First Love & Best Friend

First Love & Best Friend
Delapan


__ADS_3

“Hah! Tadi aku mimpiin Fabian lagi...” kagetku saat tersadar dari bangun tidurku tadi malam. Yup, lagi dan lagi Fabian datang di mimpiku.


“Ada apa denganku? Perasaan dari kemarin-kemarin aku mikirin dia juga nggak deh. Kenapa mimpi itu datang lagi ya” tanyaku dalam hati dengan perasaan bertanya-tanya.


Sambil mengatur nafasku yang masih tak beraturan begini dengan degupan dahsyat. Aku sempat berpikir”Sudah berapa kali ya Fabian datang ke mimpiku? Mungkin tak terhitung saking seringnya dia datang ke mimpiku” batinku bertanya-tanya lagi. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi padaku, semenjak sekelas dengannya mimpi itu selalu hadir. Belum lagi ketemu di kelas secara langsung, pipiku benar-benar merasakan merona. Aku nggak tahu persis kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini.


Sebelumnya aku tak pernah merasakan mimpi-mimpi orang segala. Suka sama orang biasa aja bahkan nggak pernah mimpiin orangnya, terus digosipin sama ini-itu bahkan tak pernah mimpiin juga.


Tapi saat satu kelas dengan Fabian aku sering sekali mimpiin dia di tidurku. Otakku selalu bertanya-tanya tentang arti mimpi seseorang iu apa ya? Dan saat aku berusaha mencari jawaban tentang arti mimpi, masih saja benakku belum menemukan maksud yang tepat dari arti mimpi tersebut. Seolah pikiran semakin buntu dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.


Suatu hari waktu jam pelajaran Fisika di kelas. Suasana tegang bergelayut di hati kami para murid-muridnya ketika Guru pengampu mata pelajaran Fisika masuk di kelas 8B. Dengar-dengar beliau punya six seen, entah pada awalnya beliau membahas tentang apa. Tiba-tiba beliau berucap”Kalau kita mimpiin orang, pertanda orang yang kita mimpiin juga mimpiin kita.”


Mendengar itu, aku jadi terkejut. “Itu kejadian, sama persis dengan apa yang aku alami akhir-akhir ini” batinku mulai tak karuan saat mengetahui hal tersebut. Aku menoleh ke belakang, tepat Fabian duduk, ternyata Fabian membalas melihatku. Rasa salah tingkah menyelimutiku. Kemudian aku melamun lagi dan merenungkan ucapan guru Fisika yang tengah mengajar di kelasku. “Ah, masa sih?Jadi artinya kalau aku mimpiin Fabian, dia juga mimpiin aku dong” batinku semakin bertanya-tanya tentang apa yang guru Fisika itu sampaikan tadi. Aku yang masih diam saat menghayati makna mimpi. Sebab peristiwa itu sekarang tengah kualami sampai saat ini. Lamunanku tentang arti mimpi tiba-tiba buyar karena guru Fisika melanjutkan materi selanjutnya.


......................


Beberapa hari kemudian, sebelum aku tidur aku menunaikan solat Isya terlebih dahulu dan berdoa sebelum tidur. Setelah kulakukan semua, aku rasanya masih takut antara ingin memejamkan mata atau masih melek. Tapi rasa kantuk tak tertahankan dan akhirnya mataku terpejam juga malam ini.


Saat tidur, aku merasakan berada di kelas yang tak asing bagiku. Yup, kelas 8B. Pagi ini yang menjelang istirahat pertama aku dan teman-teman sekelas sedang memperhatikan pelajaran Kewarganegaraan. Aku yang dari tadi duduk bersama Luna, mendadak Irul yang duduk dibelakangku dan Luna minta ditemani ke kamar mandi oleh Luna. Luna pun mengindahkan ajakan Irul untuk minta ditemani ke kamar mandi lalu berpamitan denganku sebentar. Aku mengangguk setuju.


Mendadak Fabian datang ke tempat bangku sebelahku dan duduk disebelah kusembari menenteng tas punggungnya.


“Mi, aku duduk sama kamu ya” pinta Fabian.


“Hmm, iya deh Fab nggak apa” anggukku menyetujui Fabian duduk disebelahku.


