
Keesokan harinya, aku bertemu dengan Puji lagi. Luna membisikkan agar aku lebih berhati-hati lagi dengan Puji. Aku dapat cerita lagi tentang Fabian dari Puji. Aku hanya diam, bahkan Puji menghasutku untuk melupakan Fabian. Aku masih merasa sakit hati sekali.
Tapi seiring berjalannya hari, aku merasa ada yang aneh. Karena saat Fabian tersenyum padaku lagi, Puji dicuekin. Malah Puji heboh. Feeling-ku berkata bahwa Puji selama ini telah membohongiku. Aku semakin gerah dengan sikap Puji yang hanya berpura-pura baik di depanku.“Yang diajakin senyum siapa, yang seperti cacing kepanasan itu siapa” batinku sebal.
Tepat tanggal 20 Maret 2008, kebetulan hari ini tanggal merah pada Kamis. Sekolah kami mengadakan Study Lapangan ke Yogyakarta khusus kami kelas 10 SMA. Menyenangkan sekali. Saat aku sampai di sekolah, bukannya bertemu teman-teman malah Fabian dulu yang kulihat.
Aku duduk di bis 1, sementara Luna dan Gazela duduk di bis 4. Sementara Fabian duduk di bis 2 dan Puji bersama Tyas berada di bis 3. Perjalanan pun di mulai, kami menikmati perjalanan menuju tujuan pertama yaitu Ketep. Perjalanan ke Yogyakarta menyenangkan. Tapi ada insiden tak terduga yakni bis 2 mengalami mogok di Ungaran. Akhirnya bis 1, bis 3, dan bis 4 menunggu informasi dari bis 2 yang tengah menyusul rombongan kami semua. Ternyata mogok lagi dan penghuni di bis 2 masuk di bis 1. Ku lihat dia berdiri dan menghalangiku tengah menonton tv di bis tersebut. Darurat jadi terima sajalah kondisinya.
Sesampainya di Ketep, kata sang guru pendamping yang masuk di dulu untuk melihat film tentang merapi adalah rombongan dari bis 1 dan bis 2. Aku mengantre masuk ruang Merapi Teater bersama dengan rombongan dari bis 2. Aku terkejut mendapati Fabian berdiri disebelahku, tiba-tiba aku merasa Fabian tersenyum padaku dan aku membalas senyuman manisnya itu. Rasanya memang bikin tak karuan deh alias bikin deg-deg serr.
Setelah itu rombongan kami dari bis 1 dan bis 2 segera masuk ke ruang Merapi Teater. Aku sangat menikmati studi lapangan kali ini. Setelahnya itu kami dilanjutkan untuk melihat tentang berbagai macam gunung. Di tempat selanjutnya, aku dipertemukan lagi dengan rombongan dari bis 2, yakni bis yang dinaiki Fabian. Ketika semuanya tengah mencatat hal yang penting-penting, ternyata aku banyak yang tertinggal dari info yang di terangkan oleh Tour Guide-nya di Ketep itu.
Akhirnya aku tak melanjutkan mencatat lagi. Saat aku berdiri sebelah Pandu, ternyata ada Fabian juga disana. Tiba-tiba saja aku merasa kurang nyaman, aku meminta tolong pada Pandu untuk membawakan dompetku sementara.
“Pandu, aku minta tolong sebentar dong. Bawain dompetku, soalnya saku celanaku ada di sebelah kanan, jadi susah” pintaku.
Pandu tampak mengulurkan tangannya untuk ku minta tolong. Segera dompet di kantongi oleh Pandu, tapi ternyata nggak muat juga.
“Udah Mi, bawa aja sendiri. Ini sakuku juga nggak muat” terang Pandu.
Entah kenapa, aku merasa dilihat oleh Fabian dengan tatapan aneh. Bukan merasa GR atau bagaimana, tapi feeling-ku mengatakan demikian. Akhirnya dompet itu ku bawa lagi.
Saat waktu senggang, ku lihat Fabian tampak berbincang-bincang dengan temannya dan kulihat juga dia tak bersama Puji. Lalu kutegur dia
“Fab, kamu kelompoknya siapa aja?” tanyaku.
