
Lagi dan lagi, entah sudah berapa kali aku memimpikan Fabian di tidurku. Aku nggak tahu kenapa semua ini terjadi padaku. Apa sih arti dari semua ini. Udah hampir 4 bulan mimpi itu datang dan terus menyambangiku.
Mikirin dia juga nggak, sebenarnya asal dari mimpi itu dari mana sih? kok bisa mimpi selalu hadir terus.
Kurang dua bulan lebih aku kenaikan kelas dan siap nggak siap harus meninggalkan kelas yang selalu memberiku banyak kenangan disini.
Entah deh, rasanya nggak rela aja meninggalkan kelas 8B ini. Aku merasa kehadiran Fabian membuatku suasana berbeda sekali disini. “Ih, apaan sih? nggak mungkin, nggak...” tampikku langsung.
Pagi ini aku yang berangkat sekolah seperti biasa. Waktu masuk kelas, aku yang ingin melanjutkan PRku semalam, mendadak Fabian datang dan ingin meminjam PRku lagi.
Seperti biasa tradisi contak-contekan PR sudah menjadi bagianku dan Fabian kala belum selesai mengerjakannya. Dan waktu itu dia pinjam LKS Matematikaku, padahal aku sendiri belum selesai mengerjakannya
“Mi, pinjam PRmu dong” cengir Fabian saat menghampiriku dibangku
“Nih Fab, LKSku. Eh bentar, tapi aku masih ada yang belum selesai ngerjainnya” terangku.
“Nggak apa Mi. Aku pinjam dulu ya” pinta Fabian.
“Iya deh, kita ngerjain bareng aja Fab. Sambil pinjem punya siapa gitu” saranku.
Akhirnya aku meminjam PR dari salah satu teman yang sudah selesai.
Setelahnya itu, Fabian duduk disebelahku sambil mengerjakan PR sebelum bel berbunyi. (Kebiasaan buruk saat mngerjakan PR di kelas).
Tapi suatu ketika, aku benar-benar lupa mengerjakan PR. Aku langsung memohon kepada Irul untuk meminjam PRnya, karena waktu hampir masuk.
“Rul, aku pinjam PRmu dong” pintaku dengan memelas.
“Nggak, tetep nggak. Ngerjain sendiri dong” tolak Irul.
“Ah Irul, plisss! Pinjamin ya” pintaku lagi.
Mendadak Fabian datang menghampiri bangku yang ku tempati.
“Mimi, aku pinjem PRmu dong” pintanya.
Aku mendongak saat Fabian akan meminjam PRku.”Yah, aku belum ngerjain Fab PRrnya” sedihku.
“Rul, aku pinjem PRmu dong” pinta Fabian pada Irul
“Nih Fab, PRku” kata Irul sembari menyodorkan PR-nya pada Fabian.
Melihat itu, aku langsung memprotes.” Tuh, Fabian pinjem di pinjemin. Masa aku nggak?”
Tapi Fabian malah tersenyum padaku.
“Aku duluan ya Fab, pinjem PR-nya Irul” pintaku dengan memelas lagi.
“Ngerjain sendiri Mi” perintah Irul.
__ADS_1
“Ih, pelit deh kamu” balasku langsung mencari contekan lagi
Karena aku beneran lupa belum mengerjakan dan Irul tak meminjamkan PR-nya.
Akhirnya Fabian beralih meminjam PR Matematika pada Ari. Sementara aku masih kebingungan akan meminjam siapa. Saat istirahat tiba, aku memutuskan untuk ke belakang dimana Fabian duduk, akhirnya aku meminjam PR ke Fabian tapi dengan buku milik Ari.
Entah kenapa, semenjak aku memimpikan Fabian di tidurku. Aku merasakan dia semakin baik denganku. Tapi memang sikapnya baik dan aku merasakan ada yang berbeda dengan sikap Fabian padaku. Sifat apa adanya itulah yang semakin membuatku penasaran dengan sosok cowok yang selalu datang di mimpiku akhir-akhir ini. Rasanya semakin nggak rela banget meninggalkan kelas 8B ini yang kurang beberapa bulan lagi. Iya, kelas yang memberiku sejuta kenangan yang tak terduga disini.
Pernah suatu hari tepat jam Bahasa Indonesia. Aku mendapatkan kejadian yang tak terduga lagi di kelas. Waktu itu, jam pelajaran hampir usai. Di dua jam pelajaran sang Guru menyuruh satu kelas untuk melengkapi LKS yang masih kurang.
