First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, aku masih belum melihat Fabian berangkat sekolah. Ada perasaan sedih, tapi aku langsung sadar bahwa sekarang dia sudah punya cewek. Dan memang akhir-akhir ini tepat dengan bumingnya sosial media Facebook. Waktu itu aku belum punya Facebook, tapi teman-teman yang lain sudah punya. Aku melihat di pertemanan yang sama pada akun milik Luna berteman dengan Wawan. Wawan juga berteman dengan Fabian.


Keesokan harinya, tepat istirahat pertama. Aku keluar kelas dan sebenarnya ingin menyakan sesuatu pada Wawan. Kulihat Wawan tengah bercengkerama dengan Ahmad. Setelah mereka diam, aku mulai menanyakan sesuatu pada Wawan.


“Wan, kamu temenan facebook sama Fabian ya?” tanyaku langsung.


“Iya, memang kenapa?” angguk Wawan dan menanyakan balik padaku.


“Nggak apa sih. Jangan cerita-cerita ya kalau aku pernah mimpiin dia. Dia anak kelas 12 IA 1” ceritaku.


Wawan tampak mengerutkan kening karena kebingungan, lalu menjawab”Oke deh. Emang yang mana orangnya? Itu yang lagi berdiri deket kelas” tanya Wawan sembari menunjuk ke anak 12 IA 1 yang ternyata cewek.


“Bukan Wan, dia lagi nggak berangkat sekolah kok, karena kecelakaan” gelengku lirih karena memang hatiku sedih.


Mendengar jawabanku begitu, ekspresi Wawan hanya manggut-manggut saja.


“Yaudah, besok aku tunjukin lewat buku katalog SMP. Kebetulan dia juga satu SMP denganku” janjiku pada Wawan.


Wawan mengangguk setuju. Setelah itu, kami saling diam.


Aku merasakan telah dekat dengan Wawan, seperti malam ini saat ber-SMS ria dengannya seperti ritual tiap malam. Entah kenapa, yang tadinya membahas sesuatu dengan Wawan. Tiba-tiba aku ingin mengingatkan lagi pada Wawan


Eh Wan, beneran ya jangan bilang-bilang Fabian kalau aku pernah ngimpiin dia.


Pesanku pada Wawan lewat SMS.


Tak berapa lama, Wawan membalas SMS ku.


Lhoh, Fabi itu cowok to?


Membaca pesan dari Wawan, aku langsung terpingkal-pingkal karena Wawan mendeskripsikan Fabian seorang cewek. Seketika rasa kantukku hilang karena Wawan. Kemudian aku membalas dengan ekspresi masih merasa geli. Walau ada ekspresi shock dan kecut di hati.

__ADS_1


Hahahaaa, iyalah Wan.


Namanya itu Fabian bukan Fabi.


Dia anak kelas 12 IA 1.


Wawan membalasnya.


Oalahh, hehee... aku kira dia cewek.


Rasanya masih geli sekali saat Wawan berpikir bahwa Fabian itu cewek. Kalau Fabian cewek, jadi selama ini aku salah tingkah sama cewek dong. Masa iya jeruk makan jeruk.


Dia cowok Wan.


Yasudah, besok aku bawain buku katalog semasa SMP punyaku deh.


Dia kebetulan temen SMP


Setelah aku menjawab demikian. Wawan tak menjawab SMS ku lagi. Tapi aku masih geli dengan pendeskripsian Wawan tentang Fabian itu cewek.


......................


“Oke deh, nanti aku tunjukin orangnya Mi” pinta Wawan.


“Siap Wan....” cengirku.


Beberapa hari kemudian, saat pulang sekolah Wawan sudah standby di depan kelas karena ingin kutunjukan cowok bernama Fabian.


“Mana Mi, yang namanya Fabian?” tanya Wawan padaku.


Aku tertawa saat mendapati Wawan masih juga penasaran dengan namanya Fabian, segera aku berdiri disamping Wawan.

__ADS_1


“Sabar Wan, orangnya belum lewat juga” responku geli sembari melihat sekitar.


Tak lama setelahnya itu, aku melihat Fabian dan Pandu berjalan melewati depan ruang BK. Segera kutunjukan pada Wawan.


“Tuh Wan. Cowok yang namanya Fabian. Yang tinggi itu lagi jalan sama temannya yang posturnya gendut” terangku sembari menunjuk mereka dari kejauhan.


Ekspresi Wawan hanya manggut-manggut saja. Melihat Wawan manggut-manggut, aku masih saja merasakan geli sekali lalu iseng menanyakan Wawan.”Gimana Wan, jadi kamu taksir dia?”


