First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Semenjak aku konflik hebat dengan Puji sampai akhirnya aku memang tak berteman lagi dengannya. Karena aku ingin jaga jarak dengannya, rasa sakit hati itu masih tersisa dan membuatku semakin sebal dengan tingkah Puji yang sok itu. Entah kenapa, saat mengingat kejadian demi kejadian yang menyakitkan itu rasanya ingin cepat-cepat meninggalkan kelas 11 IS 3 ini. Walau aku tahu ada beberapa teman yang masih peduli denganku.


Kejadian Sabtu ini, benar-benar membuatku makin emosi dengannya. Gimana nggak? Hari Sabtu ini saat menjelang istirahat kedua, kelasku menuju Laboraturium Komputer untuk mempelajari tentang E-mail dan cara mengirim data kepada Guru TIK.


Aku yang akhirnya mendapat giliran tempat duduk untuk mengecek e-mail dan mengirim kepada sang guru, tiba-tiba Puji menyerobot bangku yang telah kududuki dengan alasan ingin mengirim e-mail terlebih dahulu. Saat Puji akan melakukannya, ternyata e-mail-nya gagal terus. Sementara jam pelajaran akan habiskarena kurang beberapa menit lagi. Akhirnya aku merasa sebal dan mulai menanyakan pada Puji. “Kamu gimana sih asal nyelonong aja. Emang kamu udah bikin e-mail belum?”.


Dengan ekspresi polos dan tanpa dosa, Puji menggeleng pelan. Aku terhenyak mendapati itu. “Gimana sih, belum bikin e-mail udah pakai nyelonong saja. Ini kan jam pelajaran mau habis. Huhh” marahku yang tak bisa meredam emosiku siang ini sembari duduk di meja komputer yang tadi Puji duduki.


Langsung saja aku memakai komputer di ruang laboraturium itu dengan perasaan gondok. Sementara teman-teman mengalihkan pandangannya pada kami berdua. Karena aku sendiri merasa habis kesabaran dengannya, saat aku mengirim data menggunakan e-mail akhirnya berhasil juga masuk kedalam e-mail guru TIK ku.


Sementara Puji masih kebingungan karena e-mail juga belum membuatnya. Akhirnya ada salah satu teman yang membantu Puji menyelesaikan masalah ini.


Sekitar jam 11 siang, istirahat tiba. Aku segera beranjak dari ruang Laboraturium Komputer dan kembali ke kelas untuk memasukkan buku beserta alat tulis ke dalam tas. Tapi buku dan alat tulisku ternyata sudah dibawa Puji ke kelas. “Maksudnya apa coba ngelakuin itu. Bikin tambah ilfill saja dengan perlakuannya yang sok cari perhatian” sebalku dari dalam hati sembari melangkahkan kaki keluar dari ruang laboaturium komputer.


Saat di kelas, buku dan alat tulis itu sudah di mejaku. Tapi dengan perasaan setengah hati aku mengucapkan terima kasih kepadanya lalu keluar kelas.


Rasa sebalku siang ini benar-benar tak bisa dibendung lagi, segera aku ceritakan kepada Lenny yang berada di kelas 11 IS 4. Kelas yang bersebelahan dengan kelasku. Saat pulang juga aku menceritakan hal yang sama pada ketiga temanku


......................

__ADS_1


Di sisi lain, aku ternyata masih memimpikan Fabian di tidurku. Entah maksud dari mimpi tersebut apa. Aku semakin tak mengerti dengan kejadian yang kualami sampai sekarang ini. Rasanya semakin sering berpapasan di sekolah semakin sering pula mimpi Fabian itu datang di tidurku.


Benakku selalu memunculkan tanda tanya saat mimpi itu sering muncul di tidurku. Seperti mimpi di akhir bulan Februari ini, aku yang waktu itu tak sengaja ketiduran di kamar dengan posisi belum sempat solat Isya. Dan aku merasa mimpi tersebut seperti nyata lagi.


Kejadian itu malam Tahun Baru. Tiba-tiba Fabian datang ke rumahku dan mengajakku pergi di malam Tahun Baru ini.


“Mimi...” panggil Fabian dari luar


Aku terkejut saat keluar rumah dan mendapati Fabian di luar rumah. Segera kusambut Fabian dan menyuruhnya masuk. Tapi Fabian menggeleng tak mau, akhinya aku menjamunya di luar.