Kebetulan aku melengkapi kekurangan LKS tinggal sedikit, tapi saat akan mengumpulkannya lagi masih belum ada yang mengumpulkan. Ku tunggu salah satu dari teman sekelas yang mengumpulkan dulu, ternyata Fabian maju terlebih dahulu untuk mengumpulkan LKS tersebut. Mendapati itu aku langsung ikut mengumpulkan juga. Tiba-tiba Fabian tersenyum, aku yang awalnya biasa saja melihat Fabian yang terus tersenyum. Aku kira dia tersenyum pada Luna, tapi Luna tidak balas senyuman dari Fabian, kulihat Irul juga nggak balas senyumnya Fabian, Indri apalagi.
Setelah sadar itu senyuman mendarat kearahku, aku langsung membalas senyuman dari Fabian. Rasanya aneh setelah mendapatkan senyuman manis darinya. Perasaan tersipu langsung bergejolak di hatiku, aku tak bisa menahan rasa salah tingkahku siang ini.
......................
Bulan Juli bersambut, saat kenaikan kelas aku senang karena aku naik kelas 9 SMP. Dimana kelas ini menduduki tingkat terakhir dari SMP yang sebentar lagi akan memasuki SMA.
Aku menikmati liburan selama 3 minggu ini dengan bertandang ke rumah Mbah Putriku yang berada di Kendal. Tapi, urusan mimpi tentang Fabian masih berlanjut, aku semakin nggak mengerti apa yang terjadi padaku sampai mimpi tentang Fabian masih berlanjut hingga sekarang. Seperti malam ini aku yang masih tidur.
Aku merasa seperti di kelas 8B. Aku yang tengah di kelas dan tengah sendirian, mendadak Fabian datang membawa sesuatu untukku.
“Hy Mi...” sapa Fabian penuh senyum.
“Eh, hay Fab” balasku dengan melakukan hal yang sama.
“Mi, aku kasih kado nih buat kamu. Met ultah ya” ucap Fabian sambil menyodorkan kado untukku.
“Eh, Fab ultahku udah kelewat bulan Maret kemarin” terangku.
“Yah, aku telat kasih kadonya deh kalau gitu. Hmm, yaudah deh buat kenang-kenangan saja Mi” ucap Fabian terdengar kecewa.
“Nggak apa Fab. Tapi makasih ya buat ucapan dan kadonya” ucapku sembari mengambil kado pemberian Fabian.
“Sama-sama Mi” angguk Fabian penuh senyum
Saat di rumah, kado dari Fabian segera ku buka. Aku senang plus girang sekali, karena Fabian mengadoku dua buah novel. “Kok Fabian tahu sih, aku lagi suka novel beginian” batinku bertanya-tanya sembari memeluk novel tersebut.
Mendapati aku yang tengah kegirangan mendapatkan novel darinya, aku bercerita pada Mamaku tentang hal ini.
Tiba-tiba aku terbangun saat ada yang membangunkanku, ternyata hari sudah siang. Aku ingat karena tadi habis Subuhan aku tidur lagi. Aku kaget saat teringat mimpi diberi novel pada Fabian. Dadaku langsung berdegup kencang saat mengingat tentang mimpi itu lagi.
Setelah kejadian itu, mimpi itulagi dan lagi tak pernah absen dari tidurku. Aku semakin tak mengerti apa yang terjadi padaku. Tentang mimpi-mimpi yang semakin sering untuk menyambangi tidurku.
......................
Kini saatnya kembali ke sekolah dengan title kelas 9 SMP. Hari pertama setelah liburan kenaikan kelas biasanya pembagian kelas.
Aku yang mengelilingi semua ruangan kelas 9, ternyata aku berada di kelas 9G satu kelas dengan Stefani lagi, Nurul, Indah, dan Rezti. Sementara Rere, Rossi, dan Indri berada di kelas 9C, Luna di kelas 9E, dan Irul sendiri di kelas 9D.
__ADS_1
Ternyata di kelas 9G ini, aku tak sekelas dengan Fabian lagi. Kecewa sih mengetahui hal tersebut, tapi Fabian berada di kelas 9B.
Seminggu sudah aku yang sudah terbawa suasana asing di kelas 9G merasakan ada yang berbeda disini. Entah aku menamakannya apa. Mungkin masih beradaptasi jadi seperti ini rasanya. Mendadak ketidakhadiran Fabian di kelas ini membuatku merasakan aneh. Iya, aneh sekali dengan perasaanku. Walaupun begitu, mimpi tentang Fabian masih berlanjut hingga menginjak kelas 9 SMP ini. Entah, apa yang membuatku mengingat masa-masa di kelas 8B dulu. Semua kenangan tentang Fabian terekam lagi di otak. Padahal aku sudah melupakannya tentang itu, tapi kenangan itu sering menggangguku.