Sekembalinya Luna dan Irul dari kamar mandi, Luna melihat bangkunya telah di duduki oleh Fabian, lalu Luna mengatakan”Aku duduk mana kalau Fabian duduk sini.”


Melihat itu aku yang hendak beranjak dan menawari Luna supaya duduk dekat Fabian, aku duduk dengan Irul di belakang. Tapi tangan Fabian menarik tanganku”Kamu duduk sini aja Mi.”


Karena tanganku tertahan oleh Fabian. Akhirnya aku mengatakan”Yaudah Lun, kamu mengalah aja dulu sama Fabian. Duduk sebelah Irul.”


Dengan berat hati, Luna pindah ke belakang untuk menemani Irul duduk sendirian di belakang.


Dan Fabian duduk bersamaku. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung tiba-tiba aku merasakan pusing di kepalaku.


“Aduh, kok aku pusing ya” keluhku langsung tiduran di meja.


Mendengar keluhanku, Fabian menoleh dan merespon”Kamu kenapa Mi, kok tiduran di meja gitu?”


“Nggak tahu nih Fab, mendadak kepalaku pusing” keluhku pada Fabian.


“Yaudah Mi, tidur di pundakku aja kalau gitu” tawar Fabian padaku untuk menyuruhku tidur di pundaknya sambil tangan kanannya mencatat sesuatu di papan tulis.


Tanpa pikir panjang, aku segera tiduran dipundak Fabian. kejadian itu membuat jantungku berdebar tak karuan. Dalam hati aku bergumam”Fabian romantis banget deh”. Dan herannya saat kejadian itu terjadi, teman-teman sekelas tak ada yang menyorakiku dan Fabian. Sementara guru Kewarganegaraan juga tak menegur kami berdua. Aku yang semakin nyaman tidur dipundak Fabian tak menghiraukan sekeliling.


Sayup-sayup terdengar suara yang tak asing tengah membangunkanku untuk bangun dan bersiap-siap untuk sekolah, yang tak lain Mbah Putriku sendiri yang tengah bertandang di rumahku.


“Mi, bangun. Udah subuh nih, kamu nggak siap-siap berangkat sekolah”


Refleks aku terbangun dari tidur saat Mbah Putriku membangunkanku. Mendadak aku teringat sesuatu yang membuat jantungku bergedup sangat kencang. Yup, aku sadar bahwa kejadian tadi ternyata mimpi. Sepintas teringat lirik lagu ADA BAND yang berjudul MASIH (SAHABATKU, KEKASIHKU).


Saat bagian mimpi yang aku tidur dipundak Fabian. Lirik itu mengalun lembut di telingaku “Letakkanlah segala lara dipundakku ini”. Dan kebetulan aku sedang ngefans-ngefasnya dengan lagu milik ADA BAND.


Rasanya malu kala mengingat kejadian itu, tapi aku senyum-senyum tak jelas. “Aduhh, mana ini hari Senin dan waktunya untuk berangkat sekolah lagi. Siap-siap deh di kelas ketemu dia” batinku mulai tak menentu. Segera aku bergegas untuk persiapan berangkat sekolah pagi ini. Karena pagi ini ada upacara bendera, jadi aku harus berangkat se awal mungkin untuk sampai sekolah.


Setibanya di sekolah, aku melangkahkan kaki menuju kelas 8B. Kulihat sekeliling masih tampak sepi, walaupun sudah ada beberapa yang sampai sekolah. Saat memasuki kelas 8B, aku sedikit lega karena Fabian belum sampai sekolah. “Syukur deh, dia belum sampai di sekolah” ucapku lega sambil mengelus dada.


Segera ku taruh tas punggungku dibangku, dan menanti teman-teman pada berangkat. Sampai di sekolah dadaku masih bergejolak kala mengingat mimpi semalam. Ingin rasanya aku cepat-cepat menceritakan pada teman terdekatku, tapi kulihat Luna sudah sampai sekolah dan aku tak sabar menceritakan kejadian mimpi semalam secara detail dengannya.


Luna langsung tergelak saat aku menceritakan kejadian semalam di mimpiku, aku tersipu mendapati Luna tergelak padaku. Tapi Luna membalas tersenyum padaku.


Kini bel berbunyi, pertanda upacara akan di mulai. Segera aku dan teman-teman berhamburan keluar kelas menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera yang selalu dilaksanakan setiap hari Senin. Aku dan Irul berbaris di depan.


