
Semakin kesini, aku semakin nggak mengerti maksud dari senyuman Fabian. Masih kepikiran saja dengan tingkah Fabian yang berubah drastis itu. Sementara pertemananku dengan Puji, aku merasa menemukan titik jenuh dengan sikap dan sifat Puji yang kini aku ketahui aslinya. Sifat menangan, sok tahu, pelit, dan lain sebagainya itulah yang membuatku merasa gerah dengan perilakunya. Dan satu hal yang paling nggak aku sukai adalah masih naksir Fabian. Bikin jealous aja dia.
Nggak habis pikir deh, padahal udah aku beri kesempatan sekali lagi untuk merubah sikapnya itu, tapi semakin kesini perilaku Puji menjengkelkan. Padahal rasa sabarku sudah berada di level tertinggi untuk ngadepin tingkahnya itu.
Suatu hari, ada ulangan Sejarah. Waktu itu nilaiku nyaris tuntas walaupun tak ikut remidi. Kulihat nilai Puji diatasku, kertas ulangan yang dibagikan sang guru dia buka lebar-lebar untuk pamer padaku dengan dikipas-kipas disebelahku. Rasanya ingin mendampratnya, karena sikap sombongnya itu, tapi ya sudahlah aku tahan dulu. Suatu saat dia kena balasannya.
Hari-hari seperti biasanya, aku yang hendak ke kelas 11 IS 1 sengaja sendirian tanpa Puji. Tapi Puji tetap saja mengikutiku kemana aku pergi. Rasa sebal semakin memuncak saat Puji tak henti-hentinya mengikutiku di kelas 11 IS 1. Mendapati hal itu, Tyas bergumam sebal denganku karena Puji selalu ikut denganku. Aku hanya memberi penjelasan pada Tyas bahwa Puji mengikutiku sampai kelas ini. Mendengar penjelasanku, Tyas langsung berdecak jengkel.
......................
Aku diam dan tengah merenungi sesuatu. Yup, merenungi tentang kesalahanku terhadap Fabian yang telah berburuk sangka terlebih dahulu. Kesalahanku karena sudah berburuk sangka pada Fabian telah melakukan itu semua pada Puji. Padahal Fabian sendiri juga tidak tahu tentang masalahku dengan Puji. Belum lagi aku bercerita pada Puji berpura-pura tengah dekat dengan Fabian. Padahal sebenarnya tidak, aku melakukan hal ini dengan perasaan yang tak karuan. Karena sesampainya di rumah, lidahku merasa pahit saat melakukan hal terbodoh ini.
Di sisi lain, aku juga masih terbayang-bayang senyum manisnya Fabian. Senyum manis yang tulus dan selalu hadir untukku. Betapa baiknya Fabian padaku. Mengingat itu semua, hatiku sedih. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa tak enak hati dengan Fabian, karena telah bersalah sangka dulu dan melakukan hal bodoh itu.
Saat aku menceritakan hal tersebut pada ketiga temanku, mereka menyarankan agar aku meminta maaf pada Fabian secara langsung. Mendengar saran itu, aku terdiam dan mungkin takut kalau Fabian sampai marah padaku. Nanti Fabian tahu kalau aku menyukainya. Aku belum berani mengatakan semuanya pada Fabian.
Bulan Ramadhan tiba, seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku berangkat sekolah seperti biasa, walau jam masuknya mulai pukul 07.30 . Entah kenapa, perasaan berdosa itu semakin bergelayut dihatiku ketika tengah berpapasan dengan Fabian. Belum lagi senyuman dari Fabian yang tak pernah absen dari pandanganku. Perasaanku semakin berkecamuk tak karuan dan saat mengingat tingkah Puji juga semakin gerah.
__ADS_1
Lama-lama aku merasa sebal dan menyesal karena sudah mengenal dekat Puji yang notabennya bersifat seenaknya sendiri. Masa tanya baik-baik di jawab ketus. Tapi Bulan Puasa ini aku seakan memendam perasaan sebalku di hati, walaupun sudah mencoba sabar tapi tetep saja rasanya emosiku ingin tertumpahkan pada Puji.
......................
Sebulan sudah menjalankan Ramadhan. Tak terasa kini telah memasuki awal bulan Oktober, dimana sekolahku mengadakan Acara Halal bi Halal pada tanggal 9 Oktober 2008 ini. Pagi ini aku merasa kacau, karena bis yang ku tunggu tak kunjung datang hingga hampir setengah jam lamanya. Setelah mendapatkan bis dengan waktu yang cukup lama dan merasa hari sudah siang sekali. Akhirnya berangkat juga dan sesampainya sekolah ternyata sudah mulai acara Halal bi Halalnya. Yup, terlambat itu adalah hal yang menjengkelkan buatku.
Alhasil, rombongan sudah hampir bubaran walau masih ada beberapa yang masih stay di barisan tersebut. Saat aku bersalaman dengan teman-teman kelas 11 IA 1, kulihat juga Fabian masih berada di barisan tersebut. Giliranku yang akan bersalaman dengan Fabian, dia menyambut dengan senyuman ramah sembari mengulurkan tangannya.
“Maaf Lahir Batin ya” ucap Fabian saat menyalamiku.