Lebih shock lagi saat mendapati Fabian yang dulu baik dan ramah padaku, sekarang dia seperti tak mengenaliku saat kami tengah berpapasan. Aku seperti orang asing dimatanya. Mendapati itu, aku jadi rada ilfill dengannya.
Rasanya beda aja mengenal Fabian yang di kelas 8B sama yang sekarang.
Pernah suatu hari aku dan Fabian bertemu lagi secaraberdekatanwaktu di bis sedang berdiri di belakang. Aku mendadak mengatakan pada Fabian”Ihh, sombong kamu Fab.”
Mendengar itu Fabian menoleh dan meresponku dengan penuh senyum. “Sombong apaan...”
Aku mencibir walau hatiku pedih melihatnya berubah drastis. “Ya Allah, ternyata Fabian yang ku kenal baik dan ramah sekarang berubah seperti ini” batinku sedih.
Kenangan di kelas 8B itu muncul lagi di memori otakku, belum lagi mimpi tentang Fabian masih berlanjut. Aku semakin pedih dan merasakan sakit di hati. “Apa sih yang tengah aku rasakan sekarang, kok rasanya lain sekali. Masa iya aku suka Fabian dan mulai kehilangan dia “ batinku merasa sesak.
Saat aku dan dia berpapasan lagi, dia hanya melihatku dengan tatapan aneh. Iya, aneh karena Fabian merasa sudah tak mengenaliku. Saat satu bis dengannya lagi, sikapnya masih saja begitu. Aku lama-lama sebal dengan tingkah Fabian yang begini terus. Tapi pernah suatu hari aku ajakin ngobrol, aku yang tengah menanyakan dia tentang sesuatu. Ekspresinya kulihat masih seperti yang ku kenal saat kita sekelas dulu, penuh senyum, asyik, dan ramah. Perasaanku sedikit lega saat mendapati kejadian langka itu. Setelah peristiwa itu terjadi, rasanya ingin kembali terulang. Kejadian itu terus-terusan menari di otakku.
Keesokan harinya, aku sudah tak sabar menceritakan ini pada Reredi sekolah. Saat akan menceritakannya ini padanya, kulihat Rere juga akan menceritakan sesuatu padaku.
“Rere.... Mimi....” heboh kami berdua kompak saat aku melihat Rere tengah melintasi depan kelas 8A lalu tertawa lepas.
“Re, aku mau cerita sama kamu” ungkapku sambil mengumpat senyumku.
“Eh, aku juga tahu Mi mau cerita sama kamu” ungkap Rere juga.
“Yaudah deh, kamu duluan Mi yang cerita” desak Rere yang terlihat kepo sekali.
Aku mulai menceritakan tentang kejadian kemarin siang saat aku tak pulang bersama Rere. Panjang lebar dan detail padanya, setelah selesai tampak Rere terlihat geli.
“Ciee, akhirnya kamu bicara juga dengannya lagi Mi” geli Rere.
“Iyalah Re, kalau nggak aku gituin dia sombong banget deh. Jarang-jarang lhoh ngobrol sama dia saat kelas 9 SMP ini” ucapku.
“Bener juga sih Mi, dia aku liat kayak nggak ngenalin kamu gitu” angguk Rere.
“Iya Re, nyebelin deh. Sekarang dia sombong banget” cemberutku.
Setelah aku selesai menceritakannya pada Rere, kini Rere bercerita balik tentang apa yang dia alami kemarin saat di rumah Indri. Aku bergantian meledeknya. Pagi yang menyenangkan karena berbagi cerita kepada Rere.
......................
Entah apa yang dipikiranku akhir-akhir ini mendapati tingkah Fabian sudah berubah tak seperti dulu saat sekelas. Tapi keinginan dari hati ingin menyapanya kembali.
Saat itu, aku dan teman-teman dekatku yang pernah merasakan sekelas dengan Fabian sewaktu kelas 8 SMP juga merasa Fabian sombong. Awal-awalnya aku dan teman-teman dekat menyapa Fabian yang lewat, ekspresi Fabian hanya tersenyum. Tapi lama-lama Fabian diam saja.
Tapi saat aku masih menyapa Fabian, kulihat ekspresinya senyum padaku. Teman-teman dekatku merasa heran mendapati saat Fabian tersenyum padaku saat aku mengatakan”Fabian sombong”. Aku sendiri juga heran mendapati tingkah Fabian itu. “Kok saat mereka nyapa Fabian diam saja. Tapi giliranku nyapa dia senyum” batinku semakin bingung.
Walau lama-lama buatku sebal juga dan memutuskan untuk tidak menyapanya lagi.
__ADS_1
......................