Kulihat teman-teman sudah tampak komplit berbaris di barisan 8B dan pandanganku tak sengaja jatuh pada Fabian yang tengah baris di barisan kedua. Aku merasakan panas dipipi karena merona dan jantungku berdebar dahsyat. Yup, aku salah tingkah sekali melihat Fabian tengah berbaris dibarisan kedua. Efek semalam mimpi seperti itu. “Ya Allah, apa yang terjadi padaku. Mendadak melihat Fabian jadi tambah salah tingkah gini” batinku langsung menghadap depan karena upacara akan segera dimulai.


Rasanya aku nggak sabar ingin menceritakan ini pada Rere nanti saat istirahat pertama. Entah kenapa, semenjak kejadian yang kualami ini, belum berani menceritakan pada teman-teman dekat yang lain. Hanya baru Rere dan Luna saja.


Saat istirahat pertama tiba, aku yang hendak keluar kelas untuk menyambangi Rere di kelas sebelah. Ternyata Rere sudah stand by di depan kelasku. Akhirnya aku dan Rere memutuskan untuk duduk di depan kelasku dan mulai bercerita. Aku yang akan langsung menceritakan kejadian semalam di mimpi, mendadak melihat Fabian di depan pintu kelas tengah berdiri disana dan berbincang-bincang tapi aku merasa matanya tengah awas melihatku dan Rere.


“Rere...Mimi....” panggil kami serentak.


Kami tergelak mendapati itu.


“Kamu duluan aja deh Mi” pinta Rere yang tak sabar mendengarkan cerita dariku.


Aku mengangguk dan mulai menceritakan apa yang terjadi semalam di mimpiku sewaktu tidur, sesekali Rere menanggapi ceritaku dengan ekspresi geli. Aku merasa tersipu saat Rere menertawakan tentang cerita yang kualami di mimpiku tadi malam.

__ADS_1


“Ciee, ciee Mimi. Aku yakin kok kalau jodoh nggak bakal kemana” cengir Rere yang sepertinya mendukungku atas peristiwa yang kualami.


“Ah, Rere ini deh. Aku beneran malu mengalami kejadian seperti ini. Sumpah malu banget deh” ceritaku yang masih tersipu-sipu.


“Kamu lucu deh Mi” cengir Rere sekali lagi mendapatiku tengah tersipu.


“Eh, gantian dong. Katanya kamu mau cerita tentang mimpimu” desakku pada Rere yang terlihat kepo juga.


Kini Rere bergantian menceritakan padaku tentang mimpi semalam yang dia alami. Mendengar semua cerita dari Rere, aku bergantian tergelak. Yup, kebersamaan dengan Rere memang tak bisa tergantikan apapun.


Istirahat dengannya membuatku semakin dekat dan nyaman bersama Rere. “Thanks Re, untuk waktunya selama ini” ungkapku dari hati dengan perasaan lega dan merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Rere.


......................


Jam pelajaran kedua hampir selesai dan akan dilanjutkan dengan pembiasaan solat Dhuhur di Mushola yang tak jauh dari kelas 8B.


Jam pelajaran Ekonomi siang ini diakhiri dengan mengumpulkan LKS Ekonomi ke Bu Rina guru Ekonomi sekaligus wali kelas 8B. Aku dan Irul kembali di bangku setelah mengumpulkan LKS, lalu berbincang-bincang lagi. Tapi pembicaraan kami terhenti saat Fabian di depanku untuk meminta tolong sesuatu.


“Hmm, siapa namamu aku lupa?” cengir Fabian sambil mengingat-ingat namaku dengan tingkah lucunya.


Aku geli mendapati Fabian bertingkah lucu seperti itu padaku.


“Hayo, siapa coba namaku?” tanyaku sembari menggoda Fabian yang masih mengingat-ingat namaku.


“Hmm, oh iya. Mimi. Aku minta kertas ulanganmu dong” tebak Fabian sambil nyengir kuda dan memintaku kertas ulangan padaku.


“Bentar Fab, kayaknya aku punya dua kertas ulangan. Nanti buat aku satu dan kamu satu” terangku sambil mengambil kertas ulangan di tas punggungku untuk kuberikan pada Fabian satu lembar.


