dalam angkutan saja masih bisa ngajakin senyum ya. Dia tahu banget sih kalau itu aku” batinku langsung salah tingkah.
“Lun, tadi Fabian senyum kearahku”ceritaku pada Luna.
“Ciee, senyum-senyum sama Fabian” respon Luna geli.
“Ih, Luna ini deh” balasku dengan ekspresi tersipu.
Luna masih tampak geli saat aku sangat salah tingkah mendapati kejadian itu. Segera angkutan itu meninggalkan sekolah karena sudah ada beberapa penumpang yang menaiki angkutan tersebut. Saat angkutan itu tengah berjalan, aku masih terbayang-bayang senyuman dari Fabian. Bahkan sesampainya di pasar swalayan, kejadian itu masih berputar manis diingatanku. Kejadian singkat namun terngiang manis diotak lama sekali. Aku sampai tak tahu sendiri maksud dari senyuman Fabian apa.
Empat hari kemudian, tanggal 29 Februari 2008. Terulang kembali dan tepat pulang sekolah juga. Kini aku tengah berkumpul berempat dengan mereka di buk depan sekolah sembari nongkrong dan ngobrol-ngobrol. Aku duduk sebelah Puji, sewaktu Fabian tengah berjalan dengan temannya, dia menoleh lalu melihatku dan tersenyum lagi kearahku. Aku membalas senyumannya. Lagi dan lagi jantungku langsung berdegup tak karuan karena melihat dan membalas senyuman dari Fabian lagi.
Hari berikutnya, tanggal 1 Maret 2008 tepat hari Sabtu dan itu pulang sekolah. Seperti biasa aku yang tengah nongkrong di depan buk depan sekolah bersama teman-teman. Tiba-tiba Luna dan Gazela mengajakku ikutan ngenet di sekolah. Yup, tempatnya di laboraturium komputer. Saat aku beranjak dari buk, depanku persis Fabian yang akan melewati gerbang sekolah. Sedekat mungkin dia melempar senyuman itu lagi padaku. Otomatis aku membalasnya. Senyumannya bagaikan magnet yang otomatis langsung membuatku untuk membalasnya. Lagi dan lagi aku merasakan panas di pipi dan degupan kencang dari senyuman Fabian yang begitu manis sembari membatin”Ih, Fabian ini apaan sih? senyum-senyum mulu deh kalau ketemu aku”.
__ADS_1
Setelah mendapatkan senyuman dari Fabian, aku melanjutkan langkahku untuk sampai ke laboraturium komputer.
......................