“Iya Fab, Minal Aizin Wal Faizin ya. Kamu banyak salah kan sama aku dulu” balasku sembari menyalaminya dan memberi candaan pada Fabian.
Aku terkejut saat Fabian mengatakan “Ya”.Feeling-ku mengatakan kalau Fabian masih ingat dengan kejadian-kejadian itu. “Fabian ternyata masih ingat apa yang aku maksud. Padahal maksudku itu jaman-jaman kelas 8 SMP dulu.Saat aku dan Fabian satu kelas dengannya. Jadi Fabian masih ingat dong kalau gitu” aku merasakan batinku mulai bergejolak sembari flashback ke jaman-jaman SMP tepat saat sekelas dengannya.Setelah menyalami teman-teman dari kelas 11 IA 1, kini giliran aku menyalami teman-teman dari kelas 11 IS sampai deretan adik-adik kelas. Lalu menyalami teman-teman sekelas yang tadi belum sempat bersalaman, terutama Puji. Tapi ada yang mengganjal di hati saat bersalaman dengan Puji, karena aku masih merasakan sebal sekali kala mengingat kejadian yang menyakitkan beberapa bulan yang lalu dan melibatkan Fabian.
Mungkin Puji tak merasa bersalah dengan Fabian, tapi aku yang sudah mengenal lama Fabian merasa masih ada dosa yang menempel di hati saat Puji membohongiku dan hatiku seakan menyalahkan Fabian. Padahal Fabian sendiri tak mengerti tentang apa yang aku dan Puji alami saat kelas 10 di semester 2 yang lalu.
Beberapa hari kemudian, tepat hari Selasa 14 Oktober 2008. Hari ini satu sekolah di pulangkan lebih awal, karena para guru-guru akan mengikuti Halal bi Halal di dekat sekolah. Saat mengetahui hari ini pulang lebih awal, Luna dan Gazela minta bermain sejenak sebuah Mall dekat sekolah. Walau jaraknya lumayan jauh juga. Kami berempat berjalan sembari keluar gerbang sekolah. Kebetulan menanti angkot juga tak terlalu lama. Akhirnya kami segera menaiki angkot tersebut. Aku duduk di seberang pintu angkot. Karena angkotnya tengah menunggu penumpang lain, maka angkot tersebut masih stand by di depan gerbang sekolah.
__ADS_1
Menunggu penumpang dengan durasi yang cukup lama, tanpa sadari aku melihat Fabian juga keluar gerbang dengan menaiki motornya. Motornya berhenti di dekat angkot yang tengah aku naiki. Saat Fabian melihatku berada pada angkot itu, lalu senyuman manis dia lemparkan untukku. Aku terkejut, walau sebenarnya aku sudah otomatis membalas senyuman darinya. Tapi rasanya senyuman itu masih melekat jelas di benakku. Manisss sekali. Fabian hobi sekali membuatku salah tingkah karena senyumannya.
......................
Semenjak kejadian itu pula, aku semakin bingung dengan perasaanku. Hatiku seakan berkecamuk tak karuan lagi saat mengingat dosa itu. Pikiranku saat ini juga buntu dan tak tahu harus bagaimana.
Aku semakin sering berkumpul dengan teman-temanku dan pastinya aku mencari solusi atas apa yang tengah ku alami kini. Sementara, Puji semakin sering mengikutiku saat aku berkunjung ke kelas 11 IS 1. Membuatku dan Tyas semakin gerah dengan kehadirannya, aku merasa sudah malas sekali berteman dengan Puji.
Saat aku tengah buntu dengan pikiran yang terus dibayang-bayangi dosa dari Fabian. Aku merasa tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, tiba-tiba Gazela menghasutku untuk menjadikan Fabian “Pacar Pura-Puraku” dan Gazela siap membantuku. Mendengar hal tersebut Luna dan Tyas menyuruhku agar aku tidak melakukannya, aku seperti mengikuti saran mereka. Karena aku tahu pasti resikonya besar.
Tapi, entah apa yang membuatku akhirnya terhasut oleh bujukan Gazela. Aku menjalannya walau dengan perasaan setengah hati dan lidahku merasa pahit kala membohongi Puji. Rasa dosa itu semakin membayangiku. Di sisi lain, Gazela juga sudah siap untuk meminta bantuan pada Fabian. Tapi kenyataannya Fabian menolak mentah-mentah untuk ide konyol itu sembari nengatakan”Kalau cantik aku mau”. Mengetahui hal itu, hatiku semakin sakit dan rasanya ingin segera meminta maaf padanya. “Duh Fab, sorry banget ya aku melakukan begitu. Ini semua ide gila dari Gazela yang telah menghasutku” sesalku dengan perasaan sedih.
Akhir-akhir ini tepat di kelas 11 SMA ini, Stefani sahabatku semasa SMP sering sekali menelponku dan di akhir pembicaraan Stefani menitipkan salam kepada teman-teman termasuk Fabian.
Setelah salam-salam dari Stefani aku sampaikan kepada teman-teman termasuk Fabian. Entah apa yang membuat mimpi tentang Fabian itu muncul lagi ditidurku, kejadian ini selalu membuatku bertanda tanya besar pada diriku sendiri. “Masa gara-gara Stefani nitip salam ke Fabian terus?” pikirku masih menanyakan hal ini terus menerus.
__ADS_1