“Makasih ya Mi” ucap Fabian penuh senyum


“Iya, sama-sama Fab” anggukku penuh senyum juga.


Melihat tingkah baru saja, aku sampai terbengong-bengong”Kok tingkah Fabian kayak gini banget sih sama aku? Apa akunya yang keGRan lagi lihat tingkahnya dia yang begitu”batinku yang menyimpan sejuta tanya diotakku. Aku baru nemu orang seperti ini pada Fabian. dia memang beda dari teman-teman cowok di kelas yang sukanya jahil banget sama aku. Masa beneran aku suka dia?? Nggak mungkin ah. Sudahlah lupakan sejenak tentang Fabian.


Akhir bulan Maret telah selesai, dan bulan April bersambut. Guru-guru di sekolah kami semakin sibuk mempersiapkan rencana study tour bagi murid-murid kelas 8 SMP.


Sementara aku dan teman-teman yang tengah di kelas 8B, sedang membahas tentang study tour yang sebentar lagi dilaksanakan.


“Bawa tustel yuk nanti waktu study tour” usul Indri.


“Udah, itu kan bisa dipikir nanti-nanti. Yang penting kita mikir UTS dulu yang sudah di depan mata” kata Irul.


“Iya, mikir UTS dulu lah, study tour-nya belakangan” balas Luna meng-iyakan ucapan Irul.


Dan memang benar, sekolah kami sebelum melaksanakan study tour mengadakan UTS terlebih dahulu selama seminggu. Seperti Sabtu ini saat diberi kartu peserta untuk UTS besok hari Seninnya. Kulihat jadwal pertama UTS adalah Matematika. Aku hanya menghela nafas pasrah mendapati jadwal pertama UTS berupa Matematika.


Siang ini saat aku pulang bersama teman-teman dengan jalan kaki untuk meuju tempat pemberhentian bis tengah membahas tentang UTS besok Senin.


“Sedih ya, besok jadwal pertama UTS langsung Matematika” keluh Fara.


“Iya Far, jadwal pertama UTS langsung pemanasan otak nih, ketemu Matematika” balasku yang ikutan pilu.


“Beneran deh, yang lain udah pada study tour. Sekolah kita UTS sendiri” sambung Tiwi.


“Udah nggak apa, itu yang namanya bersakit-sakit dulu baru bersenang kemudian” timpal Rossi yang terlihat santai.


“Eh, bener juga sih Ros. Tapi nggak apalah kita jalani aja dulu. Nanti giliran sekolah lain UTS, sekolah kita tinggal menantikan study tour” angguk Rere menyetujui usul Rossi.


Ya.. beginilah anak sekolah, mengeluh tentang persiapan UTS itu sudah biasa. Apalagi kalau sudah mulai UTS, habismengerjakan UTSnya masih aja mengeluh. Seperti beban yang diberi bertumpuk-tumpuk. Tapi, mau tak mau harus dijalani selama seminggu.


Akhirnya dengan berat hati, kami mengerjakan UTS selama seminggu. Walau angan-angan study tour sudah di depan mata. Rasanya ingin cepat-cepat berlalu dari NightMare yang bernama UTS itu.


Seminggu sudah aku mengerjakan soal-soal UTS, akhirnya study tour akan menyambut kami. Rasanya semakin tak sabar dengan menikmati suasana tampat wisata yang sudah dibenakku.


Senin, 17 April 2006....


Seluruh siswa-siswi kelas 8, disuruh berkumpul di Aula Sekolah yang terletak dekat perpustakaan. Disana kami diberi pembekalan kepada Kepala Sekolah untuk persiapan study tour nantinya yang berlokasi di Jakarta-Bogor-Bandung. Rasanya sudah tak sabar berganti hari Selasa sore untuk berangkat.


Selasa, 18 April 2006.....


Kami semua masih di suruh berangkat sekolah sampai jam ke 4 pelajaran atau sekitar jam 10.00. Setelah itu kami dipulangkan karena akan mempersiapkan study tour nanti sore sekitar pukul 15.00 kumpul di sekolah.


Sore hari tiba, aku yang dari rumah berangkat pukul 15.00 setelah melaksanakan solat Ashar di rumah. Setibanya di sekolah, rombongan bis pariwisata akan berangkat, aku segera memasuki bis B (karena bis sesuai dengan kelas masin-masing). Aku duduk bersebelahan dengan Irul.