Fabian menoleh saat aku menanyainya, kemudian merespon pertanyaanku sembari menunjuk teman-temannya satu per satu” Kelompokku ini, ini, ini..”
“Ya sebutin dong satu per satu siapa aja?” tanyaku lagi sembari menahan geli.
“Ah, paling kamu nggak kenal sama mereka. Ini lho ada Ifan, Okta juga” terang Fabian
Aku hanya manggut-manggut mengerti apa yang dimaksud Fabian.
Saat di tempat lain, Tour Guide-nya tampak melanjutkan penjelasannya pada kami lagi. Aku yang dari tadi tak mencatat karena informasi yang kudapatkan kurang, aku hanya diam saja. Walau sebenarnya aku juga butuh catatannya. Tiba-tiba Fabian bergantian menanyaiku.
“Kamu nyatet Geografinya nggak?”
“Nggak Fab, aku nyontek aja. Karena nyontek itu indah” cengirku.
Mendengar penjelasanku, Fabian menyunggingkan senyuman manisnya padaku lagi. Kemudian melanjutkan mendengarkan penjelasan tentang gunung merapi tersebut.
Setelah selesai semua kegiatan di Ketep, dilanjutkan ke tempat selanjutnya.Tapi belum selesai perjalanan menuju lokasi berikutnya. Insiden itu muncul lagi, saat bis 3 ternyata mengalami hal yang sama yaitu mogok saat bis akan keluar dari area Ketep. Sore harinya perjalanan tak dilanjutkan lagi karena memang tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Guru pendamping mengatakan bahwa study lapangan dilanjutkan sebulan lagi tepat tanggal 20 April. Akhirnya perjalanan pulang dipercepat sampai Semarang malam ini. Sebelumnya perjalanan dilanjutkan untuk makan malam sembari beristirahat sejenak.
Sesampainya Semarang malam hari, kelelahan malam ini sangat sia-sia sekali. Aku langsung dijemput dan pulang tanpa berpamitan kepada orang-orang terdekat.
__ADS_1
Di tempat lain Gazela dan Fabian tengah menanti jemputan masing-masing. Tiba-tiba Gazela menanyakan sesuatu pada Fabian.
“Fab, kamu pernah ngajakin Puji nge-date terus sampai nembak gitu?”
Fabian terkejut sekali. “Hahh? Puji yang duduk di depan itu? Temen sekelasku itu?”
Gazela menggangguk.
“Ihh, najis ya ngajakin nge-date dia. Apalagi sampai nembak dia. Jijik aku” respon Fabian dengan ekpresi risih.
Gazela tertawa melihat ekspresi Fabian demikian. “Kok bisa ya level cewekmu seperti itu? Masih mendingan Rista tahu” gelak Gazela.
“Iya, ya masih mendingan Rista. Puji nggak level-ku banget” respon Fabian
Fabian tiba-tiba dijemput Ibunya, dan setelah itu Gazela juga dijemput. Pembicaraan mereka berakhir saat itu juga.
......................
Keesokan harinya, tepat hari Senin. Gazela bercerita padaku tentang hal yang disampaikan kepada Puji tentang nge-date bersama Fabian itu. Gazela menceritakan semuanya sampai detail bahwa semua itu bohongan semata.
Aku terkejut mendengarkan cerita dari Gazela, dihatiku ada terselip rasa senang dan rasa masih tak percaya. Tapi nggak mungkin juga aku tak mempercayai seseorang yang ku kenal sejak SMP. Yup, aku harus mempercayai Fabian yang ku kenal sebagai seorang yang baik-baik. Dan pelan-pelan juga aku mulai mencurigai sikap Puji yang semakin membohongiku dibelakang.
Hampir setiap hari aku mendengar cerita dari Puji tentang Fabian di kelas. Rasanya hatiku semakin panas mendengarnya, tapi kali ini aku hanya mendengarkan saja walau kadang aku pura-pura iseng meledeknya. Puji semakin menjadi-jadi dan berlebihan kala bercerita tentang Fabian. Ingin rasanya menanyai kejadian minggu lalu, tapi lidahku masih tertahan.