“Nggaklah Mi. Yasudah makasih ya. Aku pulang dulu” pamit Wawan.


Aku mengangguk.


“Oke Wan, hati-hati ya” tambahku untuk Wawan, walaupun masih saja terselip rasa geli.


......................


Keesokan harinya, aku dan ketiga temanku seperti biasa duduk-duduk di buk depan SMP sembari nongkrong sebentar sebelum naik angkot pulang. Beberapa menit kemudian, kulihat Fabian bersama Pandu tengah lewat. Dan seperti biasa juga Pandu melihatku dan meledekku, aku membalas meledek untuk Pandu. Fabian tampak berjalan di belakang sembari memegang tangan kirinya yang habis kecelakaan itu lalu menoleh dan tersenyum kearahku. Aku membalasnya dengan perasaan setengah hati, karena aku tahu diri bahwa Fabian masih milik orang lain dan kebetulan Fabian tak pulang bersama ceweknya. Saat langkah mereka jauh, Gazela bercerita padaku saat di kelas dengan ekspresi geli.


“Masa tadi Fabian nulisnya pakai tangan kiri mana tulisannya nggak rapi. Kesusahan dia, terus minta tolong ke aku” gelak Gazela.


Mendengar Gazela bercerita seperti itu, ekspresiku hanya tersenyum kecut dan membatin kesal.”Jahat banget Gazela, orang habis kecelakaan juga digituin. Wajarlah, kan tangan kanan Fabian masih sakit. Coba kamu diposisi Fabian, pasti akan melakukan hal yang sama seperti Fabian kan?”


......................


Semenjak kejadian pahit itu, aku semakin sering diganggu dengan Dangdung cs yang pastinya selalu buatku tambah emosi. Lebih sebal lagi saat handphone Wawan di buka pada kotak masuknya dan SMS itu penuh dengan pesan dariku. Lalu meledekku dan membuat gosip kalau aku dan Wawan ada apa-apa. Padahal itu SMS hanya kumpulan-kumpulan pesan biasa saja.


Tapi Wawan menyuruhku harus sabar dan tidak usah menanggapi ejekan Dangdung cs. “Nggak usah tanggapi mereka Mi” bisik Wawan dari bangku belakang.


Aku menggangguk lirih tanpa melihat Wawan. Tapi aku salut saat Wawan berkata itu padaku. “Wawan sabar sekali sih, nggak seperti aku yang selalu menanggapi mereka sampai capek sendiri. Jarang sekali ada cowok sesabar Wawan” batinku menyadari hal tersebut.


Kadang aku mengingat sikap dan sifat Wawan di kelas seperti diingatkan kembali tentang Fabian di kelas dulu waktu SMP. Yang memang sama-sama mempunyai sifat pendiam, care, baik hati, friendly, dan apa adanya. Tapi bedanya, Fabian bagiku merasa special sekali. Sedangkan Wawan special karena dia enak dijadikan sebagai sahabat. Seperti terjebak antara Fabian dan Wawan. Sebenarnya, Wawan juga pernah datang ke mimpiku. Dan pernah juga aku memimpikan kedua orang tersebut tengah berbincang denganku. Aku merasa ada yang aneh dengan kejadian ini, bahkan Dian yang duduk di depan bangkuku mendeskripsikan sendiri bahwa aku mulai naksir Wawan. Sebenarnya aku terkejut sekali saat Dian mengatakan seperti itu padaku. “Aku naksir Wawan? Mana mungkin sih?” batinku merasa ragu. Tapi sebenarnya prediksi Dian hampir benar. Waktu itu aku hampir saja naksir Wawan yang lebih pantas kusebut sahabat. Saat aku merenung perkataan Dian tentang naksir Wawan, tiba-tiba bayangan Fabian nongol lagi dibenakku. Padahal aku berusaha melupakannya. “Ya Allah, kenapa semua ini jadi seperti ini. Siapa yang harus kupilih antara Fabian dan Wawan? Tapi, Fabian sendiri sudah punya cewek. Sedangkan Wawan sendiri aku anggap sahabat” sedihku mengingat kejadian pilu di sekolah saat berdoa setelah solat.

__ADS_1


Belum lagi saat bertemu dengan teman lama yang dulunya satu antar jemput denganku waktu SD. Dia mengatakan bahwa Fabian adalah mantannya. Mendengar itu, hatiku semakin kecut dan benar-benar tak tahu harus bagaimana.


......................


__ADS_2