“Eh, Fabian. ada apa nih?” tanyaku.


“Acara? Biasanya kalau malam tahun baru sih nggak pernah keluar rumah. Kenapa Fab?” tanyaku.


“Aku ajak keluar yuk lihat kembang api sambil Malam Tahun Baruan disana. Mau nggak?” ajak Fabian dengan senyuman.


“Hmm, gimana ya Fab” pikirku lama.


Tapi tak lama kemudian aku mengangguk setuju pertanda mengindahkan ajakan Fabian malam ini. Setelah keluar malam ini, ternyata Fabian mengajakku ke sebuah tempat yang biasa orang-orang menikmati malam tahun barunya. Sesampainya disana, aku dan Fabian menanti acara pergantian tahun sembari berdiri disebelah Fabian dan Fabian sendiri duduk di motornya.

__ADS_1


Tepat pukul 00.00 alias 24.00 kembang api itu menyala dilangit dengan indahnya. Warna pink soft, ungu muda, dan orange muda menyatu di langit malam tepat pergantian tahun. Aku takjub sekali dengan warna-warna kembang api itu. “Waww, kerennnn” gumamku kagum sembari menatap langit malam yang dihiasi kembang api itu. Benar-benar membuatku terpesona.


Entah kenapa Fabian merangkulku sembari menatap indahnya kembang api malam ini juga. Tiba-tiba terdengar Fabian mengatakan”Beib, kembang apinya bagus banget ya”


Mendengar Fabian memanggilku “Beib”, aku terkejut sembari mengalihkan pandangan dari kembang api tersebut dan memandang Fabian yang tengah berdiri disebelahku. “Beib? Maksud Fabian manggil aku Beib apa?” batinku udah mulai deg-degan. Tapi yang kulihat tengah melihat takjubnya kembang api.


Aku terbangun karena sadar belum solat Isya. Sadar bahwa kejadian tadi itu adalah mimpi, dadaku masih merasakan tak karuan. Yup, tak karuan dan langsung berdebar kencang. Hatiku masih bertanya-tanya tentang maksud mimpi barusan itu apa. Aku masih belum bisa mencernanya baik-baik. Kemudian aku mengambil air wudhu untuk segera solat Isya.Walaupun benakku masih menerka tentang arti mimpi yang baru saja terjadi.


......................


Semenjak konflik dengan Puji, aku merasa telah mendapat musuh bebuyutan. Dan semenjak itu pula aku semakin akrab dengan temanku bernama Lenny yang berada di kelas 11 IS 4. Karena setiap istirahat, aku berkunjung kesana. Tapi kadang juga aku mengunjungi kelas 11 IS 1 dimana kelas Luna dan Tyas.


Benar kata pepatah”Mati satu tumbuh seribu”, yang aku maksudkan ini adalah saat satu teman mengecewakanku pasti dapat ganti teman lagi yang lebih asyik dan pastinya baik hati. Yup..disaat Puji mengecewakanku, aku langsung mendapat teman baik se baik Lenny. Walau aku dengan Lenny tak se dekat Luna, Tyas, dan Gazela. Tapi aku merasa nyaman saat bersama Lenny. Pelan-pelan aku mulai memberanikan diri dengan cara bercurhat dengan Lenny. Dari situ juga aku dan Lenny mulai bertukar nomer handphone satu sama lain.


Tapi waktu libur karena ruangan kelas kami tengah dipakai dengan kelas 12 SMA untuk ujian. Intensitas bertemu agak berkurang. Tapi saat masuk sekolah lagi apalagi masuk siang aku semakin sering betemu dengannya. Banyak cerita yang aku beri untuk Lenny. Kedekatanku dengan Lenny membuatku lupa dengan Puji yang dulu pernah dekat denganku juga. Karena pelan-pelan aku mulai melupakan dan meninggalkan Puji.


Kedekatanku bersama Lenny tak membuatku lupa akan kebersamaan dengan Luna, Tyas, dan Gazela. Aku merasa semakin banyak teman yang peduli denganku. Tapi ada satu hal yang mengganjal, saat aku dan mereka bertiga tengah berkumpul. Aku merasa nyaman dengan kehadiran Luna dan Tyas, tapi aku tak merasa nyaman saat cerita dengan Gazela. Entah apa penyebabnya. Karena aku merasakan pahit di lidah saat bercerita dengan Gazela


......................

__ADS_1


__ADS_2