Sementara di waktu lain, aku yang tengah bersama Gazela dan Luna.
Aku sedih harus mengalami kejadian ini, aku bercerita kepada Rere tentang masalah yang ku hadapi saat ini. Rere berusaha memberiku nasihat dan menghiburku. Hatiku masih merasa sesak kala mengingat kejadian itu. Tapi aku ingat cerita Gazela yang meyakinkanku, sebenarnya aku juga percaya apa yang telah disampaikan Fabian tentang hal tersebut. Disisi lain, aku sedikit kecewa dan agak jealous dengan sikap Gazela yang terlalu dekat dengan Fabian.
Seminggu sudah kejadian yang kualami setelah terbukti bahwa Puji membohongiku.
Tepat tanggal 28 Maret 2008, ternyata guru sejarah mengadakan remidi massal dari kelas 10B sampai 10D. Remidi massal tersebut dilaksanan di Aula sekolah yang letaknya di lantai 2 paling ujung. Aku yang dari tadi bersama Puji tengah bercerita apa saja. Tetap saja ujung-ujungnya Puji bercerita lagi tentang Fabian di kelas. Aku menanggapi seperti biasa, supaya Puji merasa dihargai.
Beberapa menit kemudian, remidial Sejarah dilaksanakan. Hampir satu jam lamanya mengerjakan di dalam ruang Aula.
Saat aku keluar ruang Aula, Puji memintaku agar menungguinya. Aku menyetujui permintaan Puji. Lama sekali aku dan Puji saling bercengkerama sembari nongkrong di depan gerbang sekolah. Kulihat Fabian akan keluar gerbang. Saat di depan gerbang persis di depanku dan Puji. Tiba-tiba Fabian tersenyum manis lagi untukku di depan Puji. Lalu kubalas senyumnya Fabian yang manis itu. Kini bukti sudah jelas, kalau Puji sudah membohongiku. Misalkan mereka jadian, nggak mungkin juga Fabian tersenyum manis untukku dan mengacuhkan Puji yang tengah bersamaku. Saat Fabian tersenyum padaku, Puji terlihat sangat heboh sekali dan meledekku dengan ekspresi setengah kecut “Cieee... dapat senyuman dari Fabian.”
Aku tersenyum dengan ekspresi tersipu sekali. Lalu membalasnya dengan kata-kata yang memancing Puji”Kenapa? Kamu jealous kan?”
Puji tiba-tiba memukuliku tanpa jelas, pertanda memang dia tengah jealous beneran. Aku hanya terbengong-bengong saat mendapati Puji bertingkah aneh padaku. “Lhah, yang dapet senyuman siapa? Tapi yang heboh kayak cacing kepanasan siapa?” batinku herandan merasa gerah dengan sikap Puji padaku.
Setelah kejadian itu aku memutuskan untuk naik angkutan dan pulang ke rumah. Tapi rasanya sedikit menyesal karena tidak meminta menebeng Fabian.
......................
Hari Sabtunya, seperti biasa kami pulang bersama. Aku yang tengah bersama Luna dan Gazela tengah membeli makanan di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba pandanganku melihat Puji tengah menghampiriku. Sementara kulihat Luna dan Gazela tampak berjaga jarak dengan Puji yang akan menghampiriku.
__ADS_1
Seperti biasa, dia langsung menceritakan tentang Fabian padaku lagi. Aku hanya diam saat Puji akan memulai cerita. Kata Puji, saat di kelas dirinya, Tyas, Budi, dan Fabian maju sewaktu pelajaran Kesenian untuk menyanyi. Lalu Puji melanjutkan ceritanya lagi padaku. “Eh, tadi dia deket-deket aku lho”
“Ceritamu bohong kan?” tanyaku langsung.
Puji terkejut saat aku menanyai hal itu, wajahnya berubah tegang. Tapi Puji masih saja mengelak dan mengatakan “Bener kok, itu tadi kejadiannya di kelas. Dia yang ngelakuin duluan.”
“Jujur deh kamu, nggak usah bohongin aku!” kataku langsung mendesak Puji mengatakan jujur padaku.