Canda tawa kami lalui saat perjalanan menuju Jakarta. Rombongan bis pariwisata sempat berhenti sejenak di Kendal untuk melaksanakan solat Maghrib sekalian makan malam di suatu tempat makan karena rasa lapar telah mendera. Saat perjalanan malam akan berlanjut, aku dan Irul melanjutkan percakapan.


Tiba-tiba Anisa memanggilku. “Mimi, kamu bawa makanan apa?”

__ADS_1


Aku menoleh dan merespon panggilan Anisa yang duduk dua bangku belakang dariku.


“Ini Nis, aku punya keripik kentang” kataku sambil menyodorkan camilan tersebut dari tas ranselku.


“Iya Mi, aku mau deh” angguk Anisa sambil mengambil camilan yang aku sodorkan untuknya.


Ternyata teman-teman lain juga menginginkan camilan berupa keripik kentang itu. Dan kami saling berbagi keripik kentangnya.


Saat mereka saling berebut keripik kentang yang kubawa untuk bekal, membuat Fabian terganggu kenyamanannya karena akan memejamkan mata.


“Apaan sih pada ribut-ribut sendiri” omelnya karena merasa terganggu tidurnya.


Mendengar itu, aku juga menawarkan Fabian keripik kentangnya.


“Mau nggak Fab?” tawarku untuk Fabian sambil menyodorkan padanya


Tampak Fabian langsung cengir-cengir karena aku menawarkan keripik kentang untuknya.


“Eh, mana Mi. Aku mau, mau...” angguk Fabian langsung melek.


Fabian segera mengambil keripik kentang yang aku sodorkan tadi. Sementara aku geli melihat ekspresi Fabian saat ku tawarkan camilan si keripik kentang punyaku. Melihat itu, Saputra juga langsung menggabung.


“Mimi, aku mau juga ya” pinta Saputra.


“Iya sana, buat rame-rame tuh” anggukku penuh senyum.


“Makasih ya Mi” ucap Fabian dengan cengiran kuda.


“Iya Fab, sama-sama” anggukku untuk Fabian.


“Makasih ya Mi” ucap Saputra juga.


“Iya Put, sama-sama” anggukku lagi pada Saputra.


Aku merasa senang malam ini, bisa berbagi camilan dengan teman-teman satu bis. Dan pada akhirnya keripik kentang itu habis dimakan mereka.


Rabu, 19 April 2006....


Sampai juga di Jakarta pagi-pagi buta sekitar pukul 04.00 . Rombongan bis pariwisata berhenti di Masjid At-Tin untuk melaksanakan Solat Subuh dan mandi. Setelah semua beres dan selesai. Perjalanan kami dilanjutkan untuk menuju rumah makan, karena memang waktunya sudah sarapan. Kunjungan pertama rombongan kami di Planetarium, disana kami mendapatkan pengetahuan tentang Galaxy Bima Sakti, Gerhana Bulan, dan tata surya lainnya. Selanjutnya wisata ke Sea World, tempat aquarium raksasa yang berisikan beraneka ragam ikan disana, dan tempat terakhir yakni Dufan (Dunia Fantasi). Disana rombongan langsung berpencar, rasanya seperti anak hilang saat aku berpisah dengan teman-teman dekatku. Beruntung sekali ada salah satu guru yang mengajakku untuk mengantre 3D Metteor Attack. Hampir satu jam lamanya mengantre, akhirnya dapat giliran dalam wahana tersebut. Menyenangkan sekali, itulah yang kurasakan saat ini. Melupakan sejenak dari pelajaran di kelas dan menikmati indahnya study tour kali ini sampai akhir. Setelah selesai main di wahana tersebut, aku masih belum juga menemukan teman-teman dekatku. Sedih banget rasanya. Tapi aku masih dengan guru-guru pendamping yang menemaniku saat di wahana Metteor Attack. Lumayan deh dapat traktiran bakso dari beliau. Makasih Ibu Guru buat traktirannya ^_^.


Setelah puas bermain di Dufan sampai menjelang Maghrib, rombongan dari sekolah kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang berada di TMII, namanya penginapan Desa Wisata. Sesampainya disana kami langsung bersih-bersih badan lalu melepas lelah dengan tidur untuk menyambut esok hari.