Puji semakin tegang saat aku mendesaknya untuk mengatakan jujur padaku.
“Beneran Mi, dia deketin aku dulu” bohong Puji lagi.
“Nggak usah bohong deh” balasku mulai kesal.
“Kalau iya emang kenapa Mi,” jujur Puji akhirnya. “Aku juga suka sama Fabian” tambahnya dengan memasang ekspresi menantang.
Pernyataan Puji siang ini benar-benar membuatku langsung shock. Hatiku sakit sekali mengetahui orang yang sudah kuanggap sahabat ternyata menusukku dari belakang. Orang yang ku angap baik-baik ternyata menghianatiku.
“Berarti ceritamu selama ini bohong kan, semua tentang Fabian itu” tanyaku semakin kesal dengan sikap Puji.
Tampak Puji berkata bohong lagi padaku. Aku mendesaknya untuk tidak membohongiku. Akhirnya Puji berkata jujur.
“Ya, selama ini aku bohongin kamu Mi,” ungkap Puji terlihat menantang lagi. “Aku mau buat kamu cemburu dengan Fabian” tambahnya.
Siang ini juga aku rasanya ingin mendampratnya, eh tepatnya menamparnya. Tapi aku sadar bahwa ini area sekolah dan aku tak mungkin melakukannya, akhirnya niat itu kuurungkan. Sembari beranjak dari buk depan gerbang sekolah, aku menanyai alasan Puji membohongiku selama ini.
“Kok kamu gitu sih sama aku? Padahal aku berusaha cerita banyak hal tentang semuanya padamu. Tapi kamu bohongin aku kenapa?” tanyaku semakin kesal.
“Emang selama ini aku selalu bohongin kamu apa?” tambahku lagi dengan merasakan sesak di dada
Puji menggeleng tanpa berkomentar apa-apa.
Lalu Puji juga sedang beranjak dari situ dengan ekspresi penuh senyum tanpa rasa bersalah. Dia mengalihkan pembicaraanku
“Udah ya Mi, aku mau pulang dulu. Mendung nih” pamit Puji sambil berlalu dan melenggang pergi untuk menyeberang.
Aku masih tetap menahannya, supaya Puji berkata jujur padaku. Melihat aku tengah tersulut emosi, Luna dan Gazela menghampiriku yang akan mendesak Puji berkata jujur .
Sampai akhirnya aku dan kedua temanku menyeberang ingin meluruskan masalah ini.
“Kenapa? Kenapa kamu bohongin aku?” tanyaku lagi dengan memaksa Puji untuk mengakui kesalahannya.
Aku tercengang tak percaya saat Puji mengatakan”Kamu sama Fabian cocok Mi. Makanya aku berusaha membohongimu.”
Alasan yang tak bisa masuk akal dan tak ada hubungannya dengan membohongiku, aku masih bingung saat Puji mengatakan seperti itu. Maksud Puji apa? Sesak, sakit hati, dan rasanya seperti ditampar saat Puji mengatakan seperti itu. Setelah kejadian itu, aku meminta maaf pada Luna. Mendengar aku meminta maaf pada Luna, dengan senang hati Luna menerima maafku dengan senyuman. Perasaanku berubah lega.
__ADS_1
Di sisi lain aku sekarang dapat pelajaran berharga tentang apa yang kualami baru saja. Sahabat seperti Luna dan teman-teman dari SMP lah yang memang tak akan tergantikan dan selalu ada untukku. Setelah kejadian Sabtu siang itu, aku merenung. Menerung sesuatu yang menyangkut tentang Fabian. “Jadi selama ini, aku berburuk sangka ya. Jadi ini ya yang namanya ngrasain benar-benar cemburu dan takut kehilangan seseorang. Maaf ya Fab, aku salah sangka dulu” gumamku dengan perasaan menyesal. Aku baru pertama kali ini merasakan sakit hati tak terkira. Kenapa sih aku mendapatkan teman seperti ini lagi. Yang dulu sudah cukup menyakitkan. Sekarang lebih menyakitkan lagi karena telah membohongiku.
......................