Kamis, 20 April 2006....


Kunjungan study tour terakhir pagi ini kami mengenakan Seragam OSIS, karena tempat yang akan kami kunjungi ke Gedung DPR/MPR. Ternyata narasumber yang akan diwawancara tengah rapat. Dan urung untuk kami wawancara. Jadi acara pagi ini hanya berfoto-foto ria per kelas. Karena batal mengunjungi Gedung MPR/DPR, akhirnya kunjungan kami berlanjut menuju Istana Bogor yang pastinya ada di Bogor. Perjalanan yang menempuh jarak sekitar 2 jam lamanya. Sesampainya disana penjagaan sangat ketat, karena tak semua barang bisa dibawa ke dalam Istana Bogor. Setelah kunjungan dari Istana Bogor, rombongan bis pariwisata kamiberhenti di Masjid yang tak jauh dari Istana Bogor untuk menunaikan Solat Dhuhur. Cuaca siang ini terlihat mendung sekali, waktu perjalanan menuju Bandung tepatnya di pusat oleh-oleh daerah Cibaduyut hujan deras menyambut kami yang masih di bis. Sesampainya di Cibaduyut, Bandung terlihat masih hujan deras. Berbelanja oleh-oleh untuk keluarga dengan suasana hujan sangat repot sekali. Dan pelan-pelan hujan mulai reda. Kini perjalanan menuju Semarang. “Semarang, I’m come back” girangku yang tak sabar untuk sampai rumah tercinta. Bis berjalan pulang menuju Semarang.


“Ciee.. Mimi borong nih” seru Irul saat melihatku membeli oleh-oleh yang lumayan banyak.


Aku tergelak saat Irul mengatakan itu. “Borong apaan sih Rul, beli oleh-oleh sedikit gini kok”


“Beli apa saja Mi?” tanya Irul.


Aku menunjukkan barang-barang yang tadi aku beli sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Lalu Irul menunjukkan barang-barangnya juga yang dia beli sebagai oleh-oleh di rumah.


Kini bis pariwisata berangkat dan siap meninggalkan kota Bandung. Kami menikmati perjalanan malam ini, sebelumnya kami berhenti di tempat rumah makan untuk makan malam. Setelah makan malam, aku dan Irul tak sengaja melihat pedagang kaset, walau bajakan akhirnya kami beli juga. Karena ada kaset idola kesayangan dan membeli boneka eceran yang harganya murah.


Jumat, 21 April 2006....


Rombongan bis pariwisata sudah sampai SMP pukul 04.00 pagi.Kami semua beranjak dari bis untuk turun dan menanti jemputan keluarga masing-masing. Sesampainya di rumah, aku segera membongkar tas yang berisi oleh-oleh dari Jakarta dan Bandung. Saat membongkar tas ranselku, aku merasa semuanya lengkap. “Bentar, bentar. Kayaknya aku beli sandal warna hijau deh. Apa ketinggalan ya? Atau jangan-jangan kebawa Irul lagi” batinku sambil mengingat-ingat.


Keesokan harinya saat aku berangkat sekolah lagi. Suasana kelas terasa masih sepi dan ternyata yang berangkat masih sedikit. Aku yang langsung duduk dibangku, selang beberapa menit kemudian Irul datang dan langsung duduk disebelahku.


“Eh, Mi... sandal yang kemarin warna hijau muda itu punyamu bukan?” tanya Irul tiba-tiba.


“Iya Rul, itu memang punyaku” anggukku


“Maaf ya Mi, kemarin sandalnya kebawa aku” cengir Irul sambil membuka tas ranselnya kemudian menyodorkan padaku yang isinya beneran sandal punyaku.


“Hmm.. pantesan ya, aku cari-cari diranselku ternyata memang beneran kebawa kamu ya” kataku sambil melirik Irul dan mengambil kantong plastik berwarna hitam dari tangan Irul.


“Aku kira itu bawaanku Mi, ternyata salah” cengir Irul sekali lagi.


“Nggak apa kok Rul, tenang saja” senyumku.


Dan ternyata hari ini hanya menongkrong di kelas. Karena guru-guru dan teman masih kecapean dan terbawa suasana study tour.


......................

__ADS_1


__ADS_2